
"A-apa? Su-suami?" pikir Elisa bagaikan terkena ledakan. Entah ledakan apa, mungkin ledakan cinta. Ia hampir kena serangan jantung. Untung jantungnya masih kuat menerima ucapan Hansel yang berhasil membuatnya mendadak diam mematung.
"Oh jadi kau Suaminya? Lumayan juga, tapi kau benar-benar brensek! Akan ku balas kau dengan pukulanku!"
"Huaa!" tangis Vina ketakutan saat Preman itu ingin melepaskan tinjunya. Sontak sang Preman menutup telinga tak kuat Vina dan Vino menangis sekencang-kencangnya. Bagaikan membuat kericuhan dan keributan hingga semua orang ingin mendekati mereka.
"Vina, Vino berhenti nangis sayang." Elisa mencoba menenangkannya.
"Hm, kau ingin memukulku tadi?" Hansel maju dengan dua tangannya yang siap untuk meninju kedua preman itu dari tadi.
Dua Preman mundur seketika, kaki mereka gemeteran. Bukan karena Hansel mengancam mereka tapi orang-orang mendekati mereka.
"Bro, bro. Cabut!" pekiknya segera ingin pergi. Namun dua tangan mereka langsung di kunci oleh Satpam yang ditemui oleh Elisa tadi pagi.
"Akh!" jerit keduanya diborgol langsung.
"Haleh, kalian ini bikin rusuh saja! Ikut kami segera!" tegas Pak Satpam memukul kepala keduanya bergantian dengan tongkat lalu melihat Hansel dan Elisa.
"Maaf pak, kami akan langsung menangani mereka." Dua Pak Satpam memberi hormat lalu menyeret dua preman itu pergi.
"Huft, syukurlah." Elisa menghembuskan nafas sambil mengelus dadanya. Meski begitu, baby twins masih menangis. Sementara Hansel hanya bisa mendengkus masih kesal pada preman itu.
"Aduh, anaknya gimana nih Buk?"
__ADS_1
"Kok belum berhenti menangis?"
"Lain kali harus waspada di sekitar sini Buk!"
Itulah perkataan para orang-orang yang kasihan melihat Elisa menenangkan dua keponakannya.
"Maaf ya, Ibu-ibu jadi terganggu sama tangis mereka. Tapi ibu jangan salah paham, dua anak ini-"
"Astaga, Ibu jangan malu-malu gini. Kami tidak tega lihat anak Ibu seperti ini," ucap salah satu dari mereka mengira Elisa adalah Ibu kandung dari baby twisns. Elisa cuma bisa senyum terpaksa saja.
Plak!
Sorang Ibu menepuk lengan Hansel hingga lelaki ini yang tadi memasang kacamatanya langsung terperanjak kaget.
"Ya, Bu. Maaf, maaf sudah mengganggu kalian." Hansel menggaruk kepala belakangnya. Sungguh aneh rasanya kini berdiri di dekat Elisa.
"Ya sudah, lain kali jangan tinggalkan Istri dan anakmu!" Nasehat Ibu itu lalu pergi bersama teman-temannya.
"Maaf ya, Bu." Lagi-lagi Elisa meminta maaf dan melanjutkan menenangkan Vino dan Vina.
"Papado!" Vino dan Vina mulai merengek. Alis kedua Hansel dan Elisa terangkat bersamaan.
"Pa-papado? Apa itu Nona?" tanya Hansel pada Elisa.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu," jawab Elisa garuk-garuk kepala.
"Huaaa ... papado!" pekik Vino kembali menangis.
"Ya ampun, di mana Ella sih!" kelas Elisa kini pusing mengurus dua keponakannya.
"Nona, mungkin-mungkin-"
"Mungkin apa, Hans?" tanya Elisa melihat Hansel sambil menggendong Vino, sementara Vina kini diam sambil mencomot jari jempolnya.
"Papanum," lagi-lagi Vina yang merengek membuat Elisa dan Hansel saling tatap kembali.
"Ah itu, mungkin mereka ingin minum susu," ucap Hansel menebaknya sambil menunjuk oppai Elisa, sontak wanita ini langsung diam mematung.
"Hansel!" ketus Elisa kesal dilirik oppainya.
"Maaf Nona, saya tak bermaksud begitu," ucap Hansel menunduk, sungguh malu sudah berkata begitu barusan.
"Pfff, ahahaha." Tawa baby twins pecah melihat kedua orang dewasa ini tersipu malu.
"Itu tadi, terima kasih sudah menolong kami," ucap Elisa tersenyum manis.
Hansel tercengang dan langsung mengangguk saja.
__ADS_1
"Dia memang manis."