
"Aku, Jessica Karmelia,"
"Kalian panggil aku, Bu Jessy."
Elisa membalas uluran tangan itu, rasanya sangat lembut dan halus. Benar-benar bukan wanita sembarangan. Bagaikan seorang Nyonya besar dengan wibawa keibu-ibuan. Bahkan terlihat dia wanita yang murah senyum.
"Aku Elisa, kalau ini adikku namanya Ella. Dua bocah kecil ini keponakanku, Bu Jessy," ucap Elisa melepaskan uluran tangan itu sembari memperkenalkan Ella padanya.
"Wah, ini anak kamu?" tanya Bu Jessy pada Ella.
"I-ia, Bu!" jawab Ella gugup melihat baby twins masih duduk di kursi.
"Sangat lucu, tidak sangka kau masih muda tapi sudah melahirkan dua anak. Apa keduanya kembar?" tanya Ibu itu lagi nampak berbasa-basi sambil melihat-lihat busana dan gaun di depannya.
"Benar, Bu. Keduanya memang kembar," jawab Ella mendekati dua anaknya.
"Kalau boleh tahu, Ibu ke sini ingin beli sesuatu?" lanjut Elisa yang bertanya.
Bu Jessy berhenti menyentuh kain busana di depannya. Ia menoleh ke Elisa dan tersenyum seramah mungkin.
"Ya, aku ke sini ingin membeli gaun yang cocok untukku. Besok malam ada pertemuan amal yang harus aku hadiri, dan ternyata butik yang dibicarakan putriku tidak seburuk yang dia katakan padaku. Entah kenapa dia sangat tidak menyukai butik ini, padahal kau sangat ramah dan kualitas di sini nampak bagus." Jelas Bu Jessy menjawab Elisa.
"Putri Ibu?" tanya Elisa ingin tahu siapa nama putrinya Bu Jessy.
"Ya, dia anak keduaku. Dia bekerja di perusahaan teknologi yang sekarang terkenal di kota ini. Mungkin kau tahu siapa putriku, dan ini kartu namaku. Aku pilih gaun biru ini, tolong antarkan nanti malam ya, Nona Elisa."
Ella dan Elisa terkejut bersama mendengar Ibu itu sangat-sangat mudah dan cepat mengetahui namanya. Ibu Jessy pun keluar pergi dari butik menggunakan taksi.
__ADS_1
Elisa menelan ludah sudah membaca kartu namanya.
"Siapa Ibu tadi, Kak?" tanya Ella mendekatinya.
"Jessica Karmelia, dia seorang janda dan pemilik toko bunga yang tidak jauh dari sini. Apa mungkin dia-"
"Dia siapa Kak?" tanya Ella lagi.
"Ah, tidak apa-apa. Sekarang ini waktunya butikku tutup, bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan ke mall? Belikan mainan untuk keponakanku," usul Elisa menyimpan kartu nama itu di dalam tasnya.
"Tapi Kak, aku lagi hamil. Ayah Vino tidak mengizinkan aku kemana-mana tanpa dirinya," ucap Ella mengelus perutnya. Elisa terkejut, ia tidak tahu akan hal ini.
"WOW! Kau hamil lagi?" tanya Elisa menatap perut Ella.
"Hehehe, iya. Kemarin aku dan Devan cek di rumah sakit dan ternyata positif hamil," jawab Ella cengengesan.
"Aamiin,"
"Ya sudah, mari kita ke mall. Soal suamimu ini, kau lupakan dia seharian dulu. Temani aku jalan-jalan memilih mainan itu Vino dan Vina." Elisa segera keluar menuntun dua keponakan kecilnya menuju ke taksi yang dia pesan tadi.
"Hihihi, Buna ceneng!" seru Vina ikut merasakan kesenangan Elisa karena akan mendapatkan keponakan baru. Elisa tertawa kecil dan mengacak-acak rambut dua ponakannya.
Tidak seperti Ella yang sedang diam sembari berjalan di belakang mereka.
"Kenapa aku merasa Bu Jessy ini mirip sama wanita di foto bapak pemilik vila?" pikir Ella.
"Sudahlah, mungkin cuma kebetulan mirip. Lebih baik aku harus menghibur Kak Elisa agar pikirannya terhadap Bu Naina bisa hilang atau berkurang."
__ADS_1
Ella bergumam dalam hati segera masuk ke dalam taksi, ia duduk bersama dua anaknya dan Elisa yang sedang menatap keluar jendela.
"Tujuan kalian ingin ke mana?" tanya Pak supir memecahkan suasana.
"Ke mall, Pak!" jawab Elisa singkat.
"Baiklah, Nona!" Pak supir menancap gas menuju ke mall. Si kembar pun menoleh ke Ella tak tega melihat Elisa.
"Mama, Buna napah?" tanya si kembar bersamaan. Ella tersenyum dan menjawab cepat.
"Tidak apa-apa sayang, Bunda kalian lagi butuh ketenangan."
Vino dan Vina cuma mangut-mangut, keduanya kasihan melihat Elisa yang galau sekarang.
_______
"Argh, sial! Wanita ini memang keras kepala, semakin tidak aku suka! Dia bukan tipe menantu yang kuinginkan!" racau Bu Naina di rumahnya.
"Bu, Ibu kenapa di dalam?" tanya Naomi yang baru pulang dari sekolah dan terkejut mendengar amarah Ibunya di dalam kamar.
"Kau diamlah, Naomi! Ibu lagi marah!" sahut Bu Naina duduk silang di atas ranjangnya. Menghela nafas dan kembali mengumpat.
"Hais, sepertinya Ibu tidak suka dengan calon kakak iparku, memangnya Nona Elisa ini orangnya bagaimana sih? Kenapa dia bisa membuat Ibu marah?"
Setelah mengganti pakaian sekolahnya, Naomi kini duduk di ruang tamu lalu menonton TV dan masih mendesis kesal mendengar Ibunya masih mengamuk.
"Iiih, Ibu kenapa sih! Bikin aku tidak kosentrasi kalau nonton TV! Bikin kesal ih!" cetus Naomi berdiri mematikan TV, kemudian keluar dari rumah ingin menghibur diri.
__ADS_1
"Ck, dia hanya akan menjadi menantu yang menyusahkan keluargaku saja!" decak Bu Naina kembali, ia sangat tidak menyukai Elisa.