Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
40. Rencana Baby Twins


__ADS_3

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"


Nyonya Chelsi tak henti-hentinya bertanya pada Dokter yang dia panggil untuk memeriksa Ella yang masih belum sadarkan diri. Nampak kondisinya mulai membaik, untung saja Bibi pelayan sudah mengurus Ella sebelum Dokter datang.


Nyonya Chelsi kini duduk di dekat Ella yang diselimuti olehnya sambil membelai rambut Ella dengan lembut.


"Dia sehat, Nyonya. Dia hanya ketiduran, ini faktor dari beban pikirannya. Ini catatan kondisinya, dia dianjurkan untuk tidak terlalu banyak pikiran. Ini bisa mempengaruhi kesehatannya."


Dokter memberikan selembar kertas pada Nyonya Chelsi.


"Syukurlah, aku pikir dia ingin melakukan hal bodoh."


Nyonya Chelsi membuang nafas berat dan berdiri menatap Dokter.


"Kalau begitu terima kasih, Dok,"


"Bi, tolong antar Dokter ke depan."


Nyonya Chelsi menyuruh Bibi pelayan dan tersenyum kecil.


"Baik Nyonya, mari Dokter."


Bibi pelayan mempersilahkan Dokter berjalan duluan. Dokter wanita itu menunduk dan pergi keluar untuk kembali ke rumah sakit. Sementara Aline, ia masuk mendekati Nyonya Chelsi.


"Bagaimana kondisi Kak Ella, Mah?" tanya Aline menatap sedih pada Ella.


"Kondisi Kakakmu baik-baik saja, dia cuma ketiduran tadi. Sekarang kamu di sini jaga Kakakmu, Mama mau ke dapur buatkan susu untuk Vino dan Vina serta buat makanan untuk Kakakmu. Sekalian tolong jaga Vino dan Vina di sini," ucap Nyonya Chelsi tersenyum pada Aline, anak tirinya yang dia perlakukan dengan baik.


"Baik Mah," kata Aline mengerti. Nyonya Chelsi mengelus kepala kedua cucunya yang berdiri di samping Aline dengan lembut. Ia pun keluar dari kamar Aline.


"Mama bubuna,"


Vina menunjuk ingin menangis melihat Ella belum bangun. Anak kecil ini menarik tangan Aline menyuruhnya membangunkan Ella, sementara Vino cuma diam melihat Ibunya, ia bingung kenapa Ibunya belum bangun dan ia cuma mencomot jari jempolnya saja.


Aline berjongkok di depan dua anak lucu ini. "Tidak apa-apa, Mama kalian baik-baik saja. Dia butuh tidur untuk memulihkan tenaganya. Nanti kalau Mama sudah bangun, pasti kita diajak main sama Mama."


Aline hanya bisa menghibur Vina. Vina cuma mewek tidak paham. Sedangkan Vino malah merengek ingin ke atas ranjang.


"Bubuna, nono naih Mama,"


"Ahaha, kalian ini lucu sekali." Aline tertawa kecil mendengar Vino mulai berbicara kata lain selain 'Mama' dan 'Papa' meski ucapannya terdengar geli juga.


"Baiklah, sini Bunda gendong," Aline meraih Vino lalu meletakkannya ke atas ranjang bersama Vina.


"Kalian di sini dulu, Bunda mau letakkan ini di mesin cuci dulu."


Aline mengacak-acak rambut Vino dan Vina lalu mengambil baju Ella yang basah kuyup namun tiba-tiba pandangannya menangkap foto-foto asing di lantai dekat sudut meja. Aline berjongkok mengambil.


"Loh ini?"


Aline sangat terkejut berhasil menemukan foto-foto Jastin bersama wanita bugil. Aline merasa jijik ingin membuangnya tapi ia teringat ini bisa jadi bukti untuk Papanya nanti. Ia pun menyimpan foto itu ke dalam saku celananya dan keluar dari kamar sebentar.


"Emh,"


Ella mulai bersuara lirih, kedua baby twins menoleh ke Ibu mereja. Senyum manis terpancar dari bibir Vino dan Vina.


"Mama!" seru Vina dan Vino bersamaan.


"Emh, kalian kenapa bisa di sini?"


Ella bertanya sambil duduk bersandar, ia menatap kedua anaknya yang mencemaskan dirinya dari tadi.


"Mama bobo?" Vina bertanya. Ella tersenyum mendengarnya. Ia menunduk mengatur nafasnya dan menyetuh pelipis matanya.

__ADS_1


"Huft, aku pasti ketiduran," pikir Ella mulai tenang.


"Maaf ya sayang, Mama pasti bikin kalian cemas."


Dua baby twins mengangguk bersama.


"Ahaha, kalian ini lucu sekali." Ella mencubit pipi dua anaknya.


Vino dan Vina saling tatap, mereka tahu Ibunya sedang sedih dan segera memeluknya.


"Mamanum," panggil Vina mencomot jari jempolnya. Meminta susu pada Ella.


"Minum susu ya? Kalau begitu kita pulang sekarang, Mama akan buatkan susu untuk kalian di rumah."


Saat mau berdiri, Aline masuk ke dalam kamar.


"Eh, sudah bangun. Kak Ella baik-baik saja kan?" tanya Aline berdiri di dekat ranjang.


Ella mengusap pinggir matanya dan tersenyum.


"Baik kok, pasti kamu yang bawa aku ke sini kan?" tanya Ella ingin tahu siapa yang mengeluarkannya dari buthtub.


"Bukan aku, Mama dan Bibi yang masuk tadi. Oh ya, kenapa Kak Ella malah ketiduran?"


Ella hanya diam saja. Aline menghela nafas.


"Maaf ya Kak, ini gara-gara aku pingsan di dalam WC jadi kau hampir di-"


"Tidak apa-apa, tidak usah pikirkan. Lagian Jastin tidak melakuka itu padaku," ucap Ella memutuskannya.


"Tapi Devan salah paham gara-gara dia, hingga kau dimarahi olehnya. Ini salahku, jadi kalian bertengkar."


"Bukan kok, ini bukan salahmu. Ini salahku, aku sangat bodoh malah naif pergi ke apartemen buaya darat itu," ucap Ella berdiri dan membantu si kembar turun.


"Tapi apa yang dilakukan kak Ella tidaklah salah, kalau kita tidak ke sana, kita tidak akan membongkar kebusukan Jastin."


"Kau sudah berubah, kau tidak seperti dulu, Aline." Ella memeluk Aline, ia sebenarnya ngin menangis. Dalam hatinya, cuma Aline sekarang yang mengerti keadaannya.


"Hehe," cengir Aline garuk-garuk kepala mendengarnya.


"Kalau begitu Kak pergi dulu," ucap Ella meraih kedua tangan anaknya.


"Loh mau kemana, Kak?" tanya Aline.


"Ini sudah mau malam, Nenek dan Kakek Vino pasti nungguin kita. Jadi kita mau pulung sekarang,"


"Mama tidak setuju kamu pulang sekarang," sahut Nyonya Chelsi masuk mendekati Ella.


"Mama?" ucap Ella segera menunduk.


"Huft," hela Nyonya Chelsi geleng-geleng kepala.


"Ella, kamu ini baru saja bangun dan sudah mau malam, kamu tinggal sebentar di sini. Devan yang akan mengantar kalian pulang, jadi tidak usah buru-buru, Nak," kata Nyonya Chelsi menahan Ella untuk pulang.


"Tapi, Mah-"


"Shht, sudah. Sekarang kita keluar makan, mumpung Mama sudah siapkan makan malam untuk kalian. Mama baru juga sampai, tapi kamu malah mau pulang bersama cucu-cucu Mama. Mama masih mau melihat dua cucu Mama yang menggemaskan ini," ucap Nyonya Chelsi mengacak-acak rambut Vino dan Vina.


"Baiklah, Mah."


Ella akhirnya menurut dan keluar bersama baby twins serta Nyonya Chelsi. Setiap langkah kaki Ella, ia hanya bisa menunduk saja.


"Kak Ella pasti belum bisa lupakan kejadian tadi, tapi ... bagaimana dengan Jastin sekarang?" pikir Aline ikut keluar dari kamarnya, ia berjalan ke arah ruang tamu.

__ADS_1


"Sudahlah, mendingan aku pergi makan saja dari pada memikirkan buaya darat itu!" Aline berdecak kesal. Saat mau ke ruang dapur, pintu utama terbuka.


"Eh, Kak ipar?"


"Aline, di mana Ella?" tanya Devan menghampiri Aline. Terlihat raut wajah Devan sangat panik.


"Oh dia di dapur lagi makan sama Mama," jawab Aline menunjuk ke arah dapur. Reflek Devan berlari ke arah dapur.


"Eh, malah pergi begitu saja. Padahal aku ingin tanyakan soal Rafa," decak Aline cemberut berjalan masuk ke dalam dapur juga.


Ella tertawa kecil melihat nafsu makan dua anaknya sangat baik. Tidak seperti dirinya yang diam menatap piring kosong di depannya.


"Ella, kenapa tidak makan, Nak?" tanya Nyonya Chelsi.


"Ah itu, aku masih kenyang Mah." Ella tersenyum kecil. Ia serius tak mampu memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Kamu ini, kalau tidak teratur makan kamu akan selalu kurus begini. Sekarang kamu makan nih," Nyonya Chelsi meraih piring Ella untuk memberikan makanan.


"Tidak usah, Mah. Aku bisa sendiri," Ella berdiri dan 'merebut piring itu langsung.


"Ya sudah, kamu pergi gih ambil sup di panci. Mama tadi buat khusus untukmu,"


"Baik Mah," kata Ella menurut saja lalu ke arah kompor untuk mengambil sup. Saat mau menyetuh pegangan panci, suara tak asing memanggilnya.


"Ella!" Devan berlari mendekatinya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Devan begitu cemas.


Ella menatapnya datar lalu menepis kedua tangan Devan yang ada di bahunya.


"Aku baik-baik saja kok, mumpung kamu ada di sini, sekalian ikut makan gih," ajak Ella membawa mangkuk besar ke meja makan. Ia berjalan mengabaikan Devan.


Devan menoleh, ia sedikit kesal Ella mengabaikannya barusan.


"Ella, aku dengar dari Mama kau pingsan tadi, apa itu benar?" Lagi-lagi Devan mengajaknya bicara.


"Kamu tenang saja, Devan. Ella tadi cuma ketiduran, maaf ya tadi Mama pasti bikin kamu cemas," sahut Nyonya Chelsi.


"Syukurlah, kalau begitu." Devan menghembuskan nafas berat.


"Sekarang kamu ikut duduk makan gih, mumpung supnya masih pana,"


"Baik Mah," kata Devan menurut saja dan duduk di dekat Ella yang diam mengabaikannya lagi.


"Huft, dia pasti marah padaku."


Devan bergumam dalam hati sambil melirik ke leher Ella, bekas cupan Jastin mulai tak terlihat lagi.


"Hm, sepertinya mereka marahan deh, ini sih juga salah Devan. Siapa coba wanita yang mau dibentak-bentak terus dikatain wanita munafik. Dasar lelaki emosian!" umpat Aline dalam hati berjalan ingin ikut makan malam juga.


Tak ada suara selain kunyahan si kembar. Ella benar-benar mendiami Devan kembali.


Setelah makan malam, Devan pamit ingin pulang karena Nyonya Mira sudah menunggu di mansion. Ella cuma menurut saja. Sesampainya di dalam mobil, keduanya hanya diam di kursi.


"Ella," ucap Devan ingin bicara.


"Ya, kenapa?" tanya Ella datar.


Devan menelan ludah, ia agak grogi. Apalagi raut wajah Ella jelas-jelas tak mau bicara padanya.


"Ah itu, tidak apa-apa."


Devan tidak jadi bicara dan mulai menyalakan mobil lalu melaju untuk pulang. Ella menunduk diam kembali.

__ADS_1


Ini membuat Vino dan Vina cemberut melihat tingkah orang tuanya. Vino pun berbisik-bisik pada Vina ingin merencanakan sesuatu. Vina tertawa cekikikan mengerti maksud kakaknya. Dua anak menggemaskan ini langsung menyeringai tipis.


"Hihihi." Tawa Vina dan Vino tak sabar sampai ke mansion.


__ADS_2