
Langit sore ini sedikit mendung, cuaca yang tadi cerah berubah 180 derajat menjadi gerimis. Ella di villa nampak sedang sibuk bersama Elisa yang datang membantunya. Perasaannya sedikit aneh, Ella nampak melihat keluar dan memikirkan Devan.
"Sepertinya bakal turun hujan, tapi ayah anak-anak belum juga pulang. Apa mungkin yang ku lakukan padanya sedikit berlebihan?" batin Ella meletakkan buah cerry ke atas kue tar.
"Ella, kau sedang memikirkan apa hingga bengong gitu?" tanya Elisa mendekatinya. Ella melihatnya kemudian melihat si kembar yang sedang sibuk bermain balon bersama Marsya. "Hm, untung saja ada Marsya yang bisa ajak main dua adeknya," batin Ella sambil diam.
"Ella, semua baik-baik saja kan?" tanya Elisa sekali lagi. Ella tersadar ketika bahunya ditepuk oleh Elisa.
"Ah itu, aku sedang memikirkan ayah si kembar," jawab Ella sambil senyum sedikit.
"Devan? Kamu mencemaskannya?"
Ella cepat mengangguk lalu menunduk.
"Hais, jangan pikirkan yang tidak-tidak. Lelaki itu tidak akan melakukan hal lain di luar sana. Aku sangat tahu sifat Devan, kamu tidak usah kuatir," ucap Elisa menyentuh tangan Ella dan tersenyum.
"Yah, aku cuma agak takut saja, siapa tahu dia menenggelamkan dirinya di laut gara-gara aku cuek seharian padanya," lirih Ella menatap Elisa.
"Puft, ahahahah.... Devan mana mungkin lakukan itu, Ella. Hanya karena dicuek seharian, mana mungkin dia mau mati dan meninggalkan istri dan anak-anak lucunya. Kamu jangan pikir gitu deh, mendingan kamu bawa gelas ini keluar. Nanti aku nyusul kamu," ucap Elisa tertawa sambil menenangkan Ella.
"Hm, Baiklah. Terima kasih ya sudah mau datang membantuku, Kak," balas Ella berkata sambil senyum.
"Ya sama-sama, Ella."
Meski sudah ditenangkan, hati Ella semakin gelisah, perasaannya makin gundah memikirkan Devan seharian ini.
"Huft, lebih baik aku minta maaf nanti sama honey, dia pasti sedih sudah aku cuekin." Ella bergumam lalu meletakkan gelas-gelas di atas meja. Ella menghela nafas dan melihat keluar, terlihat masih mendung tapi lumayan sudah tak seperti sebelumnya. Gerimis juga sudah hilang, ini waktunya persiapan ulang tahun Devan akan segera siap di tepi pantai nanti malam.
"Wah, kita mau bawa kue besar dan cantik ini ke mana Bunda?" tanya Marsya girang pada Elisa yang mengangkat kue ultahnya.
"Ke tepi pantai, di sana kita sama-sama rayakan ulang tahun Om kamu dan Mommynya Marsya juga," jawab Elisa ikut ceria.
__ADS_1
"Yess, asiik! Malam ini Marsya bisa makan banyak kue hihihi," tawa Marsya melompat ria kemudian lari ke arah dua baby twins yang sedang bersiap pergi bersama Ella.
"Marsya, tolong gandeng tangan adik-adikmu ya. Bunda mau bawa alat-alat ini ke pantai. Nggak apa-apa kan, cantik?" tanya Ella berdiri di depan tiga bocahnya.
"Siap Bunda, Marsya bakal jaga adek Vino dan Vina."
"Syukurlah. Kalau begitu tunggu Bunda di depan ya," ucap Ella menunjuk ke depan Villa. Marsya mengangguk kepala lalu membawa dua adiknya keluar.
"Semoga malam ini lancar," lanjut Ella bergumam.
"Aamiin," sambung Elisa mendekatinya. Ella pun tersenyum setelah mendengarnya.
"Aku duluan ke sana ya, La. Tidak apa-apa kan aku tunggu kamu di sana?" tanya Elisa sambil membawa kue dan beberapa benda lain.
"Hm, baiklah. Hati-hati ya dan tolong jaga anak-anak," jawab Ella tersenyum. Elisa balas tersenyum dan mengangguk. Ketiga bocah pun pergi duluan bersama Elisa ke tempat perayaan yang sudah di atur. Tinggal Ella seorang diri di villa.
"Huft, sekarang sudah ada semuanya. Tinggal membawanya ke sana,"
"Ya Tuhan, perasaanku makin tidak baik. Semoga suamiku baik-baik saja sekarang,"
"Setelah sampai di sana, lebih baik aku kirim pesan saja deh. Hatiku jadi tidak tenang kalau begini terus," batin Ella sedikit menepuk dadanya lalu ia pun mencoba tenang kemudian lanjut berjalan. Ella merasa terus menerus mencemaskan suaminya yang belum ada kabar sedikitpun. Begitupun Elisa yang juga sekarang kuatir dengan kondisi Hansel, suaminya yang dia tinggal di villa sendirian.
Semua perasaan itu memang benar, rasa cemas yang dilanda dua wanita ini juga sedang dirasakan oleh dua lelaki yang sedang berada di satu mobil hitam yang sekarang dikejar oleh pengendara motor. Suasana di dalam mobil begitu menegangkan, ditambah laju kecepatan dua kendaraan ini di atas rata-rata alias begitu cepat.
"Ck, sial. Siapa sih yang lagi mengejar kita?"
"Kenapa juga kita harus kabur darinya?"
"Kita berhenti saja, Hans!"
"Kalau menghindar begini, dia tidak bisa berhenti mengejar kita!"
__ADS_1
Devan yang lagi duduk di dekat Hansel tak dapat berhenti mengoceh sana sini, ini membuat Hansel yang mengemudi tak bisa fokus.
"Hais, kamu sangat berisik tau! Bisakah kamu berpikir lebih baik lagi selain mengoceh begitu?" gerutu Hansel sedikit kesal.
"Hei Hans, aku ini sedang panik! Baru saja aku keluar bersamamu sudah dikejar penjahat misterius! Bagaimana aku berpikir jernih sedangkan hari ini adalah hari ulang tahunku. Harusnya kamu berikan aku kejutan yang menarik, bukan kejutan mengerikan begini!"
"Diamlah, Devan!" bentak Hansel berusaha menghindari arah pistol yang diarahkan ke padanya.
"Aggghhhhhh! Bagaimana aku bisa tenang! Orang itu tak bisa berhenti menembak! Jika saja dia tak punya senjata, aku sudah turun dari sini dan pergi menghajar si kamvret itu!" emosi Devan sambil menunjuk-nunjuk ke belakang.
"Pikirkan sesuatu dong, Hans! Masa aku mati di umurku 25 tahun! Aku masih mau hidup lama bersama istri dan anak-anakku!" lanjut Devan mengoceh lagi. Emosi Hansel ikut meningkat.
"Kamu pikir cuma kamu doang yang nggak mau mati? Aku juga mau hidup lama bersama istrku! Hais kamu sungguh menyebalkan! Seharian ini kamu cuma bisa berisik! Aku capek mengemudi juga tahu! Ban mobil ini juga sudah mau rusak, kalau gini kita bisa mati bersama!" balas Hansel marah-marah pada Devan.
"Sial sial sial, kalau bakal jadi gini. Aku lebih baik pulang saja ke kota daripada tinggal sebulan di sini!" desis Devan sambil mengacak-acak kepalanya. Merasa bodoh tiba-tiba diteror di waktu yang salah.
Dor!!
Lagi-lagi pengendara motor melepaskan satu tembakan hingga berhasil mengenai ban bagian belakang mobil hingga laju mobil menjadi tidak stabil. Orang misterius itu menyeringai merasa rencananya perlahan berhasil.
"Arghhh, kesabaranku sudah hampir habis! Katakan, apa yang sebanarnya terjadi? Kenapa bisa-bisanya ada yang mau membunuh kita begini?" tanya Devan serius kepada Hansel yang serius dengan mode diamnya.
Hansel pun melirik ke kaca spion lalu ia dengan sengaja membanting stir hingga masuk ke dalam hutan lalu menabrak sebuah pohon kecil. Untung saja keduanya tidak ada yang cedera.
"Hei, kamu mau mati bersama ha? Beraninya melakukan hal seperti ini! Jantungku akhir-akhir ini tidak sehat loh!" gerutu Devan turun dari mobil.
"Sekarang bukan waktunya berdebat, kita harus bersembunyi."
Hansel menarik paksa Devan masuk ke dalam hutan dan bersembunyi di salah satu pohon besar. Orang misterius itu dengan cepat sampai ke mobil Devan. Ia menggertakkan rahang tidak menemukan siapa-siapa. Tatapannya makin tajam dan pistol di tangannya sudah siap untuk menembak siapa saja yang dia temui.
"Sebenarnya aku tidak datang untuk membunuhmu, hanya datang untuk memberimu sedikit kejutan. Aku akui, tidak mudah untuk menangkapmu kakak, Ck!"
__ADS_1
____