Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 74


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""_""


Dengan terpaksa, Linda meraih kunci di kantong celana Edgar dengan bantuan satu tangan, karena tangan satunya masih berusaha menopang tubuh Edgar yang tinggi dan berat.


Lucunya, Saat mencari kunci secara tidak sengaja Linda seperti menyentuh sesuatu yang hangat dan lembek.


Spontan, Edgar pun terkejut, “Kamu meraba bagian apa itu?”


“Maaf.” Sahut Linda begitu tersadar, dan terus berusaha mencari kunci ke beberapa arah.


Entah kenapa, hari ini sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Bahkan untuk mencari kunci saja, Linda harus melewati beberapa kejadian. Sampai akhirnya, setelah meraba-raba, tetap tidak menemukan kunci itu.


Linda merasa cemas, gerakannya semakin terburu-buru, tetap meraba di dalam bagian saku Edgar , namun tetap tidak dapat menemukannya.


Sementara Edgar, dia bisa sangat merasakan gerak lambaian tangan Linda, ada perasaan tersengat yang terus mengalir di dalam dada. Terasa begitu nikmat dan tubuhnya seakan-akan melanyang.

__ADS_1


Terlebih lagi saat barusan Linda tidak sengaja menyentuh bagian daerah sensitive miliknya. Kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Edgar, sebenarnya dimana kamu letakkan kuncinya? Disini tidak ada!” Setelah berusaha mencari di saku celananya, Linda kesal karena tidak menemukannya, Wajahnya sudah memerag, keringatnya pun mulai bercucuran di keningnya, tetapi Edgar masih menikmati dan terpana dengan sentuhan tAngan Linda.


Kemudian Edgar mencoba mengulurkan tangan kirinya yang tidak terluka, menahan gerakan tangan Linda di saku celananya, lalu meletakkannya di bagian kiri saku celana Edgar, “Disini, kuncinya.”


“Kamu!” Linda Kesel dan melirik dengan sinis.


Jelas-jelas barusan dia menunjuk ke bagian saku sebelah kanan.


Dasar! Sepertinya Edgar memang sengaja mengerjaiku.


Baru satu tendangan, tapi rasa dendamnya begitu mendalam. Huh!


Sambl menggerutu dalam hati, Linda membuka pintunya, dengan seluruh kekuatannya, dia membantu Edgar berjalan untuk duduk di sofa, “Kamu istirahat dulu.”


Tanpa sengaja, Linda terpeleset tepat saat dia akan bangkit dari duduknya.


“Ah…” Teriak Linda. Dia jatuh ke dalam pelukan Edgar. .


“Kenapa? Tidak sabaran untuk memelukku ya” Edgar menyeringai, nadanya juga sedikit menggoda.

__ADS_1


Wajah Linda pun tersipu malu, dia memelototinya, “Semua juga gara-gara kamu. Tubuhmu begitu berat, masih saja memintaku untuk menopangmu.”


Dengan santai Edgar menjawab, “Siapa suruh kamu menendangku.”


Linda pun terdiam seribu bahasa. Edgar terus menerus membahas masalah tendangan itu. Lagian, Linda melakukannya juga bukan dengan sengaja.


“Aku ambilkan obat dulu.” Linda mengganti topic pembicaraan, kemudian membawakan obat yang baru saja diresepkan oleh dokter. Meletakkannya tepat di hadapan Edgar, “Ini obat minum dulu, ……”


Belum sempat Linda selesai menjelaskan, perutnya berbunyi keroncongan.


Edgar terkekeh ringan, “Lapar?”


Wajah Linda tampak tersipu malu. Setelah seharian sibuk dengan beberapa kegiatan, dan hanya makan malam sedikit, tentu saja dia merasa kelaparan. Cacing-cacing di dalam perutnya seolah sedang berdemo untuk dikasih makan.


“Aku juga lapar, kita beli makanan di luar saja.” Sahut Edgar langsung meraih ponsel dengan tangan kirinya dan segera mencari beberapa menu makanan di pesan online, “Mau makan apa?”


“Di kulkas ada bahan makanan, tidak? Kalau ada, aku masak saja. Keterampilan masakku terbilang lumayan.” Tanya Linda. Sebenarnya dia tidak terlalu terbiasa makan makanan di luar, apalagi makanan cepat saji. Dia berpikir bahwa itu semua makanan yang tak bergizi dan kurang higienis.


“Kamu bisa masak?” Edgar bertanya balik dengan nada tidak percaya.


Sudut bibir Linda mengerucut, senyumannya tampak menggoda, “Tentu saja. Tapi, memang aku sekarang sudah jarang masak. Anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu, bisa merasakan masakanku. Hitung-hitung sebagai balas budi karena kamu sudah menolongku tadi.”

__ADS_1


“Biasanya, untuk balas budi, apalagi karena sudah menyelamatkan nyawa seseorang, itu bisa dibalas dengan jiwa raganya.” Tiba-tiba, Linda duduk tegak, tanpa sengaja matanya fokus kepada wajah Edgar dan tidak mengatakan apapun lagi.


__ADS_2