
"Ahhhhh!" Hansel berteriak dan sontak terbangun. Kemudian melihat sekeliling isi kamar. Jantungnya mulai berdetak kencang, ia pun mencoba untuk tenang.
Fiuhh...
"Argh, bodoh! Kenapa malah pingsan!" racau Hansel merasa dirinya sangat payah.
"Eh?" Hansel tersentak tak menemukan Elisa di sampingnya.
"Kemana istriku lagi?" pikirnya langsung buru-buru beranjak bangun dari ranjang. Sekali lagi, ia baru sadar setelah melihat pantulan dirinya yang sudah lengkap di dalam cermin.
"Astaga! Siapa yang memakaikan aku baju?" Hansel pun menepuk jidat.
"Ini pasti Elisa yang memakaikan baju untukku. Aku harus mencarinya," lanjutnya ingin keluar. Tapi berhenti setelah melihat sebuah surat di atas meja. Hansel yang penasaran pun membukanya dan membaca isi surat itu.
'Pftt, aku tahu kamu pasti terkejut setelah bangun. Semua itu aku sendiri yang pakaikan kamu baju, celana dan juga mandikan tubuhmu. Aku tak sangka, suamiku kalau pingsan cukup lama, seperti orang yang kembali tertidur, bahkan terlihat seperti anak kucing yang imut. Dan oh ya, aku juga tak habis pikir, kulit suamiku begitu halus dan lembut, jadi iri sama suami sendiri nih. Soal semalam itu sangat menyenangkan, aku puas dengan permainanmu. Lain kali, tolong lembutlah lebih sedikit, suamiku. Aku mencintaimu, My Hubby.'
Setelah membacanya, Hansel jadi merona. Dia benar-benar memerah sudah tahu respon Elisa soal kemarin malam.
"Hmp! Dia itu kenapa tulis begini sih! Aku jadi geli sendiri bacanya!" celetuk Hansel ingat Elisa adalah wanita yang agresif dan mudah menghanyutkan hatinya.
"Huft, baiklah. Jujur, dia sangat pintar menggodaku. Hanya kertas ini, dia berhasil membuatku salting. Awas, akan aku beri sedikit pelajaran untuknya."
Hansel keluar dari kamar, dia mencari Elisa. Ingin tahu apa yang dilakukan wanita ini sekarang. Ternyata, yang dicari-cari sedang tertidur di ruang dapur. Hansel masuk dan geleng-geleng kepala melihat istrinya tidur bersandar di atas meja. Hansel pun mendekatinya. Keningnya mengerut setelah melihat ponsel Elisa sedang menayangkan sebuah channel.
"Pfft, rupanya dia belajar masak dari channel ini sampai-sampai ketiduran." Hansel tertawa kecil kemudian mengelus rambut panjang Elisa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Perlahan ia kembali merona, merasa enak mengelus kepala istri sendiri dan merasa ini waktunya ia bisa berduaan dengan Elisa.
Hansel pun tak bersuara, ia diam-diam membuat sandwich telur untuk dirinya dan juga Elisa. Ia sangat bersemangat hingga tak sadar bersenandung. Suasana hatinya bagaikan bunga yang baru saja mekar pagi ini.
Setelah membuat sarapan, ia mengambil kursi lalu duduk di depan Elisa. Meletakan piring berisi sandwinc telur yang sudah jadi kemudian memandang wajah istrinya cukup lama. Kedua pipi Hansel bersemu lagi. Ia merasa dirinya tak menyangka bisa memikat Elisa ke dalam hidupnya. Ia seakan berhasil mendayung ke seberang pantai hingga sanggup menggapai bintang di depan matanya.
Perlahan tangan Hansel menunjuk pipi Elisa, memandangi bulu mata Elisa yang cantik dan hidung mancung serta bibir yang menawan. Bibir yang diajak bergulat dengannya kemarin.
Mengingat itu, Hansel merona habis-habisan. Ia ingin membangunkan Istrinya, tapi Elisa begitu terlihat capek.
"Dia pasti sangat kelelahan sampai ketiduran begini."
__ADS_1
Hansel pun mengurungkan niatnya, ia malah ikut menyandarkan kepalanya di atas meja dan tepat di depan wajah Elisa. Terpaan angin pagi yang sejuk dan sinar matahari yang cerah mewakili perasaan Hansel sekarang.
"Dia dari dulu belum ada yang berubah. Bisakah waktu berhenti sebentar? Aku ingin memandang istriku lebih lama lagi," gumam Hansel. Namun keinginannya malah terbalik. Elisa tiba-tiba membuka mata lalu melihat Hansel tepat di depan matanya.
"Eh? Ahhhh!" kaget Hansel sontak menormalkan duduknya.
"Ka-kamu kenapa bangun?" tanya Hansel terbata-bata merasa malu sudah ditangkap basah.
"Pfft, ada apa denganmu? Kenapa pipimu merah?" tanya Elisa mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk Hansel.
"Ah, si-siapa yang pipinya merah? Ini-ini pipiku tidak merah kok." Hansel mengelak dan tak melihat Elisa.
"Hm, apa dia malu-malu hingga tak mau ngaku?" pikir Elisa tertawa dalam hati.
"Kalau tidak percaya, coba deh lihat ke sini," ucap Elisa lembut.
"Untuk apa lihat kamu, tidak ada kerjaan saja. Ini ada sandwich, barusan aku yang bikin. Jadi sekarang tidak usah menggodaku pagi ini," tegas Hansel berdiri, ia tiba-tiba jual mahal di depan Elisa.
"Eh? Kok bicara begitu?" Elisa mengernyit.
"Aku sibuk, mau keluar bentar dulu. Kamu kalau capek, lebih baik kembali istirahat saja, dan soal kemarin maaf jika aku sedikit menyakitimu." Hansel saking gugupnya malah mengoceh, ia ingin keluar untuk menenangkan dirinya. Namun belum selangkah, tangan Hansel ditahan oleh Elisa.
"Tunggu,"
"Ada apa, Hm?" tanya Hansel berbalik.
Chup! Mata Hansel membola setelah Elisa tiba-tiba beri kecupan lembut dipipinya hingga Hansel terhenyak.
"Pagi suamiku," ucap Elisa tersenyum manis di depannya. Namun hanya dua detik, senyumnya langsung hilang setelah melihat wajah Hansel tak berhenti memerah. Elisa sedikit cemas dan segera menyentuh kening Hansel.
"Ada apa denganku?" tanya Hansel meraih tangan Elisa.
"Kamu demam, sepertinya aku tadi terlalu lama mengkramas rambutmu sampai masuk angin. Lebih baik kamu istirahat di kamar dulu baru keluar menghirup udara," jelas Elisa menarik Hansel menuju ke kamar. Hansel mengernyit, ia menyentuh keningnya. Memang benar, terasa sedikit panas hingga ia baru sadar.
"Apa ini juga efek pil kemarin?" pikir Hansel sambil menatap tangannya yang digenggam.
__ADS_1
"Huft, jika aku kasih tahu padanya, apa dia akan kecewa?" gumam Hansel dalam hati sedikit gelisah.
"Baiklah, sekarang kamu istirahat di sini. Aku akan kembali membawa bubur untuk suamiku." Lagi-lagi Elisa begitu perhatian pada Hansel yang kini bersandar di ranjang.
"Hm," Hansel mengangguk patuh. Elisa pun keluar dan buru-buru masak bubur agar Hansel tak masuk angin dan bisa menghangatkan tubuh suaminya. Tak menunggu waktu lama, Elisa masuk membawa semangkuk bubur panas. Ia pun duduk di kursi kemudian tersenyum.
"Nih buburnya. Ku harap suamiku makan buburnya, hehehe," cengir Elisa malu-malu dan takut. Namun Hansel menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya Elisa bingung.
"Sa-sayang, aku merasa sangat lemas. Tidak bisa memegang mangkuk apalagi sendok. Sepertinya aku harus disuapi baru bisa makan," jawab Hansel pura-pura menyedihkan agar bisa dimanja oleh Elisa.
"Benarkah? Kalau begini sini aku suapi," ucap Elisa tidak tega melihat raut wajah Hansel yang tiba-tiba menahan sakit.
"Sekarang buka mulutmu, aaaa." Elisa menyuapinya dengan pelan, ini membuat Hansel merasa bahagia, apalagi Elisa begitu perhatian padanya.
"Aduh!" ringis Hansel kesakitan.
"Kenapa?" tanya Elisa terkejut.
"Auw, panas Sayang. Bibirku kena panas," jawab Hansel pura-pura kesakitan sambil menyentuh mulutnya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau buburnya masih panas. Sekarang masih sakit?" tanya Elisa merasa bersalah.
"Masih. Ini sangat sakit, aku merasa ini bengkak," jawab Hansel dengan mata berkaca-kaca.
"Ka-kalau begitu, biarkan aku meniup mulutmu. Siapa tahu sakitnya bisa hilang dan kamu bisa makan lagi," ucap Elisa tersenyum. Hansel tersentak, ini adalah langkah awal untuknya agar tak menjadi pria yang payah.
"Ba-baiklah," ucap Hansel menurut. Elisa pun menutup mata kemudian meniup pelan bibir Hansel. Jarak yang sangat dekat membuat jantung Hansel berdegup kencang. Bahkan detak jantungnya bisa didengar oleh Elisa.
"Hans, kenapa dengan jantungmu? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Elisa makin cemas. Hansel meraih tangan Elisa lalu meletakkannya di dadanya.
"Ada apa denganmu lagi?" tanya Elisa ketakutan. Tapi Hansel tak bersuara, ia menyentuh bibir Elisa. Ini membuat Elisa berdebar-debar.
"Ka-mu-"
__ADS_1