
"Wah ramai juga di sini, apalagi ada Marsya dan dua anakmu yang berisik," Elisa masuk ke dapur dan melihat Ella sedang menuangkan sup untuk Devan.
"Haha iya, begitulah anak-anak, Kak." Ella tersenyum ramah pada tamunya malam ini yaitu kakaknya sendiri.
"Oh ya, honey. Kamu makan duluan saja ya, aku mau temani Elisa dulu," lanjut Ella berbicara pada Devan yang duduk di dekatnya.
"Eh, tidak usah Ella. Kamu duduk saja temani suami dan anak-anakmu. Aku ke sini sepertinya masuk di waktu yang salah deh, jadi ganggu kalian makan malam," sela Elisa jadi grogi di dekat pintu. Sedangkan dua baby twins dan Marsya kembali naik duduk di kursi mereka.
"Eh, tidak sama sekali kok, Kak." Ella mendekatinya.
"Ahaha, tidak sama sekali apanya? Jelas-jelas kalian lagi makan," tawa Elisa merasa bodoh. Ella tersenyum lagi, ia tahu sikap Elisa sekarang yang merasa malu.
"Bagaimana kalau ikut makan bersama?" ajak Ella menunjuk ke arah meja makan. Elisa terdiam, ia melihat Devan yang tersenyum pada kelakuan baby twins dan Marsya.
"Keluarga yang bahagia," gumam Elisa dalam hati.
"Jika saja dulu aku menikah dengan Devan, mungkin aku juga akan memiliki anak kembar."
"Kak Elisa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ella pada Elisa yang terdiam.
"Ah itu, aku harus kembali. Hans pasti sedang mencariku, La." Elisa menjawab sambil tersenyum.
"Yah, Bunda Syasa! Sini dong makan sama-sama," teriak Marsya turun dari kursinya.
"Bunda jangan pulang dulu, Marsya mau main tembak-tembakan sama adek Vino dan Vina nanti. Bunda tinggal sebentar saja, pyisss." Sekali lagi memohon dan merengek pada Elisa. Ella dan Elisa tertawa kecil melihat Marsya melompat-lompat meminta Elisa untuk tinggal.
"Kemarilah, Kak. Sekalian panggil Hansel untuk makan malam bersama di sini," usul Ella berjalan untuk duduk bersama anak dan suaminya.
"Iya, Bunda. Panggil Om Acel juga," sambung Marsya memohon lagi.
"Ahaha, Acel siapa tuh Marsya?" tanya Elisa pada Marsya.
"Suaminya Bunda dong." Tebakan Marsya kembali membuat Elisa tertawa.
"Baiklah, Bunda akan tinggal makan malam di sini. Kalau begitu, Marsya duduk lagi ya di sana," ucap Elisa akhirnya setuju dan kemudian mengirim pesan pada Hansel.
"Yeeeee, Bunda mau tinggal makan juga. Sini dong Bunda, duduk sama Marsya dan adek Vina saja." Marsya sangat senang karena rayuannya berhasil. hingga menarik Elisa untuk duduk di dekatnya. Ella hanya geleng-geleng kepala melihat kegembiraan Marsya. Dari dulu, bocah lima tahun ini sangat ceria, seperti halnya Deandra, Ibu kandung Marsya.
Makan malam bersama ini terasa sedikit canggung untuk Elisa, apalagi Hansel belum datang juga. Terutama ada Devan yang cuma diam saja dengan kehadirannya. Tak ada sapaan dari mulut lelaki ini padanya sama sekali. Hanya Marsya dan Vina yang bicara belepotan sambil makan. Untuk memecahkan suasana, akhirnya Ella bertanya pada Elisa.
"Oh ya, kak Elisa kok bisa ada di sini juga?"
"Em, itu ... cuma lagi liburan saja, La." Elisa menguyah sambil menjawab.
"Oh... sekarang Kak Hansel kemana? Kenapa tidak ke sini bersamamu tadi?"
Elisa terdiam, ia agak bingung kenapa suaminya belum juga datang. "Apa dia lagi sibuk di sana?" lanjut Ella bertanya lagi.
"Mungkin begitu, La. Mungkin juga pesan aku tidak dibuka olehnya," jawab Elisa sedikit kesal pada Hansel.
"Kalau begitu, Marsya pasti sedih jika Hansel tidak datang ke sini," ucap Ella melihat Marsya yang tertawa bersama dua anaknya karena dijahili oleh baby twins dan juga terutama Devan yang menasehati Marsya untuk jangan terlalu berisik.
"Pftt, dia sangat bahagia malam ini tanpa melihat Om Acelnya." Elisa tertawa kecil melihat kebahagiaan keluarga adiknya. Ella pun mengangguk lalu makan kembali diikuti Elisa juga. Tapi Elisa agak heran pada suaminya lagi.
"Kemana dia sekarang?" pikir Elisa gregetan sambil menguyah makanan di mulutnya.
Pesan yang dikirim oleh Elisa belum juga dibuka oleh Hansel karena lelaki ini sedang mandi hingga suara notif tak terdengar akibat bunyi percikan air dari shower.
Ia baru keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sangat menawan. Sixpack Hansel tak kalah dengan milik Devan. Namun ia yang lagi mengusap rambutnya tiba-tiba heran karena tak melihat Elisa.
"Kemana dia?" pikir Hansel mengernyit.
Hansel yang cuma bermodal handuk yang melilit tubuhnya, ia pun keluar dari kamar untuk mencari Elisa.
__ADS_1
"Sya," panggil Hansel dengan nada rendah.
"Syaaaaa!" sekali lagi memanggil istrinya.
"Syaaaa, kamu di mana?!" teriaknya tak melihat Elisa di ruang tengah. Tapi tak ada sahutan sama sekali dari istrinya.
"Kenapa dia tidak menjawabku?" gumam Hansel segera ke dapur untuk mengeceknya. Setelah masuk, ia tercengang tak melihat Elisa juga di sana.
"Sya, kamu di mana?" beberapakali pun dipanggil tetap tak ada jawaban dari Istrinya. Hansel pun panik langsung masuk ke kamar untuk memakai baju.
"Astaga, kemana istriku sekarang? Apa dia diculik?"
Dugaannya membuat ia tak bisa berpikir tenang lagi. Hansel yang sudah lengkap, ia pun buru-buru membuka ponselnya. Tapi ia kecewa setelah ponselnya malah habisan daya.
"Ah sial, kenapa aku lupa mengisinya tadi sih," desis Hansel pun keluar untuk mencari Elisa. Ia deg-degan setengah mati mencari Elisa, hingga jalan di depannya ia telusuri.
"Excuse me, Sir. Did you see my wife walking down the street here?" tanya Hansel pada bapak bule yang dia temui.
"Nothing, I just passed this way too." Bule itu menggelengkan kepala.
"Ah, sorry if i bother you,"
"Does not matter." Bule itu pun pergi. Hansel yang masih panik, mencari Elisa lagi.
"Ya Tuhan, kemana aku harus mencari istriku malam-malam begini?" desis Hansel menerjang hawa dingin, ia tetap berjalan lurus mencari Elisa. Tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Heii!" Hansel berhenti, ia menoleh ke sumber teriakan. Mata Hansel membulat lebar melihat Devan yang berdiri di luar memanggilnya.
"Presdir Devan?" Hansel heran melihat mantan atasannya masih di Hawaii. Hansel pun pergi ke Devan.
"Presdir, mengapa anda masih bisa ada di sini?"
"Untuk liburan selama sebulan," jawab Devan santai.
"Itu diurus oleh ayahku sekarang. Oh tunggu, kenapa kamu baru datang? Elisa sedang menunggumu dari tadi di dalam sana," ucap Devan menunjuk ke arah dalam rumah.
"Elisa? Jadi dia ada di sini?" Hansel makin terkejut.
"Benar, dia datang berkunjung dan sekarang menemani bermain anak-anak di dalam sana," ucap Devan lagi lalu duduk di kursi kayu.
"Huft, syukurlah. Aku mencarinya dari tadi, sekarang kalau begitu aku tidak usah takut lagi," Hansel menghela nafas mulai tenang.
"Takut? Apa yang kamu takutkan?" tanya Devan mengerutkan dahi. Hansel pun melihat ke dalam lewat jendela kemudian tersenyum sudah melihat Elisa memang masih ada di dalam. Ia pun ikut duduk di dekat Devan.
"Itu, musuh Ibuku," ucap Hansel dengan nada kecil.
"Ha? Musuh Bu Naina? Sejak kapan Bu Naina ada musuh?" tanya Devan heran. Ia tak tahu sama sekali identitas asli Hansel.
"Bukan musuh Ibu Naina, tapi musuh Ibu-"
"Wah By, kenapa kamu baru datang?" sahut Elisa memutuskan ucapan Hansel. Dia senang dan kesal baru melihat Hansel tiba. Ella yang ada di dekatnya cuma menahan tawa melihat ekspresi Elisa yang lucu.
"Sya, kenapa tidak memberitahuku kamu ke sini?" tanya Hansel berdiri mendekati istrinya. Devan merasa jengkel dirinya diabaikan oleh Hansel. Padahal ia ingin tahu musuh Hansel. Melihat Devan begitu, Ella pun mendekati Devan.
Sedangkan Elisa yang ditanya, ia sedikit cemberut lalu menjawab, "Aku sudah kasih tahu kamu kalau aku mau keluar jalan-jalan, tapi kamu malah mandi begitu lama. Jadi aku ke sini saja deh," jelas Elisa melipat tangannya di depan dada.
"Maaf ya Sya, badanku gatal semua habis jalan-jalan tadi sore. Sekarang kamu sudah makan?"
"Sudah dong, kalau kamu?" tanya Elisa.
"Belum sih,"
"Ya sudah, kalau begitu kak Hansel makan di sini saja. Lagian makanan masih ada di lemari juga, Kak Elisa tidak perlu repot-repot masak lagi," usul Ella pada pasangan suami istri ini. Tapi Elisa menolak, ia tak mau merepoti Ella nantinya.
__ADS_1
"Ahaha, itu. Aku akan pulang sekarang sama Hansel, terima kasih ya La sudah mengajakku makan tadi dan tolong ya kasih tahu Marsya."
"Baiklah," ucap Ella mengerti. Ia tak mau memaksa Elisa untuk tinggal lagi.
"Yok By, aku akan masak enak untukmu malam ini," girang Elisa menarik tangan Hansel.
"Sepertinya lain kali kita lanjutkan obrolan kita Presdir," ucap Hansel lalu mengikuti Elisa pulang. Devan cuma menatap datar kepergian Hansel dan Elisa.
"Honey, semua baik-baik saja kan?" tanya Ella pada suaminya. Devan pun menyentuh kepala Ella lalu mengajaknya masuk.
"Semua baik-baik saja, sayang."
Chup!
Ella tersipu dikecup keningnya oleh Devan. Keduanya pun masuk untuk menemani si kembar dan Marsya yang pastinya akan sedih. Sedangkan Hansel dan Elisa dengan cepat sudah sampai di penginapan mereka.
Elisa memasak untuk Hansel yang sekarang duduk menunggu di meja makan. Elisa sangat lincah hingga ia bisa menyediakan makanan apa adanya untuk Hansel. Untung saja bahan dia sempat beli barusan. Hansel pun makan dengan lahap tumisan sayur dari Elisa.
"Hm, enak nih. Kamu belajar masak Sya?" tanya Hansel melihatnya.
"Hehe, iya. Lihat di youtube, jadi gimana rasanya?" tanya Elisa malu-malu hingga ia merona dipuji oleh suaminya.
"Rasanya itu sangat enak, istriku akhirnya jago masak juga," Hansel memberi dua jempol.
"Em, ini pujian apa ejekan?" tanya Elisa menyipitkan mata merasa aneh.
"Pfft, jangan marah. Masakanmu malam ini sangat enak sayang. Kalau kamu tidak percaya, kamu coba makan deh," gemas Hansel mencubit pipi Elisa lalu memberinya satu sendok. Tapi Elisa tak mau makan.
"Loh ada apa?" tanya Hansel heran.
"Em itu," Elisa menunduk sambil memainkan dua jarinya.
"Itu apa, Sya?" tanya Hansel sambil menguyah makanan di sendok tadi.
"Bisakah kita bikin anak malam ini, By?"
Deg! Hansel tersentak hampir keselek sendok. Ia menatap Elisa yang memohon.
"Apa, bikin anak? Kamu serius malam ini? Kamu sudah siap?" tanya Hansel deg-degan. Elisa mewek lalu mengangguk.
"Iya, By. Aku mau punya anak seperti Ella. Kita bikin anak ya malam ini, By. Pyisss." Sekali lagi memohon. Hansel menelan ludah lalu melihat tubuh Elisa. Pikirannya mulai liar membayangkan dirinya bergulat dengan Elisa di atas ranjang. Hansel pun sontak berdiri.
"By, kamu tidak mau ya?" tebak Elisa sedih.
"Apa karena aku bukan tipemu, jadi kamu tidak mau denganku?" lanjutnya lagi ikut berdiri. Hansel terdiam, ia menghela nafas lalu memeluk Elisa. Ia berbisik ke telinga Elisa membuat wanita ini bersemu merona.
"Jika begitu, jangan menyesal bila aku menyakitimu malam ini,"
"Eh, bikin anak itu emang sakit ya?" tanya Elisa berpura-pura polos. Hansel tertawa, ia langsung mencubit pipi Elisa. Ia sangat gemas pada istri kesayangannya.
"Istriku, aku tidak akan mengampunimu malam ini. Beraninya kamu keluar tanpa bilang padaku!" tegas Hansel langsung mengangkat Elisa.
"Ta-tapi kan kamu yang salah juga! Bukan aku sepenuhnya!" teriak Elisa mulai takut. Ia deg-degan pada Hansel yang membawanya ke dalam kamar.
Cklek!
Hansel mematikan lampu dan tak lupa mengunci pintu. Kamar itu hampir gelap gelita, tapi untung saja ada cahaya redup dari lampu kecil di atas meja.
"By, kenapa mematikan lampu?" tanya Elisa semakin deg-degan. Hansel menyeringai tipis lalu meletakkan Elisa dengan perlahan di atas ranjang. Ia menjawab dengan suara lembut sambil mengusap rambut gelombang Elisa.
"Agar pertempuran malam ini lebih menyenangkan, sayangku."
Elisa menunduk, ia hampir tak berdaya sudah mendengarnya, antara malu dan makin berdebar-debar sekarang.
__ADS_1