
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Terdengar suara berkelontang. Wadah makanan tahan panas yang dibawa Feli jatuh ke atas lantai. Makanan yang ada di dalamnya buyar dan mengalir ke seluruh lantai.
Linda merasa sangat aneh. Kapan dia mendorong Feli ?
Jelas-jelas Feli menjatuhkan dirinya sendiri.
"Ada apa?" Mendengar itu, Edgar berjalan keluar dari dalam ruang baca.
Begitu melihat Edgar, wajah Feli menjadi pucat. Dengan air mata minta dikasihani mengalir keluar dari rongga matanya dia berkata: "Kakak Sepupu. Kak Linda mendorongku. Rasanya sakit sekali."
Ternyata Feli sengaja terjatuh agar bisa bersandirwara di hadapan Edgar dan memfitnahnya.
Linda tertawa dingin. "Apakah aku mendorongmu?"
__ADS_1
Feli yang tampak sangat kasihan itu menatap Edgar. Dengan wajahnya yang lembut, polos dan baik hati itu, dia berkata kepada Edgar: "Kakak Sepupu. Kamu jangan menyalahkan Kak Linda. Sebelumnya, BIbi memintaku memindahkan barang-barang milik Kak LInda ke dalam kamar pembantu. Wajar saja Kak Linda dendam Dan marah padaku."
Wah. Feli berganti haluan. Dia mulai memainkan peran korban.
Feli terus menyebut Kakk Linda. Mendengar itu Linda merasa mual hingga ingin muntah. Ujung bibirnya menyunggingkan senyuman, dengan tajam dia berkata: "Siapa kakakmu? Seharusnya kau memanggilku Kakak Ipar."
Kakak Ipar?
Ada torehan rasa cemburu di dalam benak Feli . Tetapi dia tetap berpura-pura lemah dan tertindas. "Kak Linda, aku tahu kamu membenciku. Tetapi aku juga harus menurut, apapun yang Bibi minta, mana mungkin aku berani melawannya?"
"Kak Linda. Aku tidak ingin seperti itu. Memang sudah selayaknya kamu kesal padaku, memukulku, memarahiku atau mendorongku. Tapi.... sarapan pagi ini dibuat oleh Bibi untuk Kakak Sepupu. Sekarang aku menumpahkannya. Bagaimana aku bisa menjelaskan hal ini pada BIbi dan Kakak Sepupu?"
"Kak Linda , apa yang kamu katakan?" Feli merasa sangat terpukul. Dia melihat ke arah Edgar dan berkata: "Kakak Sepupu. Itu adalah masakan Bibi untukmu. takut Kakak bekerja terlalu lelah, maka dia sengaja mengirimku untuk mengantarkan ini. Sekarang semuanya tumpah karena Kak Linda ..."
Sebelum Feli Huo selesai bicara, Edgar memotongnya dengan tidak sabaran. "Sudahlah. Feli. Apa kamu kira mataku buta?"
"Kakak Sepupu. kamu..." Feli tercengang."
__ADS_1
"Aku melihat semua kejadian yang baru saja terjadi. Linda sama sekali tidak menyentuhmu." Edgar berkata sambil mengangkat alisnya.
Sesungguhnya dia tidak melihat apa-apa. TEtapi firasatnya mengatakan bahwa Linda bukanlah orang yang seperti itu.
Sebaliknya, Feli , sudah bertahun-tahun belajar banyak tipu muslihat untuk memanipulasi orang lain dari Ibunya.
"Aku.... Kakak Sepupu. Bukan begitu..." Feli tidak menyangka bahwa Edgar akan berkata seperti itu. Dari sudut tadi, seharusnya dia tidak bisa melihat apa-apa.
Edgar memotong kata-kata Feli tanpa berpikir panjang.Dia berkata dengan suara dalam: "Jangan gunakan pikiranmu untuk hal-hal seperti ini. Habiskan lebih banyak waktu untuk belajar. Apa kamu mengerti?"
Melihat wajah Feli tampak tidak percaya itu, Linda mengacungkan jempol kepada Edgar di dalam hatinya. Dia berkata dengan datar: "Baiklah, karena kenyataannya telah terungkap, Aku bisa pergi ke kantor untuk bekerja."
Setelah berkata demikian, Linda berbalik dan berjalan keluar.
Melihat punggung LInda yang semakin menjauh, Feli merasa tidak puas. Dia berkata: "Kakak Sepupu. Kamu tahu betul bahwa BIbi tidak menyukainya, mengapa..."
"Yang penting Kakek suka." Edgar menatap Feli dengan dingin. "Aku harap ini yang terakhir kalinya. Lain kali, jangan mencari keributan dengan LInda . Apa kamu mengerti?"
__ADS_1
"Apakah ini semua hanya demi Kakek?" Feli mengankat kepalanya dan menatap ke arah Edgar. Dia mengejarnya dengan pertanyaan: "Kalau begitu, bagaimana dengan Kakak sendiri. Apa kamu menyukainya?