
"Ekhm," Devan mendehem melihat Istrinya yang datang ke perusahaan bersama baby twins. Nampak Ella duduk di sofa bersama baby twins sambil membuka buku bergambar anak-anak.
"Ada apa?" tanya Ella malas mendekati Devan.
"Sayang, kamu lebih baik pulang ke vila. Kasihan anak-anak datang ke sini, terus kamu juga hamil. Aku cemas kamu akan cepat capek di sini," jawab Devan duduk santai di kursi istimewanya.
"Tidak capek kok, aku malah senang duduk di sini bareng anak-anak kita," ucap Ella mengacak-acak gemas rambut Vino dan Vina.
"Tapi kan aku tidak mau kamu kelelahan sayang," sekali lagi Devan mengeluarkan perhatiannya.
"Tidak, kamu diamlah... aku sibuk nih lihat-lihat sama anak kita." Ella mengabaikan Devan yang kini cemberut. Devan tahu apa tujuan Ella ikut selalu ke kantornya karena Ella mau mengawasi Devan tiap sekon, detik, menit, jam, dan hari-harinya. Ia bagaikan tahanan di tangan sang Istri sendiri.
"Astaga, aku seperti dijaga oleh tiga bodyguard. Ditambah satunya belum lahir." Devan menepuk jidatnya.
Tiba-tiba seorang wanita bohay, dengan dadanya yang gemoy serta pinggul yang bergoyang sana sini masuk dengan gontai ke ruangan CEO. Ella greget melihat tingkah wanita itu yang sengaja di depan Devan.
"Hmp, rubah betina mulai masuk ingin menggoda. Aku harus jaga biawakku agar tidak terhipnotis!" gumam Ella menggertakkan rahangnya. Vino dan Vina garuk-garuk kepala melihat ekspresi kesal Ibunya. Keduanya pun menoleh ke wanita itu. Umurnya nampak muda seusia dengan Elisa.
"Permisi Presdir, perkenalkan nama saya Silvi Dertha. Saya karyawan yang direkrut untuk menggantikan sementara posisi sekretaris Hansel. Mohon bimbingan dari Presdir, jika saya melakukan salah mohon ditegur segera mungkin." Kata wanita itu sangat sopan, ia memberikan biodata miliknya.
__ADS_1
Devan melirik sebentar Ella, akalnya kini ingin membuat Ella cemburu. Apalagi sekretarisnya nampak cantik selevel dengan Ella yang menggemaskan.
"Hm, bagus juga. Kamu sepertinya lumayan-"
"Aduh!" ringis Ella tiba-tiba menjerit.
"Sayang! Kamu kenapa?" kaget Devan tak main-main, ia segera mendekati Ella yang menyentuh perutnya.
"Sayang ada apa denganmu?" sekali lagi Devan bertanya. Ella berdiri kemudian sengaja jatuh ke pelukan Devan, ingin memamerkan kemesraannya di depan wanita itu.
"Aduh honey, perut.... perut aku sakit." Ella meraih tangan Devan kemudian meletakkan di perutnya yang buncit lalu mengelusnya pelan-pelan.
"Aduh... aduh... aduh... honey, sepertinya perut aku mules deh. Kamu temani aku ke toilet, ku mohon." Ella memohon dengan wajah imutnya. Devan makin panik melihatnya meringis. Tidak seperti Ella yang diam-diam tersenyum miring melihat Devan sudah terhipnotis dengan ektingnya yang kesakitan bagaikan mau lahiran.
"Kemarilah, aku akan bawa kamu ke toilet. Kamu pelan-pelan jalan sayang, jangan sampai sakitnya ngaruh sama bayi kita," Devan pun membantu Ella menuju ke toilet.
"Oh dan kamu, tolong jaga anak-anakku," lanjut Devan bicara pada Silvi dan menunjuk ke baby twins.
"Baik Presdir." Silvi mengerti.
__ADS_1
Kini di ruangan itu cuma mereka bertiga, Silvi agak canggung duduk bersama Vino dan Vina.
"Hm, anak-anak Presdir Devan semuanya lucu-lucu. Tidak sangka diusianya yang muda sudah menikah dan memiliki anak kembar."
Silvi bergumam dalam hati dan melempar senyuman ke Vino dan Vina. Tapi Vino cuma menatapnya datar tidak seperti Vina yang balas tersenyum. Tiba-tiba Vina mendekati Silvi kemudian memberikan buku bergambarnya. Silvi sangat senang dihampiri oleh Vina.
"Hei manis, untuk apa buku ini?" tanya Silvi tersenyum. Namun senyumnya hilang setelah Vina bicara.
"Nana mawu acha nyini, Nyenyek."
Gedubrak!
Sontak kedua baby twins kaget melihat Silvi tergeletak di lantai. Silvi sangat shock dipanggil Nenek diumurnya yang ke 24 tahun oleh bocah cilik imut menggemaskan.
Cklek!
Pintu toilet terbuka, Devan dan Ella diam terkejut melihat Silvi tak sadarkan diri. Padahal baru saja beberapa menit masuk ke toilet, sekarang keduanya melihat sekretaris baru itu sudah tidur di lantai. Sungguh kesan buruk di hari pertamanya. Devan cuma bisa menepuk jidat, usahanya untuk membuat Ella cemburu hari ini malah gagal total.
"Hihihi nyenyek...." Vina tertawa geli melihat Silvi belum sadar. Sangat mudah baginya untuk memberi pelajaran kepada wanita yang ingin dekat dengan ayahnya. Sekali meledek, langsung terkapar.
__ADS_1
Hihihi...