
"Honey, kita harus bicara sekarang." Dua mata manik Ella serius menatap Devan.
Melihat istrinya berkata seperti itu membuat suasana menjadi tegang. Devan merasa deg-degan apabila Ella berbicara soal lain-lain hari ini.
"Bicara apa, sayang?" tanya Devan mencoba untuk tenang.
Ella menghela nafas karena pikirannya mulai sedikit pusing memikirkan Elisa. "Itu, ini tentang Elisa." Devan memutar bola mata jengah, benar-benar tak sangka Ella masih saja memikirkan satu wanita ini. "Ada apa dengan Elisa?" tanya Devan masuk ke dalam, berjalan menuju ke sofa dan melihat dua anaknya duduk di atas tikar lantai sedang mengobrak-abrik mainan sekeranjang di depan mereka.
Ella pun ikut masuk lalu duduk di dekat Devan dan melihat ponselnya lagi.
"Elisa dipaksa menikah oleh Papa, kalau dia tidak mendapatkan kekasih selama tujuh hari, dia akan menikahi teman Papa, tapi dia tidak setuju,"
"Terus?"
"Iih, kamu kasih solusi dong! Jangan cuma makan krupuk doang," desis Ella segera merebut toples di tangan Devan. Kesal merasa dikacangin sama suaminya sendiri.
"Nah itu masalahnya, sayang. Aku kan tidak tahu mau buat apa? Ini bukan lagi urusanku juga." Dengan santainya merebut lagi toples di tangan Ella.
"Ya tapi kan, dia juga kakak iparmu! Apalagi dia dulu mantanmu juga, masa kau tidak kasihan padanya. Bagaimana jika Papa nikahkan dia dengan pria yang sudah beristri? Kau terima gak?"
"Kalau aku jadi Elisa, aku juga pasti akan menolak!" Ella tak henti-hentinya bicara. Begitu sangat peduli pada kakaknya. Devan terdiam sebentar, menggaruk dagunya sedikit mulai berpikir.
"Hmmm ...."
"Hmm ...."
"Hm ...."
"Iiih, hm apa honey?" desis Ella cemberut melihat Devan diam-diam menggaruk dagu dan masih memakan krupuk.
"Ah!" ujar Devan punya ide.
"Ah apa?" tanya Ella sedikit kaget.
"Gimana kalau kita urus anak kita dulu, soal Elisa nanti saja. Gimana?" cengir Devan senyum-senyum tak berdosa. Ella kaget mendengarnya, bukannya dapat solusi malah bikin naik darah.
"Iiih, honeeey!" pekik Ella kecewa menyilangkan tangan.

"Ahahahaha, aku bercanda. Kamu jangan mudah marah dong, nanti cepat-"
__ADS_1
"Cepat apa?" timpal Ella melototinya. Devan mundur sedikit merasa Istrinya mulai galak seperti Ibunya saja.
"Maksud aku nanti sayangku tambah banyak ke kamu, ahahaha," tawa Devan terdengar paksa dan sedikit ngeri lalu berdiri ingin pergi ke dua baby-nya. Ella semakin manyun dikacangin lagi. Tapi dua telinganya teralih ke suara teriakan Devan.
"Astaga Vino!" ujar Devan kaget melihat Vino duduk di atas mejanya. Ella buru-buru berdiri dari sofa dan segera mendekati Devan. Kedua matanya membola melihat Vino menduduki berkas milik suaminya.
"Hais, Vino. Ini kenapa malah bisa duduk dan-" kaget Devan melihat ada sedikit noda di berkas yang diduduki Vino.
"Kenapa honey?" tanya Ella sambil melihat Vina masih berada di atas tikar main sendirian.
"Papado," rengek Vino meminta digendong ke Devan.
"Hais, sayang. Ini Vino pup deh! Kamu urus nih anakmu," desis Devan mengangkat Vino lalu memberinya pada Ella. Bau pup-Nya Vino mulai tercium ke seluruh ruangan.
"Vino, kenapa anak Mama bisa pup sembarangan?" tanya Ella pada Vino.
"Ihihi, Mamado," tawa Vino tiba-tiba kentut di depan Ibunya.
"Pfft, ahahaha." Tawa Devan geli mendengar suara kecil yang panjang itu. Tapi Ella balik tertawa melihat berkas Devan dinodai oleh Vino.
"Ahahaha, kamu jangan tertawa dong honey. Coba deh lihat berkas kamu. Kotor tuh!" Tunjuk Ella tertawa terbahak-bahak dan segera lari membawa Vino ke dalam toilet sebelum kena amarah dari Devan.
Devan tersentak melihat e'ek Vino membekas.
"Huft, sabar ... sabar, punya anak memang harus sabar. Tidak mudah jadi orang tua." Devan hanya mengelus dada dan menghirup udara banyak-banyak. Tapi alangkah kagetnya, saat asik mengontrol nafasnya malah tiba-tiba tersedak gara-gara sesuatu mencolek pantatnya.
"Astaga, ya ampun!" kaget Devan berbalik tapi tak melihat seseorang. Namun suara mungil dan centil terdengar dari bawahnya.
"Papanum," panggil Vina mengulurkan botol susu yang tadi dipakai untuk mencolek pantat ayahnya sendiri.
"Papanum,"
Devan tersenyum malas melihat tingkah Vina. "Hais, anak Papa bisa-bisanya nakal ya." Devan segera menggendongnya lalu menghubungi asisten rumah. Menyuruh mereka membuat susu untuk Vina dan Vino.
"Papanum," lagi-lagi Vina merengek.
"Sabar ya, anak Papa jangan maksa gini dong. Nanti susunya datang."
"E'eng, Papanum." Rengekan Vina membuyarkan pikiran Devan yang mulai terasa pening. Sudah disuruh buat cari solusi terus berkas pentingnya dinodai oleh Vino dan sekarang harus menghadapi kerewelan sang baby Vina.
"Iya, Papa nanti kasih susu," ucap Devan tersenyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Hihihi, Papanum." Baby Vina hanya tertawa cekikikan melihat ekspresi konyol ayahnya. Tapi tak sangka Vina malah mencubit dada Devan dan bahkan ingin masuk mencolek pucing susu ayahnya.
"Eeeeh, Vina mau apa, Nak?" kaget Devan segera menghalangi niat putrinya.
"Papanum," rengek Vina menunjuk dada Devan membuatnya kaget dan geli melihat Vina ingin menyusu padanya.
"Ih, anak Papa kok gitu! Kalau mau susu sama Mama kau saja tuh!" Tunjuk Devan pada Ella yang sudah keluar dari toilet bersama Vino yang tak pakai celana.
Vina geleng-geleng kepala lalu merengek lagi. "E'eng, Papanum, cucuh." Vina cemberut mulai mewek. "His, Mama."
"Astaga," tepuk Devan pada wajahnya. Ella tertawa kecil melihat putrinya manja pada Devan. Sementara Vino dengan datarnya hanya diam melihat Ibu dan Ayahnya menenangkan Vina.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, baby Vina berhenti mewek setelah melihat dua botol susu dibawa oleh pelayan. Devan mengambilnya lalu menyuruh pelayan itu pergi.
"Nih, punya Vina dan ini punya Vino." Devan membaginya lalu duduk di atas tikar bersama Istri dan baby twinsnya. Devan merangkul pinggang Ella sambil melihat Vino dan Vina menyedot isi susu botolnya.
"Sayang,"
"Hm, kenapa?" tanya Devan melihat Ella.
"Itu berkas kamu gimana? Tidak penting kah?"
Devan tersentak baru sadar.
"Pfft, kamu urus gih berkasnya. Nanti malah tambah masalah kalau tidak diurus."
Devan mengangguk lalu mencium lembut kening Istrinya, ia pun berdiri segera membuang berkas itu ke tong sampah lalu buru-buru mau keluar.
"Kamu mau ke mana honey?" Ella berteriak sedikit.
"Ke rumah Sekretaris Hansel, ambil salinan baru. Sebentar saja!" balas Devan berteriak dan segera pergi ke rumah Hansel. Ella hanya bisa melihat kepergiannya melalui jendela mansion.
"Apa mungkin Devan akan ceritakan kepada Kak Hansel soal Kak Elisa?"
"Jika dilihat-lihat, Kak Hansel dulu sedikit perhatian padanya."
"Dan aku hanya bisa percaya pada Kak Hansel, dia pasti bisa membahagiaan Kak Elisa."
Ella menutup horden jendela lalu mendekati dua baby twinsnya.
"Mamah," rengek keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Ih, kalian ini bikin gemes Mama deh. Mama mana mungkin gendong kalian berdua, hahaha," tawa Ella geli sambil duduk di dekat dua anaknya. Baby twins ikut tertawa melihat Ibunya tertawa. Kerukunan keluarga Devan terlihat harmonis dan lucu.