Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
28. Tidak Terhubung


__ADS_3

Elisa masih berlari dan akhirnya ia menemukan Devan juga. Nampak satu pria ini sedang membuka satu-persatu ruangan pasien. Untung saja ia dapat melacak Hansel melalui GPS barusan.


"Devan!" pekik Elisa memanggilnya dan segera lari menghapiri Devan.


Devan berhenti membuka pintu pasien, ia menoleh ke sumber suara.


"Elisa? Mengapa kau ke sini dan di mana Ella?" tanya Devan melihat Elisa seorang saja tak melihat Ella di belakangnya.


"Ella?" kaget Elisa berbalik tak melihat Ella.


"Elisa, di mana Ella? Kenapa cuma kau sendirian ke sini?" desak Devan masih bertanya. Kini ia sedikit kesal pada Elisa.


"Aku tidak tahu, aku pikir dia ada di belakangku."


Elisa ikut panik, apalagi tadi ada Jastin bersamanya.


"Hais, kau ini!" desis Devan membuka GPS dan benar posisi Ella dan Hansel masih di rumah sakit.


"Argh, kau benar-benar meninggalkannya!" kesal Devan berlari mencari posisi Ella dan kini ia tak peduli pada Hansel.


"Devan, tunggu!" Elisa ingin ikut mencari Ella. Namun pandangannya tertuju pada arah luar jendela. Kedua matanya berhasil melihat Hansel yang keluar dari pagar rumah sakit sedang mencari taksi.


"Hansel!" teriak Elisa dari dekat jendela. Namun teriakannya tak di dengar Hansel. Dengan cepat, ia langsung lari ingin keluar dari rumah sakit dan lupa pada Ella. Tapi sayangnya, Hansel masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke tempat di mana ia tinggalkan Elisa tadi.


"Hais, kenapa malah pergi sih!" desis Elisa segera mencari taksi dan kini ia berhasil mendapatkan taksi.


"Pak, tolong ikuti taksi yang tadi!" pinta Elisa menunjuk ke depan.


"Baik, Nona." Pak Supir paham dan segera menyusul taksi yang ditumpangi Hansel. Sekarang Elisa mencoba menghubungi Hansel, namun lagi-lagi panggilannya tidak terhubung.


Elisa begitu cemas, seperti halnya Devan sekarang.


"Ella! Kau di mana sayang!" teriak Devan menyelusuri lorong-lorong rumah sakit di tingkat dua. Namun belum juga melihat Ella, padahal letak posisi Ella dekat dengannya.


Devan mencoba menghubungi ponsel Ella sambil menaiki tangga. Benar, suara dering ponsel sangat jelas dari tangga atasnya. Devan segera mempercepat langkahnya.


"Ini benar ponsel Istriku, di mana dia sekarang? Kenapa ponselnya bisa ada di sini?" pikir Devan berhasil menemukan ponsel Ella.


"Tidak tidak, aku harus berpikir positif, aku harus mencarinya."

__ADS_1


Devan kembali menaiki tangga selanjutnya dan alangkah terkejutnya saat menaiki anak tangga, pintu ruangan di depannya tiba-tiba terbuka. Mata Devan tertuju pada seorang wanita yang keluar dengan menundukkan kepala.


"Sayang!" pekik Devan mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Ella.



"Hei, sayang. Kau kenapa bisa ada di sini?" tanya Devan begitu cemas. Sangat jelas, seluruh tubuhnya sedikit gemeteran takut Ella kenapa-napa atau kesurupan.


Ella hanya diam saja.


"Sayang, ayo jawab aku. Kenapa kau ada di sini?" Devan kembali bertanya sambil menatap dua mata Ella bergantian. Ingin membaca pikiran Istrinya, akan tetapi pikiran Ella kosong.


"Aku mau pulang, bawa aku pulang."


Devan tersentak mendengar suara Ella begitu datar.


"Oke, sekarang kita pulang. Tapi kau harus diperiksa dulu."


Devan kembali kaget melihat Ella hanya menurut saja.


"Baik," ucap Ella begitu datar.


"Bagaimana, apa Istriku baik-baik saja, Dok?" tanya Devan pada Dokter sambil melihat Ella yang masih diam setelah diperiksa.


Dokter wanita yang memeriksa Ella kini tertawa kecil.


"Kamu tak usah cemas, dia baik-baik saja," ucap Dokter membereskan hasil pemeriksaannya.


"Tapi kenapa Istriku cuma diam saja, Dok?" tanya Devan lagi belum puas mendengar ucapan Dokter.


"Oh itu, kamu tanyakan saja pada Istrimu. Mungkin dia lagi marah jadi mendiamimu begini. Sekarang aku pergi dulu, masih ada pasien yang harus aku temui, permisi." Dokter tersenyum lalu keluar pergi meninggalkan Ella dan Devan.


Suasana agak tidak enak rasanya, Devan duduk di kursi dekat brankar Ella dan menatap Istrinya yang masih diam.


"Sayang, katakan padaku satu hal saja. Jangan diam begini, aku cemas padamu," ucap Devan lembut. Ella tetap diam dan bahkan belum menoleh padanya.


"Oke, mungkin benar kata Dokter kalau kamu sekarang lagi marah padaku. Ini pasti soal Hansel, jadi sekarang aku tak akan mempermasalahkan ini lagi. Tolong jangan diam dong, sayang."


Devan mencoba membujuk Ella, tapi alangkah kagetnya saat ingin menyentuh dan mengelus rambut Istrinya malah ditepis oleh Ella langsung. Devan kini was-was dan semakin cemas serta bertanya-tanya, mengapa dan apa salahnya membuat Istrinya marah sekarang.

__ADS_1


Ella menatap Devan, di saat inilah Devan melemparkan senyum manisnya. Tapi Ella tetap diam dan tak peduli, ia beranjak dari brankar dan kemudian menatap datar dan berkata dingin pada Devan.


"Bawa aku pulang," ucap Ella serius.


"Ah baiklah, kita pulang sekarang. Maaf sudah membuat marah," kata Devan meraih tangan Ella.


Plak!


Devan tersentak, tangannya tiba-tiba ditepis keras. Ia langsung heran mengapa Ella bersikap begini padanya.


"Antar aku pulang sekarang!"


Ella mendecak lalu keluar meninggalkan Devan. Devan cemberut diperlakukan begitu.


"Apa yang sudah terjadi padanya? Apa dia masih Istriku?" pikir Devan segera menyusul Ella. Setelah sampai ke mobilnya dan saat ingin masuk ke dalam, para anak buahnya menghubungi Devan. Berkata kalau Hansel tak ada lagi di rumah sakit. Dengan cepat, Devan membuka GPS. Benar, tak ada kordinat sama sekali. Bahkan Elisa pun sama.


"Cih, sudahlah. Yang jelas Ella lebih penting sekarang." Devan cuma mendecak dan masuk ke dalam mobil sekaligus memberitahukan pada anak buahnya untuk tidak mencari Hansel.


"Sayang, kamu tidak mau singgah beli sesuatu untuk Vino dan Vina?" tanya Devan lembut sambil menyisir rambut Ella yang duduk diam di sampingnya.


"Tidak ada," jawab Ella datar.


"Huft, baiklah. Kita pulang sekarang." Devan mengarti sekatang kalau Ella lagi marah padanya. Ia pun menyalakan mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit. Sedikit sedih dirinya diabaikan oleh Istrinya sendiri.


Sekarang beda lagi dengan Hansel. Ia sedang merasa senang telah sempat membeli sebuah cincin sepasang kekasih untuk Elisa nanti. Tapi rasa itu hanya sementara ketika ia turun dari taksi tak menemukan Elisa. Mobil taksi malah pergi begitu saja.


Pandangan Hansel tertuju pada sebuah bekas makanan yang tumpah di sudut toko. Hansel baru sadar jika Elisa tadi datang untuk membawakan bekal untuknya.


"Hais, pasti dia marah padaku."


Hansel duduk di pinggir jalan yang kini sepi sambil melihat dua cincin di telapak tangannya. Sekarang ia sedih tak melihat Elisa sama sekali. Bahkan langit di atas mulai terlihat mendung. Pertanda akan turun hujan.


"Baiklah, lebih baik aku ke perusahaan." Hansel menyimpan cincin itu dan mengambil ponselnya. Begitu terkejut saat ia mendapatkan banyak panggilan. Bahkan panggilan Elisa tenggelam hingga Hansel tak mengetahuinya.


"Ini untuk apa Presdir menghubungiku?"


Hansel ingin menghubungi Devan kembali, namun saat menekan tombol hijau malah dikejutkan dengan suara Elisa dari belakangnya.


"Hans," panggil Elisa dengan nafas terengah-engah berhasil mengejar Sekretaris Hansel.

__ADS_1


"Nona Elisa?"


__ADS_2