
Kini di sisi lain, mobil Rafandra berhenti di sebuah bangunan rusak di mana ia mengurung Jastin. Setelah keluar dari mobil, tak ada sama sekali suara sedikitpun di sekitarnya. Bahkan suara anjingnya tak sama sekali menggonggong. Rafa membuka kacamata hitamnya, mengantongi dan segera berjalan masuk.
Isi bangunan sangat kotor dan bau busuk sampah di mana-mana. Tapi niat Rafa tidak tergoyah, ia tetap maju untuk melihat anjing-anjingnya dan juga Jastin.
Tap!
Langkah kaki Rafa terhenti, ia diam tidak melihat Jastin di tempatnya.
"Tunggu, kenapa rantainya-"
Rafa amat terkejut dengan rantai yang mengikat Jastin putus seperti habis dipotong. Rafa segera berdiri dan menoleh ke samping. Matanya membola dengan mulut menganga dan langsung berteriak melihat tiga anjingnya terkapar tidak bernyawa dengan darah dan luka tembak di bagian paha.
"TIDAK!"
Rafa berteriak sekeras mungkin, geram amarah kini mulai mendidih di dalam hati dan matanya. Rafa menunduk dan ingin menyentuh tiga anjingnya namun dengan cepat menyapu pinggir matanya, sakit kehilangan tiga anjing SEBIRIAN HUSKY yang susah payah dia rawat hingga terlatih. Tapi sekarang, hanya kenangan yang tersisa untuknya.
Rafa mengepal tangan dan menggertakkan rahangnya.
"Jastin, beraninya kau membunuh mereka. Harusnya aku yang membunuhmu duluan!"
Rafa berdiri ingin mencari sesuatu untuk mengangkat tiga mayat anjingnya. Saat berbalik, akhirnya tawa terdengar menggelegar di bangunan itu.
"AHAHAHAHA ...."
Reflek, Rafa mengalihkan pandangannya ke segerombolan preman jalanan yang masing-masing membawa alat pemukul. Mereka ada enam orang dan kini menyeringai kepada Rafa. Merekalah yang membantu Jastin lepas dari belenggu rantai dan sekarang tujuan mereka untuk memberi pelajaran siapa orang yang berurusan dengan Jastin.
"Ck!" Rafa mendecih kesal.
Alis ketua mereka terangkat melihat kekesalan di wajah Rafa.
"Oh ternyata cuma bocah ingusan yang sudah berani mengurung Tuan Jastin di sini," ucapnya menunjuk Rafa dengan pemukul.
"Lihatlah, nyalinya pasti hanya secuil jagung. Kakinya saja gemeteran, ahahhaa ...." lanjut anggota preman lain tertawa meremehkan tampang Rafa.
"Hei Nak, ini bukan tempatmu. Harusnya kau ke gereja dan berdoa agar hidupmu lebih panjang. Tapi mungkin sekarang ini hari terakhirmu melihat dunia,"
Cuih!
Rafa membuang ludah tidak takut sama sekali. "Ck, hari terakhirku? Oh sepertinya kalian sudah salah, mungkin hari ini adalah hari terakhir kalian melihatku dan juga anjingku!" decak Rafa dengan tatapan mata yang tidak main-main sekarang.
"Kau! Beraninya menggertakku, apa kau tidak takut pada kami, ha!" geram ketua preman ingin mulai memukul.
"Takut? Untuk apa aku harus takut dengan cicak-cicak jalanan seperti kalian!" tawa Rafa dengan suara menantang.
Desir amarah kian memuncak, para anggota preman maju menerjang ke arah Rafa. Dengan cepat dan trampil, Rafa memberi mereka pukulan sekeras mungkin di bagian titik terlemah. Ia sangat jago dalam perkelahian. Bahkan saat sekolah pun pernah menjadi biang rusuh dan beberapa kali masuk BK.
Bugh!
BAGH!
Buhg!
BAGH!
Mereka kini kelelahan, alat pemukul mereka terlempar jauh setelah ditendang oleh Rafa. Bahkan dua dari mereka sudah pingsan, dan tertinggal sang ketua dan tiga orang yang masih kuat untuk berdiri.
Rafa menyapu pinggir bibirnya yang berdarah bekas pukulan yang sempat dia terima.
__ADS_1
"Cepat, habisi dia!" perintah sang ketua pada tiga anak buahnya. Ketiganya mengerti dan mengeluarkan pisau tajam masing-masing. Rafa sedikit terkejut, melihat mereka benar-benar ingin membunuhnya.
"Aaaaa ... matilah bocah!" pekik mereka maju menerjang. Dengan lincah, Rafa menghindar dan berusaha menendang titik di bagian lutut mereka.
KREOK!
AAAAAaaaaa ....
Mereka berteriak histeris melihat Rafa berhasil menendang kaki mereka membabi buta hingga ketiganya pincang dan pisau berjatuhan. Sontak ketiganya membola melihat Rafa mengambil pisau ingin menusuk mereka, dengan cepat mereka menghindar.
Seketika suara gonggongan anjing Rafa yang berhasil kabur kini terdengar dari arah dekat pintu lain. Ketiganya segera lari mendekati sang ketua. Rafa dalam hati merasa sedikit lega mendengar satu anjingnya masih hidup. Dan kini, anjing Sebirian Husky berbulu lebat berwarna hitam putih lari mendekati Rafa. Terlihat sangar dan menggonggong ke arah para preman.
"Hahahaha ...." tawa Rafa menggila dan langsung melirik mereka dengan mata tajamnya setajam mata burung elang.
Mendengar tawa gila Rafa, anggota yang pingsan berhasil sadar dan segera mendekati Bos mereka. Kini para preman ketakutan melihat Rafa perlahan maju mendekati mereka.
"Bo-bos, sepertinya bocah ini gila. Lebih baik kita pergi sebelum nyawa kita melayang," ucap salah satu anggota yang nyalinya sudah menciut ketakutan.
"Ck, dia lumayan juga!" decak sang ketua memberi kode untuk pergi dan melepaskan Rafa. Mereka tak mau ambil resiko, apalagi Rafa nampak tak main-main untuk meladeni mereka. Nyawa mereka lebih penting untuk keluarga dari pada menyerahkan nyawa mereka sekarang.
Para preman pergi ke arah lain meninggalkan Rafa yang kini jatuh berlutut menahan tubuhnya yang kesakitan habis berkelahi. Anjing Sebirian Husky mencoba menghiburnya, sontak Rafa memeluknya dan menangis atas kepergian saudara-saudara anjingnya.
"Maafkan aku, Dogi. Saudaramu tidak ada lagi, ini salahku meninggalkan kalian bersama lelaki brensek itu," tangis Rafa bercampur kecewa dan marah terhadap Jastin.
Setelah hatinya tenang, Rafa pun menghubungi salah satu penjaga di mansion untuk membawakan cangkul. Ia ingin mengubur tiga mayat anjingnya secepat mungkin.
Kini di lapangan luas, Rafa berhasil menguburkan tiga mayat anjingnya, ia ditemani oleh penjaga pria yang membawakan cangkul untuknya. Ingin rasanya penjaga itu bertanya mengapa tiga anjing SEBIRIAN HUSKY mati bersamaan. Namun rasa takut membuat pelayan itu tidak berani bertanya.
"Tuan muda, ini waktunya anda pulang. Tuan besar, mencari anda dari tadi."
Rafa mengangguk sedikit, ia berjalan bersama Dogi menuju ke mobil lamborghini yang dari tadi terparkir. Sementara penjaga tadi menghubungi seseorang.
"Begitu rupanya, kalau begitu awasi gerak-geriknya,"
"Baik Tuan muda." Penjaga mengerti dan mematikan panggilannya. Penjaga pun pergi dengan mobilnya dan mengikuti mobil Rafa dari belakang. Menjaga sekaligus mengawasi Rafa sampai ke mansion.
______
Dari laporan yang didapatkan Devan, kini ia yakin bila hilangnya Jastin adalah kelakuan adiknya. Devan yang habis mandi kembali merebahkan tubuhnya di samping Ella yang dari tadi tertidur. Entah berapa ronde yang sudah diberikan untuk Istrinya.
Tangan kekarnya menyisir rambut Ella dengan lembut dan kemudian mengecupnya dengan penuh cinta. Devan kembali memejamkan mata untuk tidur sebentar.
Selang beberapa menit, Ella terbangun juga. Matanya dikucek-kucek agar pandangannya makin jelas. Ella tersentak sedikit dan tersipu atas permainan Devan barusan.
Ella melihat Devan dan tersenyum, ia pun mengecup pipi Devan dan kemudian beranjak untuk mandi. Ella pun berusaha untuk berjalan, namun gara-gara Devan ia bagaikan nenek yang memegang pinggangnya yang sakit. Terpaksa, Ella berjalan sempoyong ke kamar mandi.
"Hisshh, dingin banget."
Ella mengelus-elus kedua lengannya, ia akhirnya selesai juga membersihkan diri. Kini Ella sibuk memakai pakaian. Setelah berdandan dan melihat dirinya sudah cantik membahana, Ella pun keluar dari kamar untuk melihat baby twins.
Ella ke kamar Zeli, mengira dua anaknya pasti sudah ada di sana. Ella sebenarnya ingin menyewa baby sitter, tapi dua kata ini membuatnya ingat dirinya pernah menjadi baby sitter dan karena itulah ia agak trauma dengan masa lalunya.
Krek!
Ella membuka pintu kamar Zeli, dua matanya menatap Vino dan Vina yang ternyata tidak tidur. Yang tidur malah pengasuhnya, yaitu Zeli yang kini mendengkur sedikit dengan ilernya yang terlihat membekas di dekat bibirnya.
"Mama bobo,"
__ADS_1
Vino dan Vina menunjuk Zeli. Berkata 'Mama tidak bobo seperti Bunda Zeli?' sungguh lucu ucapan yang keluar dari mulut keduanya.
"Puft, kalian ternyata masih sibuk main ya," tawa Ella masuk mendekati dua anaknya.
"Sekarang giliran kalian tidur seperti Bunda Zeli," lanjut Ella melirik Zeli yang menggeliat memeluk guling. Mungkin gadis ini lelah habis membeli iphone di luar sana bersama Tuan Raka.
"Mama boboooo,"
"Ahahaha, kalian tambah menggemaskan!" gemas Ella mencubit lembut pipi dua anaknya. Baby twins tertawa geli dan segera diturunkan dari ranjang.
"Sini kita ke kamar, Papa lagi bobo di kamar jadi kalian boleh ganggu Papa."
Baby twins tersenyum sumringah dan menarik tangan Ella ingin cepat ke kamar Ayahnya. Namun tiba-tiba suara gonggongan anjing terdengar membuat si kembar menjerit.
"Mamaaaaa ...!" jerit kedua anak kembar Ella memeluk kaki Ibunya.
"Tidak usah takut, itu pasti Om Rafa kalian sudah pulang," ucap Ella menenangkan dua anaknya.
"Momo?"
"Puft, kalian ini." Ella mengelus rambut dua anaknya yang terkejut dengan kedatangan Rafa yang sekarang duduk di sofa tamu sambil mengelus kepala Dogi.
"Sini kita ke kamar dulu," Ella menuntun baby twins. Saat membuka pintu, Devan sudah berdiri dengan tampilan jasnya.
"Eh, honey?"
"Yeee ... Papaaa!" riang baby twins melihat ayahnya bangun. Devan berjongkok dan mengacak-acak rambut mereka lalu berdiri.
"Apa Rafa ada di ruang tamu?" tanya Devan serius.
"Ah benar, tadi ke sini kebetulan dia baru pulang. Kau ingin bicara sesuatu padanya?" jawab Ella menebaknya.
"Benar, sekarang aku mau turun. Kau urus Vino dan Vina dulu ya sayang," ucap Devan mencium kening Ella lalu pergi ke arah tangga.
"Huft, apa yang ingin mereka bicarakan?" pikir Ella menghela nafas dan kemudian masuk untuk menidurkan baby twins.
"Ekhm, kau pulang juga rupanya," ucap Devan mendehem dan duduk di sofa lain, ia berhadapan langsung dengan adiknya.
"Ya, memangnya kenapa? Apa urusanmu kalau aku pulang?" tanya Rafa berkata dingin.
Devan mengambil koran dan menjawab langsung.
"Aku hanya kuatir, kau mati di luar sana tanpa sepengetahuan kita,"
Rafa mengernyit heran mendengarnya.
"Apa maksud ucapanmu ini, bang?" tanya Rafa sedikit kesal.
Devan meletakkan koran dan berdiri menatapnya serius.
"Dengar Rafa, dari kemarin kau terlihat gelisah. Dan kini, aku tahu ternyata kau diam-diam mengurung Jastin. Apa kau tahu Rafa, apa resikonya bila kau berurusan dengan pria brensek itu! Nyalimu masih kecil, jangan lagi memancing atau berurusan dengannya. Soal kemarahanmu terhadap Jastin karena hampir melecehkan Ella, lebih baik kau buang jauh-jauh. Aku hanya tak ingin kau dapat masalah!" Jelas Devan mendobrak meja, memberi peringatan untuk adiknya yang bisa berbuat masalah.
Rafa sontak berdiri.
"Aku hanya membela temanku!" ucap Rafa serius berkata.
"Rafa! Ella bukanlah temanmu, tapi dia kakak iparmu sekarang. Jadi setelah ini, apa yang terjadi pada Ella jangan lagi kau ambil tindakan. Urusan Ella biarkan aku yang tangani, dia istriku, dia wanitaku, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Sekarang pergilah ke kamarmu, bersihkan dirimu yang kotor ini dan anjingmu itu!" tegas Devan menunjuk ke lantai atas.
__ADS_1
Rafa mengepal tangan, dan dengan angkuhnya pergi bersama Dogi menaiki anak tangga.
Devan duduk kembali, ia tahu masalah adiknya dari kemampuannya. Kini Devan tidak tahu, apalagi yang akan dilakukan Jastin yang berhasil kembali ke keluarganya.