
Seminggu telah berlalu dan sekarang Ella nampak sibuk di ruang dapur. Tak lupa ia melihat jam dinding sudah pukul 08.30 pagi. Mansion Raka terlihat sepi, apalagi di rumah itu hanya Ibu dan Ayah mertuanya yang lagi mengajak bicara baby twins di ruang tamu sambil menonton TV.
"Ini sudah seminggu berlalu, entah bagaimana kabar Kak Elisa. Aline juga akhir-akhir ini tak menghubungiku, apa semuanya baik-baik saja di rumah Mama?"
Ella diam memikirkan mereka sambil mencuci dua botol milik anaknya sendiri. Namun saat ingin berbalik, ia malah dikagetkan lagi oleh Devan.
"Good morning, my hany!"
Ella memutar bola mata jengah melihat Devan tersenyum manis padanya.
"Loh kok kamu gitu sih sambut suamimu yang ganteng ini?" manyun Devan melihat respon Ella yang datar.
"Kamu sih, ngeselin! Tapi-"
"Tapi kenapa?" tanya Devan mengambil apel di atas meja lalu menggigitnya sambil melihat Ella berhenti bicara.
"Tapi kamu kenapa bisa ada di sini? Bukannya tadi pergi ke kantor?"
"Oh itu," ucap Devan mendekatinya dan semakin mendekati wajahnya.
"Kamu lupa berikan satu hal padaku, hany." Devan melihatnya serius, menatap bergantian dua bola .mata cantik Istrinya.
"Ha? Apa itu?" ucap Ella menggaruk kepalanya dan mulai merona. Devan semakin dekat lalu menunjuk bibirnya.
"Di sini loh, sayang. Hari ini adalah hari pertama masuk kerja, masa suamimu yang ganteng dan keren ini tidak dikasih kecupan manis."
Devan mulai menggodanya. Ella tersenyum lalu dengan gemas mencubit kedua pipi Devan.
"Tadi ... kamu sampai di mana?" tanya Ella belum menuruti kemauan Devan.
"Ah itu tadi sampai di pertamina," Ella kaget mendengar jawaban Devan.
"Apa, pertamina? Sudah sejauh itu kau pergi tapi kembali ke sini hanya karena ingin dikecup?" ucap Ella memastikan. Benar-benar bukan sebuah lelucon ataupun omong kosong.
"Iya dong, aku iri lihat mereka," keluh Devan mulai curhat sambil berdiri dan bersandar di dekat Ella yang kini mencuci tangannya sudah selesai membersihkan botol susu anaknya.
"Iri? Sama siapa?" tanya Ella kini melihatnya.
"Ya sama pasangan yang aku lihat barusan. Mereka romantis banget, suaminya dikecup sini sama Istrinya," Devan menunjuk pipi kanannya.
"Masa aku seorang Presdir tidak dikecup sama Istri tercinta." Lagi-lagi mulai curhat.
__ADS_1
"Pfft, ahaha ... ya sudah, sini aku cium pipi kamu." Tapi Devan menghindar saat Ella ingin menciumnya.
"Eh, kenapa?" Ella bingung melihat Devan.
"Aku tidak mau di pipi, maunya di-" ucap Devan menyentuh dagu Ella. Wanita ini mulai deg-degan melihat Devan ingin menciumnya di tempat terbuka ini.
"Tung-tunggu, honey. Bagaimana kalau ada pelayan masuk atau Mami." Ella mencoba untuk menahannya.
"Sssht," desis Devan menyentuh bibir Ella.
"Diamlah, tidak ada yang akan mengganggu kita." Lanjutnya semakin dekat.
"Ho-honey, aku mau keluar. Ma-mau berikan ini dulu pada Vino dan Vina." Ella terbata-bata dan mulai menelan ludah melihat Devan benar-benar ingin menciumnya.
"Stop! Kamu pergi kerja gih!" pekik Ella mendorong Devan dan buru-buru ingin keluar. Jantungnya seakan berdetak tak menentu. Padahal kemarin-kemarin ia tidak segugup ini. Devan tertawa kecil tapi keinginannya belum tercapai hingga kembali menahan Ella dan segera memojokkannya ke tembok.
"Ah! Kamu mau apa?" desah Ella mulai merinding.
"Hooo, sayang. Apa kau malu dicium olehku? Aku ini suamimu loh, jangan jual mahal begini padaku," rayu Devan mengelus pipi Ella. Ella menunduk, wajahnya semerah kepiting rebus. Dirinya juga ingin, tapi entah kenapa ia gugup kali ini.
Devan semakin menahan tawa, tanpa aba-aba dan persetujuan Ella, bibir lembut nan merah muda itu langsung dicium olehnya, bahkan sedikit **********. Sedikit ******* langsung keluar dari mulut Ella.
"Ekhm, sepertinya aku salah masuk ruangan," ucap Zeli mendehem. Bersikap biasa-biasa saja sambil membuka lemari es lalu mengambil sebuah kotak es krim.
"Ze-zeli, kamu tidak pergi ke sekolah?" tanya Ella gelagapan.
"Hm tidak, masih waktu libur. Maaf kakak ipar, kalau aku sudah mengganggu kalian. Kalian lanjutkan saja." Zeli tersenyum lalu pergi begitu saja. Ella mendesis kesal melihat respon Zeli, tapi kekesalan Ella tertuju pada Devan bukan ke Zeli.
"Baiklah sayang, aku pergi ke kantor ya,"
Cup!
Lagi-lagi Devan membuat mata Ella melebar telah dicium kembali. Devan tertawa kecil melihat Istrinya menunduk sambil memukul manja lengannya.
"Dasar, tidak tahu malu!" desis Ella manyun.
"Pfft, tidak apa-apa dong selagi tidak membuang aib keluarga." Kata Devan mengacak-acak rambut Ella lalu pamit pergi ke kantornya. Ella hanya tersenyum sambil menyentuh bibirnya.
"Ya juga sih, hihihi." Ella tertawa dan tersipu.
Beberapa jam kemudian. Keluarga Tn. Raka sudah selesai makan siang. Di ruang dapur tinggal Ella sendirian saja, ia terlihat sibuk menyiapkan bekal untuk Devan di kantornya. Apalagi tinggal satu jam lagi waktu untuk makan siang. Ella buru-buru merapikannya, namun tiba-tiba suara tak asing mengagetkannya.
__ADS_1
"Siang Ella, kau lagi apa?" tanya Elisa kini berdiri di dekatnya.
"Eh, kau? Kenapa ada di sini?" Ella bertanya balik.
"Oh itu, kebetulan hari ini aku bosan di rumah. Jadinya ke sini jenguk si kembar. Tapi melihatmu sibuk, jadi aku ke sini deh," jawab Elisa melihat bekal di atas meja yang belum selesai.
"Oh ya, itu buat siapa?" lanjut Elisa bertanya.
"Untuk Ayahnya Vino, siang ini aku mau bawa bekal ini untuknya, sekalian bawa si kembar," jelas Ella menjawabnya.
"Wow, kalau begitu aku boleh ikut dong. Sekalian juga aku bisa jagaian Devino dan Devina." Kata Elisa menawarkan diri.
"Boleh," setuju Ella sambil tersenyum. Elisa dengan senang hati pun membantunya. Setelah itu, kedua wanita ini sekarang telah sampai di depan perusahaan. Keduanya bersama baby twins masuk. Tapi kedua mata Ella tertuju pada sebuah rantang yang dibawa oleh Elisa.
"Kak, tunggu," Ella menahan Elisa yang menggendong Vina. Sementara dirinya menggendong Vino.
"Hm, kenapa El?" tanya Elisa berhenti.
"Itu buat siapa, Kak?" Tunjuk Ella pada rantang itu. Elisa terperanjak kaget merasa Ella kini sadar dengan bekal yang tadi dia siapkan juga.
"Ahahaha, itu-itu," cengir Elisa jadi malu untuk mengatakannya.
"Itu buat siapa?" tanya Ella menyipitkan mata mulai curiga.
"Ah itu buat Pak satpam, kamu masuk gih ke dalam. Aku pergi bawa ke Pak Satpam." Elisa menurunkan Vina lalu dengan cepat pergi ke pos Satpam. Ella melihat Elisa memberikan pada Satpam penjaga. Ella pun tersenyum kecil lalu menuntun dua anaknya masuk ke dalam kantor.
"Wah, Non Elisa. Ini buat kami?" tanya Pak Satpam menunjuk bakal besar di tangan temannya. Elisa melirik Ella yang sudah tak terlihat lalu buru-buru merebutnya rantangnya lagi.
"Maaf, Pak. Ini bukan buat kalian. Sekali lagi maaf Pak!" kata Elisa segera pergi meninggalkan mereka.
"Lah? Terus buat siapa Non?" teriaknya pada Elisa.
"Ya ada deh, Pak!" teriak Elisa kian berlalu masuk ke dalam kantor. Dua Pak Satpam hanya garuk-garuk kepala melihat Elisa senyum-senyum sendiri disetiap langkahnya tadi.
"Tumben Non Elisa terlihat bahagia hari ini?"
"Santai aja, mungkin Non Elisa lagi jatuh cinta."
"Ha, jatuh cinta?" kaget temannya.
"Ya begitulah, cinta itu bagaikan sihir. Dikala dirimu sedih dan mendapatimu, maka disaat itulah kau akan merasakan perubahan. Seperti Nona Elisa, kemarin dia terlihat tidak bersemangat, tetapi sekarang dia terlihat berbunga-bunga dan itu pasti karena sedang jatuh CINTA." Ungkap Pak Satpam dengan percaya diri. Keduanya pun tertawa bersama-sama.
__ADS_1