
Pintu ruangan Devan terbuka, Ella masuk dengan raut wajah berseri-seri sudah pergi melihat Elisa dan Hansel yang semakin dekat saja. Keinginannya tadi keluar dari ruang CEO untuk mencari Elisa dan ternyata yang dicari-cari sedang berduaan dengan Sekretaris suaminya.
"Hihihi," tawa Ella cekikikan membuat dua anaknya dan Devan yang lagi duduk nonton kartun di laptopnya jadi terheran-heran.
Devan segera berdiri mendekati Ella.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Devan langsung menyentuh kening Ella yang masih tertawa cekikikan. Merasa Istrinya mungkin sedang sakit.
"Sayang! Kamu tidak kesurupan kan!" pekik Devan mengguncang-guncang tubuh Ella mulai semakin cemas.
"Ahaha itu," tawa Ella akhirnya melompat kegirangan.
"Elisa sama Hansel lagi PDKT!" lanjutnya memeluk Devan. Raut wajah Devan yang tadi cemas langsung sirna seketika.
"Aku senang melihat mereka dekat, aku yakin Sekretaris Hansel pasti bisa buat dia bahagia."
Jantung Devan berpacu tak menentu, ia kaget mendengar penuturan Istrinya. "Elisa ada di sini?" tanya Devan memastikan dan melepaskan pelukan istrinya.
"Ya honey, dia ke sini datang bersamaku. Bekal yang dia bawa tadi ternyata untuk Hansel, aku pikir itu untukmu. Aku jadi senang dugaanku salah." Ella begitu riang mengucapkannya. Keinginannya untuk menjodohkan Elisa dan Hansel mulai perlahan berhasil.
"Honey, kau kenapa diam?" tanya Ella kini heran melihat Devan tak bergerak.
"Jadi ... itu tadi aku tidak salah lihat?" pikir Devan melihat ke arah pintu.
"Honey!" pekik Ella dikacangin lagi.
"Sekarang di mana mereka?" tanya Devan ingin melihatnya langsung.
"Eh, kenapa tiba-tiba kamu serius begini? Kamu tidak suka?" Ella sedikit kaget melihat ekspresi Devan yang susah ditebak.
"Sayang, aku cuma ingin melihat mereka. Aku juga ikut senang mendengarnya jadi kau ikut denganku." Devan langsung menarik Istrinya.
"Eh, tapi anak-anak gimana?"
"Kita tinggalkan sebentar," ucap Devan terlihat tak sabar. Ella cemberut dan segera membawa suaminya. Pasutri ini sudah tiba di depan ruangan Hansel. Benar, kedua mata Devan langsung tertuju pada mantan kekasihnya yang sekarang duduk berhadapan dengan Hansel yang masih sibuk menghabisi makan siangnya.
__ADS_1
"Apa dia sudah move on dariku?" pikir Devan sibuk melihat Elisa tersenyum kecil pada Hansel.
"Tuh kan, mereka so sweet banget deh. Kak Elisa perhatian banget sama Hansel." Ella tak henti-henti senang dengan kedekatan mereka. Tiba-tiba dirinya langsung dipojokkan oleh Devan ke dinding.
"Au! Kau kenapa honey?" tanya Ella sedikit menjerit. Ia mulai takut melihat ekspresi datar Devan. Merasa Devan mungkin marah sudah melihat keromantisan mantannya dengan sekretarisnya. Saat inilah Ella menunduk merasa Devan memang belum melupakan hubungannya dengan Elisa.
"Pfft, ternyata Istriku ini bisa juga jadi Mak Comblang,"
"Apa, Mak Comblang?" kaget Ella melihat Devan tertawa kecil.
"Ahaha, begitulah sayang." Devan langsung mengangkat Ella.
"Ah! Kau mau apa?" jerit Ella kembali terkejut.
"Sekarang kita tak perlu mengganggu mereka. Lebih baik kita ke ruangan kita sendiri, mengurus baby kita. Takutnya nanti Vino dan Vina keluar dari ruangan." Devan tersenyum diberi anggukan oleh Ella. Keduanya pun pergi dari ruangan Hansel.
_____
Kini jam 16.19 Sore. Terik matahari tidak lagi terlihat akibat dihalangi oleh bangunan yang sangat tinggi, hawa sore ini juga tak begitu panas maupun dingin. Terasa sangat sejuk.
"Hais, malam ini apa yang akan terjadi? Aku belum juga mendapatkan calon suami. Aku benar-benar bodoh, harusnya tadi aku katakan langsung pada Hansel." Elisa bergumam mulai resah dan gelisah nanti malam bila Tuan Vian mendesaknya untuk menerima perjodohan itu lagi. Sibuk melamun dan menunggu, Elisa di dekati oleh dua pria. Terlihat seperti Preman jalanan.
"Hei, Nona. Tumben sendirian, di mana suamimu? Mengapa tidak menjemputmu dan dua anakmu ini," ucap salah satunya sambil ingin menyentuh dagu Elisa.
Plak!
Elisa menampar tangan itu yang sudah berani padanya, ia berdiri lalu melototi mereka.
"Cih, dasar pria tak berguna! Hanya datang mencemari kulitku yang halus ini, kalian pergilah dari sini!" usir Elisa dengan angkuhnya sambil menggertak.
Dua preman sontak kaget, baru kali ini ada wanita yang berani melototi dan berkata kasar padanya.
"Hei lajang! Kau pikir kau itu suci, ha! Dari pada kau marah-marah lebih baik kau ikut dengan kami!"
Dengan kesal, dua preman itu langsung meraih pergelangan tangan Elisa.
__ADS_1
"Agh, lepaskan aku!" tepis Elisa berusaha ingin lepas.
"Wanita sombong sepertimu layaknya jadi santapan kami, ahahaha." Tawa mereka ingin menyeret Elisa pergi membuat baby twins menangis menjadi-jadi.
"Huaaaaaaaa!"
"Aaagh, cepat suruh anak-anak ini berhenti menangis!" Tunjuknya pada Vino dan Vina. Temannya segera menyumbat mulut kedua-duanya membuat Elisa geram tak terima keponakannya diperlakukan begitu. Ia dengan amarah langsung menendang telor preman yang ingin membawanya pergi.
"Matilah kau dasar pria bodoh!"
Kriek!
"Aaah! Kurang ajar!" pekik Preman itu kesakitan bagaikan dunianya hancur seketika.
"Akh!" teriak Elisa kaget ingin digampar olehnya, tapi tangan kekar preman itu langsung ditahan oleh seseorang. Dua pria itu terkejut melihat Hansel datang dan langsung meninju wajah keduanya.
Bugh!
Si kembar terperanjak kaget langsung turun dari bangku lalu memeluk Elisa. Begitupun Elisa kaget, terutama rantang yang dia pegang dari tadi gemeteran gara-gara ketakutannya.
"Sekretaris Hans?"
"Nona baik-baik saja?" tanya Hansel memastikan saudara Istri Presdirnya.
"Baik, untung kau datang segera." Elisa tersenyum dan langsung bersembunyi bersama baby twins di belakang Hansel saat melihat dua preman itu berdiri dengan tangan dikepal.
"Cuih, ternyata ada pahlawan gadungan rupanya di sini. Beraninya kau memukul kami! Kau ini siapa, ha!" pekiknya marah bersama temannya.
Hansel membuka kacamata lalu menatap mereka sinis.
"Kau ingin tahu aku siapa?"
Elisa melongo mendengar jawaban Hansel. Apalagi semua orang yang berlalu lalang kaget melihat perdebatan mereka.
"Aku suaminya!"
__ADS_1