Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
48. Kau Kenapa, Honey?


__ADS_3

"Ekhm, sampai kapan kau berada di atas ku, sayang?"


Ella tersadar dan langsung merona, ia segera berdiri sambil menyapu pakaiannya.


"Pfft," Devan tertawa kecil dan segera ikut berdiri.


"Ma-maaf, tadi itu salahku. Kau baik-baik saja?"


Ella terbata-bata saking malunya bercampur kuatir dirinya akan dimarahi oleh Devan. Tapi tidak untuk Devan yang diam sebentar sambil berpikir.


"Hm, aku punya ide," gumam Devan dalam hati.


"Kenapa diam saja?" tanya Ella kembali dan melihat Devan, keduanya nampak belum sadar ditinggal oleh Rafa dan Zeli.


Seketika Devan mengerutkan keningnya terlihat menahan sakit. Melihat Devan terlihat aneh, membuat Ella cemas.


"Kau kenapa, honey?"


Reflek, Devan terkejut dan kemudian tersenyum sedikit mendengar nama panggilan sayangnya. Ia berbunga-bunga dipanggil begitu.


"Aduh, sayang. Lututku-"


"Lutut kau kenapa, honey?" Ella makin panik melihat Devan membungkuk setengah badan dan menyentuh lututnya. Mode mendiami Devan tidak lagi dia pedulikan, yang sekarang penting baginya adalah Devan yang tiba-tiba menjerit kesakitan.


"Aduh, sepertinya kaki-kaki aku terkilir sayang," lanjut Devan memelas mulai berakting.


Ella reflek memapah Devan.


"Sakit di bagian yang mana, honey?" Suara Ella yang panik membuat Devan senang dalam hatinya. Idenya perlahan berhasil.


"Yang kiri sayang," jawab Devan bermuka menyedihkan.


"Ini pasti gara-gara aku tadi," lirih Ella merasa bersalah.


"Eh, bukan," timpal Devan menggerakkan tangannya.


"Tidak, ini gara-gara aku yang tadi jatuh," Ella tetap kukuh membenarkan dan bersikeras.


"Bukan kau sayang, ini pasti karena aku yang capek berjalan."


Devan tetap menimpalinya, ia tak mau Ella sedih dengan aktingnya ini.


"Tapi--"


"Shht," desis Devan meletakkan jarinya di bibir Ella membuat ucapannya terputus.


"Ini kita di dalam hutan sayang, bukan waktunya untuk berdebat," lanjut Devan tersenyum manis. Ella menunduk dan merona.


"Hm, baiklah. Kalau begitu aku bawa kau ke sana dulu." Ella menunjuk ke arah batu besar, ia ingin Devan beristirahat sebentar. Devan cuma mengangguk saja, dalam hatinya ia ingin menjerit kalau sekarang Ella perhatian padanya.


"Ya sudah, kau duduk di sini. Aku panggil Zeli dan Rafa dulu," kata Ella tersenyum melihat Devan duduk sambil meringis sakit.


Saat mau pergi, jari tangannya segera diraih oleh Devan.



"Tunggu sayang," kata Devan ingin bicara.


"Hm, kenapa?" tanya Ella melihat tangannya digenggam.


"Itu, soal kemarin lalu," lirih Devan mulai berakting lagi. Nampak matanya berkaca-kaca.


"Kau kenapa?" tanya Ella terkejut melihat Devan menunduk sedih.


"Kau masih marah padaku?" Devan bertanya dengan suara kecil.


Ella diam sebentar lalu tertawa kecil. Ia semakin mendekati Devan dan tersenyum manis.


"Pfft, ahaha. Siapa yang marah?" ledek Ella masih tertawa. Devan sontak berdiri dan tak sadar dengan aktingnya lagi.


"Ku pikir kau marah padaku, jadi kau mendiamiku dua hari ini,"


"Pfft, ahahaha," tawa Ella langsung memeluknya.

__ADS_1


Devan dibikin heran mendengar tawa Ella. Sangat jelas, keningnya mengerut.


"Honey, aku sebenarnya tidak marah padamu. Aku paham kok, dari awal ini salahku, aku yang harusnya minta maaf sudah membuatmu marah waktu itu, aku memang bodoh," jelas Ella menunduk, ingat ucapan Devan yang mengatakan dirinya bodoh.


"Eh, tidak. Yang kau lakukan ada benarnya, aku minta maaf sudah emosi dan berkata kasar padamu, sayang."


Devan menyentuh dagu Ella dan menatap penuh harap pada Ella agar tidak lagi mendiaminya.


"Tapi aku memang bodoh," lirih Ella menunduk.


"Siapa yang bilang?" tanya Devan berkacak pinggang nampak emosi melihat Ella sedih.


"Banyak," jawab Ella singkat.


"Siapa? Kasih tau namanya sayang, nanti aku pecek-pecek jadi sambel terong!" gemes Devan greget pada orang yang menyebut Ella bodoh.


"Pfft, ahahaha."


Ella tertawa melihat ekspresi geram Devan yang lucu.


"Dasar, kau kan yang bilang aku bodoh kemarin lalu, sekarang gimana caranya mau dipecek-pecek kalau kau adalah orangnya!" cetus Ella manyun. Devan tersentak baru sadar.


"Hehehe, maafkan suamimu ini sayang," mohon Devan mengangkat turun alis matanya pada Ella yang lagi kesal sambil menyilangkan tangan.


"Tau ah, aku ngambek lagi."


Ella memalingkan wajahnya, lalu diam-diam tertawa kecil.


"Ya jangan begitu dong, tanpa dirimu, tanpa senyummu, tanpa suaramu, tanpa belaian istriku yang manis ini, hidupku terasa hampa," keluh Devan mulai berakting.


Ella bermuka datar, dia sudah sadar kalau Devan sedang berakting di depannya. Sangat jelas, ucapan Devan terlalu lebay di telinganya. Apalagi kakinya digerak-gerakkan dengan baik.


"Sayang,"


Devan cengengesan dan mulai mencolek-colek lengan Ella. Tapi Ella tetap berpaling muka membuat Devan makin manyun.


"Ya sudah deh, kalau begitu aku pingsan saja, aaaah,"


"Hihihi, kau bisa saja ya menggodaku." Ella mencubit pipi Devan, sangat gemas dengan rayuan Devan padanya.


"Kau tidak marah lagi kan sama aku?" tanya Devan mengedip-ngedipkan matanya.


"Ya tidaklah, sekarang yang berlalu biarkan berlalu. Jadi kita pulang yuk," jawab Ella mengajak Devan pulang. Apalagi hawa malam begitu sangat dingin.


Melihat keseriusan Ella, membuat Devan kini yakin Ella tak akan mendiaminya lagi. Ia pun dengan cepat membuka kemeja dan memasangkannya ke tubuh Istri tersayang.


"Eh, kenapa ini?" tanya Ella terkejut.


"Hawa malam ini dingin sekali, aku tak mau Istri kesayanganku masuk angin. Sekarang kita cari kunang-kunang lagi," ajak Devan tak mau pulang.


"Tapi Devan, ini sudah larut malam. Zeli dan Rafa pasti menunggu kita, jadi-" ucap Ella berhenti baru sadar cuma dirinya dan Devan di tempat itu. Ia reflek memeluk Devan.


"Kenapa sayang?" tanya Devan merasa Ella tiba-tiba ketakutan.


"Itu-itu," Ella menunjuk ke arah timur.


"Itu kenapa?" tanya Devan sambil melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Ella. Mata Devan melebar tak melihat Rafa dan Zeli melainkan rumput yang bergerak-gerak di dalam kegelapan. Lampu ponsel yang dari tadi menyala ia arahkan ke semak-semak yang bergerak itu.


Reflek, Devan menggenggam kuat tangan Ella.


"Ada apa, honey?" tanya Ella terkejut.


"Kita harus pergi dari sini sayang!" seru Devan lari sambil menarik Ella pergi dari tempatnya.


"Kenapa kita harus lari? Apa yang kau lihat tadi itu di semak-semak?" tanya Ella mulai lelah dan tersengal-sengal untuk mengimbangi Devan yang berlari di dekatnya.


"Babi, sayang!"


"Apa? Babi hutan?" tanya Ella makin terkejut.


"Ya, kita harus keluar dari hutan,"


"Tapi-tapi Rafa dan Zeli pasti ada di dalam hutan," ucap Ella makin ketakutan.

__ADS_1


"Sudah, abaikan saja. Mungkin mereka tadi sudah kabur duluan. Sekarang kita cari tempat yang aman,"


"Tapi honey, ini bukan jalan ke vila. Nanti kita tersesat,"


"Tenang saja, aku hapal kawasan ini," kata Devan berbohong. Ella mengangguk paham saja. Keduanya pun sekuat tenaga lari dari hutan.


Suara keduanya terdengar sangat kelelahan sudah berhasil keluar dari hutan. Akan tetapi, keduanya sangat terasa jauh dari vila.


"Honey, sekarang kita ada di mana?" Ella berdiri di dekat Devan, ia makin ketakutan dengan sekitarnya yang gelap-gulita.


"Huft, aku rasa-"


"Kita tersesat?" tebak Ella dengan cepat merangkul lengan Devan.


Devan mengangguk, ia kini tidak bisa berbohong.


"Honey, cepat telepon Kak Hansel. Suruh dia ke sini," mohon Ella gemeteran.


"Tidak bisa,"


Ella tersentak mendengarnya.


"Loh kenapa?" tanya Ella ingin menangis.


"Aduh gimana ya, Hansel lagi di rumah sakit dan di sini tidak ada sinyal sayang,"


"Ya kok bisa, sekarang kita gimana nih? Semua orang di vila pasti mencari kita," ucap Ella mulai perlahan menangis. Ia kuatir dengan baby twinsnya yang mungkin saja menangis di vila.


Devan memeluk Ella untuk menenangkannya.


"Jangan menangis sayang, kita lebih baik cari jalan lain,"


Ella mengusap matanya dan mengangguk paham.


"Lihatlah, honey!" seru Ella menunjuk cahaya yang sangat jauh.


"Kenapa sayang? Ada Babi di sana?" tanya Devan melihat ke arah cahaya itu.


"Bukan deh, itu mungkin sebuah rumah. Kita ke sana saja," mohon Ella. Ia nampak makin gemeteran, bukan karena takut tapi sangat kedinginan.


"Baiklah, kita ke sana. Siapa tau salah satu bangunan vila di sekitar sini dan kita bisa tinggal semalam di sana."


Devan meraih tangan Ella dan membawanya ke cahaya itu. Benar, ternyata bangunan vila.


"Sayang, apa pemiliknya ramah?" tanya Ella takut dan kini berdiri di depan vila bersama Devan.


"Tidak usah kuatir, ada aku. Kita berharap saja, pemiliknya orang baik."


Ella mengangguk mendengar ucapan Devan. Keduanya dengan perasaan was-was mulai mengetuk pintu.


"Permisi," ucap Devan memanggil pemilik vila. Beberapa saat kemudian, akhirnya pintu di depannya terbuka. Devan dan Ella sontak mundur melihat pemilik vila. Ella memeluk Devan, ia agak takut dengan lelaki tua besar dan berotot.


"Kalian siapa?" tanya lelaki itu dengan suara berat.


"Kami salah satu pengunjung, kami tersesat di hutan dan tidak sengaja melihat vila anda," jelas Devan maju menjawabnya.


"Oh, terus tujuan kalian ke sini untuk apa?" tanya lelaki tua itu melirik sinis Devan dan Ella. Reflek, Ella bersembunyi di belakang Devan.


"Kami tidak tahu untuk menginap di mana, jadi bisakah bapak mengizinkan kami tinggal? Bapak tidak usah kuatir, kami ini orang baik dan besok saya akan membayar biaya penginapan."


Devan berlagak berani, ia tidak memperlihatkan ketakutan di mata lelaki itu. Tatapan lelaki itu semakin tajam. Namun mendengar Ella bicara membuatnya seketika luluh.


"Maaf, Pak. Kami sungguh-sungguh tersesat, saya minta maaf bila kehadiran kami mengganggu istirahat anda. Tapi bisakah bapak memberi kami ijin menginap semalam? Serta bolehkah bapak meminjamkan telepon rumah untuk kami juga? Saya seorang Ibu, saya sangat mencemaskan dua anakku."


Dengan cepat, bapak itu pun tersenyum. Ia kini sadar dua orang di depannya adalah sepasang suami istri setelah melihat cincin emas pernikahan pada jari Devan dan Ella.


"Baiklah, tentu saja boleh. Mari silahkan masuk," ucap bapak itu membuka pintu lebar-lebar.


"Terima kasih, Pak!" kata Ella tersenyum.


Keduanya pun masuk, namun alangkah terkejut melihat isi vila itu dipenuhi dengan senjata api. Bagaikan senjata pemburu, Devan dan Ella bersamaan menelan ludah.


"Apa kita tidak salah masuk ke sini?" pikir Ella dan Devan bersamaan saling bertatapan. Suasana semakin mencekam saat si bapak berdiri di belakang keduanya.

__ADS_1


__ADS_2