
Sedangkan di vila Devan. Terlihat sang Tuan rumah di ruang kerjanya sibuk menjambak rambutnya sendiri.
"Arghh kenapa bisa jadi begini!" kesal Devan tiba-tiba marah hari ini. Ella yang tak sengaja lewat di depan ruang kerja Devan sontak berhenti lalu menengok ke dalam ruang kerja suaminya.
Ia yang sibuk mengelus perutnya yang makin besar langsung terheran-heran melihat Devan marah-marah sendirian. Karena rasa keponya muncul lagi ia pun masuk mendekati Devan.
"Honey, ada apa denganmu?" tanya Ella duduk di dekat Devan. Melihat istrinya datang Devan pun menghela nafas kemudian marah-marah lagi.
"Ini semua gara-gara Silvi,"
Ella makin mengangkat alisnya.
"Silvi? Ada apa dengan sekretarismu?" tanya Ella tambah penasaran. Devan pun mewek kemudian menjambak rambutnya lagi.
"Sayang, dia itu tidak bisa dihandalkan. Projek terbaruku untuk membuat sistem teknologi baru yang aku susun dengan baik malah dia rusak. Sekarang aku sudah memecatnya, dan aku tidak tahu lagi siapa yang bisa menggantikan posisinya. Dia benar-benar berbeda dengan Hansel yang lincah," keluh Devan bersandar ke sofa. Ia benar-benar kesal, wanita yang jadi sekretarisnya malah merusak semua idenya. Devan juga tak bisa membuat Ella cemburu. Devan amat sibuk untuk meluncurkan sistem teknologi barunya.
"Pfft, kamu kan bisa cari sekretaris baru lagi," ucap Ella menahan tawa. Devan pun melihat Ella kemudian mengelus perut Ella.
"Sayang, sudah berapa usia kehamilanmu?" tanya Devan ingin tahu. Ella pun menjawabnya langsung.
"Sudah ingin memasuki tiga bulan. Memangnya kenapa?" ucap Ella balik tanya.
"Baiklah!" kata Devan sontak berdiri.
"Baiklah apa, honey?" tanya Ella ikut berdiri.
"Besok, kamu temani aku berlibur ke pantai selama seminggu. Aku butuh refresing untuk menenangkan pikiranku," jawab Devan serius dalam berkata.
"Selama itu dan cuma berdua saja?" tanya Ella lagi.
"Bukan cuma berdua sayang, kita akan pergi bersama dengan anak-anak kita," jawab Devan sambil mengelus perut Ella.
"Loh, tapi nanti siapa yang urus perusahaanmu?" tanya Ella lagi. Devan pun menyentuh dagunya kemudian berpikir sejenak.
"Oh benar juga, dalam dua hari ini ada meeting yang harus dihadiri tapi aku juga butuh ketenangan. Ah, aku tahu siapa yang bisa mengurus perusahaan," kata Devan menjentikkan jarinya.
"Siapa honey?" tanya Ella penasaran.
Pak!
Devan menepuk bahu Ella kemudian berkata : "Sekarang kita ke mansion Mami, jadi pergilah urus anak-anak. Aku akan menunggumu di mobil." Devan memeluk Ella lalu keluar dengan senyum smirk. Ella yang melihatnya cuma garuk-garuk kepala dan segera pergi ke Vino dan Vina. Setelah baby sitter pergi, Ella masuk ke dalam mobil bersama baby twins.
"Mama, kicha mawu manya?" tanya Vino ingin tahu. Nampak si kembar duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Ke rumah Nenek sayang," jawab Ella menengok ke belakang. Sontak Vina bersorak riang mendengarnya.
"Yeeey ce yumah nyenyek!"
"Pfft," tawa Devan dan Ella geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu mereka. Mobil pun melaju ke mansion Tuan Raka. Tak makan waktu, Devan sudah sampai. Devan buru-buru masuk membuat Ella dan baby twins terkejut.
"Honey, jangan cepat berjalan dong!" pekik Ella tapi Devan tetap menerobos masuk meninggalkan istri dan anaknya, ia sangat serius menatap ke depan.
"Di mana ayahku?" tanya Devan pada pelayan.
"Tuan besar ada di taman belakang, Tuan sedang duduk bersama dengan Nyonya besar, Tuan."
Devan pun jalan ke taman, menerobos pelayan yang sedang mengurus tanaman bunga yang lalu.
"Selamat datang, Tuan."
Devan tatap menerobos, langkah kakinya sangat cepat.
"Papi!" panggil Devan akhirnya sampai ke tempat Tuan Raka dan Nyonya Mira. Kedua duduk berteduh dari sinar matahari.
"Devan, tumben datang sendirian? Kemana menantu dan cucu Mami?" tanya Ny. Mira melihat Devan yang ngos-ngosan capek berjalan cepat. Devan tak menjawab, melainkan menggebrak meja.
Brak!
"Ada apa denganmu?" tanya Tn. Raka santai meletakkan korannya di atas meja kemudian meminum tehnya.
Devan menarik napas diikuti Ny. Mira yang mengangkat alis. Kemudian Devan kembali menggebrak meja.
BRak!
"Papi, tolong pecat aku hari ini!"
Byursss! Huk huk huk!
"Apa, pecat kamu?" Tn. Raka kaget hingga terbatuk-batuk. Begitupun Ny. Mira hampir shock.
"Ya Papi, pecat aku dari jabatan Presdir selama seminggu dan tolong gantikan posisiku sementara, Pi."
Tn. Raka yang mendengarnya langsung berdiri.
"Apa-apaan ini, kenapa bicara bodoh seperti itu?" tanya Tn. Raka sedikit geram.
"Aduuh, sayang kamu duduklah, jangan marah-marah dulu. Kita dengarkan alasan Devan," bujuk Ny. Mira menenangkan suaminya. Lelaki tua itu pun menghempaskan pantatnya, duduk kembali ke kursi.
__ADS_1
"Hm, apa alasanmu hingga berkata demikian?" tanya Tn. Raka meliriknya sinis.
"Gini Papi, aku sudah lama jadi Presdir,"
"Lama pantatmu, ha! Kamu ini baru tiga tahun jabat jadi CEO. Jangan sesuka hati mempermainkan jabatanmu ini." Tn. Raka kembali berdiri, membentak anaknya lagi.
"Sayang, kamu ini tenang dulu. Kita dengarkan alasan Devan sampai habis. Jangan asal putusin!" cetus Ny. Mira kesal tak terima anaknya dibentak. Akhirnya, Tn. Raka yang sebagai suami baik kembali menghempaskan pantatnya ke kursi.
"Ekhm, begini... kalau Papi tidak mau memacatku, kalau begitu aku minta cuty selama sebulan."
Deg!
"Tidak akan aku berikan cuty!" tolak Tn. Raka.
"Hais, Papi! Aku ini kan cuma minta cuty doang, bukan minta semua harta Papi. Sekarang aku mau ke istri dan anakku, soal perusahaan Papi yang urus. Good bay!" Devan pergi dengan santai.
Darah Tn. Raka makin mendidih melihat sikap putranya yang menyebalkan.
"Oi Devan, sejak kapan cara bicaramu berubah seperti itu, ha! Kenapa tiba-tiba kamu seperti adikmu, Dean! Selalu saja nyerocos tidak berguna padaku!" geram Tn. Raka meneriaki Devan.
"Aduh, siapa sih yang berkaroke siang ini, suaranya hampir membuat telingaku meledak!" Devan balas teriak sambil mencolek telinganya. Tn. Raka makin geram mendengarnya.
"Pfft, sudah sudah. Kamu kan belum tua-tua juga sayang, biarkan Devan nganggur selama sebulan," bujuk Ny. Mira menenangkan suaminya.
"Tapi... aku tidak mau jauh darimu, Mira."
Ny. Mira makin geli mendengar keluhan suaminya. Tapi ia tahu suaminya sedang berakting kasihan sekarang. Sontak, telinga Tn. Raka jadi sasarannya.
"Aduh aduh, sakit sayang. Ampun, aku akan mengurus perusahaan lagi." Akhirnya Tn. Raka menyerah di depan istrinya.
"Baguslah, gini dong kan aku makin cinta sama kamu," gemas Ny. Mira mencolek pipi Tn. Raka.
"Ya makin cinta sih, tapi kurangi kebiasaanmu ini juga! Lama-lama telingaku tinggal satu kalau kamu jewer tiap hari," desis Tuan Raka mengelus telinganya yang sakit.
"Ya habisnya kamu menyebalkan, tiap hari memarahi anak-anakku, Rafa sama Zeli," cetus Ny. Mira silang tangan.
"Ish, kamu ini makin tua makin galak saja!" ledek Tuan Raka.
"Apa kamu bilang? Aku tua?" geram Ny. Mira melotot ke suaminya.
"Hehehe, faktanya emang gitu. Ahahaha...." tawa Tuan Raka lari masuk ke mansion. Tidak seperti Ny. Mira yang sudah mau naik tanduk diejek tua oleh suaminya sendiri.
"Ish, Rakaaaaa! Aku yang cantik-cantik gini kamu bilang tua! Awas aku potong burungmu!" pekik Ny. Mira marah besar segera menyusul suaminya.
__ADS_1
Ahahaha....