
Perasaannya seminggu yang lalu saat bertemu Elisa pada malam itu muncul kembali. Gugup dan canggung bila berhadapan dengan satu wanita ini. Padahal Elisa adalah kakak dari adik angkatnya. Harusnya ia bisa menanggapinya dengan sikap biasa-biasa saja. Tapi kali ini, Elisa berhasil membuatnya seperti manusia aneh.
"No-nona Elisa, untuk apa datang ke ruangan saya?"
"Apa Nona sedang butuh bantuan?"
Kata demi kata yang dilontarkan Hansel sangat jelas di telinga Elisa. Ia merasa laki-laki di depannya seperti dirinya yang sedikit gugup.
"Itu aku-"
Elisa berhenti sebentar, dalam hatinya ia ingin menjerit kalau dirinya juga tak tahu mengapa berbuat demikian. Entah mungkin Hansel telah pencopet hatinya malam itu, hingga punya sedikit rasa suka pada lelaki berkacamata yang tampan dan tegas itu.
"Aku apa, Nona?" tanya Hansel mulai mendekatinya.
Elisa masih diam, ia sedang mengatur nafas dan detak jantungnya semakin terpacu bagaikan dikejar kuda liar. Tanpa babibu, Elisa langsung mengambil rantang itu lalu memberinya ke Hansel.
"Ini-ini untukmu!" suara Elisa sedikit meninggi sambil menunduk tersipu. Hatinya deg-degan takut Hansel akan menolak pemberian bekal siangnya. Hansel berhenti tepat di depan Elisa, alis kirinya kembali terangkat. Sangat-sangat membuatnya heran melihat tindakan wanita di depannya.
"Untuk saya, Nona?" tanya Hansel memastikan lalu tersenyum melihat Elisa menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Em, ini dari siapa?" Hansel kembali bertanya. Elisa sontak kikuk, malu dan gugup menjawabnya. Kini sebelah kakinya ia gerakkan sendiri, masih terasa canggung berada di ruangan bersama Hansel saja.
"Nona, anda baik-baik saja?" Lagi-lagi Hansel bertanya.
"Ini-ini dari Ibumu!" sahut Elisa langsung menatapnya.
"Ibuku?" Hansel semakin heran.
"Tumben Ibu menyediakan bekal untukku?" pikir Hansel curiga.
"Ini dari Ibumu, tadi kebetulan dia datang dan mencarimu. Tapi karena dia sepertinya buru-buru jadi nitip bekalnya ke aku." Jelas Elisa sedikit gelagapan.
"Terima kasih, Non. Memang siang ini aku belum makan, untung saja Non Elisa baik hati mau membawakan ini padaku."
Elisa terperanjak mendengar ucapan Hansel, ia segera menggelengkan kepala.
"Ti-tidak perlu, aku ikhlas buat eh maksudnya antar untukmu, hehe." Elisa cengengesan sendiri.
"Pfft," Hansel menahan tawa dan mengambil bekal itu. Ia duduk kembali ke kursinya dan mulai membuka rantang itu. Kedua matanya sedikit melebar melihat kari ayam yang begitu lezat. Hansel kembali heran merasa Ibunya tak pernah membuat kari ayam untuknya.
__ADS_1
"Sekretaris Hansel, apa kau baik-baik saja?" tanya Elisa melihat Hansel diam belum memakan sedikit isi bekalnya.
"Ah itu, karinya terlalu enak jadi aku sedikit terkejut." Hansel tersenyum menjawabnya. Ia mulai mengambil sendok dan mencobanya sedikit. Kedua mata Hansel kembali melebar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Elisa dan duduk di kursinya tadi, ia merasa takut masakan yang dia buat sendiri tidak sesuai dengan selera Hansel.
"Ini luar biasa, rasanya sangat pas! Enak dan sangat lezat!" puji Hansel kembali tersenyum. Ungkapan pujian Hansel membuat Elisa kali ini yang diam.
"Enak? Lezat? Benarkah itu?" tanya Elisa senang mendengarnya sambil menatap Hansel.
"Ya, Nona. Ini akan jadi makanan kesukaanku."
Pipi Elisa seketika merona sudah mendengarnya, ia langsung berbalik menyembunyikan kesenangannya.
"Yes!" desis Elisa girang dalam hatinya ingin menjerit. Awal pendekatannya mulai membuahkan hasil. Sangat senang masakannya menjadi favorit oleh pria yang dia kagumi diam-diam selama ini.
"Hufft, aku harus tenang." Jantung Elisa tak henti-hentinya berdebar-debar. Kedua pipinya masih memerah belum berani berbalik. Takut Hansel akan menyadari sikap malu-malunya.
"Hihihi," tawa seseorang di depan ruangan Hansel melihat kedekatan dua insan ini semakin berkembang.
__ADS_1