Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
19. Dicium


__ADS_3

"Hans, berhenti! Aku-aku sebenarnya menyukaimu!" ungkap Elisa serius menatap punggung Hansel. Sontak Hansel perlahan berbalik dan sangat terkejut mantan kekasih atasannya mengutarakan hal itu padanya. Rembulan yang indah di atas langit adalah saksi atas ungkapan hati Elisa.


"Nona, serius?"


Hansel bagaikan memenang sebuah lotre. Ini bagaikan kejutan untuknya. Kedua mata mereka tak bisa berhenti saling menatap satu sama lain. Elisa kembali mendekati Hansel, begitu sangat dekat.


"Nona tadi bilang apa?" Sekali lagi Hansel ingin memastikannya.


Elisa menunduk, ia sedang menahan tangisnya. Ia ingin menangis sudah malu berkata begitu. Merasa bodoh dirinya yang pertama kali mengutarakan perasaannya.


"Non Elisa."


Elisa kini menatapnya, menatap bergatian dua bola mata Hansel. Tak ada keraguan sedikitpun di matanya, ia yakin Hansel adalah calon terbaik untuknya.


"Aku-aku sudah lama menyukaimu, Hans. Saat aku sedih, kau kadang memberiku sandaranmu. Kau perhatian padaku, jadi aku pikir kau baik untukku. Kau-kau beda dari yang lainnya, perhatianmu padaku sangat beda."


Elisa gemeteran, ia takut celoteh-celotehnya akan dianggap omong kosong oleh Hansel. Ia benar-benar ingin menangis merasa dirinya begitu bodoh. Tapi tidak untuk Hansel yang juga kini hatinya berdebar-debar.


"Kau serius Nona?" Lagi-lagi Hansel bertanya.


Elisa mengangguk saja, sontak tangan kanannya diraih oleh Hansel membuatnya kaget. Apalagi sekarang cuma mereka berdua saja di pinggir jalan. Tapi ucapan Hansel dan tindakan Hansel semakin membuat Elisa terkejut.


"Nona, jika kau serius. Maka bisa kau rasakan hatiku juga," ucap Hansel meletakkan tangan kanan Elisa ke dadanya. Elisa tersentak dapat merasakan detak jantung lelaki di depannya berdebar-debar seperti dirinya juga. Suasana malam ini yang mulai terasa sejuk sangat mewakili dua perasaan manusia ini.


"Kau dapat merasakannya, Nona?" tanya Hansel menatap dua mata Elisa. Elisa mengangguk kepala. "Kau deg-degan, apa kau juga menyukaiku, Hans?" Elisa yang kini bertanya.


Satu detik, dua detik akhirnya senyum manis Hansel diperlihatkan hanya untuk Elisa malam ini. Hansel mengangguk lalu mencium punggung tangan Elisa. Terasa begitu lembut membuatnya tersipu malu.


"Aku juga sudah lama mengagumi dirimu, Nona. Mencintai wanita yang anggun sepertimu, kau punya hati yang baik membuatku selalu mengagumimu." Ungkap Hansel serius kali ini. Awal ia suka dari keikhlasan Elisa saat melepaskan Devan untuk Ella.


"Kau mencintaiku? Apa-apa itu sungguhan?" tanya Elisa memastikan. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ya, Nona. Aku bersungguh-sungguh."


Elisa tersenyum lebar, begitu senang mendengarnya. Laki-laki yang diam-diam ia kagumi ternyata peka dan menyukainya juga.


"Oh tidak, kau menangis?" Hansel kaget melihat butiran jatuh dari pelupuk mata Elisa. Elisa mengusapnya segera dan ingin memeluk Hansel. Tapi berhenti saat ia sadar apa itu pantas untuknya.


"Ter-terima kasih," lirih Elisa hanya menunduk saja.


"Pfft, kau lucu Nona." Hansel tertawa lucu dan dengan lembut mengelus kepala Elisa.


"Nona, kalau begitu masuklah. Malam ini begitu dingin, aku tak mau kau sakit," ucap Hansel mulai perhatian. Elisa mengangguk saja, dalam hatinya ia ingin teriak kesenangan. Tapu kini ia sadar bahwa Hansel harus diseret ke dalam rumahnya.


"Tunggu, Hans." Tahan Elisa kembali.


"Ya, Nona?" Hansel hampir saja masuk ke dalam mobil.


"Itu-" Elisa memainkan dua jarinya.


"Pfft," Hansel tertawa kecil dan mendekati Elisa lalu meraih kedua tangan Wanita ini. Hansel sedikit gugup untuk menembaknya malam ini. Tapi melihat Elisa tak sabaran, Hansel pun menghirup udara banyak-banyak.


"Nona Elisa,"


"Hm, ya?" sahut Elisa.


"Aku Hansel Carlous, lelaki yang mengagumimu dari tahun kemarin ingin mengatakan, apa aku boleh mencintaimu dan kau setuju menjadi Kekasihku? Maukah kau menerima diriku apa adanya? Menjadikan aku sebagai pasangan dari wanita cantik yang kini berdiri di depanku? Bidadari anggun yang berhasil memikatku, mau kah Nona Elisa?" ungkap Hansel bertanya penuh harap.


Mata Elisa berkaca-kaca, ucapan Hansel membuatnya geli tapi ini yang ditunggu-tunggu olehnya. Dengan senang hati, Elisa menganggukkan kepala.


"Ya, aku mau!" jawab Elisa dengan senyumnya yang merekah bagaikan bunga matahari.


"Pfft, syukurlah." Tawa Hansel geli juga. Dengan cepat dan senang tanpa sadar, Elisa memeluknya riang membuat Hansel tersentak menerima pelukan itu.

__ADS_1


"Kau pria yang menyenangkan, maksudku aku senang mendengarnya!" pekik Elisa tak mau berhenti memeluk Hansel. Hatinya kembali berbunga-bunga, begitupun Hansel. Kini kedua mata mereka menatap serius, menatap dalam-dalam mata mereka masing-masing.


"Hans, aku-aku mencintaimu," ungkap Elisa serius.


"Aku juga, Nona." Hansel semakin dekat dan perlahan ingin mencium Elisa. Ingin merasakan rasanya mencium bibir lembut milik kekasihnya malam ini. Elisa hanya diam, ia bagaikan tahu reaksi Hansel.


"Apa dia ingin menciumku?"


Tapi dugaan Elisa salah, Hansel hanya mengecup kening Elisa dengan lembut. Meski begitu, ini berhasil membuatnya bagaikan sedang melayang ke langit ke tujuh. Dua tahun tak bisa move on dari Devan, akhirnya malam ini Hansel berhasil membuka rantai yang melenggu hatinya.


"Apa kau suka?" tanya Hansel sedikit grogi. Elisa hanya menganggukkan kepala. Tak dapat berkata-kata lagi.


Tanpa babibu, Elisa meraih tangan kanan Hansel lalu menuntunnya masuk ke rumah.


"Nona mau bawa aku kemana?"


Elisa berhenti lalu menjawabnya, "Bisakah kau panggil namaku saja, Hans," ucap Elisa tak ingin Hans formal padanya. Hansel hanya diam, ia merasa apa itu pantas untuknya?


"Ah baiklah, tidak apa-apa. Kau boleh panggil aku apa saja, sekarang aku akan katakan pada Mama kalau sekarang kau kekasihku!"


Hansel terperanjak mendengarnya. Tapi entah tiba-tiba kedua kakinya menerima usulan Elisa. Terlihat Elisa menarik kembali Hansel dengan wajah merona berbunga-bunga. Hansel hanya menunduk di setiap langkahnya.


Tidak seperti Devan yang lagi sibuk di perusahaan kini dihubungi oleh sang Istrinya. Ponselnya bergetar membuatnya ikut bergetar.


Derrrt derrrrt derttt


"Halo sayang, ada apa?" tanya Devan membereskan berkas di atas mejanya.


Namun yang dia dengar malah membuat kedua matanya membola. Telihat kaget menerima panggilan itu.


"Apa, Ella pingsan?"

__ADS_1


__ADS_2