
Jastin mengeluarkan pisau kecil di saku celananya. Ia ingin menusuk Devan yang sedang terengah-engah.
"Aaaaa, kau pergilah ke neraka! Aku muak denganmu!" pekik Jastin menggila.
Namun suara tembekan terdengar berhasil melepaskan pisau Jastin hingga terpental jauh. Jastin meringis kesakitan, tangannya bergetar sedikit.
"Sialan, kau!" pekik Jastin melihat Hansel datang seorang diri dan segera mendekati Devan.
"Presdir, ada baik-baik saja?" bisik Hansel bertanya sambil menodongkan pistol ke Jastin.
"Ck, tentu saja tidak. Kau hampir melihat diriku dibunuh olehnya. Tapi sekarang, kenapa kau cuma sendirian. Di mana yang lainnya?" balas Devan berbisik dan waspada tindakan Jastin yang berdiri seorang diri.
"Presdir, mereka tak bisa ke sini. Semuanya berhasil dijatuhkan oleh anak buah Jastin. Untung saja aku punya kesempatan untung kabur."
Devan makin mengepal tangan mendengar kabar anak buahnya.
"Ck, dia memang menyebalkan!" decak Devan menatap benci Jastin.
"Ahahaha, ada apa? Kenapa kalian sangat tegang di depanku? Dan kenapa cuma kalian berdua? Apa tidak ada anak buahmu yang lainnya yang bisa ke sini?" kata Jastin mulai menyombongkan dirinya.
"Devan-devan, kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku, ahahaha." Tawa Jastin menyeringai tipis. Seketika itulah beberapa berjas hitam masuk mengepung Devan dan Hansel. Suasana makin mencekam.
Jastin makin tertawa puas melihat Devan dan Hansel terlihat panik.
"Ahahaha, prediksimu sangat kecil Devan. Kau sangat bodoh membawa anak buahmu yang tak becus, lihatlah anak buahku yang banyak ini. Sekarang apa yang akan aku pilih?" ucap Jastin sangat picik dan langsung melepaskan tembakan ke arahnya.
Sontak, Hansel mendorong Devan hingga akhirnya ia terkena tembakan.
DOR!
Dua mata Devan membola melihat Hansel tertembak bagian lengan kirinya. Hansel ambruk meringis kesakitan.
"Pfft, ahahaha dasar bodoh. Tapi aku senang melihatmu mati saja, kau tak akan menikahi Elisa," decak Jastin ingin menembak lagi. Tapi Devan dengan cepat dan lincah merebut pistol Hansel yang dibawa anak buahnya tadi dan langsung menembak kaki Jastin.
DOR!
AAAARRRGH
__ADS_1
Jastin menjerit langsung jatuh, saat inilah anak buahnya segera bergerak ingin menembak. Tapi Devan dengan lincahnya menembak mereka duluan. Menembak betis mereka masing-masing hingga terkulai lemas dan pingsan. Suara tembakan ini membuat seseorang ketakutan yang tak lain adalah Elisa yang menyusul gara-gara jeritan Hansel.
Tap!
Elisa terkejut melihat lengan Hansel berdarah. Apalagi tempat itu dipenuhi dengan tumpahan darah.
"Haaaans!" pekik Elisa lari mendekati Hansel.
"Hans, kau-kau tertembak, kau harus ke rumah sakit," ucap Elisa terbata-bata, ia mulai ingin menangis.
"Cih, kalian semua setan!" pekik Jastin menahan sakit di kakinya juga. Dia kesal melihat Elisa perhatian pada Hansel.
"Elisa, papah Hansel keluar dari sini. Bawa dia ke rumah sakit segara!" pinta Devan kini berdiri melihat Jastin.
Elisa mengangguk dan memapah Hansel untuk berdiri.
"Tidak Presdir, saya mana mungkin meninggalkan anda," ucap Hansel tak mau pergi.
"Dasar keras kepala! Apa kau tak tega melihat Elisa mau menangis melihatmu sekarang? Jadi pergilah, aku juga tak mau calon kakak iparku mati di tempat ini."
Hansel tersentak begitupun Elisa mendengarnya. Keduanya saling tatap dan segera pergi dari sana. Hansel menoleh sebentar tapi ini keputusan Devan. Ia pun pergi ke rumah sakit.
"Cuih, kau pikir aku takut padamu, ha!" bentak Jastin meludah ke lantai.
"Tentu tidak perlu!" seru Devan langsung meraih kerah leher Jastin lalu memukul wajahnya berkali-kali.
Bugh!
"Itu balasan dari Elisa yang kau bodohi dulu!"
Bagh!
"Itu balasan dari Hansel yang sudah berani kau tembak!"
BUGH!
"Ini balasan dari istriku yang sudah kau usik!"
__ADS_1
Devan memukul perut Jastin tanpa ampun hingga ia muntah darah. Pukulan yang amat keras membuat Jastin tak berdaya, ditambah kakinya yang tertembak masih berdarah dan mengalir tiap ia meringis kesakitan.
"Cukup! Kau ingin membunuhku, ha!" bentak Jastin emosi terduduk di lantai menahan sakitnya tembakan Devan tadi.
"Ya jika itu bisa, maka aku akan melenyapkanmu hari ini juga!" geram Devan menodongkan pistol tepat di depan kening Jastin. Dua mata bole Jastin melebar melihat Devan tak main-main. Dirinya sudah lemas dan tak berdaya mulai kehabisan darah.
Namun saat Devan ingin menekan pelatuk pistol, ponselnya berdering dan itu berasal dari Nyonya Chelsi.
"Halo, Mah. Ada apa?" tanya Devan melihat Jastin terengah-engah.
"Devan, pulang cepat ke sini. Ella tak sadarkan diri, Mama temukan dia pingsan di buthtub!"
Devan terdiam dan segera melihat Jastin.
"Cih, ku harap kau mati membusuk di sini!" gertak Devan segera pergi dan mematikan panggilannya.
"Baik, Mah. Aku segera pulang!" Devan pergi meninggalkan club malam.
Jastin menunduk lalu tertawa bagaikan kesetanan.
"Ahaha hahaha, dasar brensek! Aku tidak akan melepaskanmu! Kalian semua setan!" ujar Jastin marah, ia mengamuk sendirian di club malam. Jastin buru-buru pergi namun saat ingin keluar melalui pintu belakang, sekali lagi wajahnya ditonjok oleh seseorang hingga ia terjatuh.
Sontak seseorang menutup kepala Jastin lalu memaksanya untuk berjalan.
"Hei, lepaskan aku! Siapa kau, ha!" ronta Jastin dikunci tangannya dari belakang.
"Sshht, kau jangan marah-marah. Aku ke sini untuk bermain denganmu, Jastin." Suara manis dan lembut membuat Jastin meneguk silivanya. Tapi suara ini bagaikan suara pria. Seketika, rasa kaget itu kembali dirasakan Jastin saat benda tajam menyentuh sedikit kulit dagunya. Ujung pisau itu seakan ingin meriris dagunya hingga Jastin ketakutan.
"Siapa kau, ha!"
"Pfft, ahaha," orang itu tertawa dibentak oleh Jastin.
"Sshht, jangan ngamuk. Aku tidak suka dengan mangsa yang memberontak, bagaimana kalau kita ke tempatku. Aku akan kenalkan dirimu pada anjing-anjingku yang manis, Tuan Jastin."
Jastin seketika sadar siapa sosok yang dia hadapi.
"Dasar psikopat! Lepaskan aku!" ronta Jastin ingin lepas dari tali yang mengikat jarinya dan ingin membuka menutup kepalanya.
__ADS_1
"Ahaha, itu tidak akan terjadi!" tawa orang itu yang tak lain Rafandra yang sedang menyeret Jastin ke tempat penyiksaannya.
"Aaagh, toloooong!" jerit Jastin ketakutan, ia tidak tahu siapa yang berurusan dengannya sekarang. Jastin pun dibawa pergi.