
Sedangkan di penginapan lain, cahaya silau perlahan masuk dari celah-celah horden jendela hingga Hansel terbangun dan kemudian sontak beranjak duduk. Lelaki ini terkejut setelah ponselnya berdering. Ternyata itu dari Ny. Jessy yang merindukan kabar putranya.
"Aku di sini baik-baik saja, Mom. Tidak ada yang mencurigakan. Mom, tenang-tenang saja, aku bisa menjaga diri dan istriku di sini," ucap Hansel serius berbicara.
"Syukurlah, Mom di sini sangat cemas pada kalian. Terutama ayahmu sudah tak sabar menunggu kalian datang kemari," ujar Ny. Jessy kuatir dalam panggilan itu. Hansel terdiam, ia tak tahu apa respon yang akan dia berikan pada ayah kandungnya itu.
"Ya Mom, kami juga tak sabar kumpul dengan kalian. Tapi-"
"Tapi apa, Nak?"
"Tapi, apa ayah tidak masalah soal pernikahan kami?" tanya Hansel deg-degan.
Suasana kembali hening, Ny. Jessy belum menjawab.
"Mom, kenapa diam saja?"
"Ah itu, selagi kalian bahagia, Daddy kamu pasti ikut bahagia. Terutama bila kalian memberikan cucu laki-laki, Daddy mu pasti sangatlah gembira."
Mendengarnya, Hansel langsung mengepal tangan. Ia agak kecewa mendengar pernyataan itu.
__ADS_1
"Jika kami memberikan cucu perempuan, apa tidak masalah?" tanya Hansel serius ingin tahu. Ny. Jessy tersentak lalu menundukkan kepala, ia tahu aturan di keluarga suaminya itu. Aturan yang sangat kejam, dan ini beresiko pada Elisa, menantu pertamanya. Tapi Ny. Jessy tak mau beritahu resiko itu, ia tak bisa biarkan anak dan menantunya merasa terancam.
"Kalian tidak usah berpikir hal lain. Kami akan menyambut hangat kehadiran kalian di sini. Sekarang istrirahatlah, dan usahakan berikan cucu menggemaskan untuk Mommy dan Daddy nantinya.
"Baik, Mom."
Tuut!
Hansel menghela nafas berat setelah panggilan berakhir. Diam-diam ia melirik Elisa yang tertidur di sampingnya. Tubuhnya yang cuma ditutupi oleh selimut yang berantakan akibat pertempuran semalam. Sontak, muka seriusnya berubah menjadi memerah. Ia tersipu, ingat dirinya bagaikan predator yang liar memangsa tubuh Elisa dengan buas.
"Ahhh, aku memang lemah kalau dia begini!" desis Hansel ingin meledak. Tiba-tiba matanya terbelalak melihat bercak merah di selimutnya. Bercak perawan milik Elisa yang telah direbut olehnya.
"Ish, ini gara-gara kamu!" gerutu Hansel memarahi juniornya yang sudah menyakiti Elisa. Tapi tiba-tiba, setelah ditunjuk malah berdiri juniornya.
"Argh, tak ada jatah untukmu nanti malam. Biarkan dia pulihkan tenaga!" sekali lagi memarahi junior hingga ia layu dan menurut.
"Huft, baiklah! Aku harus mengganti selimut ini dulu."
Hansel berdiri, ia perlahan membuka selimut di tubuh Elisa. Namun hatinya berdebar-debar lagi.
__ADS_1
"Oke, tenanglah. Kamu jangan polos begini, Hans! Kamu ini pria normal!"
Tapi Elisa tak sengaja menggeliat hingga tangan Hansel terjepit di belahan bukit kembar Elisa. Sontak, tak perlu ditebak lagi, Hansel mimisan.
Gedubrak!
Hansel pangling, ia jatuh ke lantai dan pingsan. Mendengar suara jatuh, Elisa terbangun lalu kedua matanya tertuju pada tubuh Hansel yang terbaring di atas lantai.
"Ahhh, By!" jerit Elisa segera berlutut di dekatnya.
"By, sadarlah. Bangun By, kamu kenapa tidur di sini?" Elisa mengguncang kedua bahu Hansel. Perlahan, Hansel membuka mata. Namun tak sangka oppai Elisa ikut terguncang di depan matanya.
"Ahaha, aku tidak kuat lagi."
Ting!
Hansel pingsan lagi kecuali junior yang malah berdiri tegak. Ini membuat Elisa shock melihatnya.
"Ahhh, By! Kamu ini polos tapi mesum!" Elisa teriak histeris di dalam kamar segera mencari selimut dan menutupi tubuhnya yang polos.
__ADS_1
"Hmp, menyebalkan!"