Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
9. Ditolak Langsung


__ADS_3

"Ma-maaf," lirih Elisa menunduk tersipu, begitu pun Hansel.


"Em, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Elisa memecahkan suasana yang sedikit canggung.


Hansel melihat ke arah mobilnya, menunjuk dan berkata, "Kebetulan lewat jalan sini dan melihat-" jawab Hansel berhenti, ragu-ragu untuk berkata jujur.


"Melihat apa?"


"Melihat-" Hansel mendesis dalam hati. "Apa aku harus katakan aku mengikutinya dari tadi?" batin Hansel diam saja.


"Sekretaris Hans, anda baik-baik saja?" tanya Elisa menatapnya curiga.


"Ahaha, melihat-melihat pencopet yang barusan." Hansel cengengesan dan mulai berkeringat dingin.


"Benarkah? Kau tidak mengikutiku kan dari tadi?" tebak Elisa membuat Hansel sedikit terperanjat.


"Mana mungkin, Nona. Saya kebetulan hanya lewat saja." Lagi-lagi Hansel malu untuk berkata jujur.


"Baiklah, terima kasih bantuannya. Untung kau dapat merebut tasku kembali," ucap Elisa tersenyum dan ingin pergi.


"Tunggu, Non Elisa," tahan Hansel meraih tali tas Elisa.


"Ya, kenapa?" tanya Elisa berbalik.


"Ini sudah malam, bahaya bila Nona berjalan sendirian. Bagaimana jila saya mengantar Nona?" tawar Hansel sedikit ragu-ragu.


"Kau baik sekali, tapi tidak perlu. Aku bisa naik taksi, permisi." Dengan angkuhnya, Elisa menolak lalu pergi meninggalkan Hansel. Wajah Hansel seketika murung karena tawarannya ditolak langsung. Benar, Elisa kini pergi dengan taksi.

__ADS_1


"Huft ... dia masih belum berubah."


Hansel menghembuskan nafas. Langkah kakinya kini pergi ke arah mobilnya. Setelah duduk di kursi pengemudi, Hansel membuka dompetnya. Melihat sebuah foto keluarganya yang berjumlah empat orang lalu merenungkan perkataan Ibunya.


"Hans, kau sudah 27 tahun. Kapan kau akan menikah dan pulang membawa calon menantu untuk Ibu. Kau putra sulung dari keluarga Carlous. Ibu selalu menyayangimu."


Hansel menutup mata sejenak, ingat perkataan Ibunya yang mendesaknya untuk segera menikah.


"Menikah? Bagaimana aku bisa menikah jika belum ada calon? Hais, lebih baik aku pikirkan ini dilain waktu."


Mobil Hansel melaju meninggalkan minimarket.


____


Sesampainya di rumah, Elisa memberi tip pada supir taksi. Ia segera masuk dan tak henti-hentinya tersenyum. Namun, baru juga ingin membuka pintu, Elisa menepuk jidatnya.


"Hais, aku lupa mengembalikan sapu tangannya. Padahal tadi kebetulan bertemu dengannya."


"Lebih baik aku simpan dulu."


Elisa menaiki tangga dan tak sengaja bertemu Aline. Namun tak ada obrolan sedikit pun. Keduanya hanya berpapasan, tapi Aline berhenti. Ia menoleh ke belakang melihat Elisa senyum-senyum sendiri masuk ke dalam kamar.


"Hm, apa yang terjadi padanya? Tumben malam ini dia terlihat berbeda," gumam Aline segera masuk ke dalam kamarnya juga. Aline duduk di kursi riasnya lalu menghubungi seseorang.


"Halo Kak," ucap Aline ingin melaporkan sesuatu pada Ella.


"Ya kenapa, Lin?" tanya Ella yang lagi mengurus baby twinsnya di dalam kamarnya sambil menunggu Devan yang lagi mengobrol dengan mertuanya.

__ADS_1


"Ini Kak, soal Kak Elisa,"


Ella terperanjak dan segera duduk di dekat baby Vino dan Vina yang lagi menyedot botol susu.


"Kenapa dengannya?" tanya Ella mulai penasaran.


"Aku juga tidak tahu mau berkata apa, tapi tadi kebetulan berpapasan dengannya dan aku lihat dia aneh malam ini," tutur Aline menjelaskan.


"Aneh?" Ella mulai tersenyum merasa ini sedikit asik mendengar laporan adiknya. Aline bagaikan mata-mata untuknya.


"Ya, dia tiba-tiba tersenyum. Padahal Kak Elisa tak pernah begini."


"Hm, mungkin hari ini dia habis mendapatkan barang bagus, Lin."


Ella mencoba berpikir positif, mengira Elisa habis berbelanja dari mall dan mendapatkan barang baru serta bagus.


"Tidak Kak, ini sangat aneh. Dia tidak berhenti tersenyum, dia seperti memikirkan sesuatu,"


"Ya sudah, kau awasi dia. Jika ada sesuatu yang aneh lagi, kau beri tahu padaku,"


"Baiklah, Kak." Kata Aline menutup panggilannya. Ella kini berdiri lalu mondar-mandir menebak sikap Elisa.


"Apa dia hari ini baru kencang dengan seorang pria?"


"Ah, atau dia habis ditembak oleh pria?"


"Atau jangan-jangan,"

__ADS_1


"Jangan-jangan apa, sayang?" tanya Devan langsung mengangkat Ella. Ella terperanjak dikagetkan oleh Devan.


"Iiih, honey!" kesal Ella hampir ingin teriak.


__ADS_2