
"Maafkan atas kelancangan saya, Presdir," ucap Silvi menunduk di depan Devan. Akhirnya wanita ini sadar juga setelah pingsan selama lima jam. Mungkin bukan lagi pingsan melainkan Silvi beneran tertidur.
"Lupakan kejadian itu, sekarang pergilah ke ruanganmu dan mulailah bekerja," suruh Devan memijit pelipis matanya.
"Kalau begitu saya permisi, Presdir." Kata Silvi sopan kemudian berbalik ingin pergi ke ruangan sekretaris. Namun Ella menahannya sebantar.
"Tunggu dulu," tahan Ella mendekatinya. Devan mengernyit heran melihat istrinya tiba-tiba mau bicara pada Silvi.
"Ya, ada apa Nyonya memanggil saya?" tanya Silvi terlihat seperti wanita biasa saja. Ella menghela nafas, ia agak merasa bersalah telah menganggap Silvi wanita liar serta ingin meminta maaf akibat ledekan dari Vina.
"Itu, aku minta maaf atas putriku barusan. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati. Kamu tidak marah kan?" tanya Ella memastikan. Silvi melihat Vino dan Vina yang duduk di sofa.
"Ahaha itu, tidak masalah. Saya juga minta maaf sudah mengagetkan kalian. Maafkan saya Nyonya," ucap Silvi menunduk sangat malu.
"Baguslah, terima kasih kebaikannya. Tetap semangat bekerja!"
"Siap Nyonya," ucap Silvi memberi hormat sambil tersenyum. Ella balas tersenyum melihat Silvi keluar. Ella menghela nafas lalu kembali ke tempat dua anaknya. Devan pun berdiri dari kursi, ia mendekati Ella.
"Oh ya, ini kita sudah telat makan siang. Kita makan siang bareng yuk sayang," ajak Devan melihat jam tangannya.
"Oke, honey. Sini Vina sama Mama, Vino sama Papa ya sayang," ucap Ella berdiri menyuruh anaknya ikut berdiri.
"Pfft, kalian ini seperti perajurit yang ikut bersamaku." Tawa Devan berjalan di dekat Ella. Keduanya masing-masing menggandeng tangan anaknya.
"Hihihi, pajajuyi jojo... jojo!" seru Vina menghentakkan kakinya.
"Ahahaha Nana jeyek!" Vino mulai mengejek Vina.
"Iiih Nono amha jeyek!" balas Vina meledek.
__ADS_1
"Cicici... nana jeyek, ijungnya esek!" Vino meledek lagi sembari nunjuk hidung mancungnya.
"Hiii jeyek jeyek, Mama Nono akhal!" kesel Vina menunjuk-nunjuk Vino.
Kedua baby twins saling meledek sembari jalan di samping orang tuanya. Ella dan Devan cuma tertawa kecil mendengar bahasa alien mereka. Terlihat mulut kecil mereka dimajukan sana sini. Ingin rasanya mulut kecil itu ditepuk. Sangat imut! Devan kini membawa anak dan istrinya ke restoran terdekat karena tidak mau Ella kecapean.
"Vina mau nyanyi apa sayang?" tanya Ella mengelus kepala Vina yang lagi merengek.
"Nana anyi yeyek Mama. Mama mawu jengel anyi Nana?" balas Vina bertanya sembari tersenyum manis. Devan dan Vino bersamaan menutup telinga, keduanya tahu apa yang akan dilakukan bocah cilik ini.
"Wah, mau dong. Coba putri Mama nyanyi." Ella mulai tepuk tangan. Tapi Devan segera angkat bicara.
"Sepertinya tidak usah sayang, kita tunggu pesanan saja. Tidak perlu Vina bernyanyi." Kata Devan serius diikuti Vino memberi jempol.
Vina mewek mendengar penolakan ayahnya. Gadis cilik ini pun perlahan merengek ke Ella.
"Mamaaaa... Nana mawu anyi. Mamama anyi."
"Honey, biarkan saja. Siapa tahu kalau Vina besar nanti bisa jadi penyanyi seperti Mommy Dean. Ya kan sayang?" ucap Ella sah-sah saja mendengar Vina menyanyi.
"Huft, baiklah. Tapi tunggu sebentar-" Devan mengambil dua pasang airphone, ia memakainya bersama Vino ke telinga.
"Papa yebak!" Vino memberi jempol. Devan tersenyum lalu balas memberi jempol. Tingkah keduanya cuma membuat Ella geleng-geleng kepala.
"Baiklah, sekarang Vina nyanyi pelan-pelan. Nanti Mama rekam suara Vina."
"Yeeee, anyi beyus!"
"Pfft, Vina sangat bersemangat hari ini." Ella tertawa geli mendengarnya.
__ADS_1
Vina mulai acang-acang menghirup udara. Sementara Devan dan Vino malah menutup kedua telinganya. Sedangkan Ella tak sabar ingin mendengar putrinya bernyayi. Ternyata Vina sedang berusaha menyanyikan lagu anak-anak 'Potong bebek angsa' yang sering diajarkan oleh Ella sendiri. Vina pun mulai dengan gembira bertepuk tangan.
"Lalala... congcong benyek angca, angcanyi kuayi. Nyenyek minsya janda, janda penyek kayi. Co....yong kecayang co....yong keciying. Cayayayaya... hoyye...."
Setelah nada terakhir, Vina pun berhenti menyanyi. Devan yang mendengarnya, bukannya bertepuk tangan malah tertawa lepas, seakan mulutnya hampir keseleo bila mengikuti Vina bernyanyi. "Pfftt... bhahahaha Nyenyek minsya janda...."
Vino pun ikutan tertawa juga. "Ahahaha nana anyi jeyyek kayi ahaha...." Para tamu lainnya cuma geleng-geleng kepala mendengarnya.
Vina mewek diledek lagi. "Mama Papa jeyek acal nono!" Vina mengadu ke Ella.
"Iiih honey, jangan tertawa dong. Suara Vina kan bagus, jadi Vina jangan nangis ya sayang, anggap Papa sama Kakak kamu lagi kesurupan kodok." Hibur Ella mencoba menenangkan Vina yang kini terpelongo tak mengerti arti kesurupan kodok. Ella ingin tertawa juga, tapi Vina harus ditengani dari pada menangis di restoran.
"Ahahaha, 100 nilai buat putriku, sangat pintar ngelawak." Devan memberi semua jari tangannya kemudian tertawa lagi.
"Ahahaha... janda penyek kayi... ahahaha..."
Vina manyun melihat ayah dan kakaknya masih tertawa.
"Iiih, penyek penyek!" cetus Vina kesal di dekat Ella yang sedang menahan tawa. Setelah makan siang dan menghabisi pesanan mereka. Tiba-tiba Vina mules bahkan ia mengeluarkan suara dari perutnya.
Pyuuuuuhh....
Devan dan Ella yang lagi mengelap bibirnya pakai tissu sontak terdiam, begitupun Vino langsung menutup hidungnya.
"Iiiih Nana joyok iiih bawu cenyuk!"
"Hihihi nyenyek..." tawa Vina tidak peduli pada Vino dan kembali kentut. Suaranya sangat syahdu. Hingga baunya mengalahkan parfum 15 juta Ella.
Pyuuuuuh....
__ADS_1
"Ihihihi hahaha...." Kali ini Vina yang tertawa lepas sudah membalas ayah dan kakaknya.