Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
38. Club Malam


__ADS_3

Hansel sudah mengepal tangan, ia memendam kemaraha pada Jastin yang mau lagi memprovokasi Devan dan Elisa. Wajah menyebalkannya membuat Hansel geram.


"Wah wah, tatapan apa itu? Kau ingin memukulku?" senyum licik Jastin pada Hansel sambil melipat kedua tangannya. Tatapannya bergantian melihat Hansel dan Devan.


Hansel menggertakkan rahangnya sudah tak sabar ingin sekali memberi pelajaran pada Jastin. Elisa yang melihat keseriusan Hansel cuma menelan ludah.


"Dia kalau lagi marah sangat menakutkan juga, tapi untung dia imut-imut,"


Dalam hati Elisa ingin mencubit pipi Hansel. Melihat Elisa senyum-senyum manis membuat Jastin geram pada Hansel.


"Ck, kalian akan mati di sini. Hidup dua anak sulung dari pengusaha besar di kota ini ada di genggamanku sekarang," ucap Jastin menyeringai tipis.


"Dan untuk pria menyebalkan itu akan ikut mati bersama kalian," tatap Jastin pada Hansel dan menodongkan pistolnya ke arah Devan lalu menembak.


"Aaaawaas!" pekik Devan menghindari peluru Jastin. Elisa terperanjak kaget melihat Jastin benar-benar ingin menembak mereka.


"Jastin!" pekik Elisa mendongak ke atas. Namun Jastin sudah menghilang dari tempatnya. Saat inilah suasana makin menegangkan, karena mereka takut Jastin akan diam-diam menembak dari belakang.


Devan mendecak dan menghubungi anak buahnya untuk masuk ke club malam serta hati-hati pada jebakan Jastin.


"Tak ada waktu lagi, aku harus menangkap Jastin sendiri,"


"Elisa, kau keluar dari club ini. Hansel bawa kekasihmu pergi dari sini!"


Devan menyuruh Hansel. Ucapan Devan, membuat Hansel sedikit terkejut karena Devan menganggap Elisa adalah miliknya sekarang.


"Baik-baik, Presdir. Mari Nona kita keluar dulu." Hansel segera menarik Elisa meninggalkan Devan yang pergi menaiki anak tangga mencari Jastin.


"Hans, bagaimana dengan Devan? Jika terjadi sesuatu padanya, Ella akan sedih."


Elisa merasa tak tega keluar dari club.


"Tenang saja, Presdir tidak akan terluka. Ini sudah terbiasa untuknya berurusan dengan orang-orang seperti Tuan Jastin. Sekarang kamu tunggu di sini," ucap Hansel menduduki Elisa di kursi mobil.


"Loh, kamu mau ke mana Hans?" tanya Elisa menahan tangan Hansel.


"Aku harus masuk membantu Presdir, dia tidak boleh ditinggal sendirian," jawab Hansel, jujur ia sangat mencemaskan Devan.


"Tapi Hans, di dalam sangat bahaya, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," kata Elisa memohon Hansel tak masuk ke dalam.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Aku harus ke dalam menjaga atasanku, apalagi dia suatu saat nanti pasti akan jadi adik iparku. Aku tak ingin terjadi sesuatu Presdir di dalam, ini bisa membuat Tuan besar marah padaku jika membiarkan Devan sendirian membereskan ini." Jastin melepaskan genggaman Elisa dan tersenyum. Elisa menunduk malu mendengarnya.


"Kau," panggil Hansel pada satu anak buahnya yang berjaga-jaga.


"Ya Bos, ada apa?" tanya anak buah itu dengan hormat.


"Jaga kekasihku, jangan biarkan terjadi sesuatu padanya."


"Baik Bos!" seru anak buah itu mengerti.


Hansel tersenyum pada Elisa yang sedang menunduk mencemaskannya. Dengan lembut, Hansel mengelus rambut Elisa.


"Kamu tidak usah cemas, aku akan kembali dengan cepat," ucap Hansel dan mulai berjalan masuk ke club malam.


Elisa berdiri mengusap matanya, ia segera memeluk Hansel dari belakang membuat lelaki ini terkejut mendengar Elisa terisak-isak.


"Janji, kau harus keluar dengan kondisi baik-baik saja."


Elisa menatap serius Hansel, dia takut Hansel akan tertembak atau terluka di dalam sana. Apalagi Elisa tahu sikap Jastin yang sesuka hati melakukan seenaknya.


"Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja."


"Ya Tuhan, lindungi kekasihku dan suami adikku."


Elisa cuma berdoa di dalam mobil.


Tidak seperti Devan yang mengejar Jastin. Meski Jastin beberapa kali sering melepaskan tembakannya ke arah Devan. Namun tak ada satupun yang mengenai Devan. Itu karena Devan sudah tahu Jastin pasti akan menembakkinya hingga ia harus waspada dan menghindar selalu.


DOR!


Lagi-lagi Jastin melepaskan tembakan di lorong-lorong club malam. Untungnya ada keramik menjadi perisai Devan hingga ia tak terkena tembakan. Jika tidak ada keramik itu, mungkin jantung Devan sudah berlubang.


"Sial!" umpat Jastin lari kembali.


"Kalian! Segera ke arah barat, Jastin mengarah ke sana. Kerahkan tenaga kalian untuk mengepungnya!" bisik Devan serius pada alat airphone di telinganya.


"Baik Presdir!" paham anak buah Devan langsung bergegas ke arah barat.


"Sialan, Jastin benar-benar ingin membunuhku, aku harus hati-hati padanya."

__ADS_1


Devan berlari kembali, namun alangkah terkejutnya mendapati Jastin berdiri di ruang terbuka. Nampak Jastin sedang berdiri membelakanginya. Devan sontak berhenti.


"Ahahaha, apa kau tidak lelah mengejarku, Presdir Devan?" tawa Jastin terlihat tenang di depan Devan.


"Devan, Devan. Harusnya kau tak usah mengikutiku sampai sini. Kau hanya membawa nyawamu saja."


Jastin tersenyum picik, ada kelicikan di matanya.


"Sekarang menyerahlah, Jastin! Di sini cuma kita berdua, tidak akan lama lagi anak buahku akan datang!" kata Devan sinis.



"Pfft, ahahaha menyerah? Untuk apa aku harus menyerah kepada pria bodoh sepertimu?" ucap Jastin meledeknya.


"Dengar Jastin, selama ini aku tak pernah mengusikmu! Lalu kenapa kau malah datang dan berulah ke dalam keluargaku ini, ha!" ujar Devan mengepal tangan. Bayang-bayang wajah Jastin dari dulu hingga sekarang masih belum berubah. Ekspresi tenangnya membuat darah di dalam tubuhnya mendidih, seakan-akan Jastin tak bisa digoyahkan meski telah dibentak olehnya.


"Jadi kau ingin tahu?" kata Jastin mendecak.


"Empat tahun yang lalu, saat kau diangkat menjadi CEO di perusahaan teknologi ayahmu. Aku yang juga saat itu diangkat oleh Ayahku menjadi Presdir di perusahaannya ingin bekerja sama denganmu, tapi ternyata kau malah menolak langsung kerja sama denganku, karena itulah kau sangat sombong di mataku,"


"Aku mendengar desas-desus 10 tahun yang lalu, saat Elisa koma di rumah sakit. Kau sama sekali begitu sombong tidak ingin mengatakan soal kondisi Elisa padaku, kau biarkan Elisa jadi salah paham padaku, kau pasti yang saat itu menghasutnya, ya kan!"


Devan terdiam, bukan karena terkejut. Tapi Jastin ternyata orang yang saat itu pernah ingin bekerja sama dengannya tapi ia tolak karena datang ke pelelangan membeli Ella dan mengabaikan laporan kerja sama itu. Hal ini merasa sebuah penghinaan untuk Jastin.


"Ck, soal itu bukan karena aku sombong, tapi aku sangat sibuk. Untuk Elisa aku tidak pernah menghasutnya! Kau sendiri yang bodoh malah meninggalkannya saat itu, jika saja bukan aku yang melihatnya tergeletak di jalan, mungkin sekarang dia tak bertahan selama ini!" Jelas Devan mempertegas ucapannya sambil melirik jam tangannya. Nampaknya waktu kedatangan anak buahnya sudah dekat.


"Ck, ahahaha ... sibuk? Kau sibuk apa hingga tak melirik laporanku, ha!"


"Oh ... mungkin kau sibuk bermain wanita? Bukan kah saat itu kau masih pacaran dengan Elisa? Lalu mengapa tiba-tiba kau malah menikahi adiknya? Kau menyebalkan Devan, kau lebih brensek dariku. Sudah memacari Elisa selama enam tahun tapi ternyata kau menikahi adiknya. Mungkin itu sedikit keterlaluan bukan?" ucap Jastin masih dengan pistolnya dan tersenyum smirk. Ia lagi-lagi ingin mengalihkan pembicaraan untuk memancing emosi Devan.


Devan menggertakkan rahangnya.


"Tidak usah banyak omong kosong,"


Bugh!


Keduanya saling pukul, pistol yang ada di tangan Jastin jatuh ke lantai. Keduanya berhasil memberi pukulan pada wajah masing-masing. Bibir keduanya terlihat sedikit lebam.


Jastin mengeluarkan pisau kecil di saku celananya. Ia ingin menusuk Devan yang sedang terengah-engah.

__ADS_1


"Aaaaa, kau pergilah ke neraka! Aku muak denganmu!" pekik Jastin menggila.


__ADS_2