Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
49. Berdiri Tegak


__ADS_3

"Ekhm, apa yang kalian lihat?"


Ella dan Devan tersentak mendengar suara bapak itu. Keduanya reflek berbalik dan mundur sedikit.


"Itu kami lihat jam, Pak!" Tunjuk Ella dan Devan bersamaan pada jam dinding yang menunjukkan pukul 22.24 Malam.


Bapak itu menyipitkan mata. Melihat raut wajah sinis bapak itu, membuat Ella meraih dan menggenggam tangan Devan dengan kuat. Ia benar-benar takut dengan ekspresi sangar sang bapak pemilik vila.


"Oh, kalau begitu mari saya bawa kalian ke kamar yang akan kalian tempati,"


Sang bapak berjalan duluan dan pergi menaiki tangga.


"Honey, aku takut," desis Ella pada Devan.


Devan tersenyum dan mengelus rambut Ella dengan lembut dan kemudian berkata, "Tidak usah takut, bapak itu orang yang baik."


Ella menunduk. "Bagaimana kau tahu?" tanya Ella melihatnya.


Devan tertawa kecil.


"Apa kau sudah lupa dengan suamimu yang spesial ini?" Devan menepuk dadanya.


"Pfft, ahaha. Aku hampir lupa, suamiku yang ganteng ini kan bisa baca pikiran."


Ella gemas dan mencubit lengan Devan.


"Auw-" jerit Devan dicubit keras. Ella tertawa meledek melihat ekspresi kesal suaminya.


"Ekhm!"


Devan dan Ella reflek diam mematung mendengar suara mendehem dari bapak pemilik vila.


"Ahaha, maaf Pak!" Devan dengan sopan menundukkan kepala diikuti Ella. Keduanya sedikit takut juga.


"Tidak apa-apa, kalian kemarilah. Ini kamar yang akan kalian pakai," ajak bapak itu sambil menunjuk kamar paling ujung.


Devan dan Ella menelan ludah dan segera menaiki tangga agar tidak membuat marah sang pemilik vila yang berdiri dari tadi.


"Terima kasih, Pak! Kami sangat senang anda mau menolong kami," kata Ella berdiri di samping Devan, keduanya nampak berdiri di depan kamar sambil melihat bapak itu.


"Sama-sama, itu sudah kewajiban. Kalau begitu selamat beristirahat, saya harap kalian-"


"Kami tidak akan macam-macam, Pak!" timpal Devan memutuskannya. Sontak Ella mencubit pinggang Devan yang sudah berani tak sopan karena memutuskan ucapan bapak itu.


"Hm, baguslah."


Saat bapak itu ingin pergi, Ella cepat-cepat menahannya.


"Tunggu, Pak!"


Devan terkejut dengan keberanian Ella.


"Ya, ada apa?" tanya bapak itu dengan tajam.


"Itu, apa bapak punya telepon rumah?"


"Tidak ada," jawab Bapak itu singkat.


"Oh begitu, maaf Pak sudah lancang." Ella menunduk menghargainya.


"Tidak masalah," kata Bapak itu pergi meninggalkan Devan dan Ella. Pasutri ini pun segera masuk dan menutup pintu kamar. Keduanya kini duduk di tepi ranjang bersama.


"Fiuh, akhirnya bisa tenang juga. Bapak itu terlihat sangar dan galak, tapi dia masih mau percaya dan memberi kita tempat untuk menginap, honey."


Ella berbicara pada Devan yang berdiri sedang membuka kemejanya.

__ADS_1


"Ya baguslah, dia sepertinya memang orang yang baik. Sekarang aku mau mandi dulu, tubuhku gatal-gatal semua, kau tidak masalah kan di sini sendirian?" tanya Devan mengelus rambut Ella.


Ella berdiri dan melihat pintu kamar mandi di dekat lemari baju.


"Hm, tidak masalah. Tapi kau jangan lama-lama mandinya,"


Devan mengernyit mendengarnya.


"Kenapa tidak boleh lama?" tanya Devan mendekati wajah Ella.


Ella merona dan menunduk memainkan dua jarinya.


"Ya soalnya aku takut,"


Devan mengacak-acak rambut Istrinya dan tertawa kecil.


"Ahaha, kalau begitu-" ucap Devan meraih tangan Ella.


"Eh, kau mau apa?" Ella terkejut melihat Devan menyeringai tipis.


"Ya tentu saja mau mandi bareng dong!" seru Devan langsung mengangkat Ella.


"Aaaah!" kaget Ella dibawa ke dalam kamar mandi.


"Iih, honey! Kau mau apa bawa aku ke sini!" lanjut Ella mulai mengoceh.


Devan meletekkan Ella ke dalam bathtub dan berbisik, bisikannya reflek membuat Ella membola.


"Tentu saja mandi bersama, sayangku,"


Ella menunduk tersipu.


"Ih, tidak mau!" cetus Ella berdiri.


"Tidak boleh menolak!" cetus Devan mendudukkan Ella lagi dan dengan cepat mengambil shower. Ella menjerit disemprot air dari shower.


"Ahaha, karena sudah basah mari kita main basah-basah bersama!" ujar Devan membuka celana dan langsung masuk ke bathtub yang kini dipenuhi air dan busa, ia menarik Ella duduk kembali lalu memeluk Ella dari belakang. Ella terkejut dengan posisi yang sangat memalukan.


"Ih, kau mandi saja duluan, aku tidak mau mandi denganmu," lagi-lagi Ella berdiri, bukan karena risih tapi dia merasakan benda yang berdiri tegak dari bawahnya. Yaitu burung milik sangkarnya.


"Ck, tidak usah tolak. Bilang saja, honey aku mau kok mandi sama kamu tapi jangan colek-colek ya, ahahaha," ledek Devan tahu pikiran mesum Ella. Ella mendengus dan kemudian duduk kembali.


"Ya sudah, karena dipaksa aku mau mandi. Tapi-"


Devan tertawa kecil mendengar ocehan Ella terputus.


"Tapi apa istriku?" rayu Devan melihat tubuh Ella masih dibalut pakaian.


"Tapi-" Ella menunduk merona.


"Hayu, tapi apa? Oh jangan-jangan mau dibukain baju sama suamimu yang ganteng ini?" Lagi-lagi dirayu oleh Devan.


"Ih, bukan itu!" cetus Ella menyenggol lengan Devan yang diletakkan di pinggir bathtub.


"Terus apa dong?" tanya Devan mengernyit.


"Itu burung kamu nakal," jawab Ella merasakan benda yang keras dan berdiri tegak di bawahnya.


Devan menyeringai tipis dan langsung mengecup leher Ella.


"Aah, kau mau apa honey?" kaget Ella merasakan dua tangan jahil Devan mulai masuk ke dalam bajunya.


"Tentu saja olahraga malam di sini, sayang," bisik Devan perlahan melucuti pakaian Ella dan melemparnya ke lantai.


"Aaah-" desah Ella tiba-tiba dua oppainya diremas lembut.

__ADS_1


"Kau mau kan?" bisik Devan menginginkan nafsunya.


Ella yang tak memakai apa-pun langsung menggelengkan kepala.


"Honey," ucap Ella melihatnya.


"Kita ini lagi di rumah orang," lanjut Ella menatapnya tak main-main.


Devan cemberut dan akhirnya menunda nafsunya.


"Tapi kalau kita sudah pulang, boleh kan?" bisik Devan menggodanya sambil *******-***** oppai Ella. Terasa lembut dan kenyal-kenyal. Ella berbalik melihat Devan dan tersenyum manis lalu merangkul leher Devan.


"Hm, boleh," ucap Ella setuju dan tersipu.


Devan seketika berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Sudah dua hari dia tak menyentuh tubuh istrinya. Ella tertawa kecil melihat ekpresi lucu Devan. Seketika Ella terkejut melihat Devan menenggelamkan wajahnya diantara belahan oppainya.


"Sayang, kalau yang ini boleh kan?" tanya Devan menunjuk-nunjuk pu-ting oppai kiri Ella. Dengan malu-malunya, Ella mengangguk setuju saja. Lagian juga, ini sudah terbiasa baginya dan Devan.


"Uh, jangan digigit honey, kau ini sudah besar!" desis Ella mendesah pu_ting oppainya dicomot oleh bayi besarnya.


"Umh, soalnya ini imut sayang," jilat Devan membuat Ella hanya menggigit bibir bawahnya. Ia cuma pasrah, dengan kegiatan Devan yang menuntaskan sedikit nafsunya. Keduanya pun akhirnya mandi bersama dan saling menggosok-gosok tubuh bersama.


Setelah keluar dari kamar mandi, tubuh keduanya terasa segar kembali. Kini Devan memakai kembali pakaiannya, tapi tidak untuk Ella yang memakai bajunya yang basah. Lekuk tubuhnya yang seksi sangat jelas di mata Devan dan ini membuat nafsu Devan bergejolak lagi.


"Honey, apa di sini tidak ada pakaian wanita?" mohon Ella menutupi dua oppainya dengan tubuh yang kedinginan. Devan pun dengan patuhnya mencari di dalam lemari. Namun sayangnya, cuma baju kaos dan celana pendek lelaki yang dia dapatkan.


"Sayang, cuma baju ini? Tidak masalah kan bagimu?" Devan mendekati Ella. Ella yang kedinginan ingin memeluk Devan, tapi bajunya yang basah membuat niatnya diurungkan.


"Tidak masalah, sini aku pakai saja." Ella mengambilnya dan segera memakai kaos itu lalu celana itu tanpa memakai CD dan BH.


Devan tertawa kecil melihat dua oppai Ella yang kendor habis diremas-remas olehnya tadi.


"Hmp! Apa yang kau lihat honey!" cetus Ella menutupi dua oppainya.


Dengan akal jahil, Devan langsung menarik Ella dan menghempaskannya ke atas ranjang.


"Aaah!"


******* Ella yang lembut dan menggoda kembali terdengar.


"Honey, ingat kita lagi di rumah orang," mohon Ella pada Devan yang sekarang menindihnya.


Dengan terpaksa dan nafas berat, Devan jatuh ke samping Ella.


"Ya sudah, aku akan menahannya," lirih Devan manyun. Ella tertawa kecil melihat suaminya, namun sekarang Ella kepikiran dengan orang-orang di vila milik Dean.


Melihat Ella yang sedih, Devan segera menarik tangan Ella dan menatap istrinya dalam-dalam.



"Tidak usah sedih, baby kita akan baik-baik di sana." Devan tersenyum pada Ella. Sedikit demi sedikit, Ella akhirnya tersenyum dan memeluk Devan.


"Hm, terima kasih honey," lirih Ella memeluknya erat.


"Eh, terima kasih untuk apa?" tanya Devan tidak paham.


Ella mencubit lembut dada Devan lalu mendesis.


"Tidak usah polos, kau sudah tahu maksudku ini."


Devan tertawa kekeh mendengarnya lalu membalas memeluk tubuh Ella.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu, sayang." Kata Devan mengecup lembut kening Ella. Ella cuma mengangguk dan memejamkan mata mulai tenang. Kehangatan sang suami disisinya membuat kekuatirannya sedikit mereda.


Devan perlahan melirik sudut kamar, ia agak terkejut dengan sebuah CCTV tersembunyi. Dengan rasa curiga, Devan merasa lega karena hampir memberi tontonan gratis pada pemilik vila. Devan pun memejamkan mata dan mendekap tubuh Ella, tapi Devan tidak tidur karena malam ini ia harus berjaga-jaga demi keselamatannya dan Istrinya di rumah asing.

__ADS_1


Benar sekali, kecurigaan Devan sangat tepat. Bapak tua itu nampak duduk sambil melihat layar monitor CCTV miliknya yang ada di kamar Devan. Ia agak kesal karena tak melihat sebuah tontonan di kamar itu. Sangat disayangkan baginya.


"Ternyata tak sangka suami istri ini bisa menahan nafsu mereka." Guman bapak itu pergi meninggalkan monitor CCTV yang masih dinyalakan.


__ADS_2