Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
71. Mempesona


__ADS_3

Hari pernikahan sudah tiba, di mansion Tuan Raka sangat berisik dengan kebisingan anak-anak, terutama Marsya yang asik mengajak dua adik sepupunya jalan-jalan di ruang tengah.


"Sayang, tolong pasangkan dasi untukku. Sepertinya ini agak susah dirapikan." Devan memanggil Istrinya yang lagi melihat ponselnya.


"Sayang, kamu sedang melakukan apa di situ?" sekali lagi Devan memanggilnya.


"Ya bentar, ini aku lagi chatingan sama Kak Elisa. Lihatlah, dia sangat cantik kan jadi pengantin wanita hari ini?" Ella memperlihatkan pemotretan Elisa yang memakai gaun putih. Terlihat cantik dan anggun.


Devan mendekatinya dan langsung merangkul Ella.


"Au, kamu jangan asal peluk. Nanti dress aku robek honey," ucap Ella menggeliat geli dipeluk oleh Devan.


"Hm, cantik. Tapi istriku lebih cantik dan mempesona,"


"Ahahaha... jangan gombal aku deh, geli tau!" tawa Ella dibisikkan oleh Devan.


"Ya emang kamu cantik walau sedikit cengeng, wleek," ejek Devan menjulurkan lidahnya.


Ella spontan menyilangkan tangan dengan wajah cemberut. Menatap sinis ke arah Devan yang masih tertawa.


"Ish, honey semakin menyebalkan! Tidak ada yang lucu!" cetus Ella manyun. Seketika Devan langsung memojokkan Ella ke tembok dekat jendela hingga horden terbang dihembus oleh angin luar. Devan menatap istrinya dengan jahil.


"Upsh, istriku kalau ngambek kelihatan tambah imut deh, jangan dimajukan dong mulutnya nanti bibirnya aku cium nih," goda Devan kembali lagi.


"Hmp, sudah. Jangan rayu aku lagi, sini aku perbaiki dasimu," ucap Ella meraih dasi Devan sembari menatap dua mata berwarna biru suaminya.


"Sayang, kamu memang cantik hari ini," rayu Devan lagi. Mendengarnya hanya membuat Ella tersipu merona.


"Yap sudah beres, sekarang kamu terlihat-"


"Tambah ganteng kan?" tebak Devan memutuskan ucapan Ella.


Ella pun dengan gemas mencubit dua pipi Devan.


"Wah... wah, suamiku selalu benar ya dalam tebakannya,"


"Ya dong, aku kan emang dari lahir sudah ganteng," puji Devan pada dirinya sendiri. Sangat percaya diri membuat Ella menahan tawa.


"Suamiku lama-lama makin narsis," ledek Ella berjalan ingin keluar.


"Yeee.... mana ada!" cetus Devan mengikutinya.


Ceklek!


"Mama!" panggil Vina berdiri di depan pintu memanggil Ella yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Hello baby Vina," sapa Devan tersenyum pada anak keduanya.


"Eyyo Papa!" balas Vina tersenyum.


"Wah anak Papa sudah siap dan cantik," puji Devan jongkok di depan Vina. Ella cuma menahan tawa dengan tingkah lucu anaknya dan suaminya.


"Ya Papa, Nana manyis sama ceperci Mama."


"Pfft, sini Papa gendong, kita segera ke tempat pernikahan Bibi dan Paman kalian," raih Devan menggendong Vina.

__ADS_1


"Hayyu Papa... Mama, hihihi." Vina cekikikan sangat senang di gendong oleh Papanya sendiri.


Ella pun turun ke bawah bersama Devan dan Vina. Seketika suara Marsya terdengar meneriaki mereka.


"Bundaaaaa!"


"Mamaaaa!"


Vino tidak kalah berteriak dan langsung lari ke Ella bersama Marsya.


"Ahahaha jangan lari sayang, nanti jatuh," tawa Ella meraih tangan Vino.


"Wah Bunda Ella cantik sekali sama Om Devan juga-" ucap Marsya girang melihat Ella memakai dress putih yang mempesona dan berhenti sejenak.


"Om juga apa nih, Sya?" tanya Devan melihat ponakannya yang sudah siap untuk ikut bersamanya.


"Hihihi Om devan jelek, wleek!" Marsya tertawa mengejeknya.


"MARSYAAAAAA!" teriak Devan marah, Marsya tertawa lepas segera lari keluar.


"Ahahaha... Om Devan jangan marah, nanti cepat tua hihi...." tawa Marsya melompat-lompat dan kembali meledeknya. Vino ikutan tertawa segera ikut lari ke arah Marsya.


"Eh, Vino jangan lari-lari sayang," ucap Ella sembari geleng-geleng kepala.


"Iih... Papa anceng, njak jeyek!" Vina memeluk Devan agar tidak marah.


"Huft, ya sudah... kita ke mobil takutnya nanti telat hadiri pernikahan Hansel dan Elisa."


Ella mengangguk paham dan kemudian pergi ke arah mobil Devan bersama Vina. Terlihat Vino dan Marsya sudah berada di dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, mereka pun menuju ke tempat pernikahan.


Serta pengantin pria sudah berada di atas altar sedang menunggu pengantin wanita. Terlihat Hansel mempesona tanpa kacamata sedang berdiri di dekat Pak Carlous saja. Bu Naina sepertinya tidak hadir ke pernikahan ini. Ella tahu pasti Bu Naina tidak mau hadir.


"Sayang kita ke situ saja," ucap Devan menunjuk ke suatu tempat. Ella menurut saja dan mengikuti Devan bersama dua anaknya. Sementara Marsya keasikan mondar-mandir melihat berbagai kue di atas meja.


"Aduh!" ringis seorang wanita tak sengaja disenggol oleh Ella.


"Sorry, anda baik-baik saja?" tanya Ella melihatnya merasa bersalah.


"Eh, Bu Jessy?" lanjut Ella mengenalinya.


"Wah kebetulan bertemu di sini, apa dia suamimu dari anak kembarmu?" tanya Bu Jessy menunjuk Devan. Terlihat wanita ini cantik juga menghadiri pesta pernikahan.


"Ya saya suaminya, saya Presdir Devan dari perusahaan teknologi di kota ini. Sedangkan anda siapa?" sahut Devan yang menjawabnya.


"Oh saya, Jessica Karmelia. Saya Ibunya Renita dari salah satu karyawanmu." Ny. Jessy tersenyum ramah.


"Senang bertemu dengan anda, Nyonya," balas Devan dengan ramah.


"Em Bu Jessy ke sini bersama Renita?" tanya Ella sedikit takut kalau Renita akan mengacau hari ini.


"Hm tidak, Renita ada di rumah. Saya datang ke sini bersama suamiku," jawab Ny. Jessy melihat Pak Roland yang berdiri tidak jauh darinya.


"Di mana suami anda, Nyonya?" tanya Devan ingin tahu.


"Tuh dia di sana," jawab Ny. Jessy menunjuk Tuan Roland yang lagi memperhatikan ke arah altar.

__ADS_1


"Loh dia kan?" ucap Ella dan Devan bersamaan, keduanya terkejut mengenal Tuan Roland adalah bapak pemilik villa.


"Kalau begitu, saya ke sana dulu. Permisi," pamit Ny. Jessy pergi ke Pak Roland.


"Emh, aku tidak sangka Renita adalah anaknya, lelaki ini sepertinya bukan dari kota ini." Devan bergumam agak curiga dengan Tuan Roland.


"Wah, itu Kak Elisa... honey!" pekik Ella melihat Elisa keluar dari mobil diikuti oleh Tuan Vian. Semua orang bersorak dengan kedatangan pengantin wanita yang cantik membahana dituntun ke arah altar. Hansel tersenyum manis dan gugup berhadapan dengan Elisa.


"Kamu sangat cantik Nona," gumam Hansel memujinya. Elisa menunduk tersipu dan sudah berada di depan Hansel. Sementara Tn. Vian kini berdiri di dekat Ny. Chelsi dan Aline.


Tuan Roland menyipitkan mata merasa Hansel sangat familiar. Ada sedikit senyuman tiba-tiba dia perlihatkan hari ini melihat istrinya yang berdiri di dekatnya. Berpikir, seandainya putranya ada pasti juga akan hadir menjadi walinya.


Setelah mengucapkan janji pernikahan, akhirnya Hansel dan Elisa resmi menjadi pasangan suami istri. Bukti cincin pernikahan mereka adalah bukti nyata. Perlahan Hansel mencium kening Elisa lalu melihat bibir Istrinya.


Dag... Dig... Dug...


Hansel deg-degan untuk mencium bibir Elisa, tapi Elisa malah inisiatif mencium duluan. Semua orang bersorak melihat tindakan Elisa, rasanya sungguh nikmat mendapatkan ciuman itu.


"Jangan malu-malu Hans, kamu kan pernah aku cium?" bisik Elisa merayunya.


"Ekhm, kamu selalu menang dariku." Kata Hansel menatapnya malu.


"Yeeesss, Marsya punya Bunda sama Om baru. Nanti Marsya dapat adek baru hihihi...." sorak Marsya kegirangan membuat semua orang tertawa lepas.


Kini waktunya memberi selamat, setelah semuanya selesai dan tinggal Ny. Jessy dan Tn. Roland yang belum, tiba-tiba saja seorang wanita berteriak dan menembak ke atas.


DORR!


"Kalian jangan bergerak!" Para tamu ketakutan hingga lari kocar-kacir dan menyisakan beberapa orang.


"Re-renita?" ucap Hansel dan Elisa melihat Renita berdiri dengan pistol di tangannya. Sorot matanya penuh kebencian.


"Renita, apa yang kamu lakukan Nak!" bentak Tn. Roland melihat putrinya berhasil kabur dari kurungannya.


"Anak? Hei! Aku ini bukan anakmu! Ayahku sudah meninggal sebelum aku lahir! Aku ke sini tidak mau bicara denganmu, tapi ke sini untuk menyingkirkan wanita sialan itu!" teriak Renita membidik Elisa. Semua orang kembali ketakutan, terutama Elisa dan Ella. Suasana semakin menegangkan.


"Renita! Apa kamu sudah gila!" bentak Hansel melindungi Elisa.


Renita menatapnya sedih lalu tertawa bodoh.


"Ahaha gila? Ya aku sudah gila! Ke-kenapa kamu menikahinya, Hans. Aku sudah dari dulu menyukaimu, aku pikir perhatianmu padaku adalah bukti kamu menyukaiku juga, tapi ternyata aku sama sekali tidak berarti bagimu," tangis Renita masih menodongkan pistol.


"Ren, aku sudah katakan kalau kamu ini cuma teman bagiku. Kamu tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu, Ren. Sekarang tolong turunkan senjatamu," ucap Hansel mencoba menenangkan Renita.


"Ya Renita, turunkan senjatamu Nak. Di sini banyak anak-anak," kata Ny. Jessy bersama Tn. Roland. Ella ketakutan memeluk lengan Devan dan juga menyembunyikan baby twins di belakangnya. Devan sedikit takut karena Renita nampak tidak main-main dengan pistol di tangannya.


"Hiks... tapi aku sangat mencintainya Mah, aku yang harusnya berdiri di samping Hans, aku yang harusnya menikah dengannya," tangis Renita pada Ibunya. Selama hidup Renita tidak pernah ada sosok lelaki yang bisa melindunginya dan berharap sosok itu adalah Hans.


"Ren, sekarang kamu tenang, kita bisa bicara baik-baik," Elisa maju mencoba bicara. Renita geram dan langsung terdengar suara tembakan.


DOOR!


"HANS!"


"Dasar kamu kejam, RENITA!!"

__ADS_1


__ADS_2