
Di perusahaan Welfin.
Devan sedang duduk mendengar prestase dari karyawannya. Tapi pikirannya sedang teralih pada bapak pemilik vila yang nampak misterius.
"Kenapa aku merasa bapak ini misterius? Apa tujuan dia? Kenapa dia tidak mau menerima biaya penginapanku?"
"Ck, tapi dia sombong juga."
Devan berdecak dalam hati. Setelah meeting selesai, ia pun berdiri dan berjalan keluar disusul oleh Hansel. Tiba-tiba Devan berhenti dan berbalik melihat sekretarisnya. Hansel pun sedikit canggung berhadapan dengan Devan.
"Ekhm, penjelasan tadi sepertinya tidak terlalu aku perhatikan. Apa sekretaris Hans mencatatnya tadi?" tanya Devan menatap dekomen di tangan Hansel.
"Anda tidak usah kuatir, Presdir. Semuanya sudah saya pindahkan ke dokumen ini. Anda bisa mengeceknya ulang," jawab Hansel dengan sopan.
Pak!
Hansel tersentak lengan kanannya ditepuk oleh Devan dan kemudian ia mengernyit heran melihat Devan tertawa.
"Ahahaha, Hans. Kenapa kau sangat formal padaku. Kau santai saja berbicara padaku, jangan terlalu kaku. Lagi pula juga kau akan jadi kakak ipar istriku. Itu artinya, kau bagian dari keluargaku."
Hansel tersenyum kecil lalu membalas memukul lengan Devan.
Bug!
"Eh, kenapa kau memukulku?" tanya Devan mendesis.
"Bukannya tidak usah formal? Kalau begitu anggap saja ini awal dari keakraban kita," jawab Hansel tanpa rasa bersalah sudah memukul lengan atasannya. Devan mangut-mangut dan akhirnya keduanya tertawa bersama. Memikirkan untuk sama-sama menjahili dua wanita bersaudara ini. Elisa dan Ella.
__ADS_1
"Ya sudah, sukses buatmu Hans!" seru Devan masuk ke dalam ruangannya. Hansel cuma tersenyum biasa saja lalu pergi ke ruangannya. Ia tak sabar untuk hari pernikahannya.
Sementara di tempat lain, di sebuah rumah lumayan besar. Tepatnya di rumah Bu Jessy. Terlihat ia masuk ke dalam dan seketika terkejut mendapati dua pria berjas hitam.
"Hei, kalian siapa!" bentak Bu Jessy geram melihat keduanya sudah masuk dengan lancang.
Sontak dua pria itu berjalan ke arahnya.
"Argh! Lepaskan aku! Kalian mau apa?" ronta Bu Jessy tiba-tiba dirinya dibawa paksa.
"Nona Jessy, anda harus ikut dengan kami sekarang juga!" kata dua pria itu membungkam mulut Bu Jessy dengan kain dan mengikat dua tangannya. Bu Jessy memberontak di dalam mobil sembari melihat dua pria itu membawanya pergi.
"Ya Tuhan, siapa mereka?" pikir Bu Jessy ketakutan.
Selang beberapa menit, mobil hitam itu berhenti. Bu Jessy dibawa paksa untuk masuk ke dalam mansion besar. Bu Jessy tak henti-hentinya berdoa. Ia bagaikan sedang diculik. Namun mulutnya berhenti berkomat-kamit setelah melihat lelaki yang sangat-sangat dia kenal.
"Bawa dia kemari, buka kain yang menyumbat mulutnya!" pinta lelaki itu dengan tegas. Bu Jessy semakin marah dan mulai melontarkan tiga kata untuknya.
"Aku sangat membencimu!"
Lelaki itu cuma menutup mata sudah tahu apa yang akan dia dengar dari istrinya yang sudah lama kabur membawa putranya pergi. Dialah Tuan Roland Gerrald, seorang CEO perusahaan dan Bos Mafis di negara Inggris. Dia datang mencari putranya untuk mewariskan kedudukannya.
"Lepaskan aku, Roland!" bentak Bu Jessy lagi.
"Katakan padaku, di mana Putraku, Jessy!" kata Tuan Roland membentak.
"Ck, ternyata kau berhasil menemukan aku dan hanya mencari putramu saja?" decak Bu Jessy masih marah karena tangannya belum lepas dari ikatan.
__ADS_1
"Huft," Tuan Roland membuang nafas berat.
"Aku bukan cuma mencari putra kita, tapi aku juga mencarimu. Aku merindukanmu, Jessy! Kau sudah dua puluh lima tahun menghilang dan akhirnya aku menemukan keberadaanmu," jelas Roland berdiri.
"Ahahaha, percuma saja," tawa Bu Jessy.
"Percuma? Apa maksudmu ini?" tanya Roland terkejut.
"Ya percuma, putra kita sudah meninggal. Dan artinya itu, kita tidak punya hubungan lagi. Jadi lepaskan aku!" racau Bu Jessy berdiri dan kembali mengamuk setengah gila.
Tuan Roland amat terkejut mendengarnya, sontak ia pun mendekatinya.
"Kau-kau mau apa! Jangan mendekatiku! Kau-kau pasti ingin membunuhku kan!" racau Bu Jessy mundur.
Pluk!
Tuan Roland memeluknya, mendekap istrinya lalu mengucapkan kalimat yang membuat Bu Jessy menangis.
"Maafkan aku, maafkan keluargaku yang sudah jahat padamu, Jessy. Kau jangan meninggalkanku, aku selama ini mencarimu. Sungguh, aku sangat merindukanmu dan Maikeul, putra kita."
Tangis Bu Jessy tumpah mendengar nama putranya disebut. Ia tak bisa membohongi dirinya jika ia juga merindukan Tuan Roland dan putra mereka.
"Akulah yang minta maaf, maafkan aku," tangis Bu Jessy yang sekarang diusap air matanya oleh tangan Tuan Roland.
"Kita sama-sama bersalah, Jessy. Sekarang, beritahu padaku di mana Maikeul kita? Di mana putra kita, Jessy?" tanya Tuan Roland melepaskan ikatan di tangan istrinya. Bu Jessy menggelengkan kepala.
"Dia hilang, maafkan aku. Ini salahku, dia pasti sudah meninggal. Maafkan aku, Roland." Bu Jessy menangis kembali. Roland sangat terpukul, ia pun memeluk istrinya yang sangat dia sayangi. Tuan Roland menenangkannya dan kemudian menyuruh anak buahnya tetap mencari putranya berada.
__ADS_1
"Aku yakin, Maikeul masih hidup."