
"Berhenti Pak!"
Ella teriak sedikit melihat butik asing berdiri di pinggir jalan kota. Ella menyipitkan matanya, tak salah lagi ia sudah temukan butik milik Elisa. Dengan senyum mengambang, Ella memberikan tip pada pak supir.
"Nih, Pak. Terima kasih tumpangannya," Ella dengan sopan berkata pada Pak supir.
"Tidak masalah, Nona." Pak Supir menaikan jendela mobil dan kemudian pergi meninggalkan Ella yang berdiri di tepi jalan. Kedua matanya kini melihat keseluruhan butik Elisa.
"Wah, hebat sekali. Hanya beberapa hari tak bertemu Kak Elisa, dia sudah bisa mendirikan usaha. Aku harus masuk ke dalam, pasti banyak pengunjung untuk memilih busana terbaru di butiknya."
Ella berjalan segera ke arah pintu utama.
"Permisi," panggil Ella berkata ramah sambil menekan bel.
"Ya silahkan ma-"
"Eh, Ella?" ucap Elisa terkejut.
"Siang Kak, tidak masalah kan aku datang ke sini?" tanya Ella tersenyum disambut langsung oleh Elisa.
"Aaaa, Ella! Kakak senang kau datang ke sini!" pekik Elisa sontak memeluknya dengan gembira, bisa-bisanya waktu siang ini adik kesayangannya datang juga. Ella cuma cengengesan dalam pelukan Elisa.
"Tapi, dari mana kau tahu aku ada di sini?" lanjut Elisa melepaskannya. Sedikit heran, tiba-tiba Ella tahu keberadaannya.
"Itu dari perusahaan," jawab Ella menunjuk ke arah perusahaan Devan. Elisa mangut-mangut dan mempersilahkan Ella masuk.
"Oh kalau begitu, mari masuk, siapa tau ada busana yang kau sukai di sini," ajak Elisa berjalan masuk. Ella mengangguk dan melihat isi butik Elisa. Ada beberapa orang yang datang membeli, memesan dan melihat-lihat.
"Oh ya Kak,"
"Hm, kenapa La?" tanya Elisa kini duduk berhadapan dengan Ella sambil memperhatikan para pengunjung.
"Itu soal kemarin yang lalu, aku minta maaf sudah berpikir yang tidak-tidak kepadamu dan Devan," jawab Ella sedikit takut Elisa akan membencinya.
"Puft," tawa Elisa melihat Ella menundukkan kepala.
"Tidak usah dipikirkan, aku dan Devan memang tidak pernah melakukan itu. Kau jangan gampang percaya sama orang lain, tapi sekarang gimana hubunganmu dengannya?" lanjut Elisa menjelaskan dan bertanya.
Ella menghela nafas lega dan menjawab dengan percaya diri.
__ADS_1
"Hm, kami baik-baik saja. Terima kasih, Kak Elisa tidak marah padaku."
"Ahahaa, santai saja. Sekarang lebih baik kemarilah, aku akan menemanimu melihat-lihat isi butikku," ajak Elisa menarik Ella berdiri dan menyusuri setiap tempat barang-barang Elisa yang sudah diorder dari perusahaan desain Tuan Vian.
"Wah, kainnya lembut dan sangat halus. Kualitas kainnya pasti tinggi dan harganya pasti mahal." Ella menyentuh kain salah satu busana, ia memperhatikan keseluruhannya.
"Ya dong, aku sendiri yang memilihnya," kata Elisa ikut merasakan kain busana itu.
"Em, tapi bagaimana Kak Elisa membangun butik ini? Siapa yang membantu Kak Elisa mengelolanya?" tanya Ella masih penasaran.
"Oh tentu saja pacarku, By!" jawab Elisa mengedipkan mata dengan jentikan jarinya.
"Eh, By? Kak Elisa punya pacar baru?" kaget Ella melihat tingkah konyol Kakaknya. Elisa menepuk keningnya lalu menepuk kedua bahu Ella dan menatap serius adiknya.
"Ella, By itu panggilan aku ke Hansel. Hubby jadi aku singkat jadi By. Baguskan?" tanya Elisa dengan perasaan berbunga-bunga.
Ella segera menjawab, "Sangat bagus, Kak! Aku kasih 10 jempol buat Kak Elisa," puji Ella dengan dua jempolnya dan senyum manisnya.
Elisa mengangkat alisnya dan berkata, "Sepuluh jempol? Tapi ini kamu cuma punya dua jempol, yang delapan jempol kemana?" tanya Elisa makin mendekati Ella.
"Hehehe, kalau itu aku pinjem jempolnya, Devan, Zeli, Vino, dan Vina. Jadi semuanya sepuluh jempol!"
"Kau sudah ada kemajuan ya, Ella. Kau sudah pintar memuji, tapi kenapa kau cuma sendirian datang ke sini? Kemana dua keponakanku? Kau tidak membawanya?" Pandangan mata Elisa mencari-cari keberadaan dua kecebong mungil adiknya.
Ella berjalan ke arah meja dan menjawab sambil bersandar.
"Itu, aku cuma sendirian datang ke sini. Ada yang ingin aku katakan padamu, Kak,"
Elisa sontak mendekati adiknya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Ella menghela nafas dan meraih dua tangan Elisa.
"Itu, aku rasa wanita yang bekerja di kantor Devan sepertinya ingin menghancurkan butikmu, Kak. Jadi kau harus hati-hati mulai sekarang," jawab Ella sontak mengejutkan Elisa.
"Ingin menghacurkan butikku? Siapa yang kau masuk, La?"
Ella geleng-geleng kepala, ia tidak tahu nama wanita itu. Elisa menghela nafas ringan, lalu menyentuh dagunya.
__ADS_1
"Apa mungkin kecoa brensek itu yang mau berulah lagi?" gumam Elisa tahu siapa orang itu, tidak seperti Ella yang keheranan.
"Kecoa? Siapa yang kau maksud, Kak?" tanya Ella penasaran.
"Itu loh, si Renita yang rambutnya pendek seperti model pria. Dia juga bekerja di kantor Devan. Dia pasti yang mau lagi mengusik hubunganku dengan Hansel," decak Elisa membenci Renita.
"Nah itu, Kak. Kau harus hati-hati," usul Ella menyentuh dagunya.
"Tapi kenapa dia mau mengganggumu dan Kak Hansel?" lanjut Ella bertanya. Elisa pun menjelaskan, "Renita sebenarnya juga menyukai Hansel. Dia wanita yang pertama kali menyukai Hansel, tapi Hansel sama sekali tidak menaruh hati padanya. Tapi aku tidak kuatir, aku sama sekali tidak takut padanya kalau dia berulah lagi."
Ella tertegun melihat sikap Elisa, yang kuat, berani, pantang mundur dan percaya diri. Melihat sikap Elisa membuatnya sadar dengan dirinya yang lemah, penakut, selalu putus asa dan tidak percaya diri.
"Kak Elisa sangat berbeda dariku, mulai sekarang aku harus jadi wanita sepertinya! Aku tidak boleh seperti dulu, harus bangkit!"
Ella berpikir dengan niatnya untuk berubah.
"Oh ya, sini bantu aku, ada banyak yang harus aku urus. Jadi sekarang mungkin kau harus jadi asistenku agar kau bisa bantu aku mengelola butikku, apa kau mau, La?" tawar Elisa kini duduk di kursinya kerjanya.
Tanpa pikir panjang, Ella malah setuju dan lupa dengan tugasnya di perusahaan Devan. "Hm, siap Bos! Saya pasti akan lakukan yang terbaik hari ini!" hormat Ella berdiri di meja Elisa.
"Baiklah, selamat atas jabatanmu Nona Ella."
Keduanya tertawa bersama dengan tingkah mereka. Begitu ramai butik Elisa sekarang, hingga Ella belepotan menjelaskan pada pengunjung. Bahkan kini ia mulai lelah akibat mondar mandir sana sini. Beda dengan Elisa yang masih kuat dan mudahnya menjelaskan pada pelanggan.
"Huft, baiklah! Aku harus kuat, aku harus seperti Kak Elisa yang terampil dalam bisnis."
Tiba-tiba suara bel berbunyi dari luar. Ella segera pergi untuk menyambutnya karena merasa orang ini ingin disambut dulu. Namun alangkah terkejut melihat orang itu adalah Tuan Biawak yang bermuka T-Rex.
"Selamat datang di butik ...."
"Eh, Pak-pak Bos?" kaget Ella membola. Dua kakinya gemeteran melihat ekspresi menyeramkan Devan yang kini kesal terhadapnya.
"Ck, ternyata sekretaris baruku sudah berani melanggar aturan. Apakah aku sendiri yang harus mengajarimu disiplin?" greget Devan seakan ingin menerkam bebeknya. Untung saja Devan bisa melacak lokasi istrinya.
"Hehehe, Pak Bos jangan marah dulu. Aku kan sudah minta ijin di kertas, bahkan aku kasih bonus di akhir kalimat. Hehehehe," cengir Ella mundur perlahan. Bagaikan bebek yang ketakutan ingin diterkam oleh biawak.
"Oh jadi setelah minta ijin dan beri bonus kau sesuka hati dengan jabatanmu?" ucapnya semakin mendekati Ella.
Sontak Ella mundur dan berteriak, "Aaaaaaampun Pak Bos! Aku minta maaf!" pekik Ella lari terbirit-birit ke arah Elisa dan segera bersembunyi ke belakang Elisa.
__ADS_1