
Suara-suara kebisingan di club malam tidak dapat mengganggu dua manusia sedang bercumbu mesra di dalam sebuah kamar VIP. Suara ******* indah dan suara aneh 'Plok plok plok' mengisi satu kamar itu. Seorang pria bule yang tak lain adalah Jastin. Pria yang sangat gila dengan percintaan duniawi, tidak mengenal siapa wanita yang sudah dia tiduri selama ini. Yang jelas hasratnya tersalurkan sore ini.
"Aaah ... uh, baby ... kau sangat menawan hari ini," goda wanita yang mencium lembut bibir Jastin.
Keduanya berada di dalam seprai yang sama tanpa busana apa-pun. Jastin nampak ambruk setelah dia membuahi rahim wanita itu dengan bibitnya. Begitupun wanita seksi menindih tubuhnya dan meraba lembut dada kekar lelaki yang sudah dia layani sekarang.
"Baby, kapan kau akan menikahiku?" tanya wanita itu dengan lembut. Suara godaannya sangat menggelikan kedua telinga Jastin, namun ini yang disukai Jastin. Seorang wanita nakal yang sudah sering dia ajak bercinta selama ini.
"Tenang saja, Baby. Setelah aku menikahi Nona sulung dari keluarga Marchela dan merebut harta warisnya, kau akan jadi permaisuriku." Jastin menyeringai tipis.
"Tapi kapan? Aku sudah tiga kali keguguran, kali ini aku tidak ingin menggugurkan bayi kita. Aku ingin tinggal denganmu," keluh wanita ****** itu sambil mencolek-colek dada Jastin.
Jastin mengalihkan pandangannya sedikit dan bergumam dalam hati.
"Cih, bayi kita? Bagaimana mungkin aku akan menerima bayi yang bisa saja bayi dari laki-laki lain, wanita ini bisa juga membodohiku, aku tak akan pernah menikahimu. Kau hanya akan jadi pemuas nafsuku. Setelah aku menikah dengan Elisa, kau akan aku habisi."
Jastin tersenyum manis, niatnya benar-benar kejam. Tak ada sedikitpun perasaan manusia di dalam hatinya, dia bagaikan iblis yang hanya ingin kepuasan atas keinginannya.
"Baby, kenapa diam saja? Kau tidak ingin menikahiku?" tanya wanita itu dengan murung.
Jastin tertawa kecil lalu dengan lembut menyentuh dagu wanita itu.
"Oh sayang, kau jangan sedih. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku bisa masuk ke keluarga Marchela. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu."
Wanita itu kegirangan mendengar kalimat Jastin, sangat bodoh malah mempercayai godaan Jastin.
"Kau suka uang?" tanya Jastin menatapnya.
Wanita itu dengan malu-malu menganggukkan kepala.
"Ya, baby. Semua orang pasti menyukainya, tapi aku lebih menyukai dirimu," ucapnya sangat manis di telinga Jastin.
"Ck, tentunya aku lebih suka uangmu. Kau sangat kaya, kau tipe pria yang bisa kuperas tiap hari, jika aku menikahimu maka hidupku akan berubah seratus delapan puluh derajat."
Wanita itu membatin memikirkan kelicikannya.
"Baiklah, kau ambil ini," ucap Jastin mengambil celananya yang tergeletak di atas meja lalu mengeluarkan beberapa kertas uang yang tak terbilang nilainya.
Mata wanita itu seketika berseri-seri melihat lembaran uang.
"Ambil ini, keluarlah berbelanja. Setelah itu datanglah besok kemari lagi," beri Jastin uang itu padanya.
"Aaah baby, i love you,"
Cup!
Wanita itu mencium pipi Jastin dengan bahagia, ia mengambil uang itu lalu buru-buru memasang busananya.
"Dah baby, sampai jumpa besok."
Wanita itu melambai dengan senyumnya. Jastin cuma balas melambai melihat kepergiannya. Sekarang tinggal dirinya saja di dalam kamar itu. Ia menarik resletingnya, menutup burungnya yang sudah bertempur barusan.
Jastin beranjak berdiri, ia ke meja rias untuk menyisir rambutnya.
"Ahahaha, bagaimana kabar mereka? Apa sekarang masih bertengkar? Aku yakin, pasti Devan sangat marah pada istri kecilnya itu, aku tak sabar bagaimana hasil pertengkaran mereka."
__ADS_1
Tawa Jastin menggema di seluruh isi kamarnya.
"Cih, dasar brensek kau Jastin!" geram Elisa yang dari tadi menguping pembicaraan mereka. Apalagi tadi melihat wanita ****** keluar dengan beberapa bekas ****** di tubuhnya, hal ini membuat Elisa makin marah terhadap Jastin.
"Ternyata dia sudah terbiasa mempermainkan wanita, tak akan aku maafkan!" pikir Elisa dengan tangannya yang sudah dikepal kuat-kuat dari tadi.
Langkah kaki Jastin menuju ke pintu kamar, ia sudah rapih dengan style yang sudah menawan kembali. Setelah membuka pintu, dua bola matanya seakan ingin keluar melihat Elisa berdiri tepat di depannya.
"El-elisa, apa dia sudah berdiri dari tadi di sini?" pikir Jastin terkejut dengan kehadirannya.
Sontak Elisa segera menamparnya dengan keras.
Plak!
Bahkan dua kali membuat Jastin emosi.
"Elisa! Beraninya kau-"
"Kau apa, ha!" bentak Elisa memotong ucapan Jastin.
"Kau brensek, Jas! Ternyata kau pria yang sangat bajinan! Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri selama ini, ha!" sekali lagi Elisa membentaknya. Suara lantang Elisa hampir menggema di seluruh lorong-lorong club malam itu.
Jastin mendesis sakit pada dua pipinya yang merah.
"Ahahaha, kau ingin tahu?" tawa Jastin mencoba tenang menghadapi Elisa.
"Cih, tidak usah beri tahu padaku. Kau sangat menjijikkan!" hina Elisa mendorong Jastin masuk ke dalam kamar hingga terjatuh ke lantai.
Jastin terkejut melihat Elisa masuk dan menutup pintu kamar, ia segera berdiri. Elisa menyeringai tipis dan perlahan mengambil gunting diam-diam di atas meja dan menyembunyikan di belakangnya.
"Apa mau ku? Bukan kah kau bisa menebaknya?" ucap Elisa berbicara lembut. Jastin menelan ludah, suara Elisa sangat menggoda.
"Oh Jastin, dulu kita pernah pacaran. Tapi kenangan bersamamu sudah hilang, tapi kesalahanmu terhadapku membuat aku sangat membencimu dan aku sudah tahu, kau mencoba memprovikasi Devan dan adikku hari ini, serta tak sangka kau juga ingin memperkosa Ella! Kenapa kau sangat brensek, ha!" bentak Elisa menodong gunting ke arah Jastin.
"Kau, bagaimana kau bisa tahu semua itu!" kaget Jastin mengetahui Elisa sudah tahu kebusukannya.
Elisa tersenyum miring dan mendesis kesal.
"Cih, tentu saja dari adik tiriku,"
"Apa, adik tiri? Kau punya adik lain?" Jastin terkejut kembali. Ia mundur ke belakang karena Elisa tak main-main dengan gunting di tangannya, seakan Elisa ingin menusuknya.
"Ya, aku bukan punya satu adik saja, tapi dua. Kau harus tahu, dialah yang akan membongkar kebusukanmu pada Papaku! Setelah Papaku tahu, keluargaku dan kau tak ada hubungan apa-apa lagi mulai hari ini! Jadi sekarang, mumpung kau sendirian di sini, mungkin aku bisa memotong burungmu yang sudah nakal mempermainkan wanita,"
"Kau lelaki murahan, Jastin!"
Jastin kesal dan geram mendengar ocehan Elisa. Dengan cepat langsung meraih tangan Elisa.
"Aaargh," jerit Elisa kesakitan. Bahkan gunting berhasil jatuh ke lantai.
"Ahaha, sekarang kau mau apa?" Jastin tertawa puas, Elisa mencoba melawan.
"Cih, kau pikir aku takut!" decak Elisa langsung meludahi wajah Jastin.
Cuih!
__ADS_1
Jastin terkejut merasakan cairan itu, ia semakin geram dan langsung mendorong Elisa ke tembok.
"Aaagh!"
Suasana makin menegangkan, apalagi Elisa dikunci oleh Jastin. Meski begitu tak ada ketakutan sama sekali di mata Elisa.
"Hahaha, sekarang kau bisa apa, ha!"
Elisa mendesis melihat tampang wajah Jastin, ia pun menyeringai tipis.
"Tentu saja aku bisa ini!"
Bug!
Jastin membola, rasanya dunianya ingin hancur merasa burungnya ditendang oleh Elisa. Padahal baru saja bertempur, sekarang sudah menerima tendangan ketas Elisa.
"Ahaha, rasakan itu!" tawa Elisa segera lari keluar untuk melaporkan ini pada Ayahnya. Ia berhasil merekam kelakuan Jastin di dalam ponselnya.
"ELISA!" teriak Jastin marah. Elisa berhenti dan berbalik ke belakang. Ia tersentak melihat Jastin mengejarnya. Elisa segera lari menyusuri lorong-lorong club malam.
"Sialan, awas kau!" decak Jastin berlari dan menghubungi anak buahnya yang hadir di club malam itu juga.
"Tangkap Nona sulung Marchela, bawa dia ke hadapanku sekarang!"
"Baik Tuan." Para anak buahnya berpencar dengan pistol di tangan mereka. Posisi Elisa dalam bahaya.
Kini Elisa mulai terengah-engah. Detak jantungnya tak terkontrol lagi. Ia berhenti untuk mengatur nafasnya. Kebisingan mulai terdengar, ia semakin dekat ke kerumunan orang-orang.
Namun pinggangnya berhasil diraih oleh seseorang. Mata Elisa langsung membola terkejut melihatnya.
"Kau?"
Elisa segera memeluk Hansel yang tepat waktu datang bersama Devan.
"Tunggu, bagaimana kau bisa ada di sini Elisa?" tanya Devan mengamati seluruh club malam.
"Aku melihat Jastin membawa wanita lain, dia benar-benar brensek! Dia malah bermain wanita di club ini! Dia bahkan ingin menghabisiku! Kau-kau harus beri dia pelajaran Devan!" pekik Elisa memohon pada Devan dan menangis di pelukan Hansel. Hansel melirik Devan, keduanya sudah melacak posisi Jastin.
Devan mengepal tangan, ia pun menghubungi anak buahnya untuk mengepung club malam sore ini.
"Lakukan tugas kalian dengan baik, tangkap Jastin segera mungkin!"
"Baik Presdir!" patuh anak buah mereka berpencar.
Seketika suara tembakan terdengar.
DOR!
Semua orang terkejut ketakutan segera lari keluar dari club malam. Menyisakan Devan, Hansel dan Elisa. Ketiganya berhadapan dengan Jastin yang berada di lantai atas dengan pistol mengarah ke arah mereka.
"Ck, sialan!" decak Devan melihat musuh bebuyutannya tersenyum miring ke arahnya. Suara tembakan itu tentu dari Jastin. Isyarat untuk menantang Devan.
"Oh Devan, kau rupanya datang juga untuk menyelamatkan mantanmu, tapi sepertinya kau sama brensek denganku. Bukan kah begitu, Nona Elisa?" ucap Jastin ingat perkataan Elisa saat itu.
Hansel sudah mengepal tangan, ia memendam kemaraha pada Jastin yang mau lagi memprovokasi Devan dan Elisa. Wajah menyebalkannya membuat Hansel geram.
__ADS_1