
"Ada apa ini, Bu?"
"Kenapa malah menampar kakakku?"
Ella segera berdiri di antara Elisa dan Bu Naina. Tamparan ini hanya membuat Elisa diam. Sudah dipastikan kalau Bu Naina akan marah padanya.
Dengan desir kemarahan, Bu Naina melewati Ella dan langsung meraih rambut menantunya, kemudian mencengkramnya kuat hingga Elisa menjerit kesakitan. Naomi dan Ella kembali terkejut dengan tindakan Bu Naina.
"Auh... sakit Bu! Maafkan aku... Ibu jangan marah dulu," ringis Elisa tidak melawan. Dia tidak mau memberi kesan buruk di depan adik iparnya jika melawan Bu Naina.
"Maaf? Hanya maaf saja putraku akan selamat di dalam sana! Sudah aku duga, pernikahan ini pasti akan membuat keluargaku satu demi satu mati gara-gara kehadiranmu! Kamu cuma pembawa sial pada keluargaku!"
"Aah, Ibu sakit!" rintih Elisa. Tangan Bu Naina segera ditepis oleh Ella. Mendengar ucapan Bu Naina, seperti menganggap Elisa sebagai kutukan.
Ella mengapal tangan kesal dan kemudian membela Elisa. "Bu Naina, anda jangan berkata seperti itu padanya, dia sekarang adalah menantu anda, bisakah anda bersikap lembut pada kakakku," ucapan Ella malah diabaikan. Bu Naina mencengkram lengan Elisa dengan kuat hingga gaun bagian lengannya sobek.
"Bersikap lembut pada wanita yang membuat putraku sekarang berada di ambang kematian! Jika putraku meninggal, aku akan memenjarakanmu!"
Deg!
Naomi dan Ella sedikit terperanjak, sedangkan Elisa cuma menutup mata setelah mendengarnya. Ia tahu Bu Naina pasti ingin mencari celah untuk mengusik hubungannya dengan Hansel. Bukan lagi Renita yang berulah, tapi Bu Naina yang bisa saja berbuat sesuka hati padanya.
"Lihatlah Naomi, akibat dia menikahi kakakmu, Hans sekarat di dalam sana! Sekarang kamu pasti senang sudah mencelakai anggota keluargaku." Bu Naina mencaci Elisa lagi. Naomi hanya menunduk saja, dia takut melihat Ibunya murka. Naomi yang masih siswa SMA takut akan ditampar oleh Ibunya.
"Cukup Bu Naina! Hentikan tuduhanmu, kakakku bukanlah pembawa sial, dia juga bukan yang mencelakai Kak Hans!" bela Ella menepis kembali Bu Naina. Ia mulai emosi dengan sikap Bu Naina yang berubah kejam pada Elisa. Elisa cuma bisa menahan dan diam melihat pertengkaran Ella dan Bu Naina. Ia tak bisa meladeni Bu Naina sekarang, ia lebih mencemaskan Hansel.
"Cih, gara-gara melindungi kakakmu ini, putraku tertembak. Harusnya yang tertembak itu adalah dia! Dia lebih baik mati!" ujar Bu Naina ingin menampar Elisa lagi membuat Ella terkejut dengan ucapan yang amat sangat sadis. Bagaikan mengutuk menantunya sendiri.
Plak!
Tamparan tidak berhasil mengenai Elisa, malah Bu Naina ditampar oleh seseorang. Tiga wanita terkejut melihat Ny. Jessy yang sudah selesai melakukan tranfusi darah dan kini berdiri di hadapan Bu Naina.
"Cih, apa-apaan ini! Siapa kamu, beraninya menamparku!" Bu Naina membentak Ny. Jessy yang sudah berani terhadapnya.
"Harusnya aku bertanya siapa anda yang tiba-tiba datang dan marah padanya?" tanya Ny. Jessy dengan angkuh berdiri di dekat Bu Sandra yang dari tadi diam memperhatikan Bu Naina.
__ADS_1
"Hei, aku adalah mertuanya pembawa sial ini. Anda lebih baik pergi dari sini dan jangan ikut campur dengan urusan kami!" bentak Bu Naina kembali dengan emosi yang masih memuncak.
"Siapa diriku tidaklah penting bagimu. Dan jika anda adalah mertuanya, harusnya anda menenangkan menantu anda. Bukan malah memarahinya, dia sedang bersedih, jika anda seperti ini padanya, ini akan mempengaruhi mentalnya!"
Elisa terdiam masih sesugukan, tidak menyangka Ny. Jessy tiba-tiba berada di pihaknya. Ella dan Naomi sama halnya begitu.
"Itu bukan urusan anda dan anda tidak usah menceramahiku. Aku bisa menenangkan menantuku dengan caraku sendiri! Tidak usah menceramahiku!" Bu Naina sontak mendorong Ny. Jessy membuat semua mata tertuju padanya. Untung Bu Sandra segera menahannya. Ella melihat Elisa, ia kuatir dan takut pada kakaknya yang akan tinggal dengan Bu Naina yang jahat.
"Pergilah dari sini!" ujar Bu Naina mengusir Ny. Jessy.
"Bu, tenanglah. Ini rumah sakit, banyak orang yang memperhatikan Ibu," ucap Naomi menenangkan Ibunya. Dengar terpaksa Ny. Jessy pergi dari rumah sakit bersama Bu Sandra dan pengawalnya, tidak mau memancing keributan. Tinggal Elisa dan Ella, serta Naomi yang masih menenangkan Ibunya.
"Bu... kenapa Ibu membenciku?" lirih Elisa ingin tahu.
"Menyingkir dari hadapanku!" dorong Bu Naina melewati Elisa yang hampir terjatuh ke lantai. Ella sudah muak dengan Bu Naina yang berdiri di depan pintu, ingin sekali ia meneriaki Bu Naina tapi Elisa mencoba menahan Ella agar tidak emosi lagi.
"Ma-maafkan Ibuku, Kakak ipar. Dia seperti itu karena dia takut kehilangan Kak Hansel," lirih Naomi kasihan pada Elisa yang menyedihkan. Elisa mengusap mata lalu tersenyum sedikit. Terlihat dipaksakan.
"Tidak apa-apa," ucap Elisa mencoba menahan hatinya yang sakit.
Naomi meraih dua tangan Elisa dan tersenyum manis. Mencoba menghibur wanita di depannya. Elisa lagi-lagi tersenyum mendengarnya dan kemudian memeluk Ella, menangis lagi.
Cklek!
Akhirnya pintu terbuka, Bu Naina mendekati Dokter duluan dan mengabaikan Elisa.
"Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Bu Naina kuatir, karena Hansel adalah alat yang bisa dia manfaatkan, dan Bu Naina tidak mau kehilangannya.
"Operasinya berjalan lancar, tapi Pasien belum sadar. Dia butuh banyak istrirahat, saya harap kalian tidak mengganggu pasien," jawab Dokter tersenyum.
"Jadi suami saya selamat kan, Dok? Jantungnya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Elisa senang mendengarnya. Tapi tidak untuk Bu Naina yang risih.
"Suami anda sudah melewati kritisnya, peluru yang hampir mengenai jantungnya sudah berhasil dikeluarkan. Untung saja ada yang mendonorkan darah sehingga resiko pendarahan dapat di atasi,"
"Sekarang kami pergi dulu untuk mengurus hal lain. Kami harap kalian tidak membuat keributan yang mengganggu pasien,"
__ADS_1
Dokter tersenyum dan kemudian pergi bersama Dokter lainnya. Elisa dan Ella dengan cepat melewati Bu Naina, mereka masuk ke dalam ruang rawat Hansel.
"Donor darah? siapa yang sudah mendonorkan darah untuk Hans, Naomi?" tanya Bu Naina pada putrinya yang berdiri di sampingnya. Naomi melihat Ibunya lalu menjawab dengan suara gelagapan.
"I-itu Bu, wanita yang menampar Ibu tadi,"
"APA? DIA YANG DONOR DARAH?" kaget Bu Naina tiba-tiba panik. Bu Naina tidak jadi masuk melihat Hansel, ia malah pergi meninggalkan Naomi.
"Ibu! Ibu mau kemana!" pekik Naomi, tapi Bu Naina tatap berjalan.
"Hais, apa lagi yang akan dilakukan Ibu?" pikir Naomi kemudian berdiri di luar melihat Hansel, Elisa, dan Ella dari jendela. Naomi tidak mau mengganggu pasutri baru ini.
Naomi sangat bersalah tapi dia juga takut pada Ibunya yang akan bersikap kasar bila jujur soal identitas Hansel dan rencana jahat Ibunya. Naomi tidak mau Ibunya masuk penjara. Naomi kini duduk di luar kemudian diam-diam menangis. Mungkin menyesal lahir di keluarga yang amat serakah.
Dua jam berlalu, Devan belum ada kabar sama sekali membuat Ella yang menatap ponselnya jadi kuatir dengan suaminya ini. Tiba-tiba Elisa berbicara, nampak ia duduk di dekat brankar Hansel.
"Ella, kemarilah... Hans... Hans..."
"Ada apa, Kak?" tanya Ella mendekatinya.
"Tadi tangan Hans menggenggam tanganku, apa mungkin dia akan cepat sadar?" Elisa terlihat senang sembari melihat tangan Hansel yang dia pegang.
"Syukurlah kalau begitu, kak Hans pasti akan cepat sembuh. Kau tetaplah di dekatnya, Kak. Siapa tahu kehadiran Kak Elisa di sampingnya bisa membuatnya cepat sadar,"
"Hm, iya La. Aku senang banget, hiks...." Elisa kembali menangis.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya Kak, Ibu mertuaku menghubungiku, nanti aku kasih tahu Mama sama yang lainnya soal Kak Hansel yang sudah mulai sadar,"
"Baiklah, terima kasih La kamu mau temani aku."
Ella mengangguk kemudian melihat Hansel sebentar. Setelah adiknya keluar dari ruangan, Elisa selalu memandang wajah Hansel. Hanya Elisa yang menemani Hansel, gaun pengantinnya sudah diganti dari tadi.
"Hans, maafkan aku. Ini gara-gara aku yang menyusahkanmu," lirih Elisa menaruh telapak tangan Hans ke pipinya. Tangan Hans yang dingin dan sedikit menenangkannya.
Lama-lama, Elisa mengantuk, ia mencoba untuk melawan rasa ngantuk itu, namun karena terlalu banyak menangis membuat ia akhirnya menyandarkan kepalanya di dekat tangan kanan Hansek. Menatap suaminya sebentar lalu memajamkan mata. Elisa pun tidur juga.
__ADS_1
Naomi yang di luar dari tadi tersenyum melihat kesetiaan Elisa yang menjaga Hansel. Ia pun pergi tidak ingin merusak kebersamaan Hansel dengan Elisa. Perlahan mata Hansel bergerak sedikit, kemudian ia menggenggam tangan Istrinya.