
"Cih, dasar bodoh!"
Brak!
Renita berdecak mengetahui orang yang dia suruh untuk mengacaukan usaha Elisa malah gagal total. Renita menghempaskan dirinya ke sofa dan menggigit kukunya. Ia geram pada Elisa yang mendapatkan bantuan dari Devan. Semuanya ia tahu dari mata-mata yang dia suruh untuk memperhatikan kelancaran rencana Ibu yang tadi.
"Sial, wanita ini tidak bisa diremehkan. Ada banyak orang disekitarnya yang sekarang dapat membantunya. Terutama Presdir Devan, mantannya dan sekaligus CEO di perusahaan ini," gumam Renita menimbang-nimbang rencana berikutnya.
"Aaargh, sial sial banget! Kalau begini Bu Naina tidak akan menjadikanku menantunya, sial sial." Renita mengumpat di dalam ruangannya. Pusing untuk memikirkan Elisa.
Beda di tempat lain, di mansion keluarga besar Tuan Raka. Khususnya di ruangan Devan, pria tampan ini sedang menatap istrinya.
"Jadi itu hanya pura-pura saja?" tanya Devan melihatnya serius. Merasa Ella yang tadi makan 100 tusuk cilok dan malah mual-mual hanyalah ekting Ella agar tidak bekerja di kantor.
Ella menunduk dan memainkan dua jarinya, lalu menelan ludah. Ia tahu, Devan sedang kesal padanya sudah berekting tadi.
"Itu memang aku sengaja, mending aku lebih baik tinggal di rumah saja urus anak-anak dan aku juga takut, kalau aku yang kelola perusahaanmu akan membuat masalah, honey."
Devan menghela nafas dan memijit kepalanya setelah mendengar penjelaskan Ella. Dia awalnya berpikir Ella hamil lagi, tapi ternyata hanya pura-pura.
"Hais kau ini, baru juga satu hari belajar sudah mengundurkan diri," keluh Devan tak habis pikir. Ia berdiri dan mendekati Ella.
"Oh tidak, apa dia akan memarahiku?"
Ella membatin segera menutup mata. Devan yang melihatnya terkejut dan akhirnya tertawa kecil melihat Ella yang ketakutan. Sontak Ella membuka mata merasa kepalanya dielus-elus lembut.
"Ya sudah, aku juga tidak akan memaksamu. Mungkin kau cocok mengurus diriku dan anak-anak saja di sini."
Devan tersenyum melihat Ella berdiri terkejut padanya yang tidak marah sama sekali. Dengan senang, Ella tersenyum manis dan menjawabnya.
"Hm, tugasku kan memang mengurus suami dan anak-anak. Lagian urusan perusahaan, kau dan kak Hansel ahlinya," ucap Ella garuk-garuk kepala.
"Puftt, kalau begitu kita keluar." Devan segera menarik tangan Ella untuk menemui ayah dan ibunya serta dua baby twins.
Sekarang di ruang tamu, pasutri muda ini duduk bersama-sama. Nampak Tuan Raka sibuk membaca berita di koran, sedangkan Ella dan Ny. Mira sibuk memperhatikan kelucuan Vino dan Vina.
"Ekhm," Tuan Raka tiba-tiba mendehem ingin bicara pada putra sulungnya yang duduk di dekatnya.
"Kenapa, Pi?" tanya Devan sadar akan kodean dari ayahnya.
Tuan Raka menghela nafas dan melipat korannya. Kali ini ia akan serius pada putranya.
"Begini, akhir-akhir ini Papi dapat laporan jika kau berurusan dengan Jastin lagi dan sekretarismu masuk rumah sakit karena mendapatkan tembakan di bagian lengan kirinya, jadi apakah informasi yang Papi dapatkan ini benar?" Tatapan Tuan Raka tidak main-main kali ini untuk bertanya.
Devan melihat Ella dan sedikit tersenyum.
"Itu benar, tapi bukan aku yang mengawali masalah ini serta sekretaris Hans sudah baikan sekarang," ucap Devan dengan santainya melipat dua tangannya di depan dada.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa masalahmu sudah selesai?" tanya Tuan Raka meliriknya curiga. Takut jika anaknya ini berbuat masalah lagi.
Devan menggelengkan kepala, kemudian memandang Tuan Raka.
"Papi tidak usah pikirkan, ini masalah pribadi keluargaku dan Papi juga tidak usah kuatir, masalahku dengan Jastin tidak akan mengganggu reputasimu di kota ini," jawab Devan pasti.
"Huft, baiklah. Papi cuma mencemaskan kalian, Papi hanya tidak mau kau dapat musuh lagi," ucap Tuan Raka meminum kopinya.
"Hehehe, Papi tidak usah cemas, aku kan lebih pintar darimu menyelesaikan masalah," puji Devan pada dirinya sendiri membuat Tuan Raka menyembur kaget merasa dirinya dibandingkan.
"Apa yang kau katakan barusan?" tanya Tuan Raka melototinya.
"Aduh, Papi ini sudah tua dan pastinya Papi juga sudah mulai kurang pendengarannya. Mending Papi jaga kesehatan dan nikmati masa-masa indah tua Papi, jangan marah-marah padaku apalagi sama adik-adikku," jawab Devan tanpa rasa bersalah di wajahnya. Tuan Raka meremas korannya, dan mulai ingin memukul kepala putranya yang suka sekali mengejeknya.
"Apa kau bilang? Kau katain Papi tuli? Kau ingin Papi cabut jabatanmu dari perusahaan, ha!" kesal Tuan Raka berdiri. Tapi Devan tetap duduk santai sambil colek-colek telinganya mengabaikannya.
Ella dan Ny. Mira cuma geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka.
"Wah Ella, sepertinya susu Vina habis. Mami ke dapur dulu suruh pelayan menyiapkan susu," ucap Ny. Mira berdiri. Sontak Ella ikut berdiri dan segera menahannya.
"Ah Mami lebih baik di sini saja, biarkan aku yang membuatkan susu untuk Vino dan Vina. Mami pasti capek hari ini ngurus Vino dan Vina saat aku keluar," tahan Ella tak mau merepotkan mertuanya. Ia sangat menyayangi Ny. Mira yang sudah baik hati memperlakukannya dengan baik di keluarga besar ini.
__ADS_1
Ny. Mira tersenyum senang dan memberikan dua botol pada Ella.
"Mami bersyukur banget dapat menantu sepertimu, kau sangat memperhatikan cucu-cucu Mami. Padahal kau harusnya keluar berbelanja," ucap Ny. Mira menyapu pinggir matanya. Merasa menantunya baik dan tidak seperti menantu diluar sana, padahal Ella sudah dikelilingi kemewahaan dan kekayaan tapi Ella tetap saja dalam kesederhanaannya dan lebih memperhatikan keluarganya.
"Hehehe, aku tidak terbiasa Mi." Ella cengengesan sambil menggaruk pelipis matanya.
"Puft, kalau begitu lain kali Mami akan ajak menantu dan cucu Mami keluar berbelanja bersama," ucap Ny. Mira tertawa kecil.
"Terima kasih Mi, kalau begitu aku ke dapur dulu siapkan air hangat untuk membuat susu." Pamit Ella menundukkan sedikit kepalanya lalu pergi ke arah dapur. Ny. Mira pun kembali duduk bersama dua cucu kembarnya.
Devan yang meliriknya, ia pun ikut berdiri dan menyusul ke dapur. Terlihat senyum jahilnya mulai lagi ingin merayu istrinya. Perlahan-lahan ia mendekati Ella.
"Sayang, kau sedang apa di sini?" rangkul Devan membuat Ella sedikit terkejut dan sedikit merona. Bisa-bisanya Devan menyusulnya dan sekarang terang-terangan di depan para pelayan. Sontak mereka segera pergi meninggalkan Ella dan Devan.
"Hais, tentu saja bikin susu untuk dua anak kita," jawab Ella sedikit mendesisi.

"Wah, istriku. Kalau buat suamimu ada?" rayu Devan lagi.
"Iiih, apa sih! Jangan rayu aku sekarang," ketus Ella masih merona.
"Hm, rayu? Aku tidak merayumu loh sayang, aku cuma tanya susu buat aku ada?" rayu Devan sambil meniup-niup telinga Ella. Merasa mulai gemas, Ella pun berbalik dan melingkarkan dua tangannya ke leher Devan.
"Hm, kenapa kau harus tanya? Bukannya setiap malam kau selalu minum susu?" balas Ella mencolek dada Devan.
"Auw, kau pintar juga merayuku ya," gemas Devan merangkul perut Ella.
"Hm, ya dong. Kau pikir aku cuma pintar di dapur dan ranjang?" bisik Ella ke telinga Devan membuat suaminya merona mendengar kelanjutan bisikan Ella.
"Aku juga pintar merayu priaku, honey."
Deg!
Devan melepaskan Ella lalu berbalik, ia hampir mimisan mendengar suara lembut nan syahdu Ella. Melihat Devan tersipu, membuat Ella diam-diam menertawainya.
"Ekhm, aku penasaran. Siapa pria yang kau maksud," ucap Devan kembali berdiri santai.
"Yaitu siapa?" tatap Devan menyipitkan mata.
Ella maju dan menatap Devan dengan jarak dekat. Devan menelan ludah dan melihat bibir Ella. Ia seakan ingin menciumnya.
"Tentu saja suamiku tercinta," jawab Ella tersenyum, senyum yang begitu manis dan cantik membuat Devan tertegun. Dengan cepat dan tak sabar Devan menarik kepala Ella dan mencium bibir istrinya.

Namun rasa ciuman itu sangat singkat, Ella kembali merasa aneh pada dirinya. Ia segera mendorong Devan dan berbalik mual-mual.
"Hueeek!"
Melihat Ella berkali-kali mual membuatnya cemas, takut jika pencernaan Ella bermasalah.
"Sayang, lebih baik kita ke Dokter, aku takut ada sesuatu yang terjadi padamu,"
"Ehm, tidak perlu," tolak Ella mengelap bibirnya pakai tissu.
"Kenapa menolak sayang?" tanya Devan segera memeluknya.
"Itu aku rasa ...."
"Rasa apa, sayang?" tanya Devan melihatnya panik.
"Itu ... mungkin aku memang hamil lagi deh," jawab Ella mengelus perutnya.
Deg!
Devan terkejut mendengarnya.
"Kau yakin sayang? Bagaimana kau bisa katakan ini padaku?"
__ADS_1
"Em ...." ucap Ella melihat jari-jarinya nampak sedang menghitung.
"Em apa, sayang?" tanya Devan lagi.
"Itu loh, dua bulan ini aku tidak datang bulan, sepertinya-" ucap Ella berhenti dan tersenyum gembira.
Devan sontak berbalik dan menyentuh wajahnya.
"Oh Tuhan, itu artinya tembakanku berhasil mencetak gol? Itu artinya ada kecebong baru?" batin Devan terlihat bahagia dan berbalik kembali. Seketika ia dipeluk oleh Ella.
"Selamat, kita akan punya anak lagi honey," ucap Ella mendongak tersenyum.
Cup!
Devan kembali menciumnya, Ella tentu membola merasakan kegembiraan Devan yang mendengar kabar baik ini.
"Sekarang kita keluar, kita kasih Papi dan Mami. Pasti mereka akan senang lagi punya cucu baru!" seru Devan menarik Ella keluar membuat Ella tertawa kecil.
"Papiiiii, Mamiiiii!"
Devan lari teriak mendekati dua orang tuanya.
"Ada apa, kenapa kau teriak begini?" tanya Tn. Raka dan Ny. Mira berdiri bersamaan.
"Selamat Pi Mi, kalian bakal punya ....."
"Punya apa?" tanya Tn. Raka dan Ny. Mira mengernyit.
Devan sontak mengangkat Ella membuatnya menjerit kaget, bisa-bisanya Devan mengangkatnya di depan dua mertuanya.
"Ella sekarang hamil lagi, kalian bakal punya cucu baru!" seru Devan menjawabnya. Sontak Ny. Mira terdiam, ia pun mendekati suaminya.
"Sayang, kita-"
Tuan Raka memeluk istrinya yang menangis terharu. Sungguh berita gembira karena mansion besarnya akan lebih ramai dengan kehadiran calon anggota baru. Vino dan Vina berdiri mendekati dua orang tuanya.
"Mama, Papa," panggil baby twins merengek. Devan pun berjongkok melihat Vino dan Vina yang memegang boneka T-Rex.

"Vino sama Vina bakal punya adek, kalian jangan tambah rewel ya sayang," ucap Devan mencium kening dua anaknya dengan lembut.
"Dede, Mama?"
Ella tertawa kecil dan ikut berjongkok.
"Ya sayang, kalian bakal punya Dede kecil."
Si kembar tertawa cekikikan, kemudian memeluk Devan dan Ella.
"Mama, Papa ayang Dede." Girang si kembar makin menggemaskan.
Keluarga kecil Devan kini penuh kebahagian kembali, tak ada lagi masalah dan tak ada lagi kebencian. Yang ada hanya tawa dan kegembiraan di mansion besar keluarga Tuan Raka. Begitupun Rafa yang kini di kampusnya perlahan mulai melirik seorang gadis untuk menggantikan Ella.
Sedangkan hubungan Hansel dan Elisa makin erat saja. Namun masih ada rintangan kecil yang akan mereka hadapi. Meski begitu, keduanya pasti dapat melaluinya.
Di mansion yang berbeda. Seorang pria tua yang tak lain bapak pemilik villa nampak duduk di kursinya. Selang beberapa menit, seoarang lelaki masuk mendekatinya.
"Apa yang kau temukan?" tanya bapak itu tanpa melihatnya karena sibuk melihat foto di tangannya.
"Tuan, aku rasa ini kota yang tepat. Kami yakin, Nona Jessica berada di kota ini bersama putra anda," jawabnya menundukkan kepala.
"Kalau begitu, kerahkan anggotamu mencarinya mulai sekarang juga!"
"Baik Tuan."
Lelaki itu pun pergi meninggalkannya. Kesedihan masih terlihat di wajahnya. Inilah awal dirinya akan mencari putranya yang hilang di kota ini dan tanpa sengaja dan tanpa disadari akan bertemu dengannya.
_____
__ADS_1
Okay guys ... cerita Ella dan Devan sudah bahagia, author udah gak mau bikin konflik lagi, hehehe. Jadi apa kalian masih mau lanjut dengan cerita Hansel, Elisa dan Renita? Kalian pasti penasaran siapa bapak ini, pasti kalian pikir bapak ini ayahnya Hansel, tapi kalian jangan asal tebak dulu, karena jawabannya ada di tangan author.