
Sesampainya di rumah, Bu Naina turun dengan kekesalan pada Ibu-ibu kenalannya. Kedua Ibu itu sudah lama seperti itu pada Bu Naina. Membandingkan anak dan menantu mereka. Bu Naina melirik Elisa yang ikut turun. Bu Naina tak menyapanya sama sekali, ia malah masuk ke dalam rumahnya.
"Haiss... benar-benar mengabaikan aku, kalau aku kasih tau Hansel anaknya Nyonya Jessy, entah gimana lagi tuh ekspresi datarnya."
Elisa membatin dalam hati. Ia pun ikut masuk dan ternyata Naomi sudah pulang dari sekolah. Terlihat Naomi berdiri dari sofa setelah melihat Elisa dan Bu Naina pulang.
"Wah, Ibu sama Kak Elisa ketemu di mana? Tumben pulang sama-sama?" tanya Naomi ceria, sedikit senang melihat Ibunya pulang bersama Elisa.
"Di jalan, sekarang Ibu mau ke kamar. Jangan ganggu Ibu dulu." Bu Naina jawab dengan datar kemudian berlalu pergi ke kamar.
"Huft," Naomi membuang nafas, sedikit jengkel pada sikap Ibunya. Tapi begitulah Bu Naina yang teguh dalam pendirian untuk tidak mau menjalin hubungan baik dengan Elisa.
"Kak Elisa, bagaimana kabar kakakku?" tanya Naomi duduk di sofa bersama Elisa, ingin tahu kabar Hansel. Elisa diam sejenak, kemudian tersenyum.
"Baik, Hansel baik-baik saja. Dia sudah masuk bekerja hari ini," ucap Elisa sedikit gelisah pada Naomi. Ia ingin sekali katakan pada Naomi kalau Hansel bukanlah kakak kandungnya. Begitupun Naomi sangat gelisah. Seketika, Naomi meraih tangan Elisa membuatnya tersentak.
"Ada apa, Naomi?" tanya Elisa melihatnya.
"Aku mau bilang sesuatu sama Kak ipar," jawab Naomi dengan suara rendah.
"Bilang apa, Naomi?"
Naomi menghela nafas, rahasia ini semakin menyiksanya. Elisa terkejut melihat Naomi perlahan menangis. Ia sangat merasa bersalah, merasa telah membohongi Elisa.
"Ada apa denganmu Naomi? Kamu di sekolah diganggu oleh teman-temanmu?" tebak Elisa bertanya. Bukan, bukan itu yang Naomi tangisi. Tapi hubungannya dengan Hansel yang ternyata bukan saudara sedarah. Naomi makin menangis lalu berkata sedikit terisak.
"Kak Ipar, jawab Naomi jujur. Apa Kak Ipar sungguh mencintai Kak Hans?" tanya Naomi dengan tangan gemeteran.
__ADS_1
"Ya Naomi, aku sangat mencintainya," jawab Elisa sedikit terkejut Naomi tiba-tiba menanyakan hal ini.
"Maupun susah dan senang, kak ipar akan selalu mencintai kak Hans?" tanya Naomi lagi.
"Ya Naomi, aku akan selalu mencintainya. Sekarang ada apa denganmu? Kenapa menangis seperti ini?" Kali ini Elisa yang tanya. Air mata Naomi akhirnya turun deras dan langsung memeluk Elisa.
"His, aku sayang sekali Kak Hans. Aku takut dia dan kak ipar meninggalkan aku," jawab Naomi terisak.
"Ada apa ini, Naomi? Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Elisa menenangkan Naomi. "Apa jangan-jangan Naomi tahu sesuatu?" lanjut Elisa berpikir.
Naomi melepaskan Elisa, dia mengusap terus matanya lalu berkata dalam tangisnya.
"Aku dan Kak Hans... saling sayang dari kecil. Kak Hans selalu menjagaku dari kecil dan aku senang kak Hans adalah kakakku, tapi Naomi sedih karena sudah tahu-" Naomi terisak sambil mengontrol emosinya.
"Tahu apa, Naomi?" tanya Elisa sambil mengusap air mata Naomi.
Deg! Benar, Elisa sudah menduganya kalau Naomi sekarang tahu jika dia dan Hansel tak punya hubungan apa-pun. Naomi makin menangis, Elisa segera memeluknya. Ini yang Hansel takutkan kalau Naomi akan sedih tahu kebenarannya.
"Naomi tenanglah, katakan padaku ... siapa yang memberitahumu?" tanya Elisa mengelus punggung Naomi. Tangis Naomi sungguh pilu, gadis muda ini perlahan mengatakan jujur pada Elisa.
"Aku tahu dari Ibu dan Ayah, mereka pernah berdebat dan aku tidak menyangka kak Hans cuma anak angkat. Aku pikir Ibu dan Ayah berbohong, tapi ternyata sungguh aku dan Kak Hansel tidak sedarah setelah aku lakukan diam-diam tes DNA. Hasilnya sama sekali tidak ada kecocokan."
Naomi mengusap matanya, tetesan bening bergantian jatuh dari pelupuk matanya. Hati Naomi sakit sekarang, kini Naomi tak tahu apa reaksi Elisa. Dalam benaknya, Elisa pasti akan jauhi Hansel karena cuma anak angkat. Tapi dugaannya salah, Elisa tiba-tiba tersenyum dan meraih tangannya.
"Naomi, sampai kapan pun Hansel akan terus jadi Kakakmu. Aku juga tidak akan membenci Hans, Ibumu maupun ayahmu. Aku malah senang dan berterima kasih kalian menjaganya dan menganggapnya bagian dari keluarga ini," ucap Elisa mengelus kepala Naomi.
"Jadi kak Elisa tidak marah?" tanya Naomi sedikit sesugukan. Elisa geleng kepala lalu berkata : "Sama sekali tidak, untuk apa aku harus marah? Aku sangat bahagia kamu jujur padaku, aku bahagia menikahi Hansel. Kamu jangan sedih Naomi, kalian semua tetap keluarga." Elisa menghibur Naomi.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu ke kamar, tenangkan dirimu." Elisa berdiri diikuti anggukan Naomi. Elisa pun membawa Naomi ke kamarnya. "Kak Ipar, tolong jangan bilang ini ke Hansel, aku tidak mau dia sedih. Aku takut, Hansel akan membenci Ibu dan ayah karena sudah menyembunyikan identitas aslinya," ucap Naomi menunduk, ia duduk di tepi ranjangnya.
"Dia sebenarnya sudah tahu," batin Elisa ingin katakan, tapi takut juga dengan reaksi Naomi. "Lebih baik aku tunggu dia tenang dulu," lanjut Elisa dalam hati.
"Baiklah, aku keluar dulu. Kamu istirahatlah, jangan menangis." Elisa pun keluar meninggalkan Naomi yang terbaring. Sedikit ada suara isakan Naomi, gadis muda ini mencoba untuk tenang.
"Huft, sekarang... lebih baik aku tanyakan langsung pada Bu Naina, bagaimana dia bisa mengangkat Hansel jadi anak." Elisa ingin mengetuk pintu, namun tak ada suara dari dalam. Elisa pun membukanya, matanya melebar melihat Bu Naina tergeletak di lantai.
"Ibuuuu!" pekik Elisa mendekatinya.
"Bu... Bu... Ibu kenapa, Bu?" Elisa panik sambil mengguncang-guncang tubuh Bu Naina. Elisa segera merasakan denyut nadinya dan ternyata Bu Naina masih hidup. Elisa yang takut kenapa-napa segera memanggil Naomi untuk membantunya membawa Bu Naina ke rumah sakit. Naomi sangat shock melihat Ibunya, keduanya segera membawa Bu Naina ke rumah sakit. Meninggalkan sebuah album yang dibuka oleh Bu Naina sebelum pingsan. Terlihat ada bekas tetesan air mata yang ditinggalkan Bu Naina di dekat foto bocah kecil dua tahun yang berkaca mata. Ia adalah "Maikeul."
Hansel dan Pak Carlous yang sedang meeting di perusahaan mereka langsung ke rumah sakit setelah Naomi menghubungi keduanya. Mereka sangat mencemaskan satu wanita ini, terutama Hansel tak mau Bu Naina kenapa-napa. Karena baginya, Bu Naina bagian dari hidupnya sejak dulu.
"Sya, apa yang telah terjadi?" tanya Hansel telah sampai bersama Pak Carlous.
"Maaf... Hans," lirih Elisa memeluk Hansel. Naomi di sana menangis kembali dipelukan ayahnya.
Cklek!
Pintu ruangan akhirnya terbuka, Hansel dan yang lainnya segera menghampiri Dokter. Suasana makin mencekam dengan kecemasan yang tinggi.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Pak Carlous kuatir.
"Ibuku tidak kenapa-napa kan, Dok?"
"Dok, katakan kenapa tiba-tiba Ibuku pingsan?"
__ADS_1
Dokter menghela nafas kemudian berkata :