Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
20. Dia Kekasihku!


__ADS_3

"Apa, Ella pingsan?"


Devan kaget setengah mati, dengan cepat ia mematikan panggilan itu dan langsung keluar dari ruangannya. Menghubungi seseorang untuk mengurus sementara perusahaannya malam ini. Ia sangat cemas pada Istrinya dibandingkan perusahaannya kali ini.


"Apa yang sudah terjadi di rumah?" gumam Devan kini berada di dalam mobilnya. Mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Ini akibat panggilan barusan diangkat oleh Zeli bukan Ella, Istrinya tersayang.


Brak!


Pintu rumah dibuka dari luar, tiga orang yang lagi duduk mengobrol langsung menoleh ke arah pintu utama. Kening Jastin mengerut melihat seorang pria datang bersama wanita yang dia tunggu-tunggu. Apalagi penampilan Elisa sekarang sudah berubah tak seperti dulu saat masih duduk dibangku SMA.


"Dia siapa?"


Dua kata ini keluar dari mulut Hansel dan Jastin secara bersamaan. Elisa sedikit mundur mendekati Hansel dan masih menggenggam tangannya. Rasa terkejutnya malam ini amat luar biasa melihat Jastin datang ke rumahnya. Lelaki yang sudah ia kenal dari dulu.


"Jas-jastin?" lirih Elisa melepaskan genggamannya pada Hansel, sontak Hansel sedikit terkejut dengan tindakan Elisa.


"Siapa dia, Nona?" tanya Hansel masih berdiri di sampingnya.


Suasana makin mencekam, tatapan tiga orang yang tadi kaget dengan kedatangan Elisa semakin serius. Mereka tak sangka melihat Elisa menggandeng tangan Hansel dan memperlihatkan pada mereka.


"Ini-ini kenapa kau ada di sini!" ujar Elisa tak suka Jastin ada di rumahnya. Hansel semakin terkejut dan heran melihat emosi Elisa tiba-tiba naik. Nampak begitu membenci Jastin.


"Elisa! Apa ini caramu berbicara di depan Papa! Kau harusnya tahu Jastin datang ke sini untuk menemuimu! Dia jauh-jauh datang ke sini untuk membicarakan lamaran pernikahanmu dengannya," jelas Tn. Vian mulai ikut emosi.


Bukan main-main, Hansel amat terkejut mendengar kalimat terakhir dari Tn. Vian.


"Lamaran pernikahan?" Hansel berpikir ini bagaikan pukulan untuknya. Tatapan Hansel kini teralih ke Elisa.


"Apa kau sengaja menyeretku agar aku bisa menghindarimu menikahi dia, Nona?" tebak Hansel sedikit kecewa merasa sedang dipermainkan oleh Elisa. Bahwa perasaan Elisa hanya omong kosong untuknya dan cuma ingin membantunya terlepas dari pernikahannya.


Elisa kaget dan langsung meraih tangan Hansel. Jujur dalam lubuk hatinya, itu bukan dari maksud tujuannya. Perasaannya memang sungguh-sungguh mencintai Hansel.


"Bukan begitu, Hans. Aku memang mencintaimu, bukan karena perjodohan ini. Kau jangan salah paham dulu," jelas Elisa tak mau Hansel berpikir salah. Hansel cuma bisa menunduk, ia tidak tahu apa ini nyata dan pantas untuk dipercayai? Hatinya mulai bimbang.


Tidak seperti Jastin dan Tn. Vian yang mulai geram melihat kedekatan mereka dan sekarang makin geram saat Elisa mengucapkan kalimat ini, membuat Ny. Chelsi dan Hansel terkejut mendengarnya.


"Pah!" ujar Elisa memperkuat genggamannya.


"Aku tak mau menikah dengan siapa-pun! Terutama dia!" Tunjuk Elisa serius. Sorot matanya penuh kebencian pada Jastin.


"Elisa-" lirih Jastin berpikir ini benar-benar di luar dugaannya. Dia pikir Elisa akan senang dengan kehadirannya, ternyata hubungan mereka tak bisa dipersatukan lagi.


"Apa, ha!" teriak Elisa membentak Jastin. Hansel hanya diam saja, takut untuk ikut campur. Apalagi raut wajahnya begitu sedih, melihat perdebatan ini.


"Elisa! Di mana tata kramamu di rumah ini!" geram Tn. Vian membentak balik. Ny. Chelsi tersentak segera menenangkan Suaminya.

__ADS_1


"Pah, ingat. Elisa punya penyakit jantung, kita tak boleh membentaknya, dia dua tahun ini baru sembuh. Jangan buat penyakitnya datang lagi." Jelas Ny. Chelsi menenangkan Tn. Vian.


"Bagaimana aku bisa tenang, Mah! Dia ini keras kepala, lihatlah apa yang dia lakukan? Dia malah memegang tangan Hansel. Sedangkan calon suaminya ada di sini!" ujar Tn. Vian marah-marah dan mulai mengamuk. Jastin menatap Hansel benci, tetapi Hansel cuma menanggapinya santai saja.


Elisa mendekus lalu menunjuk Jastin.


"Dia bukan calon suamiku!" bantah Elisa.


"Nona, tenanglah," Hansel sedikit takut Elisa marah-marah. Bukan karena amarahnya, tapi kondisi Elisa. Hansel tak mau Elisa kenapa-napa.


"Apa kau bilang!" bentak Tn. Vian murka.


"Elisa, jika aku punya salah kita bisa bicara baik-baik. Jangan langsung menanggapiku dengan begitu." Jastin angkat bicara.


"Ha? Punya salah? Oh benar," ucap Elisa tersenyum miring lalu dengan angkuhnya menatapnya tajam.


"Kau dari dulu banyak salah terhadapku, kau meninggalkan aku saat aku sekarat! Untungnya dulu ada Devan yang selalu ada untukku saat kau meninggalkan ku. Tapi sekarang, kau dan dia sama saja! Sama-sama brensek!" lanjut Elisa mengeluarkan unek-uneknya.


"Tapi tidak apa-apa," lagi-lagi Elisa tersenyum miring lalu bergelayut manja memeluk lengan Hansel.


"Sekarang dia akan jadi suamiku!" jelas Elisa meninggi. Mata Hansel melebar begitupun yang lainnya. Terutama Aline yang berdiri di lantai dua ikut melongo mendengarnya. Sebuah penuturan yang amat luar biasa.


"Suamimu?" Jastin mulai emosi.


"Dia kekasihku sekarang, dan tiga hari ini kita akan menikah!"


Lagi-lagi Hansel terperanjak kaget.


"Tiga-tiga hari, Nona? Itu terlalu cepat, bahkan orang tuaku belum merestui hubungan kita." Hansel berbisik pada Elisa. Elisa hanya tersenyum saja.


Jastin mulai cemburu dan dengan cepat memisahkan mereka. Menepis tangan Elisa agar tak memeluk lengan Hansel.


Plak!


Elisa menampar pipi Jastin, kedua mata semua orang membola kaget.


"Elisa, kau sudah berani padaku?" geram Jastin menggertakkan giginya.


"Ya, kau pikir aku takut? Kau pantas mendapatkannya. Sejak dulu, aku sudah menahannya dan malam ini aku puas!" tepis Elisa menarik Hansel mendekati Tn. Vian. Jastin mengepal tangan tak terima ucapan dan perlakuan Elisa. Benar-benar sangat sombong tak seperti dulu.


"Pah, mungkin Papa sudah tahu Hans. Aku dan Hans sudah satu tahun pacaran!" ungkap Elisa berdiri bersama Hansel di depan Tn. Vian yang sekarang diam disertai Ny. Chelsi. Kaget, baru tahu putrinya tiba-tiba punya hubungan dengan Sekretaris ponakannya.


Tapi tidak sekaget Hansel yang terkejut setengah mati, padahal baru juga malam ini dia jadian dengan Elisa.


"Argh!" tepis Tn. Vian memisahkan keduanya.

__ADS_1


"Papa tidak setuju! Kau dan dia tidak cocok! Apa otakmu sudah rusak! Bagaimana dia bisa menghidupimu dengan jabatannya yang cuma sebagai asisten, apalagi keluarganya tak sederajat dengan kita!"


Hansel tercengang mendengar Tn. Vian tidak merestui hubungan mereka. Hansel menunduk membuat Jastin nyengir kuda melihat kenaifan Hansel.


"Maaf, Tuan Vian. Saya tak bermaksud membuat anda marah. Sekarang sudah malam, waktunya saya pulang."


Hansel dengan hormat menunduk lagi lalu melepaskan genggaman Elisa yang kembali merangkulnya.


"Tidak, Hans. Kau tetap di sini," mohon Elisa lembut. Jastin kembali menggertakkan gigi melihat Elisa begitu menyukai Hansel.


"Maaf, Nona. Saya permisi!" Hansel dengan terpaksa pergi meninggalkan Elisa yang kini mulai menangis, Hansel sekarang tak mau mencari keributan malam-malam begini dan ditambah sekarang isi kepalanya memiliki tanda tanya mengapa dan siapa Jastin.


Hansel tau diri, pasti karena jabatannya yang rendah tak disukai oleh Tuan Vian. Memang sakit rasanya harus mencintai seseorang yang jauh berbeda derajatnya dibanding kita yang amat rendah.


"Cih!" decak Tuan Vian melihat Hansel pergi dari rumahnya.


"Papa jahat!" pekik Elisa membentak lalu lari dengan linangan air mata. Baru juga merasakan kebahagiaan, sekarang menderita dengan ucapan Tuan Vian yang pastinya melukai perasaan Hansel dan juga relung hatinya yang baru saja sembuh.


"Elisa!" panggil Tuan Vian murka diabaikan begitu saja. Elisa tak peduli dan naik ke lantai dua menutup keras kamarnya.


Braaakk!


"Aku tak mau menikahinya!" teriak Elisa dari dalam kamar membuat Aline gemeteran dari tadi. Ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk melaporkan ini pada Ella.


"Nak Jastin, maaf atas kejadian malam ini," ucap Ny. Chelsi mencairkan suasana.


"Tidak apa-apa, Tante. Sekarang aku pulang dulu, sepertinya Elisa butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Selamat malam, Tante." Jastin pamit lalu meninggalkan rumah itu. Perasaannya campur aduk antara senang dan kecewa. Senang karena Elisa pasti akan dia miliki, kecewa karena ada lelaki lain di dekat Elisa.


"Arrgh, anak itu memang bisa-bisanya membuatku marah! Bukan lagi Devan yang menyebalkan, tapi anakmu itu lagi!" ujar Tuan Vian kecewa anak sahabatnya pergi begitu saja.


"Pah!" pekik Ny. Chelsi marah.


"Papa jangan ngomong gitu! Elisa juga butuh kebebesan!" bela Ny. Chelsi untuk anaknya.


"Halah, bela terus anakmu! Aku hanya ingin dia menikahi pria baik-baik saja! Tapi lihatlah, dia membuatku kecewa malam ini!" geram Tn. Vian pergi mengabaikan Ny. Chelsi.


"Huftt," keluh Ny. Chelsi geleng-geleng kepala lalu melihat pintu utamanya ditutup oleh pelayan.


"Mungkin Elisa belum terima kejadian itu, padahal Mama sudah jelaskan kalau Jastin terpaksa putus karena harus melanjutkan studinya dan ini juga demi membahagiakanmu, Nak."


Ny. Chelsi duduk merenungkan kejadian sebelum Devan jadian dengan Elisa. Di mana Jastin adalah pacar pertama Elisa dan sekarang hanya mantan putrinya, tepatnya mantan pertama Elisa. Lelaki yang dicintai pertama kali oleh Elisa.


"Dasar Jastin brensek! Aku tetap membencimu, Hansel yang akan jadi suamiku!" geram Elisa mengamuk di dalam kamarnya sambil merobek bantalnya dengan emosi luar biasa. Ia tak mau lagi merasakan tiga kali kecewa pada laki-laki. Elisa yakin, Hansel patut jadi suaminya di masa depan.


"Dasar brensek!" rutuk Elisa penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2