
Ny. Jessy dan Tn. Roland akhirnya pergi ke negaranya, tak lupa membawa paksa Renita yang tetap saja ingin menolak. Tapi soal identitas Hansel belum diberitahukan kepada Tn. Roland karena Ny. Jessy takut Tn. Roland membawa Hansel yang kondisinya yang lemah bisa menjadi celah kelemahannya.
Sudah tiga hari berlalu. Di rumah sakit, Elisa dan Naomi bergantian menjaga Hansel yang belum juga siuman. Sedangkan Bu Naina akan datang bila tidak ada Elisa. Tapi hari ini Elisa harus ke perusahaan untuk menjalani amanah dari Tn. Vian. Rasanya dia tak mau, tapi Elisa juga kasihan pada Tn. Vian yang sudah lama sibuk dengan bisnisnya. Kali ini Elisa akan buktikan dia bisa menjalakan perusahaan dengan baik.
"Naomi," ucap Elisa mendekati adik iparnya yang lagi duduk di samping Hansel.
"Ya Kak Ipar, ada apa?" tanya Naomi menoleh.
"Begini, mungkin aku akan bekerja sampai malam, jadi aku harap kamu bisa menjaga kakakmu baik-baik di sini. Setelah tugas kantor selesai, aku akan kembali ke sini."
Naomi tersenyum manis, ia pun berdiri kemudian meraih tangan kanan Elisa.
"Hm, kak Ipar tenang saja, aku akan menjaga kakakku di sini sampai kamu pulang. Kak Ipar harus semangat!" kata Naomi menunjukkan perhatatiannya. Elisa tertawa kecil melihat tingkah Naomi.
"Huft, kasihan Naomi. Kalau dia tahu Hansel bukan kakak kandungnya, dia pasti sangat sedih." Elisa membatin tidak tega. Ingin rasanya dia kasih tahu Naomi tapi melihat adik iparnya yang cerita, Elisa mengurungkan niatnya.
"Terima kasih Naomi, kamu memang gadis yang baik hati."
Elisa menepuk pelan puncak kepala Naomi.
"Hehehe, Kak Ipar juga baik hati. Masih mau menemani Hans selama tiga hari ini," cengir Naomi kembali duduk.
__ADS_1
"Naomi harap, kak Hans segera pulih." Lanjut Naomi menunduk. Elisa menghela nafas ringan kemudian menepuk bahu Naomi.
"Kalau begitu, aku ke kantor dulu. Ini sudah hampir waktunya aku datang ke kantor," ucap Elisa sembari melihat jam tangannya yang sudah pukul 08:30 pagi. Tak lupa Elisa mencium kening Hansel.
"Aku pergi dulu ya, Hans. Maaf hari ini aku tak bisa menemanimu lagi," gumam Elisa tak tega meninggalkan suaminya.
"Sekarang kamu di sini ya Naomi. Kalau ada apa-apa, kamu cepat hubungi aku."
"Hm baik, hati-hati Kak Ipar!" pekik Naomi melihat Elisa keluar. Elisa cuma melambai tangan kemudian berjalan di lorong-lorong. Namun setelah berbelok ke kanan, tak sangka bertemu dengan Bu Naina yang datang pagi-pagi mengunjungi Hansel.
"Pagi, Bu." Elisa berhenti dan menyapa Bu Naina dengan sopan. Namun Bu Naina hanya membalas dengan tatapan jijik dan berdecak.
"Cih, dasar pembawa sial!" Bu Naina pergi mengabaikannya.
"Hais, dia masih belum menyukaiku. Tapi bagaimana Hansel bisa tinggal dengan Bu Naina?" gumam Elisa kembali berjalan.
"Sudahlah, aku lebih baik bergegas ke kantor." Elisa keluar dari rumah sakit. Menuju ke perusahaan Marchela menggunakan mobilnya sendiri.
Tak menunggu waktu lama, mobil Elisa berhenti di depan gedung. Elisa turun dengan anggunnya berjalan masuk ke gedung mewah itu. Para karyawan segera berbaris menyambur kedatangan CEO baru mereka. Elisa melirik mereka yang setia menundukkan kepala.
"Hm, lumayan juga perusahaan Papa. Mereka sangat tertib dan patuh." Elisa menuju ke arah lift, ia berjalan ingin ke ruangan CEO. Namun bisik-bisikan para karyawan mulai lagi berkumpul membuat langkah kaki Elisa melambat.
__ADS_1
"Wah ini kan Nona Elisa, kemana CEO pria yang diberitakan itu?"
"Maksud kamu suami Nona Elisa?"
"Ya itu dia, harusnya kan yang mengurus perusahaan adalah menantu Tuan Vian,"
"Hus, kamu jangan keras-keras. Menantu Tuan Vian sekarang ini dirawat di rumah sakit,"
"Loh ada apa dengannya?" tanya para karyawan lebih asik bergosip soal Hansel.
"Hari pernikahan saat itu, dia tertembak. Hais, malangnya... pria tampan itu masih belum sadar sampai sekarang," katanya sambil mengingat Hansel yang tampan berdiri di atas altar pernikahan.
"Astaga, kasihan sekali Nona Elisa. Pasti Nona Elisa sangat sedih akhir-akhir ini,"
"Yap betul sekali, dia sungguh kasihan. Nasibnya seperti dipermainkan."
Elisa yang mendengarnya langsung mengepal tangan. Ia pun meninggalkan mereka kemudian menaiki lift.
"Ck, aku pikir mereka senang dengan posisiku, ternyata malah merasa iba padaku. Cih, aku tak butuh rasa simpati itu."
Elisa menunduk seorang diri di dalam lift, ia mencoba untuk tenang. Setelah menghela nafas, ia pun ke ruangan CEO. Hari pertamanya bekerja terasa melelahkan. Tak ada hiburan sama sekali. Elisa menopang dagu, melihat foto Hansel yang tertera di layar laptopnya.
__ADS_1
"Hm, Hansel... Maikeul... kalau dilihat-lihat lebih lama... suamiku memang sangat tampan. Tanpa kacamata maupun pakai kacamata, dia punya kharisma tersendiri. Aku jadi tidak sabar ingin mendengar suaranya." Elisa menyentuh foto Hansel dengan kerinduannya yang makin dalam. Tak dapat berhenti tersenyum memikirkan Hansel.