
Devan telah sampai di mansion. Ia buru-buru keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Ella. Tapi Istrinya lebih dulu keluar dari mobil dan pergi tanpa bicara sedikitpun padanya.
"Hais, apa dia masih marah padaku?" desis Devan berpikir. Ia segera berlari menyusul Ella dan langsung menyudutkannya di pintu utama mansion.
"Sayang, katakan sesuatu!" ucap Devan menatapnya serius. Ella hanya diam terus-menerus. Pikirannya sedang kacau mencoba memikirkan sesuatu.
"Oke, mungkin kamu akan maafkan aku kalau aku sudah minta maaf pada Hansel. Sekarang aku akan hubungi dia dan minta maaf padanya."
Devan dengan cepat merogoh sakunya mengambil ponselnya untuk menghubungi Hansel yang sekarang bersama Elisa di dalam mobil. Sekretaris Hansel nampak berbunga-bunga berada di samping Elisa, apalagi di jari manis kekasihnya terlihat cincin emas yang dipasangkan olenya sendiri tadi.
"Hans, sepertinya ponselmu berdering," ucap Elisa melihat Hansel yang tidak mendengar deringan ponselnya. Ini karena saking fokusnya memikirkan hubungannya dengan Elisa yang kembali membaik.
"Maaf, sepertinya tadi aku terlalu fokus mengemudi," kata Hansel menatap Elisa yang tertawa kecil. Hansel pun segera melihat kontak sang pemanggil.
"Presdir?" gumam Hansel terkejut.
"Siapa itu, Hans?" tanya Elisa ingin tahu.
"Sepertinya dari Presdir Devan, aku angkat dulu panggilannya." Hansel tersenyum dan itu hanya untuk Elisa. Ia pun mengangkat panggilan Devan. Sontak suara kelakar Devan menggema di telinganya.
"Sekretaris Hans!" Devan terdengar nampak menahan amarahnya. Hansel heran mengapa dirinya dibentak barusan.
"Beraninya kamu bermain petak umpet denganku!" ucap Devan masih menahan emosinya sambil melihat Ella yang berdiri di dekat pintu yang cuma diam menatapnya.
"Petak umpet? Maksudnya Presdir?" tanya Hansel tidak paham dan makin terheran-heran. Elisa mulai gatal mendengar Devan membentak-bentak Hansel seenaknya begitu saja. Ingin rasanya ia membentak balik adik iparnya itu.
"Sekarang lupakan itu! Katakan di mana kau sekarang?" tanya Devan berusaha tenang. Ella yang di dekat Devan ingin masuk tapi Devan meraih tangan Ella kembali, menahan Istrinya agar mendengar pengakuan minta maafnya pada Hansel yang sudah salah paham.
"Saya sedang di dalam perjalan pulang mengantar Nona Elisa, Presdir," jawab Hansel melihat Elisa sejenak.
"Apa, Elisa? Jadi kalian bersama sekarang? Apa ini sebuah lelucon untukku hingga kalian berdua mempermainkan aku, ha!" Emosi Devan akhirnya meluap, bentakannya sedikit mengejutkan Ella terutama Elisa yang geram tak terima Hansel dimarahi bagaikan anak kecil saja. Devan merasa ini bagaikan sandiwara.
"Ma-" ucap Hansel terhenti saat mau meminta maaf tapi ponselnya malah direbut oleh Elisa.
"Hei, Devan! Kau jangan membentak Hansel begitu saja, bukannya kau yang duluan termakan emosi, aku dan Hansel tadi cuma bertengkar hal kecil doang. Tapi kau malah marah padanya! Sekarang kau diam dan jangan hubungi Hansel sekarang!"
Tut!
__ADS_1
Panggilan ditutup begitu saja, Devan melongo dibentak-bentak oleh Elisa.
"Oi, Nenek lampir! Aku mau bicara sama Sekretarisku bukan dirimu!" geram Devan naik darah pada ponsel di genggamannya, ia mengumpat sana-sini dianggap biang rusuh oleh Elisa. Tidak seperti Ella cuma mengdengus masuk ke dalam mansion dan meninggalkan Devan yang marah-marah sana sini.
"Ha, sayang! Kenapa kau malah masuk dan meninggalkanku di sini!" pekik Devan segera menyusul Ella. Ingin menenangkan Ella yang tiba-tiba dingin dan cuek padanya.
Sementara di dalam mobil, Hansel cuma bisa menelan ludah melihat keberanian Elisa membentak Atasannya barusan.
"Nih ponselmu, lain kali kalau dia melakukan sesuatu padamu, katakan saja padaku. Aku akan menguleknya menjadi rujak!" ucap Elisa pasti. Sekali lagi Hansel cuma bisa menelan ludah melihat sifat Elisa yang sedikit galak.
"Baik, terima kasih atas bantuan Nona," kata Hansel mengambil ponselnya disertai senyuman dan kembali fokus mengemudi.
"Hm, sama-sama." Elisa menunduk tersipu sambil melihat cincin emas di tangannya. Mobil Hansel mulai mendekati rumah Tuan Vian.
Sekarang jam makan malam, semua penghuni rumah sudah duduk di kursi mereka masing-masing, kecuali Rafandra yang tak hadir karena satu pria ini berada di apartemennya.
"Ella, mengapa kau diam saja dari tadi? Apa ada hal lain yang kau pikirkan sekarang?" tanya Ny. Mira memecahkan keheningan di meja makan itu. Ia nampak menyuapi cucu perempuannya. Sedangkan Tn. Raka lebih sibuk pada Vino. Maklum Vino cucu laki-laki pertamanya jadi Vino lebih disukai olehnya.
Devan melihat Ella yang menunduk dari tadi.
"Sayang, kamu ditanya tuh sama Mama," ucap Devan ingin menyentuh bahu Ella tapi Ella dengan cepat angkat bicara dan sedikit menghindar ke Devan. Zeli yang lagi mengunyah mulai heram dengan suasana malam ini.
"Ah itu, tadi ada drama baru. Aku sedikit sedih, ceritanya bertema penghianatan. Aku-" ucap Ella berhenti nampak menyinggung Devan yang duduk di sampingnya.
"Pengkhianatan? Seperti apa?" tanya Ny. Mira mulai tertarik.
"Mi, ini kita lagi makan. Kalau mau ngobrol nanti saja. Tuh mulut Vina belepotan," kata Tn. Raka menunjuk Vina.
"Ish, sayang. Kau diamlah!" ketus Ny. Mira kesal. Tuan Raka cuma geleng-geleng kepala dan kembali menyuapi Vino bergatian dirinya juga.
"Itu Mi, cerita-"
"Sudah! Jangan bicara dulu, kita selesaikan makan malam ini!" lagi-lagi Tn. Raka angkat bicara.
"Baik, Pi!" kata Ella mengerti. Nyonya Mira akhirnya cemberut juga, padahal rasa penasarannya sudah meningkat.
"Ya sudah deh, Ella kamu makan yang banyak. Mami tidak mau melihat menantuku kurus, dan ingat jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting."
__ADS_1
Ny. Mira tersenyum pada Ella dan kembali fokus makan. Ella hanya tersenyum sedikit dan dengan pelan-pelan mulai makan.
"Huft, apa yang dia pikirkan? Tidak mungkin soal drama saja, pasti ada yang telah membuatnya jadi sedingin ini padaku. Dia benar-benar tak berbicara satu katapun padaku. Setelah ini aku harus bicara padanya." Devan bergumam dan melirik Ella lalu melihat baby twinsnya. Ia kini cuma menghela nafas dan kembali menghabiskan makanan di piringnya.
Setelah makan malam dan membereskan dapur, Ella sekarang berada di kamar Zeli sedang menggandeng dua tangan anaknya.
"Zeli," panggil Ella mendekati adik iparnya yang lagi mendengar musik.
"Hm kak ipar, ada apa?" tanya Zeli berdiri dari kursi.
"Itu kamu bisa jaga Vino dan Vina malam ini?" tanya Ella melihat dua anaknya.
"Boleh, aku malah suka mereka berdua ada di kamarku." Zeli berjongkok di depan baby twins dan mencubit lembut pipi mereka.
"Baguslah, terima kasih Zel. Kalau begitu Mam keluar dulu ya sayang, kalian tidur sama Bunda Zeli." Kata Ella pada dua anaknya.
Vino dan Vina cuma saling tatap dan tersenyum membuat dua wanita ini tertawa kecil. Saat Ella ingin keluar, Zeli menahannya sebentar.
"Oh ya kak ipar,"
"Ada apa, Zeli?" tanya Ella berhenti.
"Kau dan kakakku baik-baik saja kah?" Zeli bertanya balik. Ella diam sebentar lalu tersenyum.
"Baik, kami baik-baik saja." Ella menunduk dan pergi ke arah kamarnya.
"Sepertinya ada yang tidak beres." Zeli bergumam sendirian.
"Ya sudah deh, urusan orang dewasa memang sulit dipahami."
Zeli mengabaikannya dan mengajak dua keponakannya.
Kini Ella telah sampai di kamarnya. Tepat saat ia ingin berbaring ke kasur, ditahan oleh Devan yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan cuma memakai jubah mandi.
"Sayang, kita harus bicara sekarang."
Ella diam kembali didekati oleh Devan. Ia duduk di tepi ranjang dan menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
"Oke, ada yang ingin aku katakan juga padamu."
Keduanya saling menatap dalam-dalam dan begitu serius.