
Sangat disayangkan, Bu Naina yang di rumahnya malah mengamuk. Padahal hari penikahan Hansel akan diadakan besok, tapi Bu Naina masih saja bersikeras tak mau itu terjadi.
"Sial, kemana Renita? Kenapa wanita ini tak pernah muncul akhir-akhir ini?"
Bu Naina tak bisa berhenti memikirkan Renita, ia amat berharap Renita bisa datang untuk membuat rusuh di pernikahan Hansel besok tapi sama sekali tak ada kabar darinya. Bu Naina sangat depresi, ia tidak mau Elisa jadi menantunya.
"Aaargh, menyebalkan! Dia akan menyusahkan kita!" racau Bu Naina memecahkan vas bunga kaca lagi. Hingga pecahan kaca berhamburan di mana-mana.
Pak Carlous pulang dari kantornya, untung saja Naomi menghubungi ayahnya agar pulang untuk menenangkan Bu Naina dan sekarang Pak Carlous menenangkan istrinya di dalam kamar.
"Bu, cukup! Sampai kapan kamu berhenti pecahkan vas bunga di rumah kita! Kamu mau rumah kita kosong tanpa apa-apa, ha!" bentak Pak Carlous menepuk bahu istrinya. Tapi Bu Naina menepisnya dengan kasar, kemudian melotot ke arah suaminya.
"Pak, hentikan pernikahan ini. Wanita yang akan jadi menantu kita itu bodoh, pemboros, dia gak bakal becus menjadi istrinya Hans. Ibu tidak setuju, Pak!"
"Hentikan ocehanmu, Bu! Nona Elisa wanita yang baik-baik, dia tidak seperti yang Ibu pikirkan. Nona Elisa bahkan mendirikan butik, dia tidak bodoh Bu. Dia pekerja keras, bukan pemboros, dia sangat mencintai Hans dan itu artinya dia pasti mampu menjadi istri yang terbaik untuk Hans. Ibu introveksi diri, Ibu jangan tuduh yang aneh-aneh terhadap Nona Elisa," bela Pak Carlous tetap ingin menjadikan Elisa menantunya.
Praaaang!
Sekali lagi vas bunga dipecahkan membuat Pak Carlous dan Naomi diluar sangat terkejut.
"Tetap saja Ibu tidak setuju, Pak! Dia itu cuma anak angkat, bukan anak kandung yang akan mewariskan harta kekayaan Tuan Vian. Kalau begini, percuma dia jadi menantu kita," murka Bu Naina ingin melempar vas bunga lagi.
"STOP, NAINA!" ujar Pak Carlous merebut vas bunga itu.
"Argh, kenapa kamu malah setuju, ha! Apa kamu bodoh!" sekali lagi Bu Naina meracau.
Pak Carlous menghela nafas berat dan langsung menepuk dua pipi istrinya, menatap serius dua mata Bu Naina. Tak ada suara lagi, seketika kamar itu hening. Naomi di luar yang cemas langsung menempelkan telinganya ke pintu, sontak dua matanya melebar mendengar pembicaraan dua orang tuanya.
"Tenang Bu, justru pernikahan ini sangat bagus,"
"Bagus? Apa bagusnya?" tanya Bu Naina.
"Dengarkan aku Bu, Tuan Vian tidak punya keturunan dan artinya itu cuma Nona Elisa yang akan jadi pewaris harta kekayaannya. Setelah kita menikahkan Hansel dengannya, kita bisa memanfaatkan Elisa, kita bisa menyuruh dia meminta Tuan Vian memberikan hak pewaris kepadanya. Setelah Elisa jadi pewaris, kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut hak warisnya," jelas Pak Carlous yang sama liciknya dengan Bu Naina. Hanya ingin jadikan Elisa sebagai umpan semata.
Naomi yang mendengarnya amat terkejut, sangat tidak sangka Elisa hanya sebagai alat perebutan kekuasaan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, setan apa yang sudah merasuki Ayahku dan Ibuku?"
Naomi ingin pergi, namun berhenti setelah mendengar kebenaran soal kakaknya dari ucapan Pak Carlous.
"Tapi Ibu tidak mau Nona Elisa jadi menantuku," ucap Bu Naina masih saja membenci Elisa.
"Tenang Bu, setelah hak waris keluarga Michela jatuh ke tangan kita. Kita cuma mencari cara agar Hansel bisa menceraikan Elisa, kita perlu memanfaatkan Hansel, anak angkat kita itu!" jelas Pak Carlous tidak sadar di rumahnya ada putrinya. Bu Naina tersenyum licik, benar apa kata suaminya.
"Setelah itu, aku akan jadikan Renita menantuku."
Naomi amat-amat terkejut, ia mundur sembari geleng-geleng kepala.
"Kak-kak Hans, jadi cuma anak angkat?"
Naomi berbalik segera lari keluar, namun tidak sadar langsung menabrak Hansel yang baru pulang. Naomi berdiri gemeteran, ia menahan tangisnya. Kakak tersayangnya selama ini tidak punya hubungan darah dengannya.
"Loh Naomi, ada apa denganmu?" kaget Hansel melihat Naomi terisak-isak. Sontak Naomi memeluk erat kakaknya dan kemudian menangis di dekapannya, Hansel kaget tidak tahu apa yang sudah terjadi pada adiknya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan padanya? Jika aku beritahu, Kak Hansel pasti sangat sedih. Besok hari pernikahan, hari bahagia untuknya. Ke-kenapa Ibu dan Ayah jahat pada Kak Hansel?" batin Naomi masih menangis.
Naomi takut akan menghancurkan suasana hati Hansel. Terpaksa dia ikut merahasiakannya. Ia sangat bimbang hari ini.
"Aku senang Kak Hansel pulang siang ini," ucap Naomi menjawabnya. Sangat sakit hatinya melihat tampang Hansel yang tidak tahu apa-apa soal identitasnya.
"Pfft, kamu ini bikin khwatir saja. Sekarang aku buru-buru ingin mengambil sesuatu, apa kau bisa mengambil laptop untukku di kamar? Aku tidak bisa masuk sekarang, aku harus menghubungi seseorang dulu," ucap Hansel berdiri di depan pintu sembari menatap ponselnya.
"Baik Kak Hans," kata Naomi paham, kemudian bergegas masuk untuk mengambil laptop Hansel. Tak ada suara dari dalam kamar orang tuanya. Namun tangan Naomi mengepal, ia mulai membenci akal buruk orang tuanya yang hanya ingin jadikan Hansel sebagai alat saja.
"Aku akan melindungi Kak Hansel dari niat jahat Ibu dan Ayah," gumam Naomi masuk ke dalam kamar Hansel. Sedangkan Hansel sedang menghubungi seseorang diluar rumah.
"Hm, kenapa Renita tidak mengangkat panggilanku? Apa dia sakit?" pikir Hansel sedikit cemas. Walau dia membenci Renita yang suka berurusan dengan calon istrinya, tapi mengapa ia masih peduli dengan rekan kerjanya ini.
"Huft, sepertinya aku harus datang ke alamat rumahnya. Aku ingin berikan undangan ini padanya," gumam Hansel menatap undangan terakhir yang ada di tangannya.
"Kak Hans, ini laptopnya," sahut Naomi akhirnya membawa laptop Hansel.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Naomi, kakak pergi dulu," ucap Hansel mengelus kepala Naomi dengan lembut dan tersenyum.
Namun saat Hansel ingin masuk ke dalam mobil, tangannya ditahan oleh Naomi.
"Tunggu Kak Hans,"
"Ada apa Naomi?" tanya Hansel melihatnya.
"Itu... apa aku boleh ikut dengamu? Aku sangat suntuk di dalam rumah," jawab Naomi memohon.
"Pfft, ya sudah masuklah," kata Hansel setuju saja. Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Nampak Naomi duduk di kursi depan dengan kepala ditundukkan, ia sangat sedih harus duduk dengan kakak yang ia sayang tapi tidak punya hubungan darah.
"Apa Kak Hansel memang bukan kakak kandungku?"
Naomi membatin diam-diam mengusap air mata yang perlahan menetes. Tidak seperti Hansel yang tersenyum melihat ke depan memikirkan hari pernikahannya besok.
Setengah jam kemudian, mobil Hansel berhenti di depan rumah Renita. Suasana sangat sepi, bahkan tidak ada orang yang terlihat. Naomi dan Hansel turun dari mobil dan mendekati pintu rumah itu.
Ding... Dong...
Naomi sengaja menekan bel, tapi tak ada apa-apa di dalam rumah. Hansel melihat sekeliling tapi tidak ada apa-apa juga.
"Kak Hans, sebenarnya ini rumah siapa?" Naomi akhirnya bertanya, ia sedikit takut.
"Kalau tidak salah dari alamat yang kudapatkan, ini rumah rekan kerjaku Renita," jawab Hansel melihat kembali kartu identitas kerja Renita yang ada di tangannya.
"Oh, Kak Renita? Tapi kenapa rumahnya kosong, Kak Hans?" tanya Naomi lagi sudah tahu.
"Entahlah, kakak juga tidak tahu. Akhir-akhir ini Renita juga tidak pernah masuk kerja," ucap Hansel menjawab sambil mengamati sekelilingnya.
"Apa jangan-jangan Kak Renita diculik?" tebak Naomi membuat Hansel diam.
"Hush, kamu ini jangan asal tebak. Tidak baik berkata begitu," centil Hansel pada kening Naomi. Naomi mendesis sedikit takut. Sekarang Hansel ingin mengetuk pintu, namun seketika sebuah mobil mewah berhenti di dekat mobil Hansel.
"Kak lihatlah, siapa wanita ini?" ucap Naomi menunjuk seorang wanita yang tidak lain adalah Bu Jessy yang diantar oleh Bodyguard dari suaminya. Seorang Nyonya besar yang sangat ketat dijaga dari musuh Roland yang bisa saja datang untuk menculiknya. Bu Jessy sedikit mengerutkan kening melihat ada dua orang asing berdiri di rumahnya.
__ADS_1
Hansel berbalik melihatnya dan langsung terdiam melihat Bu Jessy menghampirinya. Dua kata keluar langsung dari mulut Hansel untuk Bu Jessy.
"Anda siapa?"