Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
66. Papa Puyaang!!


__ADS_3

Malam telah tiba, Ella dan dua anaknya diantar pulang oleh mobil Elisa sendiri. Terlihat mobil Elisa melaju ke rumah Bu Jessy untuk membawa pesanannya.


"Lalalala ... hole puyang ugah, Mama."


Vina berjalan riang menuju ke pintu utama dengan boneka kecil pemberian Elisa. Sementara Vino cuma menatapnya datar sembari membawa kotak mobil remote yang dibelikan khusus untuknya.


"Hais, dua watak anakku ini berbeda. Yang satu dingin, yang satu ceria. Benar-benar deh," pikir Ella masuk sambil menggandeng tangan Vino. Seketika para pelayan menyambut kedatangannya.


"Selamat malam, Nyonya muda," ucap mereka bersamaan.


"Se-selamat malam," balas Ella cuma tersenyum dan segera pergi ke arah anak tangga. Ella agak canggung disambut berlebihan. Seketika, gadis kecilnya teriak melihat Zeli turun dari lantai atas. Gadis ini selesai juga tugas rumah dari sekolahnya.


"Bunaaaaa eeeyyiii!" panggil Vina lari ke arahnya.


"Huwoooo dari mana nih kalian?" seru Zeli langsung menggendong Vina.


"Nana hadi ulah Buna, Nana elli ayang inih Buna, agus han Buna?"


Sontak Zeli dan Ella tertawa terbahak-bahak mendengar Vina bicara belepotan.


"Ahahaha, Vina kalau bicara seperti ini kayak alien gemoy tau," gemas Zeli mencubit lembut hidung Vina.


"Ha? Ayien Buna? Buna Mama Ayein?"


Sekali lagi Ella dan Zeli tertawa melihat Vina tidak tahu alien itu apa.


"Pfft, ahaahaha ... sudah sudah, sekarang kau bawa Vino dan Vina ke atas, Zeli. Nanti aku nyusul kalian,"


"Oh, baiklah Kak Ipar," ucap Zeli paham, ia pun meminta Vino mengikutinya naik ke lantai atas.


"Sini No! Sama Bunda, kita ke atas," lanjut Zeli tersenyum. Vino menggelengkan kepala.


"Heeng, Mama Nono hayang mawu ayas, Nono mawu mbung, Mama mbung!" rengek Vino memperlihatkan mobilnya.


"Kak Ipar, Vino minta apa?" tanya Zeli tidak paham.


"Aku juga tidak tahu, Vino mau apa sayang?" tanya Ella jongkok di depan Vino.


"Nono mawu mbung, Mama mbung ngeng ngeng Mama," rengek Vino mulai mewek, karena Ibu dan Bundanya tidak paham perkataannya.


"Aduh, aku tidak tahu dia bicara apa," ucap Ella berdiri lagi dan melihat Zeli.

__ADS_1


"Oh aku tahu, pasti Vino minta kambing kan?" tanya Zeli membuat Vino reflek menangis.


"Huwaaaa hayang mbung, Maaaaa! Huwang mbeeeeek!"


"Lah lah, kenapa nangis sayang?" Ella segera menggendong Vino.


"Mama, Nono mawu hayang mbung, huwang mbeeek!"


"AHAHAHA ... hahaha, bahasa anak kecil lebih susah dari pada bahasa alien." Zeli tertawa terbahak-bahak membuat Vina ikutan tertawa.


"Hihi, Buna hayang lawa iiih," gemas Vina mencubit pipi Zeli. Tapi tidak untuk Vino yang menangis ditertawakan.


"Huuuwaaaa, Mama! Buna dede hakal," tangis Vino menunjuk adik dan Zeli.


Ella memijit kepalanya mulai pusing mendengar tangis dan tawa mereka seakan menyatu di telinga. Seketika pintu utama mansion kembali terbuka. Vino sontak turun dari gendongan Ella lalu berlari ke arah ayahnya yang disambut oleh para pelayan.


"Paapaaaaa puyaaaang!" seru Vino lari dengan kotak mobilnya. Sontak Devan menangkap putra kecilnya dan langsung menggendongnya. Ia mengernyit heran melihat mata Vino sedikit berair.


"Loh honey, kamu sudah pulang?" tanya Ella mendekatinya, diikuti Zeli dan Vina.


"Ya, hari ini sangat melelahkan sampai-sampai aku merindukanmu dan dua anakku yang manis ini. Tapi kalian dari mana saja? Kenapa anak-anak bawa sesuatu di tangannya? Dan juga apa Vino tadi menangis?" jawab Devan balas bertanya.


"Itu apa?" tanya Devan menyipitkan mata.


"Itu loh honey, tadi kita dari belanja di luar. Anak-anak dibelikan mainan oleh Elisa, dan sekarang Vino bicara padaku tapi aku tidak tahu dia bicara apa. Jadi dia menangis," jawab Ella dengan jujur.


"Oh itu, memangnya putra Papa minta apa?" tanya Devan pada Vino.


"Hiks, Nono mawu hayang mbung, Papa." Vino merengek mengangkat kotak mobilnya.


"Tuh, dia minta begitu honey. Aku tidak tahu artinya apa," ucap Ella terus terang. Seketika Devan tertawa kecil, tentu ia tahu apa tujuan anak lelakinya.


"Sudah jangan pikirkan lagi, biarkan aku yang urus Vino. Sekarang kita ke atas yuk sayang," ajak Devan mengecup lembut kening Ella membuat Zeli yang melihat pasutri ini jadi memutar bola mata malas.


"Hm, baiklah,"


"Zeli, biarkan aku yang urus Vina. Kamu pasti capek mengerjakan PR sekolahmu," ucap Ella mengambil Vina.


"Ya aku rasa begitu, aku keluar dulu ya BRO!" pamit Zeli lari keluar mansion.


"Hei Zeli! Kau ini, baru juga abangmu datang kau malah menerobos keluar!" pekik Devan sedikit kesal dengan tingkah adiknya yang masih suka keluyuran malam.

__ADS_1


"Sudah, biarkan dia honey. Mungkin Zeli butuh hiburan untuk menenangkan dirinya," kata Ella masih menggendong Vina.


"Aduh sayang, sepertinya aku juga butuh hiburan nih. Apa kau mau menghiburku sayang?" ucap Devan mulai menggodanya dengan sedikit mengeluh.


"Iiih, alasan!" cetus Ella tau apa isi otak suaminya. Ia pun naik ke lantai atas meninggalkan Devan dan Vino.


"Loh sayang, jangan marah dulu! Suamimu memang capek tau dari kerjaaaaa! Tunggu aku sayaaaaang!" pekik Devan segera mengejarnya sembari merengek Vino. Bocah kecil ini tertawa melihat Ayah dan Ibunya sedang main kejar-kejaran.


_____


Mobil Elisa sudah sampai ke alamat rumah. Terlihat rumah di depannya itu sepi tanpa cahaya lampu yang menerangi sedikitpun. Tapi demi pelanggan baru, Elisa memberanikan dirinya turun.


"Huft, baiklah Elisa. Kau jangan takut, mana mungkin ada hantu di dunia ini."


Elisa pun maju dengan senter dan pesanan Bu Jessy. Ia berjalan ke arah pintu utama.


Tok Tok Tok


"Permisi, pesanan Bu Jessy sudah sampai."


Tak ada suara dari dalam membuat Elisa merinding. Kini ia makin ketakutan dan kedinginan ketika angin tiba-tiba menghembus ke arahnya. Dengan terpaksa, Elisa menghubungi nomor Bu Jessy yang tertera di kartunya, namun nomornya tidak aktif.


"OMG! Apa jangan-jangan aku ditipu? Atau orangnya lagi keluar?" pikir Elisa menyentuh dagu. Tiba-tiba suara benda jatuh terdengar dari dalam rumah.


Bruuk!


"Aaaaaaaa HANTU!!"


Elisa lari terbirit-birit ke arah mobilnya, tanpa sadar malah menjatuhkan senternya. Wanita ini pergi dari rumah Bu Jessy dalam ketakutan. Terlihat di balik jendela, dua cahaya kuning terpancar dan cahaya itu samar-samar menampakkan seekor mahluk menggemaskan.


"Meong ...."


Ternyata itu kucing peliharaan yang tidak sengaja menjatuhkan pot bunga saat melompat ke jendela. Namun tak lama kemudian kucing itu melompat turun setelah melihat senter yang tergeletak di luar diambil oleh seseorang.


"Siapa pemilik senter ini?" pikir seorang wanita muda keheranan.


"Apa Mama yang menjatuhkannya?" lanjutnya ingin membuka pintu rumah, namun berhenti setelah mendapatkan notif dari ponselnya. Ia pun membuka isi pesan itu.


'Renita, Mama lagi ada di jalan XXXX. Tolong kamu ke sini, jemput Mama pulang.'


"Eh, kenapa Mama bisa sejauh ini?" pikirnya segera pergi ke mobil untuk menuju ke alamat jalan yang lumayan jauh dari rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2