Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
8. Sebuah Lelucon?


__ADS_3

"Hansel, kau tahu kan apa tugasmu?"


"Ya, Presdir,"


"Kalau begitu lakukan tugasmu dengan baik, aku tunggu di luar." Devan berbalik membalakangi mereka namun langsung ditahan oleh sang manajer. Semua mata tertuju padanya yang duduk dilantai memohon agar melepaskannya.


"Presdir, saya minta maaf. Saya tak bermaksud tadi, itu hanyalah sebuah lelucon. Saya benar-benar minta maaf."


Hansel sedikit geram melihatnya, tidak seperti Devan tertawa mendengarnya.


"Ahaha, sebuah lelucon?" Devan berbalik menatapnya sinis.


"Kau tahu, dari kelicikanmu ini, ada beberapa pekerja yang menjadi korban. Mereka mundur dan ada yang meninggal atas kebodohanmu! Apa itu sebuah lelucon? Apa itu lucu? Kau ambil hak mereka? Ha!" bentak Devan dengan kasar menendangnya dan melihat jijik pada manajernya.


"Sekarang, Hans. Beri tahu dia bagaimana lelucon itu!" Tunjuk Devan pada manajer itu lalu keluar dari ruangan. Hansel menunduk lalu melirik tajam ke arah semua orang. Senyum manisnya berubah menyeringai dengan siap-siap ingin meninju mereka semua.


Manajer itu berdiri, tak ada ketakutan di wajahnya. Melainkan tersenyum lalu melirik teman-temannya.


"Kau ingin menghajarku?" Tunjuk Hansel santai menerima tatapan mereka.


"Ya, kau pikir kami takut padamu! Kau hanya sendirian!" geram manajer itu melihat wajah menyebalkan Hansel yang hanya menganggap remeh mereka yang beranggota tujuh.


Devan melihat jam tangannya sudah pukul 16.30 sore dan terlihat mengabaikan suara kegaduhan di dalam sana. Lama-lama suara jeritan dan kegaduhan langsung berhenti. Devan melihat jam sudah pukul 16.40 sore. Ternyata hanya 10 menit saja, Hansel sudah melumpuhkan tujuh orang itu.


Terlihat Hansel mengelap keringatnya pakai sapu tangan yang baru dan sudah merobohkan mereka. Hansel menyeret manajernya yang sudah pingsan. Ia keluar dari ruangan untuk melaporkannya ke Devan.

__ADS_1


"Presdir," ucap Hansel masih menyeret manajer itu.


"Bagus, kau memang bisa diandalkan. Sekarang bawa dia ke kantor polisi, tindakannya sudah banyak membuat kerugian di perusahaanku! Dia pantas di penjara!" pinta Devan melihat manajer itu babak belur.


"Baik, Presdir." Hansel menunduk patuh lalu mengikuti Devan pergi dari club malam membawa manajer itu. Segala perbuatan jahat pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.


Setelah kepergian mereka, seseorang diantara anak buah manajer itu terbangun, dan segera pergi sebelum anak buah Devan datang membawa mereka juga. Namun terlihat ia mengepal tangan.


"Awas, akan aku balas kalian!"


______


Pukul 17.35 petang, Hansel sedang mengemudi sudah beres mengurus pengkhianat di perusahaan atasannya. Sekarang tujuannya ingin pulang. Namun pandangannya menangkap seorang wanita yang berjalan masuk ke sebuah minimarket.


Hansel menghentikan mobilnya, turun dan dengan pelan-pelan mendekati minimarket ingin melihat jelas siapa wanita itu.


"Aku dekati atau tidak?" pikir Hansel ragu-ragu sambil melihat Elisa sedang membelakanginya. Terlihat sedang mencari sesuatu.


Seketika matanya membola melihat Elisa ingin berbalik, dengan cepat Hansel bersembunyi di bagian rak belakang. Melihat Elisa jalan melewatinya tanpa menyadarinya.


"Astaga, kenapa aku harus sembunyi-sembunyi?" Hansel menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdetak dag-dig-dug.


"Apa ini? Kenapa jantungku begini?"


Hansel menggelengkan kepala dan baru sadar Elisa sudah keluar dari minirmarket. Dengan buru-buru tanpa membeli apa-pun, ia segera mengejar Elisa. Namun tak sangka seorang pria merebut tas milik Elisa.

__ADS_1


"Aaagh!" jerit Elisa jatuh didorong olehnya. Elisa sadar tasnya dicopet.


"Woi copet!" teriak Elisa segera mengejarnya. Pencopet kaget melihat Elisa berani mengejarnya. Akan tetapi pencopet tak sadar siapa yang akan berhadapan dengannya sekarang.


Bagh!


Pukulan langsung diberikan untuk si pencopet hingga jatuh ke tanah. Kerah lehernya dicekram oleh Hansel dan melihat tas itu. Hansel merebutnya dan menatapnya tajam. Pencopet kaget dirinya berhasil ditangkap. Bahkan Elisa juga kaget bertemu Hansel malam ini. Namun karena asik saling memandang, akhirnya Hansel ditinju oleh pencopet.


"Woi!" pekik Elisa kesal melihat pencopet kabur tapi untungnya tak membawa apa-apa. Namun ia lebih kuatir melihat Hansel kesakitan pada hidungnya yang barusan ditinju, apalagi kacamatanya terjatuh ke tanah. Ini pertama kalinya Hansel keliru, gara-gara memandangi Elisa dan berhasil ditinju.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Elisa mengambil kacamata Hansel dan tasnya. Hansel geleng-geleng kepala masih menahan sakit di hidungnya.


"Hais, ini salahku. Kau jadi dipukul olehnya, maafkan aku sekretaris Hansel," lagi-lagi Elisa bicara padanya.


"Tidak apa-apa, ini sudah biasa. Nona tidak perlu meminta maaf." Hansel berusaha tersenyum. Namun berhenti ketika Elisa memasangkan kacamata untuknya.


"Kau terlalu baik dan formal padaku. Panggil saja, Elisa. Tidak perlu Nona," ucap Elisa tersenyum. Hansel kikuk sekarang, gugup dan canggung dipasangkan kacamata oleh seorang wanita. Perlahan ia diam-diam tersipu.


"Itu, hidungmu!" kaget Elisa melihat hidung Hansel mimisan.


"Hidungku kenapa?"


Elisa tak menjawab melainkan membuat Hansel terkejut melihat wanita ini mengusapnya dengan sapu tangan miliknya kemarin malam yang dia berikan sendiri. Ternyata Elisa menyimpannya di dalam tas.


"Nona, anda tak perlu lakukan ini padaku," ucap Hansel meraih tangan Elisa agar berhenti mengusap hidungnya. Namun keduanya diam mematung saling bertatapan. Ada sedikit getaran yang dirasakan oleh keduanya malam ini.

__ADS_1


"Ma-maaf," lirih Elisa menunduk tersipu, begitupun Hansel merasa Elisa barusan perhatian padanya.


__ADS_2