Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
88. Jujurlah


__ADS_3

Perlahan-lahan, Hansel terbangun akibat suara notif yang kecil di dekat Elisa. Hansel memijit pelipisnya mencoba untuk sadar sepenuhnya. Hansel beranjak duduk kemudian menoleh ke samping. Hansel tersenyum melihat istri kesayangannya ketiduran.


"Pfft, dia minta passwordku tapi dia tidak paham kalau kata 'Peluk aku' adalah passwordnya, tapi dia masih mau mengikuti ucapanku," gumam Hansel menahan tawa sembari mengelus pipi Elisa yang halus. Namun matanya sesekali melirik oppai Elisa lalu menyentuh hidungnya agar dapat bertahan untuk tidak mimisan.


"Huft, tenang Hans. Kamu jangan terburu-buru, biarkan dia menyiapkan diri." Hansel membuang nafas ringan seperti memikirkan sesuatu. Mungkin memikirkan malam pertamanya nanti.


Drrrttt Drrtttt


Ponsel Ella kembali bergetar, sebuah notif pesan masuk lagi. Karena sedikit mengganggu, Hansel pun mengambil ponsel Elisa. Seketika alis kanannya terangkat.


"Nyonya Jessy? Untuk apa dia mengirim pesan ke istriku?" gumam Hansel menoleh ke Elisa yang masih tertidur. Karena layar ponsel Elisa tak dikunci, Hansel pun perlahan membukanya. Sontak tangannya terasa lemas setelah membaca chatingan Elisa dengan Ny. Jessy.


"Ini, apa maksudnya?" Hansel sangat shock. Ia pun berdiri kemudian meletakkan kembali ponsel Elisa di dekatnya. Pesan-pesan dari Ny. Jessy belum dihapus oleh Hansel. Di wajahnya, terukir sedikit kekecewaan.


"Huft, apa yang sebenarnya terjadi?" Hansel menyentuh kepalanya, tiba-tiba saja berdenyut cukup sakit. Hansel tersentak melihat jam dinding sudah pukul 17. 12 petang. Hansel berbalik ingin keluar dari kamar, namun baru juga selangkah, ia berhenti lalu berbalik. Hansel duduk sebentar di dekat Elisa. Menyentuh perlahan pipi istrinya.


Hansel kini berdiri di depan kamar mandi, ia sudah membasuh muka. Seketika tangan kirinya dikepal kuat-kuat dan kemudian Hansel keluar dari kamar. Perasaan Hansel sedang berkecamuk dengan dua rasa yang berbeda di dalam hatinya.


Tak lama kemudian, perlahan Elisa membuka mata. Elisa mengucek sedikit matanya lalu beranjak duduk. Elisa meregangkan kedua tangannya kemudian sontak sadar sepenuhnya.


"Tunggu, kenapa...." Elisa menyentuh kepalanya dengan mata membola.


"Aaaastagaa! Kenapa aku bisa ketiduran?" Elisa celingak celinguk tak melihat Hansel di dalam kamar. Elisa segera ke kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah itu, ia yang panik karena telat masak langsung ke pintu kamar, namun baru juga mau tutup kamar, tiba-tiba kedua matanya teralih pada ponselnya yang menyala. Elisa kembali kaget, ia segera mengambil ponselnya. Elisa melihat pesan miliknya. Alis kanan Elisa terangkat melihat ada pesan baru yang sudah dibaca.


"Ya ampun, apa Hansel tadi membuka ponselku?"

__ADS_1


"Kalau begitu, apa dia sudah membaca semuanya?"


"Apa dia sudah tahu kalau Ny. Jessy adalah Ibu kandungnya."


Elisa menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia kemudian keluar mencari Hansel.


"By... kamu di mana!"


"By...."


Elisa berhenti, ia terkejut melihat Hansel sedang menyiapkan makan malam. Elisa pun berjalan kembali setelah Hansel memanggilnya sambil tersenyum.


"Eh, Sya. Ternyata kamu sudah bangun, pasti aku terlalu berisik sampai kamu terganggu," ucap Hansel yang memakai celemek. Elisa melangkah maju, makin mendekati Hansel. Elisa melirik ke atas meja, makanan sudah di siapkan tinggal di makan. Tapi Elisa sontak memeluk Hansel lalu berkata : "Maaf, By. Karena aku ketiduran, kamu yang masak sekarang. Maafkan aku, By." Elisa menangis sedikit. Cukup merasa bersalah pada Hansel yang baru saja sembuh malah memasak malam ini.


"Tidak masalah, kamu kan juga pastinya capek. Jadi kemarilah, kita makan bersama." Hansel menarik Elisa duduk di dekatnya. Elisa pun menyeka air matanya lalu duduk. Suasana terasa sangat tenang, tapi lama-lama Elisa yang sibuk dengan pikirannya ingin sekali bertanya pada Hansel yang lagi mengunyah.


"Apa lebih baik aku tanyakan saja? Aku jadi takut, mungkin saja Hansel tadi membaca pesanku. Tapi aku juga tak bisa menyimpulkannya."


Elisa membatin sambil mengunyah juga. Seketika ia tersentak ditanya oleh Hansel.


"Sya, ada apa denganmu?" tanya Hansel dengan tatapan curiga. Elisa menutup mata kemudian meihat Hansel, tapi mulutnya terasa kram tak bisa berkata jujur tentang identitas Hansel.


"Hans, sebenarnya...." ucap Elisa berhenti disaat jari Hansel menyapu pinggir bibirnya yang ada sisa makanan. Pipi Elisa berhasil merona melihat Hansel perhatian.


"Sya, mulut kamu sedikit belepotan. Kamu sedang pikirkan apa?" tanya Hansel. Elisa segera geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau ada hal lain kamu kasih tahu aku ya, aku tidak mau kamu banyak pikiran." Dengan perhatian, Hansel mengelus kepala Elisa sambil tersenyum kemudian lanjut makan bersama. Setelah makan, Elisa mencuci piring. Cuma dia sendirian karena Hansel tiba-tiba minta ingin cepat istirahat dan tak bisa menemani Elisa.


"Huft, apa lebih baik aku katakan langsung?" pikir Elisa membuka celemeknya lalu pergi menaiki tangga. Elisa pun perlahan membuka pintu kamar. Seketika matanya menatap Hansel yang duduk santai di sofa sambil melihatnya serius.


"Loh, By. Kenapa belum tidur? Bukannya tadi mau istirahat?" Elisa menutup pintu kamar kemudian berjalan ke arahnya.


"Apa ada hal lain yang bisa aku lakukan?" lanjut Elisa bertanya lagi. Sontak Hansel berdiri dan langsung menarik tangan Elisa ke atas dikit.


"Auh, ada apa, By?" tanya Elisa kaget. Hansel tak menjawab malah tiba-tiba mengangkat Elisa.


"Kyaaaa! Ada apa ini, By!" pekik Elisa shock karena tubuhnya dijatuhkan ke ranjang.


"By, jangan diam saja!" lagi-lagi Elisa terkejut Hansel menindihnya dan mengunci tangannya ke atas. Posisi ini membuat otak Elisa mulai berpikir liar.


"Jawab aku, ada apa denganmu?" Sekali lagi Elisa bertanya. Hansel menghela nafas kemudian menatap tajam kedua mata Elisa.


"Jujurlah-" ucap Hansel berhenti.


"Jujur apa?" tanya Elisa tak bisa bergerak. Hansel benar-benar memiliki tenaga kuat hingga ia tak dapat memberontak.


"Jujurlah Elisa, siapa itu Maikeul?"


Deg! Detak jantung Elisa berdetak keras mendengar Hansel menyebut nama aslinya sendiri.


"Ya Tuhan, apa mungkin Hansel sudah membaca semua pesan dari Nyonya Jessy?"

__ADS_1


__ADS_2