Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
76. Balas Cemburu


__ADS_3

"HONEY!"


Suara lantang Ella mengagetkan Devan yang lagi mengajak bicara dua anak kembarnya. Devan berdiri kemudian mengenyit heran melihat istrinya tiba-tiba marah.


"Kenapa teriak sayang?" Devan mendekatinya, duduk di dekat Ella yang sedang menatapnya serius.


Ella pun mengambil laptop Devan, memperlihatkan sebuah foto lalu berkata : "Ini siapa? Kenapa ada foto wanita lain di laptop kamu?" Tunjuknya sinis ke foto wanita berpakaian kerja yang ketat.


"Oh itu calon sekretaris baruku,"


"APA! SEKRETARIS BARU?" Ella kaget dengan suara lantangnya, hingga Devan menutup kedua telinganya. Teriakan Ella serasa berdenging membuat Devan kesakitan.


"Astaga sayang, bisakah kamu turunkan volume suaramu. Kamu mau suamimu yang tampan ini budeg?" desis Devan kesal mencolek telinganya. Bagaikan mendengar radio rusak.


"Iiih, bodo amat! Yang jelas aku tidak setuju dia jadi sekretarismu," cetus Ella meletakkan laptop itu dengan kasar.


"Loh sayang, kenapa tiba-tiba kamu marah?" heran Devan garuk-garuk kepala.


"Ya pokoknya aku tidak setuju. Lihatlah, perempuan ini sangat feminim, dua dadanya saja sengaja dia majukan biar terlihat gemoy, terus dua pantatnya juga sengaja di montokkan. Pokoknya dia tidak boleh kerja di perusahaan. Lagiankan Kak Hansel masih bisa jadi sekretarismu, honey!" pekik Ella kesal sembari menepuk Devan dengan bantal sofa.


"Aduh, Hansel lagi di rumah sakit, terus perusahaan sedang membutuhkan pengganti Hansel. Dan kamu tidak bisa jadi sekretarisku. Oh atau mungkin kamu cemburu kan sayang?" tebak Devan tersenyum smirk.


"Cemburu? Mana ada," elak Ella memalingkan muka. Sedikit kesal mendengar penjelasan Devan.


"Pfft, bilang saja cemburu," kata Devan lalu menertawainya dalam hati.


"Tidak, aku sama sekali tidak cemburu." Sekali lagi Ella mengelak. Namun sangat jelas, Devan tahu istrinya yang lagi hamil ini sedang cemburu. Anak-anak cuma menertawai perdebatan lucu orang tua mereka.


"Ya sudah kalau begitu, kamu jangan marah. Dia hanya bekerja sebagai pengganti sementara. Setelah Hansel sadar, aku akan pindahkan dia ke perusahaan lain. Kamu jangan cemburu ya istriku, suamimu tidak akan selingkuh kok, aku cukup setia padamu." Devan merayu Ella yang sedang merajuk. Ella berdiri, pipinya tersipu malu kemudian dengan angkuhnya pergi ke arah dua anaknya.


"Lah kok malah ninggalin aku?" gumam Devan melihat istrinya tiba-tiba jual mahal. Devan pun tersenyum miring melihat foto wanita itu, akal jahilnya mulai aktif.


"Hehehe, sepertinya istriku mudah cemburu. Bagus nih, aku harus mengetesnya besok di perusahaan."

__ADS_1


Devan melirik ke arah Istrinya yang lagi tersenyum manis kepada dua anaknya. Senyumnya yang indah langsung membuat hati Devan luluh.


"Astaga, istriku kau bidadariku yang manis, tapi dosa gak sih kerjain istri yang lagi hamil?"


"Sudahlah, anggap saja ini keisenganku. Aku tidak pernah lihat dia marah-marah seperti tadi. Mungkin seru juga nih."


Sekali lagi Devan tersenyum smirk dengan akal jahilnya untuk membuat Ella cemburu padanya.


"Hm, kenapa dia tersenyum? Apa mungkin lagi kemasukan setan?" pikir Ella merinding. Tiba-tiba Vino dan Vina teriak girang.


"Momooooo!" pekik Vino dan Vina berdiri kemudian lari ke arah Rafandra yang masuk ke dalam mansion. Rafandra senang disambut oleh dua ponakan kecilnya.


"Eh, Rafa? Tumben dia pulang?" pikir Ella berdiri lalu melihat Devan yang sibuk dengan laptopnya. Kali ini Ella yang tersenyum smirk. Ia punya akal untuk balas dendam pada Devan. Ingin membuat suaminya cemburu.


"Hehehe akan kubalas!" batin Ella lalu berjalan riang ke arah Rafa.


"Waaah Rafa!" teriak Ella berhasil mengalihkan pandangan Devan ke arahnya. Mata Devan melebar melihat istrinya merangkul lengan Rafa begitu saja.


"Hm, hari ini aku tidak menyangka kamu akan pulang. Aku pikir kamu akan tinggal selalu di apartemenmu. Bagaimana kuliahmu? Apa semuanya lancar?" tanya Ella melepaskan rangkulannya kemudian berdiri di antara dua anaknya.


"Ahaha ya begitulah, semua lancar," tawa Rafa tersenyum bodoh kemudian jongkok di depan Vino dan Vina. Rafa menyentuh hidung dua ponakannya.


"Wah baguslah, kalau begitu biarkan aku yang membawa ranselmu. Kamu pasti capek, jadi istirahatlah... dan bermainlah dengan Vino dan Vina." Ella balas tersenyum manis membuat Rafa jadi canggung.


Klek!


Polpen di tangan Devan langsung patah bagi dua. Darahnya mendidih melihat istrinya tersenyum pada pria lain.


"Cih, apa dia sengaja ingin aku cemburu? Baiklah, aku tidak peduli!" decak Devan mengabaikan. Tapi mulutnya terbuka lebar melihat Ella makin melunjak, nampak Ella selalu melempar senyuman dengan ceria. Wajah Devan memerah sudah tidak tahan untuk mendekati adiknya dan istrinya.


"Oh ya, aku senang kamu masih tinggal di mansion ini. Jadi aku masih bisa melihat dua keponakanku." Rafa mengacak-acak rambut Vino dan Vina dengan gemas.


"Pfft, tentu saja. Sepertinya Vino dan Vina senang melihatmu pulang. Jadi Vino dan Vina tidak akan, eh-" kaget Ella, ucapannya terputus oleh Devan yang tiba-tiba merangkul pinggangnya.

__ADS_1


"Rupanya hari ini istriku sangat senang setelah melihat Rafa. Sampai-sampai mengabaikan suaminya sendiri, apa penglihatan istriku sedikit bermasalah?" gemas Devan tersenyum paksa pada Ella. Tapi sorotan matanya tidak main-main.


"Eh suamiku ternyata ikut menyambut pulang adik ipar. Bahkan senyumnya lebih manis dariku, apa pekerjaanmu sudah selesai?" balas Ella tersenyum kecut, menatap risih ke Devan dan mencubit gemas pinggang suaminya.


"Tentu selesai dong, sayangku," Devan balas cubit ke pinggang Ella. Keduanya saling mendesis sakit dicubit masing-masing. Rafa garuk-garuk kepala melihat dua orang di depannya sedang perang dingin. Tatapan keduanya saling melotot.


"Ahaha kalian ini semakin harmonis saja, aku jadi lega kalian masih tinggal di sini." Rafa tertawa bodoh mencoba mencairkan suasana.


"Tentu saja-"


"Tidak!" kata Devan membuat Ella tercengang.


"Apa tidak? Maksudnya?" tanya Ella dan Rafa bersamaan. Devan jadi makin kesal mendengarnya kemudian makin erat merangkul pinggang Ella.


"Ya dong tidak, mana mungkin kami akan tinggal selalu di sini. Besok, aku dan Ella serta dua anakku akan pindah kembali ke vila," jawaban Devan kembali membuat Ella tercengang. Terutama Rafa yang ikut kaget.


"Loh kok tiba-tiba honey?" tanya Ella kini serius.


"Hm, mulai terpancing. Aku akan buat kalian tidak saling tatap lagi!" Devan membatin puas.


"Ya itu karena aku akan menjaga dan menghidupi istriku dan tiga anak kita," jawab Devan dengan lembut mengelus perut Ella tepat di depan Rafa. Rafa menatap jengkel melihat Devan sengaja pamer kemesraannya.


"Tapi honey, Rafa kan baru pulang. Anak-anak nanti tidak ada waktu ketemu sama pamannya, kita pindahnya bulan depan saja," keluh Ella kasihan pada anak-anaknya. Devan tersenyum lalu pergi mengabaikan mereka.


"Bodo amat, yang jelas besok kita akan pindah!" titah Devan menaiki tangga. Ella mendesis kesal lalu menyusulnya sembari teriak.


"Honeeeeyyyyy! Kenapa kamu makin menyebalkan!"


"Ahahahaha bodoooo amat!" ledek Devan lari ke kamarnya. Ella makin manyun mendengar balasan Devan. Vino dan Vina tertawa geli melihat perdebatan mereka.


"Pfft, mereka kekanak-kanakkan." Rafa tertawa dalam hati lalu melihat dua ponakannya. Ia tidak sedih mendengarnya karena dia sendiri yang akan datang mengunjungi si kembar kecil di vila nanti. Rafa pun mengajak baby twins ke kamarnya untuk bermain.


Sedangkan di rumah sakit. Elisa sedang berhadapan dengan Ny. Jessy. Kecanggungan membuat keduanya belum bicara apa-pun. Apalagi tadi Elisa menangkap basah Ny. Jessy yang menangis di dekat Hansel.

__ADS_1


__ADS_2