Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
106. Tidak Akan Jadi Istriku


__ADS_3

"Sama-sama, dan maaf soal tadi. Aku tidak bermaksud cuek, kamu tidak marah kan?" tanya Ella agak cemas.


"Marah? Ya nggaklah sayang, aku malah cemas tau!!" Sekali lagi dicubit hidungnya. "Sepertinya harus bertindak setelah ini," lanjut Devan membatin.


"Baguslah, aku senang kamu tidak marah. Oh ya, aku punya hadiah, semoga kamu suka, honey," cengir Ella memberikan kotak hitam ke Devan.


"Wah cantiknya, ayo buka Om!!!" girang Marsya masih video call dengan Ibunya diikuti oleh baby twins juga.


"Mataku silau, ini sangat cantik. Apa kamu sendiri membelinya sayang?" tanya Devan padanya sambil melihat jam tangan bermerek itu.


"Hhe iya, maaf ya kalau tidak sesuai seleramu,"


"Eh ini aku suka banget loh sayang, terima kasih hadiahnya istriku!" ucap Devan memeluk Ella dan mengusap kepalanya. Setelah dipasangkan ke tangannya, benar-benar cocok untuk Devan. Ella makin gembira melihat suaminya menyukai hadiahnya.


"Papa uwenya!" rengek Vina menunjuk kue ulang tahun.


"Ayo Om, kita potong kuenya!!" sambung Marsya tak sabaran.


"Nggak mau!!" tolak Devan melipat tangan.


"Loh kok gitu honey? Anak-anak udah lama loh nunggu dari tadi," ucap Ella heran bersama Elisa dan Hansel.


"Kayaknya kepalamu nggak kebentur tadi deh, Dev. Tapi kenapa tiba-tiba gitu?" sambung Hansel ikut heran.


"Om ayo dong, potong kuenya, nanti Marsya sama Vino dan Vina nyanyi." Marsya kembali membujuk Devan.


"Om akan potong kuenya kalau kalian bertiga mau cium pipi Om dulu," ucap Devan jongkok di depan trio kecebong.


"Ahaha, astaga ada-ada saja deh kamu honey," tawa Ella geleng-geleng kepala. Marsya dan Vina tentu dengan senang hati langsung cium pipi Devan kecuali Vino.


"Baiklah, tinggal Vino. Sini dong Vino sama Papa," panggil Devan memainkan jarinya.


"Nda mawu!!" tolak Vino.

__ADS_1


"Loh kok gitu?" tanya Devan berdiri.


"Papa bawu!!" jawab Vino mengejek.


"Ahahaha, yang dikatakan Vino memang benar ya. Karena Papa bau, jadi tidak mau dicium," tawa Devan mengacak-acak rambut Vino. Tertawa bersama Ella dan yang lainnya.


"Sekarang mari kita rayakan bersama," sorak Devan jalan ke arah meja.


"Ayoooo Papaa!!"


"Horeee makan kuee!!"


"Ahahaha,"


Trio kecebong gembira merayakan malam ini, disertai kemilau dari lampu kecil yang menemani mereka. Meski begitu, kecemasan Hansel dan Devan masih tinggi malam ini. Mereka harus berhati-hati pada penjahat yang mengejar mereka. Bisa saja selanjutnya yang dikejar adalah orang yang ada disekitarnya.


Selepas acara pesta, Devan secepatnya membawa istri dan anaknya ke villa. Tak diduga, Hansel dan Elisa ingin menginap di villa Devan. Itu karena Hansel dan Devan sepakat untuk berjaga-jaga malam ini bersama. Tapi ini membuat Ella dan Elisa jadi heran. Namun melihat kedua lelaki itu capek, akhirnya Ella lebih mementingkan menidurkan anak-anaknya dan Marsya dari pada bertanya ke Devan. Begitupun Elisa masuk duluan ke kamar. Hanya Devan dan Hansel yang belum tidur malam ini. Keduanya nampak mengobrol di luar villa.


"Jadi gimana? Kamu akan tetap di sini, Dev?" tanya Hansel dengan sebatang rokok menemaninya.


"Oh ya, tumben ngerokok? Pasti lagi stress nih, ahaha." Devan lanjut tertawa.


"Argh, aku lagi banyak pikiran jadi begini," kesal Hansel berhenti merokok.


"Jadi benar ya kamu anak orang lain bukan anak Bu Naina dan Pak Carlous?" tanya Devan memastikan.


"Hm benar," jawab Hansel singkat.


"Jadi setelah ini, kalian kembali ke kota atau langsung balik ke sana?" tanya Devan lagi.


"Entah, aku lagi pikir-pikir dulu nih." Hansel memijit kepalanya yang sedikit berdenyut.


"Ya saranku sih, lebih baik kamu langsung ke sana saja," ucap Devan santai.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hansel heran.


"Ya karena kalau kembali ke kota, takutnya musuh Ibumu bisa berulah di kota. Lagian yang mereka cari adalah kamu, aku cuma tidak mau orang disekitarmu jadi sasaran mereka," tutur Devan menjelaskan. Hansel diam sebentar, memikirkan yang dikatakan Devan ada benarnya juga.


"Terus, bagaimana perusahaan Tuan Vian nanti jika aku tidak pergi ke kota?" tanya Hansel.


"Ya elah, menantu Tuan Vian kan bukan cuma kamu doang, ada aku yang bakal urus sementara. Tapi-" ucap Devan berhenti.


"Hm tapi apa?" Hansel mengerutkan dahinya.


"Tapi kamu harus jaga baik-baik Elisa, walau dia bakal menyusahkanmu tetap saja dia wanita yang harus dilindungi. Aku sebagai adik iparnya, cuma sedikit kuatir saja. Terutama Ella, dia tidak mau kakak kesayangannya ini sampai kenapa-napa. Jadi tolong jaga baik-baik ya, Presdir Hansel."


Hansel terdiam, ia pun sedikit tersenyum lalu merangkul leher Devan.


"Terima kasih," ucap Hansel tulus.


"Eh, buat apa?" kaget Devan langsung berdiri.


"Ya itu, jika saja bukan aku yang menyuruhmu menikahi Ella dulu, mungkin Elisa tidak akan jadi istriku sekarang."


Deg! Seseorang sangat terkejut mendengarnya dari dalam. Sementara Devan seketika diam lalu sedikit tersenyum.


"Aku juga berterima kasih, berkat dirimu waktu itu aku jadi menemukan cintaku yang sesungguhnya dan punya istri seperti Ella serta memiliki dua anak yang lucu. Oh ya, aku masuk duluan, selamat malam." Devan pun masuk meninggalkan Hansel sendirian karena melihat sesuatu barusan.


"Aneh, tadi sepertinya ada orang di sini deh tapi kenapa tidak ada?" pikir Devan merasa melihat seseorang tadi.


"Sudahlah, mungkin aku salah lihat. Lebih baik ke kamar lihat istri dan anak-anakku dulu." Devan pun dengan berbunga-bunga menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sedangkan Hansel menghela nafas, ia sedikit ingat pertama kalinya ia berurusan dengan Ella.


"Jadi itu karena kamu?" batin Elisa mengepal tangan. Ia baru saja mengetahui kebenarannya. Rasanya kecewa setelah mendengarnya. Elisa masuk ke dalam selimut, tidur duluan dan mengabaikan Hansel yang masuk ke dalam kamar untuk melihatnya.


"Sya, kamu sudah tidur atau belum?" tanya Hansel naik ke ranjang.


"Sudah tidur," jawab Elisa dingin. Hansel terkejut mendengar nada bicara Elisa yang berubah.

__ADS_1


"Baguslah, kalau begini aku bisa sedikit tenang. Aku keluar dulu, tidak mau mengganggumu." Hansel keluar lagi dari kamar. Elisa mengintip, tinggal dirinya seorang diri. Matanya yang tadi cerah seketika murung, ditambah wajahnya ikut lesu dan sedih.


____


__ADS_2