Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
94. Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Sesampainya mereka ke penginapan yang telah disewa. Elisa berdiri di balkon sendirian sambil menghirup udara segar di pulau itu. Dari kejauhan terlihat pantai di depannya sangat indah. Senyumnya tak henti-hentinya merekah, ia pun sesekali melirik Hansel yang sibuk membereskan barangnya.


"Emh, By."


Elisa dengan manja memeluk Hansel dari belakang. Membuat Hansel berdebar-debar, ia takut Elisa akan meminta itu.


"Kenapa, Sya?" tanya Hansel berbalik lalu mengelus kepala Elisa dengan lembut.


"Kita keluar jalan-jalan yuk," ajak Elisa sambil merangkul lengan Hansel sambil tersenyum. Hansel pun menghela nafas lega kemudian mengangguk. "Syukurlah, dia minta bukan itu." Hansel membatin lega.


"By, mau kan?" mohon Elisa bertingkah imut. Hansel mengiyakan sambil menyentuh hidung Elisa.


"Mau dong, Sya. Sekarang kita keluar jalan-jalan bersama," ucap Hansel setuju.


"Yes, terima kasih By. Aku mencintaimu, muachh!"


Hansel terdiam diberi kecupan di pipinya. Kemudian ia perlahan bersemu merona. Merasa senang istrinya begitu mencintainya. "Apa Devan sudah tak lagi dia cintai?" pikir Hansel tiba-tiba berpikir begitu. "Sudahlah, kenapa aku harus berpikir begini? Elisa sepertinya sudah melupakan Devan." Hansel pun membatin. Ia tak akan bertanya soal Devan pada Elisa.


"By, ayo... dong. Jangan diam gitu aja," panggil Elisa sudah siap dengan topi bersantainya dan sebuah kamera untuk memotret keindahan alam di sana. Hansel terkejut melihat baju yang dipakai Elisa begitu ketat. Hingga pusar Elisa terlihat, apalagi celana yang dipakai juga pendek sampai dua paha putih halusnya terlihat.


"By, kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Elisa mendekatinya. Sontak pinggang Elisa dirangkul oleh Hansel lalu kedua mata mereka saling bertatapan.


"Sini, pakaian yang kamu pakai jelek sekali. Ini pasti cocok untukmu." Elisa tercengang diberi pakaian tertutup, seperti celana panjang sampai bawah lutut terus baju dengan lengan yang panjang berwarna abu-abu.


"Aku pakai ini, serius?" tanya Elisa.


"Ya, ini cocok sekali untuk istriku yang cantik." Hansel menjawab sambil memujinya. Elisa yang mendengarnya pun jadi malu, ia segera berjalan ke arah toilet. Tapi baru juga mau membuka pintu, ia berhenti dan menengok ke Hansel.


"By, bagusnya aku ganti baju di dalam atau di sini saja?"


Hansel tersentak lalu mendorong Elisa masuk ke toilet. "Ganti baju di dalam toilet!" tegas Hansel menutup pintu kemudian bersandar. Tentu saja Hansel tak akan setuju Elisa ganti baju di depannya, bisa-bisanya nanti burungnya lepas atau meronta-ronta. Ahaha...


Setelah semuanya siap, keduanya terlihat pasangan yang cocok. Elisa dan Hansel kini keluar jalan-jalan, terlihat wanita ini begitu riang bertemu dengan orang asing di sana. Tapi Hansel deg-degan takut salah satu dari mereka adalah mata-mata dari musuh Ibunya.


"Excuse me, do you happen to know where the bathroom is located?"


Seorang turis laki-laki bertanya pada Elisa yang tak sengaja berpapasan di jalan. Hansel yang di dekat Elisa segera berdiri di antara istrinya dan turis ini.


"We don't know," jawab Hansel dingin padanya.


"Oh I see, thank you," ucap turis itu tersenyum ramah lalu pergi begitu saja. Elisa pun melihat Hansel yang tiba-tiba bersikap dingin.


"By, kenapa kamu tidak memberitahunya letak WC umum?" tanya Elisa sambil berjalan di samping Hansel.

__ADS_1


"Karena jika kamu menjawabnya, dia akan memintamu untuk menemaninya. Aku hanya waspada, apalagi kita baru sampai di sini, Sya," jelas Hansel serius berbicara.


"Oh, kamu takut ada musuh di pulau ini?" tebak Elisa segera merangkul lengan suaminya.


"Aku tidak takut, cuma mencemaskan dirimu, Sya," ucap Hansel mengelus kepala Elisa dengan penuh perhatian.


"Ya sudah deh, aku tidak akan jauh dari suamiku." Elisa tersenyum manis mendengarnya. Keduanya pun ke kawasan pantai untuk memotret sambil jalan-jalan sampai sore hari.


"By, kemarilah! Kita berfoto bersama yuk!" teriak Elisa melambai ke Hansel yang lagi membawa cemilan di tangannya.


"Sya, jangan melompat. Nanti kakimu kesandung," balas Hansel teriak sambil geleng-geleng kepala melihat kegembiraan Elisa. Tapi Elisa tak peduli, dia berlari ke Hansel lalu merebut cemilan itu.


"By, kita berfoto dulu, ayo bilang cisss!" riang Elisa tersenyum lebar. Hansel pun tersenyum dipotret.


Ckrek!


Satu foto berhasil dimuat dengan sempurna. Elisa memeluk Hansel yang terlihat keren di foto itu bersamanya. Dia pun mengajak Hansel duduk bersila di tanah, pinggiran pantai sambil melihat sunset, detik-detik matahari terbenam. Sangat indah dan menakjubkan. Elisa bersandar di dada Hansel sambil menggenggam tangan Hansel.


"By," lirih Elisa mendongak melihatnya.


"Hem, kenapa Sya?"


"Mataharinya indah kan?" tanya Elisa melihat matahari yang perlahan makin tenggelam sembari merasakan angin sejuk di sore ini.


"Tapi apa?" tanya Elisa mengangkat alis.


"Tapi tak ada yang bisa menandingi istriku yang cantik dan anggun ini." Hansel tersenyum sambil memujinya.


"Iiih, gombal ya?" tebak Elisa menunjuknya.


"Menurutmu?" tanya Hansel meliriknya jahil.


"Ih, basi!" sela Elisa berdiri lalu ia berlari.


"Suamiku gombalnya kurang!" Elisa teriak mengejeknya. Hansel mengerutkan kening lalu berlari mengajarnya.


"Jadi mau digombal gimana nih?" gelitik Hansel berhasil dapat mengejar Elisa.


"Ahahaha, coba rayu aku pakai pantun, bisa gak?" tantang Elisa sambil tertawa akibat digelitik oleh Hansel.


"Bentar, mikir dulu," ucap Hansel menyentuh dagu.


"Ahaha, bilang saja gak tau pantun." Elisa tertawa meledeknya lagi. Hansel pun cemberut lalu berbalik, dia pun punya ide untuk mencari ke mbah dukun, eh maksudnya mbah google.

__ADS_1


"Ayo mana pantunya?" minta Elisa tak sabar.


"Aku punya nih, dengar baik-baik Sya," ucap Hansel sudah siap.


"Okay," kata Elisa duduk sila di tanah.


"Jalan-jalan ke kota pekanbaru,"


"Cakep!" kata Elisa memberi jempol.


"Mampir ke taman, eh ada kupu-kupu. Tidak ada yang aku sayang di hidupku, melainkan engkau wahai istriku," ucap Hansel menunjuk Elisa sambil tersenyum. Elisa berdiri, ia melebarkan senyumnya mendengar pantun Hansel khusus untuknya. Dan ini sedikit lucu karena Hansel bisa berpantun walau dia seorang CEO dan penerus Bos Mafia.


"Kalau Ibumu, kamu gak sayang? Masa cuma aku saja?" Tunjuk Elisa pada dirinya sendiri.


"Pfft, perkataanmu itu salah server. Semua aku sayang, tapi dipulau ini cuma ada istriku yang bisa aku sayangi." Lagi-lagi Elisa dibuat tersipu oleh Hansel.


"Lagi dong," pinta Elisa mau diberi pantun lagi.


"Baiklah, dengarkan ini."


Hansel menghirup udara lalu berkata sambil memeluk Elisa dari belakang.


"Ambil kembang taruh di depan,"


"Cakep!"


"Kembang berpita dibungkus koran,"


"Mumpung abang masih tampan,"


"Mau nggak kita pacaran?"


Elisa terdiam mendengarnya lalu berbalik ke Hansel.


"Pacaran? Kan kita dah nikah, By? Kok malah ngajak pacaran lagi?" bingung Elisa garuk-garuk kepala. Hansel dengan cepat mengangkat Elisa, membuatnya menjerit histeris.


"Astaga, bikin aku hampir jantungan!" ketus Elisa memukul bahu Hansel dengan manja.


"Pfft, tidak ada salahnya kan kita pacaran setelah menikah?" ucap Hansel berjalan meninggalkan tempatnya karena hari sudah petang.


"Ya juga sih, hehehe," cengir Elisa tersipu lagi.


"Ya sudah, kita resmi pacaran lagi!" seru Hansel membuat Elisa tercengang dengan teriakan Hansel.

__ADS_1


"Iih, dasar! Malu tau teriak begitu!" desis Elisa merangkul leher Hansel kemudian tertawa bersama. Namun samar-samar tawa mereka terdengar oleh seseorang.


__ADS_2