
"Huft, mereka ada-ada saja," hela Dean geleng-geleng kepala. Tuan Raka mendehem langsung memukul kepala Dean dengan koran.
Tak!
Aduh!
Dean meringis sakit.
"Loh, kenapa Papi memukulku sih!" desis Dean kesal.
"Itu karena kamu sendiri, jangan terlalu mengurusi urusan Kakakmu,"
"Lah, kok gitu? Kan tidak ada masalahnya," Dean cemberut.
"Kamu ini, dibilangin juga masih ngeyel. Mending pikirkan suami dan cucu Papi saja," kata Tuan Raka menasehati Dean lalu pergi ke sofa untuk baca koran sambil melihat Istrinya yang tertawa lepas dengan tingkah Marsya bermain petak umpet.
"Ih ngeselin! Papi sama Devan ngeselin!" rutuk Dean menghentak-hentakkan kakinya.
Saat mau mendekati Nyonya Mira, Dean dikejutkan dengan kepulangan adik tersayangnya, Zeli.
"Wah! Kak Dean!" pekik Zeli langsung memeluknya membuat wajahnya tenggelam diantara dua oppai besar milik Dean.
"Astaga, kau ini! Jaga sedikit sikapmu," ucap Dean mencentil kening Zeli.
"Ehehe, sorry," cengir Zeli garuk-garuk kepala.
"Kamu dari kemana baru pulang jam segini?" tanya Dean mencurigai adiknya yang suka keluyuran.
"Hehe biasa, dari kerja kelompok," sekali lagi Zeli cengengesan.
"Kak Dean!" lanjut Zeli memeluk lengan Dean.
"Kenapa?" tanya Dean heran.
"itu, bisa kan Marsya tinggal bersamaku malam ini? Aku ingin tidur bersama Marsya. Pleass," mohon Zeli ingin tidur bersama ketiga keponakannya malam ini saja.
"Hm, gimana ya?" pikir Dean.
"Ayolah Kak, izinkan Marsya tinggal satu malam di sini," mohon Zeli tak henti-hentinya.
"Kalau Marsya tinggal di sini kan bagus buat Kak Dean bisa berduan sama Ayahnya Marsya, ia kan?" Zeli tetap memohon.
__ADS_1
"Huft ya sudah deh, cuma satu malam,"
"Yes, thank you my sister,"
Cup!
Zeli mencium pipi Dean, ia sangat senang dan lari melempar tasnya ke sofa dan ikut bermain pada keponakan dan Nyonya Mira. Terlihat mereka bernyanyi bersama-sama. Dean tersenyum kecil, lalu pintu utama terbuka kembali. Seorang pria berumur 28 tahun masuk menghampiri Dean.
"Sayang, cepat sekali kamu pulang, tugas kantor sudah selesai?" tanya Dean pada suaminya yang tampan dan rapih dengan style kemeja pengusaha besar. Seorang bos besar di perusahaan industri dan commercial capital bank.
"Ya aku tinggal suruh orang mengurus saja itu sudah beres, sekarang ini jam pulang. Kita harus pulang sekarang, tidak baik kau dan Marsya pulang malam-malam begini," ucapnya penuh perhatian pada Istrinya yang sering diajak berdebat soal masalah kecil saja.
"Baiklah, tapi Marsya tidak akan ikut pulang,"
"Kenapa begitu?" tanyanya heran dan terkejut.
"Marsya itu bagian keluarga ini juga, dia akan tinggal malam ini di sini, cuma malam ini saja kok, tidak apa-apa kan?" tanya Dean memohon.
"Baiklah, asalkan kau tidak keberatan, aku ikut kamu saja istriku," katanya tersenyum.
"Hihihi, gini dong. Aku kan tambah sayang sama kamu," cubit Dean gemas pada suaminya. Pria yang dulu berpura-pura tidak mencintainya kini sangat mencintai dirinya.
"Oke, kita pamit dulu sama Papi dan Mami."
"Malam, Mih, Pih," sapanya pada kedua mertuanya.
"Eh, ternyata Deddy-nya Marsya datang juga. Kalian mau pulang sekarang?" tanya Nyonya Mira berdiri. Tuan Raka berhenti membaca koran dan menatap menantu pertamanya dengan tangan dilipat di depan dada.
"Ya, Mih. Ini sudah malam, kami tidak bisa lama-lama. Sepertinya akan turun hujan dan itu cuaca malam pasti sangat dingin, Mih," ucapnya berbicara sopan.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya sayang," ucap Nyonya Mira pada Dean, putrinya yang dia sayangi.
"Baik Mih," kata Dean paham.
Marsya ikut berdiri lalu merengek pada Deddy-nya.
"Deddy, Marsya mau tinggal sini temani bunda Zeli. Boleh kan?" mohon Marsya dengan keimutan tiada tara.
"Ahaha, boleh. Kalau begini putri Deddy jangan nakal di rumah Nenek dan Kakek ya," ucapnya menasehati Marsya.
"Hm, baik Deddy." Marsya mengerti lalu memeluk Deddy-nya. Bocah cantik ini kembali duduk bersama Zeli dan baby twins sedang melakukan permainan bongkar pasang.
__ADS_1
"Oh ya, Mih. Ini ada undangan," ucapnya kepada Nyonya Mira.
"Undangan apa nih sayang?" tanya Dean pada suaminya.
"Ini undangan wisata ke puncak, jadi kita bisa berkemah melihat keindahan alam di sana selama tiga hari,"
"Wah, bagus dong sayang. Kalau begitu kamu pesankan kami vila yang bagus," girang Dean senang dengan kabar gembira dari suaminya.
"Emh, itu pasti besok tempatnya akan dibuka jadi kita bisa pergi bersama. Kalau begitu kami pulang dulu Mih, Pih." Ia menunduk sangat menghargai kedua mertuanya.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Dadah Deddy, Mommy!!" Marsya melambai melihat Mommy dan Deddynya pergi untuk pulang ke rumah. Nyonya Mira duduk di dekat suaminya memberitahukan liburan wisata alam itu. Tuan Raka setuju-setuju saja. Terlihat di ruang tamu amat ramai sekarang.
Tidak seperti di kamar lantai atas, nampak keheningan diantara Devan dan Ella.
"Ekhm," Devan mendehem bermaksud ingin bicara. Ia sedang duduk di sofa sambil melirik-lirik Ella yang duduk di kursi rias sedang menyisir rambutnya. Tapi percuma, Ella malah makin cuek.
"Sshht, itu Mama Ella sama Papa Devan kenapa diam-diam begitu?" tanya Marsya pada dua adik sepupunya yang sedang mengintip diluar kamar Devan. Memang kini Zeli naik untuk membawa tasnya ke kamar bersama ketiga bocah ingusan ini. Namun ketiganya malah pergi menguping.
Baby twins cuma geleng-geleng kepala tidak tahu juga. Marsya berpikir sebentar. Saat itulah Vina menarik-narik baju Marsya.
"Kenapa adek Vina?" tanya Marsya.
"Mama hoa hoa," kata Vina mencakar-cakar tembok di sebelahnya.
"Kucing garong?" tebak Marsya kurang paham.
Vino geleng-geleng kepala dan ingin membantu adiknya menjelaskan tingkah Devan dan Ella.
"Papa, Mama gggrrtttrrt," Vino menggertak-gertakkan giginya seakan sedang marah.
"Oh Mama Ella sama Papa Devan lagi marah-marah?"
Baby twins mengangguk bersama. Marsya tertawa geli mengajak bicara kepada dua anak yang berumur satu tahun ini. Keduanya menunduk lesu tidak tahu cara menjalankan rencana mereka.
"Eh kalian kenapa?" tanya Marsya melihat dua adiknya sedih.
"Kaka, Mama, Papa puk," ucap Vino memeluk Vina, mengisyaratkan kedua orang tuanya harus segera baikan. Keduanya berbicara soal rencananya.
"Kaka Mama huisssss puk!" Vina bicara lagi. Marsya kebingungan maksud tujuan baby twins.
__ADS_1
"Ah aku tahu, kalian mau bikin rencana kan?" tebak Marsya lagi dan itu benar. Ketiganya pun saling berbagi rencana dan peran untuk membantu Devan bisa baikan dengan Ella malam ini. Ketiganya menyeringai tipis sudah dapat rencana yang baik. Mereka bagaikan trio kecebong di keluarga Welfin.