Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
35. Sangat Marah


__ADS_3

Sekarang tak ada suara sama sekali, suasana makin mencekam di ruang tamu milik Tuan Vian yang sepi, karena Nyonya Chelsi sedang keluar jalan-jalan bersama baby twins dan Bibi pelayan. Di dalam rumah ini cuma ada Devan dan Ella yang duduk dari tadi di sofa. Ella nampak menunduk belum berbicara, ditambah ia masih sedikit terisak-isak. Masih belum bisa melupakan Jastin yang hampir melecehkannya.


Sekretaris Hansel hanya berdiri di depan pintu utama. Terlihat kemejanya yang tadi masih membalut tubuh Ella. Satu pria ini disuruh berjaga-jaga oleh Devan dan ia juga sedikit cemas pada Devan yang bisa saja termakan emosi lagi dan melakukan kekerasan pada Ella.


"Berhentilah menangis, sampai kapan kamu akan terus begini?"


Devan mulai angkat bicara, suaranya terdengar dingin. Tak ada ekspresi bahagia yang terukir di wajahnya selain memandang Ella dengan datar.


"Honey, yang kau lihat tadi itu salah, aku dan Jastin tidak punya hubungan apa-pun."


Ella berkata sambil terisak, berkali-kali menyapu kasar air matanya. Ia tak sangka, rupanya Devan tidak percaya padanya dan kini berpikir salah terhadapnya.


"Salah? Kau pikir aku salah lihat? Jelas-jelas kau dan dia berada di atas ranjang bersama!" ucap Devan mencoba tenang meski emosinya sedikit demi sedikit mulai meningkat.


"Ya tapi kau jangan salah paham dulu, aku tidak sengaja bermaksud ingin lakukan itu bersama Jastin, dia yang memaksaku dan aku sudah berusaha untuk melawannya," jelas Ella melihat Devan nampak tak terima apa yang dia lihat tadi.


"Aku ke sana hanya untuk-"


"Untuk bercinta dengannya kan?" potong Devan berdiri dan menebaknya lagi. Ella terkejut segera menggelengkan kepala, ia ikut berdiri dan mendekati Devan.


"Tidak, honey. Bukan itu, aku ke sana untuk mencari keburukan dia, serta-"


"Serta apa?" ujar Devan makin kesal karena Ella tak mau berterus terang.


"Serta dialah yang mengatakan kalau kau dan Elisa pernah melakukan itu, jadi aku mencari tahu kebenarannya," jawab Ella menunduk dan menahan isakannya.


Devan tertawa mendengarnya, merasa dugaannya benar jika Ella pasti telah dihasut oleh seseorang. Devan pun dengan dinginnya berbicara lagi.


"Ella, aku sudah katakan kemarin. Kalau aku dan Elisa tidak pernah melakukan itu, mengapa kau malah lebih percaya Jastin dari pada suamimu sendiri! Jelas-jelas kau wanita yang pertama kalinya tidur denganku!" kata Devan dengan serius.


"Oh atau mungkin karena kau berpikir begitu, jadi kau juga ingin membalasku dengan bercinta bersama Jastin lalu kau buat tuduhan ini? Apa kau sudah bosan denganku jadi kau ke Jastin untuk melampiaskan nafsumu juga? Karena aku yang sibuk tidak bisa memanjakanmu di siang hari, jadi kau datang sendiri padanya, ya kan?"

__ADS_1


Kecurigaan Devan makin parah. Ella semakin terkejut mendengarnya. Nampaknya Devan sungguh sudah salah paham besar terhadapnya.


"Bukan begitu, honey." Ella meraih tangan Devan untuk menenangkannya. Namun ia kembali terkejut karena Devan menepisnya dengan kasar.


Plak!


"Ella, harusnya dari awal kau jujur saja padaku. Kau lakukan ini karena kau sudah bosan padaku kan? Jadi kau buat sandiwara ini agar kita bertengkar dan kau dapat berpisah denganku,"


"Kau dan Jastin pasti sudah lama saling kenal, karena itulah kau ingin jodohkan Hansel dengan Elisa agar Jastin tidak menikahinya. Setelah kau buat sandiwara ini, kau pasti ingin pisah dariku karena Jastin hampir melecehkanmu dan inilah caramu untuk pisah dariku, kau pasti akan meminta pertanggung jawaban dari Jastin, iya kan! Jujur saja!"


Ella terperanjak, begitu teganya Devan berbicara seperti ia seakan dituduh berselingkuh dengan Jastin.


"Hapus air matamu itu, kau wanita munafik," ucap Devan berkata sinis. Ella menggelengkan kepala, ia benar-benar sedih dikatakan munafik oleh suaminya sendiri.


"Kau kemarin bilang percaya padaku, tapi ternyata ini cuma sandiwaramu. Apa mungkin karena Jastin laki-laki yang lebih tajir, jadi kau mau dengannya?" tebak Devan kembali. Ella menunduk sedang mengatur nafasnya lalu dengan sekuat tenaga membantahnya.


"Aku tidak bersandiwara! Dan aku sungguh-sungguh percaya padamu, Devan!" pekik Ella membentak dan menatapnya serius. Devan terdiam mendengar Ella memanggil namanya, bukan lagi panggilan sayangnya.


"Aku tidak sendirian, aku pergi bersama Aline. Kami ke sana sungguh mencari bukti keburukan Jastin bukan untuk pergi bercinta dengannya! Aku percaya padamu, Dev. Tapi aku butuh bukti, sekaligus ini juga bagus untuk Papa agar dia tahu kalau Jastin adalah pria jahat! Tapi kau tega memfitnahku selingkuh dengan Jastin," isak Ella mengusap kasar air matanya.


"Bukti? Kau ke sana mencari bukti? Lalu apa gunanya aku? Kau bisa memberitahuku, Ella. Kau bisa cari tahu melalui dariku, kenapa akalmu masih dangkal."


Ella terdiam membisu, isak tangisnya lebih parah. Kini kedua matanya menatap tajam ke Devan.


"Bagaimana aku bisa cerita padamu! Kau sangat sibuk! Kebutuhanku saja kau lupa, apalagi untuk curhat saja kau tak punya waktu! Kau, hiks." Isak Ella kembali sesugukan.


Devan mengapal tangan, ia merasa kasihan pada Ella. Tapi bayangan Jastin yang menindih Ella masih terbayang-bayang di kepalanya, apalagi di leher Ella masih ada bekas cupan Jastin.


"Kau sudah percaya padaku, kan? Aku sungguh tidak bermaksud datang bercinta bersamanya, aku ke sana untuk mencari bukti bersama Aline," lirih Ella kembali menyakinkan Devan.


"Bagaimana aku bisa percaya, cuma kalian berdua saja di sana. Aku sama sekali tak melihat Aline,"

__ADS_1


"Demi apa-pun, aku pergi bersama Aline. Tapi dia-"


"Dia apa?" kata Devan menatapnya tajam.


"Dia masih ada-" Ella berhenti bicara, ia baru sadar soal adiknya. Dengan cepat, Ella melewati Devan ingin kembali ke apartemen Jastin. Namun Devan segera menahannya.


"Kau mau ke mana?" tanya Devan mencengkram kuat tangan Ella.


"Lepaskan aku, Dev. Aline ada di apartemen Jastin! Dia pasti dalam bahaya! Lepaskan aku!" ronta Ella.


"Kau pikir aku akan percaya? Tidak, Aline sama sekali tidak ada di sana, kau pasti ingin ke sana untuk menemuinya lagi! Katakan saja, Ella!" ujar Devan marah.


"Argh, kenapa-kenapa kau tidak mau percaya, aku ke sana sungguh bersama Aline. Kau tidak melihatnya tadi karena dia pingsan di WC! Jadi lepaskan aku, aku harus menjemputnya!" ronta Ella makin menjadi-jadi, meski tangannya sudah mulai terasa begitu sakit, ia tatap memberontak.


"Aku tak akan melepaskanmu, jangan bersandiwara lagi!" tegas Devan membuat Ella diam seketika di tempatnya. Ella pun kembali menangis.


"Sudah aku bilang, ini bukan sandiwara!" pekik Ella menepis tangan Devan lalu menepuk dadanya berkali-kali.


"Kau harus tahu, Dev. Kejadian ini bukan pertama kalinya Jastin ingin melecehkanku, tapi dia sudah berani dari kemarin. Dia hampir melecehkanku saat kau sibuk mencari Hansel, kau meninggalkanku demi membela Elisa. Lalu aku? Kau tinggalkan begitu saja. Untung saja kemarin aku tidak diperkosa olehnya. Sekarang apa kau puas? Sekarang kau mau apa, Dev? Kau mau hukum aku karena sudah selingkuh? Oh benar, tahun lalu kau sangat mudah mengancamku, sekarang mungkin kau akan membunuhku." Jelas Ella berhenti menangis dan tertawa bodoh. Terlihat ia putus asa tak dapat membuat Devan percaya padanya.


Devan diam membisu. Ia teringat mengapa Ella kemarin sepanjang hari cuma diam setelah dari rumah sakit.


"Kemarin, dia bersamamu?" ucap Devan sangat terkejut. Ella cuma menunduk, sebenarnya ia tak mau Devan tahu ini. Tapi demi membuatnya percaya, dia terpaksa katakan.


"Ya, dia bersamaku. Dia yang mengantarku dan Elisa ke rumah sakit. Tapi Elisa berjalan terlalu cepat, jadi aku kehilangan dirinya. Saat aku mau mengejarnya, Jastin menyeretku pergi! Bukan aku yang gatal kepadanya, tapi Jastin!" Jelas Ella menyapu air matanya lagi. Ia mulai lemas sudah berdebat dengan Devan.


Saat inilah, kedua tangan Devan dikepal. Percaya atau tidak, ia sangat marah kepada Jastin. Kini ia merasa bersalah sudah menuduh Ella. Perlahan-lahan, ia ingin menyentuh kedua bahu Ella. Namun Ella menghindarinya, ia merasa jijik pada dirinya sendiri atas bekas cupan di lehernya. Melihatnya tak berhenti menangis, membuat Devan ingin memeluknya.


"Ella, aku minta-" ucap Devan berhenti setelah menerima pukulan dari seseorang.


Bug!

__ADS_1


__ADS_2