
"Ahaha, jadi kau curiga aku pernah tidur dengan perempuan lain?" Devan tertawa sudah tahu masalah ngambeknya Ella.
Ella mendesisi kesal malah ditertawai.
"Jangan tertawa! Aku serius bertanya ini padamu, jadi jawab dengan jujur!" Ella berdiri mendekatinya.
"Oke, aku akan jujur tapi apa kau akan percaya?" tanya Devan berlagak sok tahu. Tahu kalau ucapannya pasti tak akan dipercai oleh Ella. Meski begitu, Devan tetap tenang.
"Katakan dulu padaku, kalau kau jujur pasti aku akan percaya." Ella berkacak pinggang di depan Devan yang lagi duduk di sofa.
"Kalau begitu kamu duduk di dekatku, aku akan katakan dengan jujur padamu." Devan menepuk-nepuk sofa di dekatnya.
"Cih, tidak usah modus. Kalau tidak mau jujur, jangan tidur malam ini denganku." Ella mendesis dan membelakangi Devan. Ia semakin kesal dengan tampang menyebalkan suaminya yang tak mau berterus terang.
"Sayang," ucap Devan kini berdiri dan tertawa kecil.
"Jangan mendekat!"
Devan berhenti mendekat dan mengangkat satu alisnya.
"Huft, dengar ya istriku. Dalam hidupku, aku memang pernah tidur sama perempuan lain,"
Ella terperanjak dan langsung melotot ke arah Devan.
"Tuh belum juga sampai penjelasanku, kau malah melototku." Devan geleng-geleng kepala.
"Tidak perlu dijelaskan lagi, kau tidur di luar!" dorong Ella mengeluarkan Devan dari kamar.
"Lah tapi kan aku belum sampai bicaranya, kamu dengarkan aku dulu, sayang."
Brak!
Pintu ditutup keras oleh Ella.
"Kau menyebalkan!" pekik Ella manyun di atas ranjang sambil menatap kesal ke arah pintu kamar yang diketuk-ketuk oleh Devan.
"Aduh kau ini kenapa muda marah sih, maksud aku tadi itu, aku pernah tidur dengan perempuan lain itu aku tidur sama Ibuku dulu sejak kecil, terus aku sering tidur sama Maysha."
Ella semakin manyun mendengarnya.
"Kalau sama Elisa?" tanya Ella membuat Devan diam sebentar.
"Eh, Elisa? Maksudnya ... jadi kau berpikir aku tidur dan melakukan itu pada Elisa?" Devan kini sadar atas kemarahan istrinya.
"Ya, itu masalahnya!" pekik Ella dengan suara lantang.
Devan menepuk dahinya. "Bisa-bisanya kau tuduh aku tidur dan melakukan itu pada Elisa. Apa kau ini sudah dihasut oleh orang lain?" tanya Devan di depan pintu.
"Jangan alihkan pembicaraan, kau jawab yang jujur saja!" pekik Ella membuka pintu kamar dan menatap serius Devan yang berdiri di depannya.
"Akhirnya kau keluar juga, sekarang kita masuk. Kita bicara di dalam," ucap Devan ingin masuk tapi dihalang oleh Ella. Kini Devan mulai kesal, ingin rasanya ia mencubit istrinya yang gemas.
"Kita bicara di sani saja dan cepatlah jawab pertanyaanku tadi!" tegas Ella berkacak pinggang.
Devan menghela nafas dan langsung menyudutkan Ella ke pinggir tembok.
__ADS_1
"Istriku, perempuan yang tidur dan melakukan hubungan intim pertama kali itu hanya denganmu saja. Soal Elisa, aku memang pernah tidur bersamanya, tapi tidak melakukan apa-pun padanya. Jadi kau percaya?" tatap Devan tersenyum manis.
"Bohong!" ucap Ella menatapnya tajam.
Devan makin gemas, ingin rasanya membuktikan sendiri pada Istrinya ini sekali lagi.
"Aku tidak bohong sayang, kalau kau tak percaya maka," ucap Devan meraih tangan Ella. Ella dag-dig-duh merasa curiga terhadap Devan.
"Kau mau apa?" tanya Ella melihat tangannya digenggam.
"Kalau begitu bagaimana kalau kau buktikan sendiri," bisik Devan membuat Ella membola. Terkejut bukan karena bisikan Devan tapi tangannya menyentuh burung sang suami.
"Aaaaa, honey!"
"Kau modus!"
Ella teriak histeris, ia ingin meletus memegang benda itu. Dengan cepat dan wajah merona, Ella mendorong Devan dan kembali menutup pintu.
"Malam ini kau tidur di situ!" teriak Ella marah-marah dan masuk ke dalam seprainya.
"Sayaaaang! Apa kau tega lakukan ini pada suami tampanmu, kau tega-teganya membuatnya ke dinginan," keluh Devan mencoba membuka pintu yang dikunci.
"Bodo amat!" ketus Ella teriak.
"Sayaaaang! Aku ini tidak pakai baju dan celana loh, kamu kok tega gini sih!" teriak Devan dari luar kamar.
"Bodooooo amaaat!" sekali lagi Ella mengabaikannya.
"Argh, ya sudah aku tidur di depan kamar." Devan terpaksa duduk sila di depan kamarnya sendiri, menunggu pintu dibuka oleh Ella. Kalau dia mengambil kunci cadangan dengan penampilannya yang cuma pakai jubah mandi itu membuatnya malu.
"Jastin lelaki hidung belang dan mata keranjang, aku harus hati-hati kepadanya," gumam Ella paham apa yang harus ia lakukan besok.
"Hm, apa dia sudah tidur?" pikir Ella mendekati pintu. Tak ada suara apa-pun di luar.
"Sudahlah, pasti dia ke kamar lain."
Ella mengabaikan dan berjalan kembali ke ranjang. Sementara di luar, Devan nampak ketiduran. Dari kejauhan, nampak Zeli sedang menghubungi temannya di depan kamar dan dua baby twins yang keluar dari kamar tak sengaja melihat ayah mereka tidur di dekat pintu.
Vino dan Vina pun berjalan ke arah Devan meninggalkan Zeli tanpa bicara apa-pun. Sesampainya baby twins di depan kamar orang tua mereka. Keduanya saling tatap lalu melihat pintu kamar yang tertutup.
"Nono," ucap Vino menunjuk pintu kamar. Bocah setahun ini sedang bicara pada Vino dan menunjuk ayahnya.
Vino paham maksud adiknya, dengan cepat dan tangkas ia mengetuk pintu.
"Mama, mama," panggil Vino.
"Nono, nono!" ucap Vina merengek pada Vino untuk membangunkan ayahnya saja.
"Papa?" Vino menunjuk Devan.
"Nono," ucap Vina mengangguk kecil. Vino makin paham, ia pun ingin membangunkan Devan. Namun tiba-tiba pintu di dekat mereka terbuka.
"Mama!" Vino cepat merengek pada Ella. Ella tentu diam tercengang melihat dua babynya ada di depan kamar dan lebih terkejut melihat Devan tertidur.
"Astaga, kalian kenapa bisa ke sini?" tanya Ella berjongkok di depan anak-anaknya dan melirik suaminya. Ia ingin tertawa melihat keadaan Devan, tapi sekarang mulai kasihan.
__ADS_1
"Mama, Papa," Vina menunjuk-nunjuk Ella. Anak kecil ini tahu kalau kedua orang tuanya pasti habis bertengkar.
"Ahaha, maafkan Mama. Sekarang kalian kembali ke Zeli. Soal Papa kalian nanti Mama urus." Ella tertawa kecil dan kembali menggandeng tangan Vino dan Vina.
"Papa?" ucap Vina menunjuk Devan.
"Mama yang nanti bangunkan, sayang." Kata Ella paham maksud anak perempuannya.
"Hihihi, Mama." Tawa Vina cekikikan. Ketiganya pun pergi ke kamar Zeli meninggal Devan sendirian.
"Ya ampun, ternyata kalian di sini," ucap Zeli berkacak pinggang dan berdiri di depan dua ponakannya.
"Ahaaha, maaf Zeli. Sepertinya mereka pergi tanpa sepengetahuanmu, sekali maaf sudah merepotkanmu," kata Ella tahu Zeli mencari-cari Vino dan Vina.
"Tidak apa-apa, syukurlah mereka bersama kak ipar tadi. Sekarang, aku masuk dulu menidurkan mereka. Kak ipar selamat malam." Zeli tersenyum dan membawa dua ponakannya masuk. Kini cuma Ella sendirian yang berjalan ke arah kamarnya. Namun ia terkejut tak melihat Devan.
"Loh, kemana dia?" pikir Ella melihat sekeliling luar kamar.
"Sudahlah, mungkin dia pergi dari sini." Ella masuk ke dalam kamarnya, ia berjalan ke arah ranjang lalu menutupi dirinya dengan semprai.
Saat mau memejamkan mata, ia malah dikagetkan oleh Devan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Devan memang sengaja tidur agar dapat memancing dua anaknya tadi. Setelah Ella pergi barusan, ia pun diam-diam bersembunyi. Devan juga sudah lengkap dengan baju dan celananya.
"Sayang, kau tidak marah lagi kan sama aku?" kata Devan lembut.
Ella bukannya marah, tapi ia semakin kesal. Tapi dirinya juga tak bisa lama-lama memendam amarahnya.
*Pemanis
"Tidur saja, tidak usah bicara."
"Kau percaya padaku?" Devan kembali bertanya. Ella cuma diam saja.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau buktikan?" colek Devan pada pinggang Ella. Wanita ini mulai merona dan langsung teriak.
"Honeeeey! Aku bilang tidur saja!" pekik Ella menutup seluruh dirinya dengan selimut.
"Pfft, ya sudah deh. Selamat malam sayang."
Cup!
Devan mencium kepala Ella dan memejamkan matanya sambil memeluk istrinya. Ella membuka mata dan menghela nafas. Ia berbalik dan membalas memeluk Devan.
"Maaf, honey," lirih Ella menyembunyikan wajahnya. Devan tersentak dan bangun kembali. Ia merasa lega mendengarnya.
"Tidak apa-apa, pertengkaran itu sudah biasa. Sekarang kau percaya padaku?" bisik Devan bertanya. Ella cuma mengangguk saja. Devan tertawa kecil dan kembali menciumnya, mengecup kening Ella dengan lembut.
"Selamat malam, honey." Kata Ella tersipu malu. Devan cuma mengelus kepalanya dan mulai perlahan tidur begitupun Ella. Sedangkan dua baby twins saling tatap di kamar Zeli.
"Nono!" pinta Vina mencolek pipi Vino. Vino seketika marah.
"Nana!" ketus Vino manyun. Zeli yang melihat tingkah lucu dua ponakannya cuma tertawa terbahak-bahak.
"Ahaaha, kalian berdua makin menggemaskan!"
__ADS_1