Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
44. Memberiku Ciuman


__ADS_3

Esoknya di pagi hari, semua orang sudah siap-siap selain Devan yang masih setia tidur tengkurap di tempat tidur. Ia sebenarnya sudah bangun cuma tak mau meninggalkan kasurnya. Nampak ia diam-diam melirik-lirik Ella yang berdiri sedang mengurus baby twins. Memakaikan baju untuk kedua anaknya.


Sesekali Devan menutup buka matanya, ia lakukan ini karena mau berduaan dengan Ella. Jika dia bangun maka Vino dan Vina akan mengganggunya, apalagi kalau ada Marsya, gadis kecil ini sama jahilnya dengan Ibunya dulu. Benar sekali, Marsya datang masuk ke dalam kamar Ella. Cepat-cepat Devan memejamkan mata.


"Bunda, Vino sama Vina sudah siap?" Marsya bertanya dan duduk di kursi, ia tak sabar untuk wisata alam bersama keluarga kecil Devan.


Vina dan Vino sontak turun dari sofa, keduanya berjalan ke arah Marsya yang sudah cantik sempurna.


"Adik-adikmu sudah siap dong, Sya. Sekarang Marsya bantu Bunda jaga Vino dan Vina ya cantik," kata Ella pada Marsya. Marsya tersenyum lalu berdiri dari kursi.


"Siap Bunda, kalau begitu Marsya keluar tunggu Bunda sama Om Devan,"


"Ahaha, ya sudah. Hati-hati turun tangga ya, bilang sama Mami kalau Bunda dan Om akan turun cepat."


"Baik Bunda!" Marsya mengangguk paham lalu menggenggam kedua tangan adiknya lalu berjalan keluar. Vino dan Vina sangat senang menghampiri Nenek dan Kakeknya yang lagi siap-siap mengatur para pelayan sebelum mereka wisata alam.


"Huft, ini sudah jam sembilan pagi, sampai kapan dia akan tidur di sana?"


Ella bergumam melihat Devan menggeliat manja ke sisi sebelah. Ella sudah tahu kalau suaminya ini sudah bangun dari tadi cuma tidak mau berdiri dari tempatnya. Ella tidak peduli, ia sibuk membereskan isi koper untuk keperluan menginap di vila yang telah diatur oleh Dean.


Devan cemberut karena Ella benar-benar cuek padanya, padahal ia ingin Ella membangunkan dirinya. Terpaksa dia memeluk guling tidak mau bangun saja.


"Ish, ngeselin!" desis Devan dalam hati.


"Pffft, dasar kekanak-kanakkan!" ejek Ella tengkurap di sofa empuk sambil memeluk bantal sofa dan melihat Devan yang kesal. Ingin menunggu Devan bangun dan melihatnya semakin kesal.


Ella tertawa sedikit lalu diam kembali setelah Devan beranjak duduk. Cepat-cepat Ella berdiri kembali untuk menyiapkan isi koper dan mendiami Devan lagi.


"Kau sudah bangun, kalau begitu pergi mandi gih," ucap Ella tanpa melihatnya. Devan meregangkan tangan lalu melirik Ella. Ia manyun sendiri tidak dilayani, maunya diberi ciuman manis di pagi ini. Devan pun mendesis dalam hati. "Apa dia sengaja?"


"Ini sudah jam sembilan, kau harus cepat-cepat siap, jika tidak kita akan tertinggal untuk wisata. Anak-anak sudah siap dari tadi, sekarang giliran kamu." Ella berkata dan belum menengok suaminya. Diam-diam Devan memeluknya dari belakang.


"Ah! Astaga, lepaskan aku!" desis Ella terkejut dan merasa risih. Devan tidak mau lepaskan, ia malah meletakkan dagunya di bahu kanan Ella.


"Sayang, kamu masih marah sama suami tampanmu ini? Kamu tidak kasihan suamimu ini lagi sedih loh," rayu Devan bernada ingin menangis, meminta Ella tidak ngambek padanya.


Ella menghela nafas dan melepaskan tangan yang merangkul perutnya.

__ADS_1


"Tidak usah manja, aku akan turun sekarang," acuh Ella mengangkat koper dan pergi keluar. Ia nampak tertawa kecil mengabaikan Devan yang sedang mewek di tempatnya.


"Sayang, kamu kok tega gini, aku ini baru bangun dari alam mimpi tau! Bisa kah dirimu memberiku ciuman manis di sini?" Devan merengek sambil menunjuk-menunjuk pipi kanannya.


"Tidak bisa, kau cepatlah mandi."


Pintu kamar ditutup begitu saja, Devan menangis manja ditolak keinginannya.


"Hiks, dasar!" rutuk Devan pergi masuk ke dalam kamar mandi.


"Hm, aku harus cari cara agar dia mau memaafkan aku, diabaikan istri sehari saja hidupku terasa ada yang kurang, tidak bisa minta ini dan itu," Devan mengoceh di kamar mandi, ia pun cepat-cepat bersiap untuk berwisata.


"Ella, di mana Devan?" tanya Ny. Mira pada menantunya yang turun dari lantai atas.


"Sebentar lagi turun, Mi."


Ella tersenyum dan berdiri di antara baby twins. Nampak semuanya sudah siap, terutama Zeli dan Rafa. Walau begitu, Ella merasa ada yang aneh pada Rafa yang dari tadi diam saja.


"Kalau begitu, Mami sama Papi dan yang lainnya ke mobil dulu, kamu tunggu Devan," ucap Ny. Mira berdiri di samping suaminya.


"Huft, mungkin dia lagi pusing gara-gara kuliahnya." Gumam Ella membatin.


"Bunda, Marsya juga keluar ya, Marsya mau duduk di mobil Mimi sama Pipi, tidak apa-apa kan, Bunda?" tanya Marsya menunjuk keluar mansion.


"Tidak apa-apa, Marsya pergi saja."


"Yes, Marsya duluan ya Bunda!" pekik Marsya lari keluar mansion. Kini cuma tinggal Ella dan Baby twins menunggu Devan.


"Aduh, dia kemana? Kenapa belum turun juga?" gumam Ella melihat ke atas sambil menggandeng kedua tangan anaknya.


"Mama, Papana," ucap Vina menunjuk ke atas. Ia bertanya di mana Papanya.


"Papa belum turun sayang, masih di kamar. Kita tunggu sebentar ya," kata Ella berjongkok di depan dua anaknya.


Vino yang dari tadi berdiri mulai capek, ia perlahan ingin menangis.


"Eh, Vino kenapa sayang?" tanya Ella.

__ADS_1


"Mamado," rengek Vino minta digendong. Ella tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Vino.


"Sabar ya sayang, kita tunggu Papa dulu," kata Ella menenangkannya. Tapi Vino semakin merengek. Terpaksa Ella pun menggendongnya. Sedangkan Vina masih setia berdiri sambil comot jempolnya.


"Aduh, Devan kemana sih!" desis Ella mulai kesal.


"Mama, Papa!" teriak Vina menunjuk Devan sudah turun dengan penampilannya yang menawan. Devan tersenyum manis disambut oleh putri kecilnya yang berlari ke arahnya.


"Papado!" rengek Vina minta gendong. Devan terkejut dan tertawa kecil.


"Putri Papa, baru juga Papa turun sudah minta gendong," ucap Devan akhirnya menggendong Vina.


"Hihihi, Papa omey,"


"Hm, omey? Apa tuh cantik?" tanya Devan tak paham kata Vina.


Vina cekikikan lalu cubit kedua pipi Devan, berkata Devan adalah 'Papanya yang comel' untuknya. Ella tertawa kecil dengan tingkah putrinya, tapi tawanya hilang saat dilirik oleh Devan. Mode ngambeknya aktif kembali, ia tak mau bicara dan tak mau menunjukkan ekspresi apa-pun selain muka datarnya.


"Ck, mulai lagi," desis Devan dalam hati.


"Syukurlah kamu sudah siap, sekarang kita ke mobil. Mami dan yang lainnya sudah menunggu kita," kata Ella pergi keluar menggendong Vino dan membawa koper.


Dengan perasaan tak karuan, Devan cuma mengikutinya dari belakang sambil menggendong Vina. Ella melirik-lirik kebelakang, mendengar langkah kaki Devan yang dihentak-hentakkan tak suka diabaikan.


"Pfft, rasakan itu! Siapa suruh bentak aku kemarin!" desis Ella dalam hati dan tertawa kecil. Keluarga kecil Devan pun pergi berwisata bersama yang lainnya. Tujuan mereka pergi ke puncak dan bermalam di vila selama tiga hari, tiga malam.


Tidak seperti Jastin yang sedang duduk tidak berdaya di sebuah kamar kosong dan gelap. Ia terlihat menyedihkan sekarang, nampak terkurung bersama empat anjing galak yang dirantai oleh Rafandra sendiri. Taring-taring tajam dan gonggongan keempat anjing membuatnya ketakutan.


Jastin yang juga dirantai tangan dan kakinya cuma bisa teriak memohon dilepaskan. Tapi tak ada siapa-siapa yang dapat mendengarnya. Untung saja, luka tembak di kakinya tidak lagi berdarah, bahkan Jastin merasa kakinya mati rasa.


Beda lagi di rumah sakit, Elisa senantiasa menemani Hansel di rumah sakit. Menjaga dan bahkan merawat Hansel. Elisa juga senang karena Papanya sudah tahu soal keburukan Jastin. Hanya saja, Elisa agak takut karena Jastin dikabarkan hilang.


Hal ini membuat keluarga Jastin sibuk mencari putra sulungnya ini. Mereka mengira Jastin sudah diculik oleh seseorang misterius dan sebenarnya Jastin berada di tangan Rafandra. Keluarga Tuan Raka tidak tahu jika satu anaknya ini telah menculik pengusaha putra sulung dari keluarga Georgest.


"Argh, siapa pun itu lepaskan aku!" racau Jastin mengamuk, dan seketika diam akibat para anjing ikut mengamuk. Jastin mengepal, ia membenci orang yang sudah menculiknya. Ia tidak tahu siapa orang ini.


"Aku harus keluar dari sini, aku yakin dia pasti suruhan Devan. Akan aku buat perusahaanmu hancur lebur, ahaha. Serta untuk pria itu, akan aku habisi sendiri!" decak Jastin marah pada Devan dan Hansel.

__ADS_1


__ADS_2