
Sore hari di pinggir jalan raya, terlihat Elisa sedang berjalan dengan kesal menendang krikil di depannya. Raut wajahnya tak karuan dengan ucapan Papanya tadi pagi. Perasaannya sedang berkecamuk ingin memberontak siapa pun yang dia temui atau halangi jalannya. Meski begitu, ia masih terlihat segar dan cantik Sore ini.
"Cih, apa sih!" rutuknya semakin kesal.
"Kalau mau cucu ya tinggal jenguk saja Vino dan Vina, tidak usah memaksaku menikah!" celetuknya masih menendang krikil di depannya.
"Aku juga bisa cari calon suami kok, banyak laki-laki di kota ini. Tidak usah menjodohkanku segala!" lagi-lagi Elisa menggerutu di setiap langkahnya.
"Tapi," keluhnya berhenti lalu menunduk.
"Siapa juga yang mau sama aku, aku punya riwayat penyakit jantung. Pasti kalau aku mati cepat, nanti suamiku akan menikah lagi, bahkan sebelum mati pun pasti diselingkuhi!"
Elisa tak henti-hentinya merenung. Hingga akhirnya tujuannya kali ini tak bisa ditebak ke mana dirinya pergi. Terlihat masuk ke dalam keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Bagaikan kapas yang terbang tak punya arah tujuan. Lemah dan ringan. Kepribadiannya yang angkuh menutupi perasaannya yang rapuh.
___
__ADS_1
Sekarang di sisi lain, Devan dan Sekretaris Hansel baru turun dari mobil mereka. Kali ini Presdir dan Sekretarisnya baru saja menemukan sebuah fakta mengejutkan. Tangan Devan sudah mengepal dari tadi, begitupun raut wajahnya memendam kekesalan amat luar biasa.
"Presdir, apa anda ingin menggrebek mereka sekarang?" Hansel berhenti sebentar belum memasuki sebuah club malam yang berdiri di depannya.
"Sebelum mereka lanjut ke puncaknya, aku sendiri yang akan membuat mereka jatuh sedalam-dalamnya!"
Hansel menunduk paham maksud Devan. Devan dengan coolnya segera menerobos penjaga club malam itu. Mencari pria cabul yang bekerja di perusahaannya sebagai manajer, khususnya manajer pabrik.
Devan marah telah mengetahui cara kerja manajernya yang kurang konsisten dan beberapa kali melakukan korupsi dan baru mengetahui sekarang bila ada sebagian bawahannya yang menjadi korban. Apalagi saham yang ditanam untuk pengembangan perusahaannya cukup besar dan sangat mempercayai para karyawannya, manajernya dan lainnya.
Suara tawa terbahak-bahak terdengar di dalam sebuah ruangan. Terdengar ada beberapa orang yang ia ajak kerja sama.
"Wow, kau luar biasa. Jabatanmu membuatmu bisa berubah secepat ini, benar-benar membuat kami iri."
Mereka memberi tepuk tangan dan pujian atas manajer gendut dan botak yang duduk di antara para wanita ******.
__ADS_1
"Ahaha, kau baru tahu pekerjaanku? Ayolah, kau jangan terlalu bodoh mengira aku seperti ini. Jabatanku ini hasil dari upayaku, tak sangka aku bisa memalak bawahanku dan juga tentu gaji mereka aku bagi dua ... ahahaha," tawa manajer itu tertawa bagaikan tak punya beban dosa.
"Kau sedikit kejam, memperlakukan bawahanmu. Jika ada yang melaporkanmu, maka tamatlah riwayatmu." Kata seorang temannya.
"Laporkan aku? Mana mungkin akan dilaporkan, Presdir idoit itu sibuk dengan urusan pribadinya. Jangankan menengok tugasku, tengok karyawan lain saja dia sibuknya minta ampun. Sekarang ... kalian bersenang-senanglah hari ini, tahun baru tentu harus ada hal yang baru juga, ahaha." Manajer tertawa puas sambil digoda-goda oleh para wanita ****** di dekatnya.
Namun tawa dan kegembiraan mereka terhenti setelah mendengar pintu didobrak keras. Samar-samar dengan coolnya Devan masuk menatap mereka tajam dan sinis. Begitupun Sekretaris Hansel yang sudah siap untuk memberi pelajaran pada mereka yang sudah berani diam-diam menghina atasannya.
"Oh ternyata ini tempat yang cukup bagus juga. Bisa menemukanmu di sini suatu keberuntungaku untuk memberimu pelajaran," ucap Devan berjalan ke arah Manajernya. Dengan langkah yang mudah, Devan berhenti tepat di dekat meja.
Semua orang berdiri kecuali manajer itu yang duduk gemeteran melihat atasannya datang menciduk kelakuan nakalnya.
"Hans," desis Devan melirik Hansel. Hansel menunduk paham dikode barusan. Dengan cepat langsung mengeluarkan pistol dan menembak ke arah dinding. Semua mata membola, mereka menjerit segera keluar, begitupun para wanita ******. Hanya tertinggal Manajer dan beberapa anak buah yang bekerja sama dengannya.
"Hans, kau tahu kan apa tugasmu?"
__ADS_1
"Ya, Presdir. Saya tahu."