Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
55. Wanita Licik


__ADS_3

Mobil Elisa berhenti di sebuah pinggir jalan. Hansel agak heran mengapa tiba-tiba Elisa berhenti dan malah turun dari mobil, ia pun segera ikut turun dan mendekati kekasihnya.


"Untuk apa kita ke sini, Nona?" tanya Hansel tak tahu apa-apa.


Elisa geleng-geleng kepala dengan sikap kaku Hansel. Tentu tujuannya untuk kencan mereka.


"Hadeh, kamu ini kan pacarku, jadi tentu saja kita harus kencan dulu."


Hansel tertawa, menertawai dirinya yang tidak terbiasa.


"Kemarilah," Hansel menarik tangan Elisa dan pergi meninggalkan mobil begitu saja.


"Kita mau ke mana?" tanya Elisa dituntun menyeberangi jalan.


Hansel tak menjawab, lelaki ini berhenti di dekat penjual es krim jalanan. "Pak buatkan dua untuk kita," ujar Hansel pada penjual lelaki di depannya. Elisa terdiam, dan menatap Hansel.


"Apa dia ingin membelikan aku es krim?"


Elisa bergumam dalam hati dan menunduk tersipu. Meski berbeda dari perlakuan Devan dulu, ia tidak masalah dengan tujuan Hansel yang sederhana ini.


"Tidak masalah kan bagimu, Nona?" tanya Hansel padanya, takut bila Elisa yang glamor malah diajak makan es krim jalanan. Elisa cuma mengangguk dan tersenyum.


"Ini Pak, dua es krim rasa berbeda. Rasa vanila dan coffe."


Hansel mengambil dua es krim itu dan memberikan pada Elisa.


"Nona pilih yang mana? Ini rasa vanilla dan ini coffe,"


Dengan malu-malunya, Elisa menjawab, "Boleh aku pilih kamu saja?"


Hansel diam tertegun dan segera menyodorkan es krim rasa vanilla. Penjual es krim tertawa melihat kelucuan pasangan ini. Terutama Elisa yang malah menggombali Hansel.


"Puft, dasar manusia kaku!" tawa Elisa meledek dan mengambilnya. Ia menjilat sedikit ujung es krim. Seketika matanya terbelalak.


"Wah, rasanya enak banget nih," puji Elisa memberi satu jempol pada penjual.


"Baguslah bila Nona suka," kata Hansel turut senang.


"Hm, kalau begitu-" ucap Elisa celingak-celinguk. Pandangannya segera menangkap kumpulan anak-anak yang bermain di sebuah taman kecil.


"Ada apa, Nona?" tanya Hansel penasaran. Elisa tak menjawab malah teriak pada kumpulan anak-anak membuat Hansel dan penjual melongo.


"Hei, kalian! Kemarilah, kalian mau gak makan es krim?" tanya Elisa berteriak. Semua anak-anak yang berjumlah tujuh belas orang sontak menoleh dan lari ke arah Elisa. Hansel menelan ludah dan mengambil dompetnya. Membuka dan mengintip jumlah uangnya di dalam dompet coklatnya.


"Huft, sepertinya harus tarik uang malam ini,"


Hansel menghela nafas untuk berpikir ke bank nanti malam.


"Kenapa, By?"

__ADS_1


Hansel terkejut dan segera menjawab.


"Tidak ada apa-apa, sekarang untuk apa Nona memanggil mereka?" tanya Hansel pura-pura tak tahu. Elisa meraih lengan Hansel dan bergelayut manja. Ia tersenyum semanis mungkin.


"Tentu saja memanggil mereka untuk makan es krim, kamu pasti terkejut karena aku baik hari ini pada anak-anak jalanan."


Hansel langsung kikuk, bukan karena ucapan Elisa. Tapi tingkahnya memang baik tapi sedikit boros.


"Ya, aku sangat terkejut, tak sangka Nona mulai berubah, hehehe," jawab Hansel cengengesan. Padahal bulan ini gajinya belum keluar. Tapi sekarang harus mengeluarkan uang.


"Pacaran emang harus gini, butuh modal. Apalagi kalau sudah menikah, aku pasti harus lebih giat bekerja untuk memenuhi kebutuhannya," gumam Hansel geleng-geleng kepala.


Setelah membayar semua es krim anak-anak jalanan. Tiba-tiba ponsel Hansel berdering, ia diberitahukan pada anak buahnya jika perintahnya sudah selesai.


"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Elisa menyipitkan mata.


Hansel menyimpan ponselnya dan menarik tangan Elisa.


"Kemarilah, ada yang ingin aku tunjukkan padamu."


Elisa cuma menurut berjalan ke arah mobilnya.


"Tunjukkan padaku, apa itu?" tanya Elisa ingin tahu dan kini duduk di kursi pengemudi.


"Itu rahasia, sekarang jalankan mobilnya ke jalan XXXX di arah selatan. Kau akan tahu Nona." Hansel menunjuk ke depan jalan ke arah kanan.


Elisa mengangguk dan menurut.


___


Di rumah kediaman Carlous.


Bu Naina duduk menyilangkan tangan di sofa. Ia sedang menimbang-bimbang ucapan Hansel kemarin bila Elisa adalah kekasihnya dan itu artinya akan menjadi menantunya. Kuku jempol kanannya digigit merasa gemas.


"Ck," decak Bu Naina hingga kukunya patah. Ia geram dan tidak suka Elisa masuk ke dalam keluarganya. Ia membenci sikap Elisa yang manja dan pemboros. Bu Naina tahu, karena Elisa sering muncul di layar TV menemani Ny. Chelsi dulu. Penampilannya yang glamour membuatnya tahu dan membencinya.


Krek!


Pintu utama terbuka, Bu Naina berdiri dan terkejut melihat Renita datang ke rumahnya.


"Siang, Bu," salam Renita dengan ramah.


"Eh, Renita. Mari masuk, Nak,"


"Hehe, iya Bu," ucap Renita mendekatinya.


"Oh ya, ada apa datang ke sini?" tanya Bu Naina heran dan duduk kembali ke sofa.


Renita ikut duduk dan memandangi sekeliling rumah.

__ADS_1


"Aku ke sini mau menjenguk Hansel, Bu,"


"Eh, Hansel?"


"Ya, Bu. Tadi aku ke rumah sakit dan kata Dokter, Hansel sudah keluar dari rumah sakit, jadi aku ke sini untuk melihatnya," ucap Renita meletakkan bingkisan di atas meja.


"Tapi dari tadi pagi, Hansel belum pulang ke sini Nak Renita. Dia juga belum menghubungi, Ibu. Mungkin Nak Renita salah info."


Renita terkejut dan sontak mengepal tangan.


"Kalau begitu, yang tadi itu aku tidak salah lihat dong," gumam Renita merasa mobil yang sempat dia lihat di persimpangan adalah mobil Elisa yang pastinya Hansel ada di dalam sana.


"Tidak salah lihat? Maksudnya, Nak Renita apa ya?" tanya Bu Naina tidak paham.


"Itu Bu, tadi aku ke sini dan sempat melihat mobil Elisa, aku rasa Elisa yang membawa anak Ibu. Aku jadi kuatir, Hansel dibawa kemana. Padahal dia baru saja sembuh, harusnya Hansel segera pulang ke sini," jawab Renita lalu meraih tangan Bu Naina ingin mengambil perhatian dan hati Bu Naina.


"Bu, entah kenapa aku sangat kuatir dan kasihan padanya,"


"Kenapa Nak Renita berkata begitu?" tanya Bu Naina melihat kedua tangannya digenggam.


"Aku ini temannya Hansel dari dulu, aku kuatir dengan hubungan mereka, aku takut Hansel hanya akan dimanfaatkan dan jadi bahan pelampiasan Elisa, Bu," jawab Renita membuat Bu Naina terkejut.


"Pelampiasan Elisa? Maksudnya?"


"Elisa itu mantan pacar dari suaminya Ella, aku takut Elisa belum move on dari Presdir Devan dan sekarang Hansel pasti akan menjadi tempat pelampiasannya,"


Bu Naina makin terkejut, ia mulai greget dengan satu nama yaitu Elisa. Renita melepaskan genggamannya dan diam-diam tersenyum licik melihat raut wajah Bu Naina memendam amarah.


"Ck, sudah Ibu duga. Ketakutan dan kekuatiranmu ini yang sekarang Ibu rasakan, Ibu tidak mau hubungan mereka berlanjut!" decak Bu Naina termakan umpan Renita.


"Betul, Bu. Hansel harusnya mencari dan mendapatkan wanita baik-baik, bukan seperti Elisa yang manja, pemboros dan penyakitan. Ibu Naina pasti tidak mau kan punya menantu yang sakit-sakitan," ucap Renita memanas-manasi Bu Naina.


"Kalau begitu, mungkin Nak Renita bisa kan membantu Ibu memutuskan hubungan mereka?"


"Kalau Ibu yang minta, aku pasti dengan senang hati mau membantu," jawab Renita tersenyum manis.


"Hehehe, hasutanku berhasil juga. Wanita tua ini mudah juga dihasut olehku," lanjut Renita membatin, ia sangat-sangat gembira mendapatkan dukungan untuk singkirkan Elisa. Obsesinya ingin memiliki Hansel menjadikannya wanita licik.


"Nak Renita, kau memang baik. Sudah jauh-jauh ke sini hanya untuk menemui Hansel, jika saja bisa ... Ibu sangat senang bila kau menjadi istri Hansel di masa depan. Ibu pasti akan menerimamu sebagai menantu."


Renita tercengang, ia tak sangka Bu Naina memujinya dan bahkan berkeinginan seperti itu. Dengan cepat, Renita menggenggam kembali dua tangan wanita paruh baya itu.


"Tentu bisa, Bu. Aku dengan senang hati mau jadi calon menantu, Ibu. Dari awal, aku mencintai Hansel."


Bu Naina terpelongo mendengarnya. Dalam hatinya, ia tersenyum licik.


"Bagus, ini yang aku harapkan. Setelah menjadikanmu menantuku, perusahaan Carlous akan memeras harta orang tuamu. Tidak susah juga untuk mengikat wanita bodoh ini," batin Bu Naina tersenyum sumringah.


"Ibu sangat terkejut, ternyata Nak Renita mencintai putraku. Kalau begitu kita sama-sama menghancurkan hubungan mereka."

__ADS_1


Renita mengangguk setuju. Keduanya dalam hati merasa senang dan puas dengan tujuan masing-masing.


"Nona Elisa, tidak lama lagi kau akan tersingkirkan di sisi Hansel, ahahaha...."


__ADS_2