
Siang hari, di mansion besar keluarga Welfin.
Suara tawa anak kecil memenuhi kamar Devan. Bahkan tawa mereka sampai ke ruang tengah. Entah apa yang terjadi di dalam kamar sang Presdir Devan.
Sedangkan di ruang tengah, para wanita keluarga welfin hadir semua. Mereka sedang berkumpul untuk memilih gaun dan perhiasan cantik, terlihat Nyonya Mira sangat antusias memilih gaun bersama dua putrinya, Dean dan Zeli, serta menantunya Ella yang grogi mau pilih yang mana.
Sementara para lelaki sedang kumpul bersama di sofa lain, mereka sedang membicarakan perusahaan mereka, terlihat Tuan Raka berbicara dengan menantunya, Deddy Marsya. Ia juga tak melupakan Rafa, tapi lelaki satu ini sibuk memetik gitarnya sembari bersenandung di depan anjingnya. Rafa nampak senyum-senyum sendiri memikirkan gadis yang mulai dia sukai di kampusnya.
Beda dengan Devan, satu pria ini malah asik memilih kostum hero daripada pakaian yang cocok untuk dua anaknya dan Marsya ke pernikahan besok.
"Om Devan! Ini sangat cocok untukmu, lihatlah... Om Devan!" pekik Marsya amat senang dengan kostum di tangannya.
"Pfft, ahahaha... ini sama sekali tidak cocok untuk Om, Sya," tawa Devan geleng-geleng kepala.
"Iih, Om pakai dulu," rengek Marsya meminta Devan untuk memakainya.
Melihat keimutan Marsya yang sangat menusuk hati, akhirnya Devan mengalah dan segera memakai kostum itu.
"Gruaaaarrrrr!" seru Devan berbalik dengan suara menggelegar memenuhi isi kamarnya. Sontak baby twins lari bersama Marsya. Tiga kecebong ini lari kocar-kacir menghindari HULK yang ingin menangkap mereka.
"Ahahahaha....."
"Ahahahaha...."
"Om Devan sereeeeem!" pekik Marsya lari menghindar.
"Guaaaarr, saya Hulk akan menangkap kalian hidup-hidup!" pekik Devan mengejar lagi.
Baby twins tidak bisa berhenti tertawa dengan kelakuan Ayahnya yang menyamar sebagai anggota Ava_nger. Kedua bocah ini masuk ke dalam kolom ranjang menyisakan Marsya yang lari kocar-kacir.
"Ahahaha, Om Hulk mau apa?" tawa Marsya berdiri di atas ranjang dengan berlagak seperti super hero sembari menunjuk Hulk jadi-jadian di depannya. Devan mengangkat alisnya melihat Marsya memakai kostum spiderman namun warnanya aneh. Kuning campur merah.
"Eh, bocah kecil. Kostum apa yang kau pakai?" tanya Devan berdiri menunjuknya.
"Ahahaha... aku ini bukan bocah kecil. Umurku sudah lima tahun, aku adalah sapaider women," tawa Marsya yang sangat pintar berekting.
Mendengar lelucon Marsya membuat Devan tertawa terbahak-bahak.
"Pfft, sapaider women? Ahahahaha... apa kesaktianmu wahai sapaider women?"
Marsya tersenyum picik lalu menunjuk Devan, membuat Hulk jadi-jadian ini mengernyit heran.
"Kalian, wahai budak sapaider women keluarlah! Tangkap Hulk jahat ini, babay tewins heroooo seraaaang!" Tunjuk Marsya berteriak, Devan amat terkejut dengan dua anaknya yang muncul dari kolom ranjang segera mengejarnya.
"Papapaaaaaaaaaaa!"
__ADS_1
Aaaaaaaaa...
Bug!
Hulk berhasil dikalahkan hanya dengan satu dorongan dari baby twins. Devan sengaja menjatuhkan dirinya dan ini membuat dua anaknya tertawa puas segera menggelitik pinggang ayahnya. Tampilan Devan yang memakai kostum hero Hulk sangat terlihat nyata.
Marsya tidak mau tinggal diam, ia juga ikut menggelitik Devan. Tawa kembali memenuhi isi kamarnya hingga sampai ke ruang tengah. Membuat semua orang terganggu.
"Astaga, mereka sepertinya bersenang-senang sekali. Tapi ini sangat mengganggu, aku akan naik menyuruh Marsya turun," ucap Dean beranjak berdiri. Sontak Ella ikut berdiri dan menahan adik iparnya ini.
"Ah biarkan aku saja yang naik, sekalian aku ingin membawa Vino dan Vina turun. Adik ipar lebih baik duduk saja dan kembali memilih gaun untuk besok ke hari pernikahan Elisa dan Hansel," kata Ella tersenyum manis.
"Huft, baiklah. Maaf sudah merepotkanmu,"
"Hehehe, tidak masalah. Kalau begitu aku ke atas, permisi," ucap Ella segera naik untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamarnya. Dean pun kembali duduk, namun ia merasa ada yang aneh, hingga akhirnya ia lari ke dapur meninggalkan Zeli dan Ibunya saja.
Tok Tok Tok
"Honey, kalian sedang apa di dalam?" tanya Ella mengetuk pintu. Reflek, Marsya dan baby twins segera berdiri, ketiganya berhenti mengerjai Devan, mereka segera membuka kostum super hero mereka dan lari meninggalkan Devan masih terbaring di kasur lantai. Lelaki ini menoleh ke arah pintu yang perlahan terbuka. Sontak ketiga bocah kecil menerobos keluar.
"Eh, kalian jangan lari-lari!" pekik Ella melihat dua anaknya lari bersama Marsya.
"Bunda! Kami ke bawah dulu ya, hati-hati Bunda!" balas Marsya teriak dan segera turun bersama dua adiknya.
"Huft, astaga... apa yang terjadi di sini?" Ella terkejut melihat isi kamarnya berantakan. Pakaian ada di mana-mana, bantal juga tergeletak di mana-mana. Ella yang melihatnya seakan ingin pingsan. Melihat istrinya berdiri membelakangi, Devan yang sembunyi diam-diam menertawainya di balik pintu.
"Aaah! Astaga, honey. Ini tidak lucu tau!" cetus Ella mengoceh dan belum melihat penampilan Devan.
"Sayang, apa kamu marah melihat kamar kita berantakan?" bisik Devan ke telinga kanan istrinya. Nafas Devan membuat Ella menggeliat geli.
"Jujur, aku marah. Kamu ini kekanak-kanakkan tau, sekarang lepaskan aku!" kata Ella menunduk melihat tangan yang merangkulnya.
Deg!
Jantung Ella berdegub keras, ia terdiam melihat dua tangan itu berwarna hijau. Perlahan-lahan, Ella melepaskannya dan berbalik melihat suaminya.
"Hello sayang," ucap Devan nyengir kuda.
"Kyaaaaaaa, SETAN!!" pekik Ella amat terkejut langsung memukul kepala Devan dengan bantal.
Bugh!
Au ... au-
"SAYANG! INI AKU SUAMIMU, BUKAN SETAN!" balas Devan teriak dan masih digebukin sama Ella.
__ADS_1
Ella berhenti memukul, ia mengangkat bantalnya dan melihat saksama mahluk hijau di depannya.
"Honey? Ini kamu? Bukan setan?"
Devan meringis kesakitan dan sedikit kesal, lalu mendekap tubuh Ella.
"Nih, dengar jantungku. Ini jantung manusia, bukan jantung setan. Lagian aku ini pakai kostum HULK, bukan kolor ijo yang ada di pikiranmu!" jelas Devan melepaskannya.
Ella tersenyum manis dan menggebukinya lagi.
Bugh.... Bugh...
"Dasar jahil! Bikin orang hampir mati! Aku pikir kamu setan jadi-jadian, ini bukan lelucon tau! Untung saja aku tidak lahiran, amit-amit cabang bayi. Iiih bikin aku kesal!"
"Aduh... aduh... sayang, aku minta maaf."
"Hmp, kesaaaaaal!" Ella keluar segera menutup pintu kamar dengan keras.
Brak!
"Ya, sayang... jangan marah dulu aku tidak tahu kamu bakal marah!" Devan membuka kostumnya dan langsung menyusul Ella.
"Hmp, aku marah!" cetus Ella berhenti dan menyilangkan tangan. Menatap serius ke arah Devan yang berdiri dengan nafas terengah-engah.
"Ya maaf, sayang. Aku tadi bercanda, kamu jangan anggap serius dong," rayu Devan mulai lagi bertingkah.
"Ekhm, ya sudah kamu turun gih. Besok pernikahan Kak Elisa dan Kak Hansel. Kau harus memilih stelan yang cocok untukmu," ucap Ella masih acuh tak acuh. Sontak dirinya digendong oleh Devan.
"Kyaaa... mau apa nih?" teriak Ella bertanya.
Devan menyeringai tipis lalu dengan lembut membelai rambut Ella. Hal ini membuat Ella merinding.
"Apa lagi yang ingin dia lakukan?"
"Kyaaaa... turunkan aku honey!" kaget Ella dibawa ke kamarnya lagi.
"Tadi kamu tanya kan, aku mau apa? Nah aku mau kamu manjain suamimu ini," goda Devan membuat Ella diam. Ia tahu apa arti kodean dari Devan.
"Honey, aku ini lagi hamil. Tidak bisa melayanimu," mohon Ella dengan penuh harap. Tapi Devan tidak peduli, karena dirinya sudah lima hari tidak menyantap bebeknya.
"Tidak usah cemas sayang, aku akan bergerak dengan lembut, tidak akan menyakitimu dan baby kita."
Ella tersipu, kedua pipinya merona mendengar bisikan Devan.
Ini bagaikan hipnotis untuknya, hingga akhirnya biawak berhasil menggagahi sang bebek kecil di dalam kamar mereka. Sungguh Devan tak bisa lepas dari nafsunya. Bukan lagi suara tawa yang didengar, melainkan suara gairah 'plok plok plok' siang ini.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋