Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
25. Saingan Cinta


__ADS_3

Ella sekarang sudah tahu kenapa Devan tak menyukai satu nama ini. Georgest Jastin adalah kekasih pertama sekaligus mantan pertama Elisa saat mereka bertiga satu sekolah dulu. Tapi saat itu, hubungan Jastin dan Elisa renggang akibat Jastin harus pindah sekolah atas anjuran kedua orang tuanya. Padahal sejak saat itu adalah awal jantung Elisa bermasalah. Karena shock hingga ia pingsan dan tak sadarkan diri. Tapi dengan terpaksa Jastin memutuskan Elisa dan pergi meninggalkannya.


"Jadi, kamu bukan cinta pertamanya?" tanya Ella yang kini berdiri di dekat Devan yang sekarang duduk di kursi istimewanya. Keduanya sudah sampai di perusahaan tanpa membawa baby twins karena takut dua bocah kecilnya akan rewel bila ikut ke acara pameran nanti.


"Ya begitulah, aku bukan kekasih dan cinta pertamanya. Tapi itu tidak masalah, cinta pertama belum pasti akan dinikahi. Seperti aku sekarang yang menikah denganmu, sayang. Kau cintaku sekarang dan terakhirku." Jelas Devan menggombalinya.


Ella menunduk dan tersipu.


"Mulai lagi gombalnya!" tepuk Ella pada lengan Devan dengan pelan.


"Pfft, cinta pertamamu pasti aku kan?" Sekali lagi Devan merayunya dan langsung menarik Ella jatuh ke dekapannya.



"Iih, bikin jantungan!" ketus Ella memukul dada bidang suaminya.


"Ayo jawab, siapa yang kau cintai dulu?" desak Devan ingin tahu.


"Hm, siapa ya?" ucap Ella mulai berpikir.


Kening Devan mengerut, ia sedikit kesal pada Ella yang tak mau berterus terang padanya.


"Apa itu Rafa?" Ella terkejut ditebak oleh Devan. Dengan cepat Ella menggelengkan kepala.


"Bukan, yang aku cintai pertama itu tentu Suamiku ini dong," gemas Ella mencium lembut pipi Devan. Seketika pipinya merona mendengar penuturan Ella.


"Benarkah itu?" Devan bertanya lagi.


Ella menganggukkan kepalanya. "Ya honey, sekarang tidak usah bahas lagi. Waktu acara pemerannya kapan dimulai?" ucap Ella bertanya balik mengalihkan pembicaraan.


Devan melihat jam tangannya. "Sudah dekat, tapi kita tak perlu buru-buru ke sana. Kita santai saja, sayang," kata Devan menjawabnya dan mengelus kulit rahang Ella dengan lembut.


"Oh ya, kalau ciuman pertamamu berikan pada siapa?" tanya Devan membuat Ella diam sebentar. Ia agak aneh mendengarnya. Tapi ini juga kesempatan untuknya bertanya balik.



Namun rasanya juga ia tak berani. Ella menelan ludah lalu dengan manja menyentuh bibir Devan.


"Tentu waktu itu kau yang rebut sendiri ciuman manisku, honey," jawab Ella tersenyum. Devan menyipitkan mata agak curiga dan tak percaya.


"Benarkah? Kau serius tak ada cowok lain dulu kau berikan?"


Ella mengangkat dua jarinya membentuk huruf (V) dan serius menjawab kecurigaan Devan.


"Demi apa pun, tak ada cowok lain. Cuma kamu yang ambil waktu itu, lagian siapa juga yang mau sama aku yang dekil dan lugu ini." Ella menunduk lesu. Ia sedih dirinya dulu dibully oleh teman-temannya karena dianggap anak tiri di luar nikah alias anak haram. Padahal itu tidaklah benar dan hanya berita palsu.


"Kau kenapa sayang?" tanya Devan terkejut Ella tiba-tiba menangis di dekapannya.


"Apa tadi aku salah bicara?" pikir Devan mulai bersalah.

__ADS_1


"Sayang kau kenapa menangis?" Devan semakin cemas.


Dengan isakannya, Ella pun menjawab.


"Aku jadi ingat sama mereka yang suka menghinaku sebagai anak haram dan anak tiri dari wanita penggoda. Jujur, saat itu aku tidak tahu apa masalah mereka menghinaku seperti itu," jelas Ella mengungkapkan sedikit kesedihannya.


Mendengar curhatan Ella membuat Devan langsung geram. Devan berdiri dan memukul meja.


Brak!


"Siapa mereka? Siapa yang dulu menghinamu seperti itu?" geram Devan menatap Ella yang menunduk sekarang. Sedikit takut melihat emosi Devan tiba-tiba meluap. Tentu saja Devan tak terima Ella dihina begitu saja, apalagi itu pasti membekas di dalam hati Ella.


Ella mengusap matanya dan sedikit tersenyum.


"Sudah, itu sudah lama dan cuma masa laluku. Kau tidak perlu marah, honey. Sekarang mungkin ini jadwal pameran dimulai. Kita ke sana saja sekarang." Ella memohon dan tak mau membahasnya lagi.


Devan menghembuskan nafas berat dan memeluknya.


"Baiklah, tapi sekarang kalau ada yang berani padamu kasih tahu aku saja. Aku akan menyingkirkannya untukmu."


Deg!


Ella terperanjak kaget. Dengan cepat melepaskan pelukan Devan.


"Tidak usah berlebihan, honey. Sekarang kita keluar, mereka tak lagi menggangguku." Tarik Ella tak mau Devan bertindak berlebihan. Devan tentu tak mau tinggal diam, ia perlahan merogoh saku celananya dan mulai menghubungi anak buahnya mencari tahu siapa saja yang dulu mengolok-ngolok Ella.


"Lakukan tugasmu dengan baik, buat mereka menderita atas tindakan mereka pada Istriku!" bisik Devan pada panggilannya.


"Sekretaris Hans?" ucap Devan dan Ella bersamaan.


"Maaf Presdir, ini berkas-berkas yang sudah aku cek dan teliti dengan baik-baik," kata Hansel memberikannya. Tak ada ekpresi yang dikeluarkan Hansel untuk pasutri ini. Wajahnya begitu datar tak bersemangat sekarang.


"Kalau begitu, saya pergi dulu. Permisi Presdir." Hansel menunduk sedikit, ia pergi meninggalkan Devan dan Ella yang terheran-heran.


"Apa yang terjadi padanya?" gumam Ella menyentuh dagunya.


"Hais, padahal aku mau kasih selamat atas hubungan mereka."


Ella semakin lesu, pasti ia merasa hubungan Hansel dengan Elisa belum pasti.


"Sayang, kau jangan terlalu fokus pada satu hal. Nanti suamimu ini dilupakan lagi," keluh Devan yang berdiri dari tadi di samping Ella.


"Hehe, ya sudah kita pergi sekarang. Aku tak akan memikirkannya lagi." Ella merangkul lengan Devan. Puncak kepalanya dicium oleh Devan dan kini tujuan mereka untuk ke tempat pameran diadakan dan sekaligus akan makan siang di luar.


Tidak seperti Hansel yang lesu dan gelisah di ruangannya. Ia duduk menatap dengan tatapan kosong ke rantang yang dibawa oleh Elisa kemarin.


"Ternyata dia berbohong padaku kemarin, rantang ini punya dia bukan punya Ibu. Apa dia sengaja untuk mendekatiku? Jika begitu, apa Nona Elisa akan datang membawakan ku rantang bekal siang kali ini?"


Hansel tidak dapat berhenti memikirkan Elisa. Ia berdiri dari kursi dan berjalan ke arah lemari. Namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Hansel senang mendengar langkah sepatu memasuki ruangannya. Dengan senyum mereka ia perlahan berbalik mengira Elisa yang datang. Tapi senyumnya pudar karena dugaannya salah. Yang masuk adalah Renita.

__ADS_1


"Siang Hans," sapa Renita tersenyum dan melirik sebentar rantang yang kemarin dilihatnya di atas meja di rumah Hansel.


"Siang juga, ada apa kamu ke ruangan saya?" tanya Hansel berbicara datar.


"Ya biasa, mau ngobrol saja. Sekalian kamu sudah makan siang?" Renita bertanya balik.


"Belum, memangnya kenapa?" tanya Hansel datar. Renita sedikit cemberut melihat Hansel lelaki yang kaku dan tidak peka dengan tujuannya ke sini.


"Ya kalau begitu, karena aku juga belum makan siang kita makan siang bersama saja. Gimana, kamu mau?" ajak Renita mendekatinya.


"Kamu pergi duluan," tolak Hansel duduk kembali ke kursinya dan membuka dokumen di depannya.


Renita mendengus kesal diabaikan. "Ayolah, Hans. Sekali-kali temani aku, lagian Pak Presdir lagi pergi ke luar dan sibuk dengan Istrinya. Temani aku dong." Rengek Renita manja tak mau putus asa.


Karena merasa terganggu dengan rengekan Renita, Hansel dengan terpaksa menerimanya.


"Baiklah, karena saya juga belum makan jadi kita pergi makan." Hansel berdiri dari kursi mulai berjalan ke arah pintu. Renita menghentakkan kakinya melihat sikap Hansel yang sedikit menyebalkan.


"Hans," tepuk Renita pada langan Hansel.


"Kamu tidak usah formal gini. Kita bicara biasa-biasa saja." Renita tersenyum. Hansel hanya meliriknya saja dan kembali memasang muka datar.


"Cih, dia kenapa sih!" desis Renita segera mengejar Hansel yang kembali mengabaikannya.


Tak lama mereka pergi, seorang wanita masuk ke dalam ruangan Hansel. Elisa kaget melihat rantangnya kemarin ada di ruangan Hansel. Ia masuk dengan membawa rantang lain. Kedatangan Elisa untuk membawa makan siang pada Hansel lagi. Tapi nyatanya Elisa datang terlambat.


"Ini kenapa bisa ada di sini? Apa jangan-jangan Hans tahu kemarin aku sudah bohong jadi dia bawa rantangku?"


Pikiran Elisa mulai bertanya-tanya. Ia kembali cemas dan takut pada Hansel yang akan salah paham nantinya.


Elisa pun keluar dari ruangan Hansel untuk mencari kekasihnya.


"Auu!" jerit Elisa disenggol karyawan lain saat berbelok ke jalan lain.


"Maaf Nona Elisa, saya tidak sengaja," kata karyawan wanita yang tak melihat Elisa tadi.


"Tidak apa-apa," ucap Elisa tersenyum ramah. Karyawan itu mengernyit heran karena Elisa tak memarahinya.


"Oh ya, apa kamu lihat Sekretaris Hans?" lanjut Elisa bertanya.


"Sekretarus Hans barusan keluar, mungkin tak jauh dari perusahaan. Nona Elisa ada perlu apa?" tanya Karyawan itu. Elisa kembali tersenyum.


"Tidak ada apa-apa, terima kasih mbak!" Elisa pergi meninggalkannya untuk mencari Hansel di luar perusahaan dan masih memegang rantang miliknya.


Begitu terkejutnya saat Elisa mencarinya, kedua mata Elisa berhasil menemukan Hansel jalan dengan Renita di pinggir jalan. Elisa bersembunyi saat keduanya berhenti di depan sebuah toko riasan. Jarak mereka sangat dekat.


"Hans, lihatlah. Kau sangat cocok pakai topi ini. Style ini membuatmu keren!" puji Renita memberikan topi sekaligus memasangkannya ke kepala Hansel lalu memberinya jempol.


"Renita, kita pergi mau makan bukan memilih hal seperti ini. Sekarang jangan bertingkah aneh di sampingku." Hansel kembali berjalan.

__ADS_1


Renita gemas dan langsung menahan tangan Hansel. Elisa ikut geram dan marah pada Renita yang berani menyentuh tangan kekasihnya. Tapi begitu terkejut saat Renita bicara, bahkan rantang Elisa jatuh dan tumpah berhamburan.


"Hans, aku menyukaimu!" ungkap Renita membuat Hansel langsung berbalik melihatnya. Kaget tiba-tiba wanita ini mengungkapkan perasaannya.


__ADS_2