Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
41. Tambah Ganteng


__ADS_3

Sesampainya di mansion, kepulangan pasutri muda ini dan baby twins disambut hangat oleh Nyonya Mira. Wanita satu ini sudah lama menunggu kepulangan dua cucu yang amat menggemaskan.


"Mimiiii!!" seru Vina lari menuju ke arah Nyonya Mira. Devan tertawa kecil melihatnya berlari ria dengan kaki kecilnya, tidak seperti Ella yang diam dengan wajah datarnya sambil menggandeng tangan Vino.


"Ululu, cucu Mami yang cantik dari mana? Kenapa baru pulang?"


Vina menunjuk Devan dan Ella. Bocah kecil ini cengengesan menjawab Neneknya.


"Nana yuah Mi."


Ucapan Vina sangat menggelikan, Nyonya Mira menggendongnya dan mencium pipi kanan cucu perempuannya dengan lembut. Vina tertawa cekikikan dicium barusan.


"Owalah, dari keluar jalan-jalan ya?" Sekali lagi Nyonya Mira bertanya.


"He'eng," angguk Vina tersenyum manis. Devan cuma tertawa kecil melihat tingkah lucu putri kecilnya. Terlihat Nyonya Mira sangat menyayangi Vina.


"Oh ya, kalian sudah makan malam?" tanya Nyonya Mira pada putra dan menantunya. Seketika alis kirinya terangkat melihat Devan dan Ella seperti kemarin lagi.


"Sudah, Mi. Kami tadi makan di rumah Om Vian," ucap Devan menjawabnya.


"Ella, kenapa denganmu? Kenapa malam ini kau terlihat sedih, Nak?" tanya Nyonya Mira pada menantunya yang dari tadi diam, seakan pikiran Ella dipenuhi dengan sesuatu.


Ella tersadar segera menjawab, "Aku baik-baik saja kok, Mi." Ella tersenyum manis.


"Ya sudah, kalau begitu kalian pasti lelah habis jalan-jalan, sekarang kalian pergilah istirahat," Nyonya Mira menyuruh keluarga kecil Devan untuk ke atas beristirahat.


"Baik, Mi."


Devan dan Ella menjawab bersamaan, suasana kembali hening dan ini membuat Nyonya Mira mengerutkan keningnya.


"Sepertinya mereka habis berdebat lagi, huft ... mereka ini masih belum dewasa."

__ADS_1


Nyonya Mira geleng-geleng kepala dan bergumam dalam hati.


Saat mereka mau menaiki anak tangga, suara teriak kegirangan berhasil membuat mereka berhenti dan segera menoleh melihat pemilik suara. Ternyata itu Marshanda yang sering dipanggil Maysha atau Marsya, ia gadis kecil cantik berumur lima tahun lebih yang datang bersama Ibunya, saudara kembar Devandra. Ia adalah Deandra, kerap di panggil Nona muda Dean.


"Oooooooooommmm!"


Marsya berteriak lari ke arah Devan. Devan mundur tak mau digebukin oleh keponakannya. Namun Marsya dengan lincah dan cepat lompat ke arah Devan. Baby Vina tertawa lepas begitupun Vino melihat Ayahnya ambruk ke lantai ditindih oleh Marsya.


"Ahahaha, Marsya sayang, jangan jahil sama Om kamu. Dia pasti habis kerja," tawa Dean pada putrinya dan berjalan mendekati Ella.


Vina turun dari gendongan Nyonya Mira, bersama Vino melepaskan genggaman tangan Ella. Kedua baby twins mendekati Ayahnya yang meringis kesakitan pada pantatnya, apalagi Marsya sangat berat sekarang. Nyonya Mira hanya geleng-geleng kepala, tidak seperti Ella cuma diam menatap Devan. Hal ini membuat Devan sedikit kesal, karena Ella sama sekali tak peduli dan cuek padanya.


"Hihihi, Papacuh," tawa Vina naik ke perut Devan. Vino tertawa melihat ekspresi Ayahnya. Bocah ini tahu apa yang dipikirkan Devan, karena ia sama seperti Ayahnya.


"Aduh, kalian ini berat sekali. Menyingkir dari perut Om, Marsya. Om tidak bisa berdiri," mohon Devan pada keponakan cantiknya serta pada putrinya.


"Hihihi, Om Devan tambah ganteng. Bunda Ella juga tambah cantik, adek Vina tambah lucu," gemas Marsya berdiri dan mencubit pipi Vina. Vina tak mau kalah ia juga balas cubit.


"Kakacan," ucap Vina kegirangan dan berkata Marsya 'Kakak Cantik' baginya.


"Ahahaha, kalian bertiga makin menggemaskan saja," tawa Devan berdiri merapikan kemejanya bersama Dean dan Nyonya Mira yang ikut tertawa geli.


"Oh ya, kamu dari mana? Tumben datang kemari?" tanya Devan pada saudara kembarnya.


Sementara, baby twins mulai aktif bermain lari-larian bersama Marsya. Tawa ketiga anak ini hampir memenuhi isi ruangan. Melihatnya berlarian membuat Nyonya Mira meninggalkan anak dan menantunya untuk menjaga cucu-cucunya agar tidak jatuh.


Dean geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka lalu menarik bahu Ella dan menjawab Devan.


"Tentu aku dari perusahaan Deddy-nya Marsya jadi saat pulang, aku ke sini dulu mau lihat kakak iparku dan dua keponakanku,"


"Oh gitu," ucap Devan singkat, ia lebih fokus melihat Ella yang masih menunduk diam di dekat Dean. Istrinya kali ini benar-benar mulai bersikap dingin. Bahkan ia tak menyapa Dean yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Sekarang gimana?" lanjut Dean bertanya dan melihat Ella serta Devan.


"Gimana apanya?" tanya Devan balik.


"Itu loh, hubungan kalian baik-baik saja kan? Kenapa aku rasa kalian ini-"


"Bertengkar?" tebak Devan tahu pikiran adiknya. Dean melirik Ella, seketika itupun Devan menariknya dan mendekap tubuh Istrinya. Ella tentu terkejut segera mendongak melihat wajah Devan.


"Apa yang dia lakukan? Dia tidak marah lagi padaku?" pikir Ella.


"Dean, kau ini mendingan diam saja. Urusan keluargaku kau tidak usah tahu lebih jelas," ucap Devan tak mau membahasnya lagi.


"Cih, masih sama seperti dulu. Masih saudaraku yang menyebalkan." Dean melipat tangan di depan oppainya, ia merasa jengkel pada Devan yang tak mau terus terang.


Ella menunduk dan tertawa kecil tanpa disadari oleh Devan. Perkataan adik iparnya memang benar kalau Devan lelaki yang menyebalkan.


"Eh, Papi!" panggil Dean pada Tuan Raka yang menuruni tangga sedang memegang koran.


"Loh Dean, tumben malam ini datang berkunjung?" tanya Tuan Raka mendekatinya.


"Oh ya, kalian dari mana saja?" lanjutnya pada Ella dan Devan.


"Biasa, Pi. Kami dari jalan-jalan," jawab Devan tak mau Ayahnya tahu masalah hubungannya dengan Ella lagi.


"Oh, pantesan. Kalian sudah makan?" tanya Tuan Raka lagi sambil melihat Istrinya mengajak cucu-cucunya bercanda ria.


"Sudah, Pi." Jawab ketiganya dengan kompak membuat Tuan Raka terkejut.


"Ya sudah Devan, kamu baru saja pulang jadi lebih baik naiklah ke atas untuk istirahat. Soal Vino dan Vina biarkan Mami kalian yang urus," kata Tuan Raka perhatian, ia nampak tahu putranya punya masalah dengan Ella. Jadi ini kesempatan untuk Devan berbicara pada Ella.


"Siap, Pi!" hormat Devan dengan patuh lalu menarik tangan Ella. Namun Ella menepisnya dan dengan datarnya berbicara.

__ADS_1


"Tidak usah tarik, aku bisa jalan sendiri." Ella berkata acuh tak acuh membuat Devan sangat terkejut.


"Sayang, tunggu aku!" pekik Devan berlari mengejar Ella.


__ADS_2